
"Aku bakalan repot kalau sudah cerai, kamu malah minta begini." Goda Ghani menggigit hidung Khalisa pelan.
"Maaf, tapi aku bahagia bersamamu. Tidak ada kebahagiaan lain selainmu. Aku tidak ingin ada lelaki lain selain kamu."
"Kha, I love you Sayang. Maaf terlambat mengucapkan sampai kamu ingin pergi dariku." Ghani mengusap lembut kepala istrinya dengan sayang
"Aku mau dipeluk setiap malam, Kak."
"Selalu Sayang." Ghani tidak akan melewatkan waktu bersama sang istri lagi. Dia akan membayar semua waktu yang selama ini tersia-siakan.
"Apa kamu bersama Clara di sana?"
"Jadi masih cemburu sama Clara?" Ghani terkekeh kecil, "sudah dibuat hamil juga masih cemburu." Katanya mencubit gemas pipi Khalisa.
"Kakak!" Khalisa berdecak sebal.
"Dia di Paris, waktu kamu melihat kami itu. Dia cuma pamitan. Tidak ada terjadi apa-apa. Kamunya aja yang langsung pergi." Jelas Ghani dengan tersenyum, menatap lekat perempuan yang sudah merebut hatinya.
"Aku dikunciin pintu sendirian di luar." Adu Khalisa, semakin meringkuk dipelukan sang suami.
"Ada Mbok Sri yang mijetin kan." Kekeh Ghani. "Maaf, waktu itu emosi karena kamu menganggapku hanya mempermainkanmu. Aku serius belajar mencintaimu Kha, kamu masih meragukanku, aku kecewa. Kamu tau setiap malam aku berusaha melawan perasaanku agar bisa mencintaimu. Kamu menganggapku main-main, sakit Sayang. Lebih sakit ketika kamu merengek minta diceraikan. Kakak gak kuat liat kamu menderita, Cinta."
"Kakak, maafin aku." Ghani menggeleng pelan, "gak ada yang perlu dimaafin Sayang, kamu gak salah. Kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama."
"Aku akan belajar jadi istri yang penurut, aku juga sudah bisa masak." Aku Khalisa antusias, Ghani ikut bahagia melihat istrinya ceria lagi.
"Istri pintar." Puji Ghani, "masih mau cerita atau tidur?"
"Mau kamu. Kangen banget, jangan ditinggal tidur." Rengek Khalisa manja.
"Iya bawel." Ghani mencubit hidung istrinya dengan gemas. Kenapa sekarang Khalisa jadi lebih menggemaskan. Dia sangat bersyukur karena Allah sudah mengembalikan istrinya dan memberikan buah hati. Ghani menciumi Khalisa yang mulai terlelap nyaman dalam pelukannya.
__ADS_1
***
Ghani memasuki kediaman keluarga Emran bersama Khalisa. Mira menyambutnya dengan pelukan hangat. Terpancar kebahagiaan dari wajah wanita yang sudah tidak muda lagi itu. Air mata menggantung di kelopak mata wanita yang sudah mengandungnya.
"Sayang, anak mama pulang." Mira memeluk Ghani erat kemudian beralih pada menantunya. "Ayo Sayang." Perempuan paruh baya itu membawa anak dan menantunya ke ruang keluarga.
Mira sangat bahagia putranya pulang. Dua bulan ini mereka tidak pernah bertukar kabar lagi. Tidak tau bagaimana kehidupan anak lelakinya itu setelah meninggalkan rumah. Butiran bening tak dapat dihalau lagi.
"Maafin Ghani, sudah bikin Mama kecewa." Ucap Ghani menyeka air mata yang membasahi pipi sang ibu, "jangan menangis. Aku gak rela liat air mata yang jatuh ini karena aku."
Ghani mengecup kening Mira dengan penuh kasih sayang. Tak ada lagi Ghani yang arogan dan membangkang saat ini. Semua yang terlihat hanya kelembutan lelaki itu. Khalisa sudah berhasil merubahnya
"Kamu gak salah Sayang." Tangan Mira menyentuh pipi Ghani, hangat ikut menjalar di mata lelaki itu. Sangat ingin Ghani menangis dipelukan sang mama, tapi tidak mungkin sekarang. Bukan karena takut istrinya cemburu, tapi tidak ingin papa menganggapnya menjilat.
