
"Tom, gue dapat kabar dari Zaky, dokter Hira mengalami pelecehan di kantor Ilmi." Ujar Ghani, dokter Hira merupakan salah satu dokter yang ikut berpartisipasi dalam program CSR. Kegiatan sosialisasi kesehatan dibeberapa perusahaan yang bekerjasama dengan Emeral hospital.
Tomi bagai disambar petir, kasus pelecehan bisa membuat emosinya meledak. "Kita harus kesana Gha, gak bisa tinggal diam. Dokter itu masih tanggung jawab rumah sakit kita."
Ghani hanya menurut, tidak mungkin membiarkan Tomi berangkat sendirian. Walau perban di tangan lelaki itu sudah dilepas tetap saja belum sembuh total.
Mereka tiba di kantor Ilmi, salah satu teman kuliah Ghani dulu. Ghani mengamati perempuan yang tak mau lepas dari pelukan Erfan. Perempuan yang baru saja mengalami hal tidak menyenangkan di toilet perusahaan. Ghani menggeleng pelan, dia seperti melihat istrinya saat histeris seperti itu.
"Guntur!!" Teriak Tomi, suara itu membuat Guntur langsung menundukkan wajah, hidupnya dalam bahaya sekarang malaikat maut sudah ada di depannya.
Guntur yang ditugaskan mendampingi dokter Hira dan Erfan malah kecolongan, membuat Tomi murka. Dia yang paling sensitif dengan kasus pelecehan seperti ini.
Hira bergetar hebat, keringat dingin mengucur di keningnya. Dia ketakutan, Erfan memutar kursi, menempelkan telunjuk di bibir mengisyaratkan untuk diam. Entah Erfan diuntungkan atau dirugikan dalam masalah ini, Hira tidak mau lepas darinya.
Ghani, Tomi dan Zaky yang baru datang terpaksa duduk menunggu situasi membaik.
"Dimana pelakunya?" Tanya Tomi pelan, agar Hira tidak terganggu.
"Masih ada di ruangan, terserah mau kalian apakan." Ilmi mendesah berat.
"Guntur, urus sekarang!" Titah Tomi, Guntur mengangguk mengikuti Ilmi yang menunjukkan ruangannya.
Ghani menepuk bahu Tomi untuk menenangkan. Sepupunya itu masih terbakar emosi karena Anindi, ditambah lagi masalah ini. Setelah semua beres dan memastikan korban ditangani. Ghani mengajak Tomi pulang, dia juga cukup lama berbincang dengan Ilmi teman lamanya.
"Ada apa?" Khalisa menatap suaminya yang pulang dengan wajah kusut. Sekarang masih belum jam pulang kerja.
"Dokter Hira mengalami pelecehan Kha, Tomi hampir mengamuk di sana." Ghani memijat pelipisnya yang terasa berat.
"Astaghfirullah, dimana kejadiannya Bang?"
"Di toilet perusahaan yang mereka datangi untuk sosialisasi." Jawab Ghani seraya menghempaskan tubuhnya di kasur, Khalisa menghentikan aktivitas mengetiknya.
"Sekarang gimana keadaannya Bang. Dokter Hira itu, dokter kandungan yang periksa aku itu kan?" Ghani mengangguk membenarkan, Khalisa mengangkat kepala suaminya kepangkuan sambil memijatnya.
"Sepertinya trauma, Sayang. Tadi menangis histeris tidak berhenti-berhenti, sampai gak mau lepas dari pelukan Erfan."
Khalisa jadi ikut pusing mendengarnya. "Aku jadi semakin takut keluar rumah."
__ADS_1
"Kha gak boleh keluar rumah kalau gak sama Abang." Ghani menatap manik mata Khalisa dengan teduh, memberikan belaian lembut di pipi sang istri.
"Abang, apa Nindi baik-baik aja kalau sendirian. Kalau Dhafi tiba-tiba datang menyakiti Nindi lagi gimana?"
"Sstt, udah jangan terlalu banyak berpikir. Abang sudah kasih Nindi pengawalan. Kita sudah mengikhtiarkan yang terbaik, Sayang. Semoga Allah selalu melindungi Anindi, juga kita semua."
Setiap saat Tomi selalu mengawasi Anindi dari cctv. Ketakutannya bertambah setelah mendapati kejadian pelecehan tadi. Dia takut mantan istrinya itu kenapa-kenapa saat jauh darinya.
Argh! Dia bisa gila kalau terus begini. Mendekat pun tak bisa, hanya bisa mengawasi dari jauh. Tiga hari sudah Tomi tidak melihat langsung wajah Anindi.
Tomi lelah kalau harus memikirkan Anindi, dahlah biar dia bersenang-senang dengan perempuan lain saja. Sekuat apapun berusaha meluluhkan hati Anindi, dia tidak akan berhasil juga. Selama serumah saja Anindi tidak bisa memberikan hatinya. Apalagi kalau jauh begini.
