Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
43


__ADS_3

"Kha...!" Winda menepuk bahunya, "kamu kenapa dipanggil gak nyahut-nyahut."


Khalisa menggeleng.


"Masih sakit kepalamu?"


"Semenjak dibongkar otakku jadi sedikit lebih waras." Canda Khalisa.


"Kebanyakan sampahnya sih, asal masukkan aja." Winda terkikik. "Gak ada niat berhenti aja Kha, lebih aman di rumah."


"Masih bimbang, Ghani sih mintanya begitu. Bakalan bosan banget sendirian di rumah."


"Lanjutin nulis aja, seru juga kok. Atau bisnis dari rumah, bisa nempel terus sama suami."


"Yang nasehatin kayak lebih berpengalaman aja." Khalisa terkekeh.


"Siapa sih yang gak ngiri sama hidup lo Kha, mikir."


"Banyak yang bilang gitu..haha, lo pikir gue tiba-tiba ketemu cowok tajir Win, mana ada. Kebanyakan ngayal deh mereka emang hidup ini isinya cuma drama apa. Udah dari jaman ingusan kali gue kenal Ghani."


"Kenapa gak dikenalin sama gue aja kalau gak mau?"


"Gak mikir, buat diri sendiri aja gak kepikiran. Lama gak ketemu, sekali ketemu pas akad nikah." Khalisa tersenyum mengingat hari pernikahannya yang tanpa cinta.


"Adiknya ada, buat gue?" Winda menatap serius temannya yang sedari tadi senyam senyum sendiri.


"Ada keponakannya cowok, ganteng, manis."


"Mau dong."


"Umur enam bulan, haha." Khalisa tergelak tanpa rasa bersalah.


"Khaaa, sekarang otak lo emang lebih waras tapi banyak ngeselinnya."


Mereka akhirnya beranjak untuk masuk ke ruangan kelas setelah jam menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Masih diselingi candaan yang menghadirkan tawa. Khalisa memang tidak terbuka tentang kehidupan pribadinya. Lebih sering menghindar jika dirinya yang dijadikan bahan pertanyaan.


***


Ghani memasuki ruangannya dengan wajah cerah, kehadiran Khalisa sudah memberikan warna berbeda. Membantu mengisi hari-harinya yang menderita karena Clara. Dia belum sepenuhnya bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Tapi istrinya sekarang sudah bisa membuatnya tergila-gila, tidak bisa jauh darinya.


Gha : Sayang, selamat ngajar jangan kecentilan di depan mahasiswa laki-laki apalagi dosennya 🤨.


Send. Ghani senyam-senyum sendiri dibuatnya.


Istriku : Siap Tuan, cemburuan amat sih, kalau kangen susul aja ke sini. Istri cantiknya jangan ditinggal nanti digoda orang gak tanggung jawab lho. Kalau yang goda lebih tampan dan tajir, aku gak berani buat nolaknya.


Gha : Apaaa...? Kha, nakal sekali kamu. Pengen kugigit rasanya.


Istriku : Boleh gak, nakal sama yang lain juga?

__ADS_1


Gha : Coba aja kalau mau aku bunuh tuh orang sekarang juga.


Istriku : Sadis bener Bang, asal jangan cintamu untukku yang dibunuh.


Gha : Sayaangg, kangeeen.


Istriku : Cepat pulang, aku bantu ngilangin kangennya.


Kha, rasa apa ini? jatuh cintakah? Secepat inikah dia jatuh cinta, atau ini hanya rasa ingin jiwanya dipenuhi gadis itu saja. Nyaman, tenang saat berada dalam pelukannya.


Ra, kamu apakabar? Ada rindu yang menjalar pada mantan kekasihnya itu. Perlahan kamu harus pergi dari hati ini Ra, biar Kha yang tinggal di sini. Ghani menepuk dadanya yang terasa sesak.


***


Ghani masih cengengesan menatap layar ponselnya saat Guntur dan Tomi duduk di depannya. Dia tidak menghiraukan dua orang yang menatapnya keheranan.


"Liatin apaan sih?" Tomi merebut ponsel Ghani, membaca isi pesannya. "Buciinn, buciin, lo kesambet setan bucin Gha." Kata Tomi, merasa geli sendiri. Guntur penasaran, ikut melirik isi pesannya beberapa detik kemudian tertawa gelak.


"Serius itu Gha? Apa lo cuma mau nyenengin Kha doang." Ledek Guntur, Ghani merebut kembali ponselnya dengan wajah sinis.


"Ada info apa selama aku gak di kantor?" Ghani Mengalihkan pembicaraan, tidak ingin suasana hatinya menjadi buruk.


"Berat sih, kabar dari Dimas di kancab ada penggelapan dana yang masih dalam penyelidikan. Lumayan buat keuangan kita goyah." Jelas Tomi, Ghani menyandarkan kepalanya ke kursi, masih sangat tenang, dia tidak terkejut dengan berita yang barusan diterimanya.


"Gha, ini nilainya fantastis lho." Tegas Guntur, tidak percaya Ghani bisa setenang ini, tidak seperti biasanya langsung naik darah ingin menghabisi lawannya.


"Terus gue harus apa, selain menunggu penyelidikan?" Tanya Ghani dengan tersenyum, menaik turunkan alisnya


"Serba salah deh, gue marah-marah salah juga. Panggil Dimas pagi ini."


"Harus pagi?" Tanya Guntur, seakan telinganya sekarang yang bermasalah, ada apa dengan Ghani. Biasanya sepupunya itu minta pertemuan siang atau mendekati jam pulang. Untuk membuktikan loyalitas mereka.


"Iyaa, nanti gue harus jemput Kha."


"Oohhh, jadi itu penyebabnya." Tomi terkekeh.


"Apaan Tom? Masih belum mudeng."


"Tanya aja yang punya diri lagi kenapa?"


"Emang apaan Gha?"


"Mau tau aja." Ghani menjitak jidat Guntur sambil tertawa kecil.


"Kita yang gila dia santai aja Tom, nyesel udah putar otak mikirin ini."


"Lo pikir otak gue gak mikir. Sampai nunda ngajak Kha liburan." Sergah Ghani kesal memukul kepala Ghani dengan dokumen di mejanya.


"Aaduuuhh sakit Gha."

__ADS_1


"Sekarang taukan apa yang harus lo lakukan."


"Iya tau."


"Ya udah tunggu apalagi. Jangan buang-buang waktu. Kha lebih penting dibanding koruptor gila yang gak tau diri."


"Katanya cinta cuma sama Clara, sekarang selalu Kha yang dibela-belain."


"Banyak bacot deh, Kha istriku Guntur. Mau gue tabok lagi." Guntur berlari keluar ruangan sambil menyeringai. Mengacuhkan Ghani yang belum puas membuat jidatnya jadi sasaran.


"Dapat jugakan akhirnya?" Ledek Tomi dengan tertawa, dia paling tau apa yang ada dalam otak Ghani.


"Yaahh...!"


"Gimana rasanya?"


"Bikin ketagihan." Ghani tertawa gelak.


"Masih mikirin Clara?"


"Kadang-kadang, kalau jauh dari Kha suka muncul lagi." Ghani menerawang seakan mencari cicak yang sedang kawin di langit-langit.


"Kha pasti bisa bantu lo ngelupain Clara." Tomi meyakinkan sepupunya yang sudah dipersimpangan jalan. Sedikit lagi dia bisa menemukan kalau sepupunya itu mencintai istrinya.


"Siapa yang ngebebasin Azhar?" Lagi-lagi Ghani mengalihkan pembicaraan jika membahas perasaannya. Dia tak ingin membesar-besarkan, baginya sekarang cukup menjalani dan menikmati setiap takdir yang tertulis untuknya.


"Sepertinya Om Ardi yang meyakinkan Paman Luthfi kalau Azhar tidak akan mengulanginya lagi."


"Huuuhhh..." Ghani mendesah berat.


"Ada yang harus lebih hati-hati sekarang Gha."


"Siapa?" Ghani menegakkan tubuhnya menatap serius lawan bicaranya.


"Anindi, harus segera diselamatkan."


"Maksudmu? Sepupu Kha, apa hubungannya." Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban.


"Mungkin Ayah Haris targetnya. Mereka ingin mencelakakan Kha tapi tidak berhasil, sekarang busurnya mengarah ke Anindi."


"Orang yang mengantarkannya ke rumah sakit, ada hubungannya dengan Om Ardi, dia calon suami Anindi. Dan lihat ini." Tomi memberikan ponselnya pada Ghani. Lelaki itu mengambilnya dengan manggut-manggut, mengerti akan taktik lawan yang sedang dijalankan.


"Awasi pergerakan Om Ardi. Dia ada hubungannya dengan penggelapan dana sekarang."


"Anindi...??"


"Aku tau kamu menyukainya Tomi, bergerak cepatlah." Ghani kembali menyandarkan kepalanya ke kursi, menutup kedua matanya sembari mendengarkan ocehan sepupunya itu.


"Aku takut dia terpaksa seperti Kha." Tomi menjeda kalimatnya. "Kalau aku minta Ayah Haris pasti memberikannya."

__ADS_1


"Gunakan otakmu untuk meluluhkannya." Ghani tersenyum sinis dengan mata yang masih terpejam. Pikirannya sekarang terbawa pada gadis kecilnya—menakjubkan. Hanya itu kata yang bisa dilontarkannya.


"Seperti otakmu yang meluluhkan Kha, sedang hatimu masih milik perempuan lain." Sindir Tomi, walau Ghani terpejam, Tomi tau, lelaki itu sadar kalau sedang diejek.


__ADS_2