Lelaki itu menuju hotel yang sudah dijanjikannya dengan seseorang. Dia sadar ini salah, tapi dia lelah menjadi orang baik yang terus diabaikan.
"Sudah lama menunggu?" Sapa perempuan seksi yang menyusulnya ke kamar.
"Belum Dev," jawab Tomi dingin pada Devina, perempuan yang menyukainya sejak dulu. Perempuan yang selalu menuruti apa yang Tomi mau.
"Ayolah Tom, kamu yang minta aku datang. Kenapa jadi masih dingin seperti ini sih." Protes Devina, dia tidak suka dengan sikap Tomi yang seperti kulkas dua pintu.
"Maaf aku belum terbiasa." Ujar Tomi sambil bersandar di ranjang.
"Aku tidak bisa," Tomi menangkap tangan Devina yang mulai kelayapan kemana-mana.
"Kamu kenapa?" Devina memeluk Tomi, "aku akan bantu kamu rileks, tenanglah."
"Aku gak bisa menyentuhmu Dev." Lirih Tomi, sungguh dia tidak terbiasa begini.
"Hm, oke. Kamu cukup diam." Devina memberikan kecupan hangat pada bibir Tomi. Awalnya lelaki itu tidak merespon, namun dengan kesabaran Devina, Tomi mengikuti arus.
"Manis." Ucapnya sambil tersenyum, Devina hanya mengangguk memberikannya lagi sampai Tomi terbakar gairah.
Tomi sudah mengungkung Devina menjelajahi setiap inci tubuh perempuan itu, memberikan tanda tanda percintaan di sana.
"Lakukan Tom, aku sudah tak tahan." Lirih Devina saat lelaki itu terus memanjakannya dengan sentuhan.
"Aku gak bisa Dev," Tomi menjatuhkan tubuhnya di atas Devina. "Aku cinta dia Dev, aku cinta dia. Aku gak bisa begini."
__ADS_1
"Cari aku kalau kamu butuh pelepasan, Tom. Aku siap apapun untukmu." Devina menyisir lembut rambut Tomi, walau ada rasa kecewa di hatinya. Dari dulu memang hanya dia yang mencintai lelaki ini sepihak.
"Maafkan aku sudah memperlakukanmu seperti ini." Tomi memindahkan tubuhnya ke samping Devina.
"Jangan minta maaf." Devina menarik lembut kepala Tomi membenamkan dalam pelukannya untuk memberikan rasa nyaman.
Tomi mengendus-endus benda kenyal yang mengenai wajahnya. "Kamu mau bebas?" Tanyanya, Devina mengangguk lemas.
"Aku bantu," Tomi melakukan aksinya membuat Devina bergelinjang dalam sentuhannya.
"Tom, tolong!" Devina sudah kehilangan kesadaran terbakar gairah karena sentuhan Tomi. Tomi mempercepat tempo gerakannya, membuat Devina lemas dalam pelukannya.
"Maafin aku Dev, sudah jahat." Lirih Tomi memeluk Devina erat. Kenapa dia menutup mata pada perempuan yang selalu setia menunggunya.
Tomi akan memikirkan ini, dia akan menikahi Devina.
"Terimakasih," ucap Devina dengan tersenyum. Tomi tersenyum memberikan kecupan diseluruh wajah cantik itu.
"Mandi gih, biar segar." Tomi membelai rambut Devina dengan penuh kelembutan.
"Mau tidur bentar." Sahut Devina sambil menutup matanya.
Tomi mengamati wajah Devina yang terlelap dengan lekat. Apa yang sudah dia lakukan, melecehkan gadis yang sudah dianggapnya adik sendiri. Apa bedanya dia dengan para bajingan itu.
Apa bedanya Tomi dengan Dhafi yang sudah menodai Anindi. Dia akan menikahi Devina untuk bertanggung jawab. Sambil menunggu Devina bangun Tomi kembali mengamati Anindi dari cctv.
Devina mengusap lembut tangan Tomi yang bekas terluka. "Kalau cinta diperjuangkan." Katanya setelah melirik apa yang ditonton Tomi.
"Aku akan menikahimu karena sudah menyentuhmu." Ungkap Tomi dengan tersenyum, Devina menggeleng. "Aku tidak ingin menikah denganmu Tom."
"Kenapa? Apa karena perempuan yang aku cintai ini?"
"Bukan, aku tidak pantas untukmu." Devina mengusap lembut rahang Tomi.
"Kenapa kamu mau aku jadikan begini Dev, aku merasa sangat berdosa padamu."
"Kamu tidak bisa menikah denganku, semua karena mauku. Bukan salahmu. Aku mandi dulu ya, baru kita pulang." Devina bangkit dari ranjang tanpa menunggu persetujuan Tomi.
__ADS_1
Tomi dibuat bingung dengan tingkah Devina. Sebenarnya perempuan itu kenapa. Dia siap menikahi untuk menebus dosanya ini. Persetan dengan cinta, kalau terus diabaikan.