"Ghaniii...!!" Teriak Guntur nyaring, menggema keseluruh ruangan. Tomi dan Guntur menghambur ke arah Ghani. Lelaki itu berdiri merangkul kedua sepupunya.
"Pulang juga akhirnya, kangen banget gue." Ujar Guntur, sambil menepuk-nepuk punggung Ghani. "Kangen ngajakin lo berantem." Usilnya dengan cengiran yang sudah menjadi ketengilan khas Guntur.
"Yaahhh!" Decak Guntur kecewa, "betah banget ninggalin rumah."
"Berani pulang juga Gha!" Teriak Emran, Ghani menatap sang papa yang berjalan mendekat ke arahnya. Masih terlihat wajah kemarahan di sana. Ghani datang bukan untuk meminta dimaafkan. Dia datang untuk memenuhi keinginan sang istri.
"Papa!" Ghani bangkit dari duduk mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Emran. Namun lelaki paruh baya itu bergeming. Ghani menarik tangannya kembali dengan tersenyum yang dipaksakan.
Khalisa membawa suaminya duduk kembali, memeluk dengan erat agar Ghani tidak terpancing emosi.
"Merasa sudah hebat sekarang, jadi berani pulang?" Ucap Emran dingin, sarat akan kemarahan.
"Kha, kita pulang ya Sayang. Papa sudah tidak mau melihat Kakak di sini." Bisik Ghani pelan, tapi Khalisa menggeleng
"Sudah merasa bangga karena dibutuhkan perusahaan!" Bentak Emran lagi.
__ADS_1
"Sabar, Kak." Khalisa mengusap dada Ghani. "Pah, Ghani meninggalkanku bukan karena keinginannya, tapi aku yang mau dia pergi. Ghani gak salah Pah, jangan buang dia seperti ini." Khalisa memohon pada Emran, ayah mertuanya itu terlihat sangat murka pada suaminya. Lelaki paruh baya itu tidak mempedulikan ucapan menantunya.
"Sayang, sudah. Jangan memohon seperti ini. Kita jalan-jalan aja ya?" Bujuk Ghani, dia tidak mau istrinya merendahkan harga diri dihadapan sang papa.
"Aku masih mau di sini sampai Papa maafin kakak." Sahut Khalisa lirih.
"Sayang." Ghani memeluk erat istrinya, "Papa tidak akan memaafkanku, kita pulang aja ya. Cari rujak yang enak, mau?" Bujuk Ghani lagi, kali ini pasti ampuh, pikirnya. Ibu hamil muda itu tidak bisa menolak kalau berkaitan dengan rujak.
"Mau, tapi disuapin," ucapnya Khalisa manja. Mira menyaksikan kebahagiaan putranya saat berada di samping sang istri.
"Iya, Sayang." Ghani mencium kening istrinya. "Mah Pah, aku pamit yaa." Ghani beranjak dari sofa melambaikan tangannya dengan tersenyum manis.
"Gha, jangan pergi dulu." Pinta Mira mengejarnya. Ghani berbalik mendapati sang mama mengejarnya.
"Mah, nanti aku kembali. Cucu mama lagi manja." Ghani mengedipkan matanya pada mama. Lalu beralih berbalik menggandeng sang istri.
"Mau digendong Sayang?" Tawar Ghani, perempuan yang sedang hamil itu mengangguk manja.
"Ayo." Ghani menggendong istrinya yang sekarang berubah jadi sangat manja itu sampai ke mobil. Semua mata tertuju padanya. Mira mengikuti sampai ke depan parkiran melepaskan putranya.
"Ghani gak salah Pah, Kha yang terus merengek minta Ghani pergi. Makanya Ghani pergi agar Kha tidak terluka karenanya. Hanya Ghani yang bisa menjaga Kha, Pah. Gak adil buat Ghani kalau Papa terus menghukumnya seperti ini." Setelah mengucapkannya Guntur pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Biarkan mereka bersama Pah, kita tidak perlu ikut campur masalah mereka lagi." Tambah Tomi, Emran bergeming kembali ke kamarnya. Tanpa mau mendengarkan penjelasan siapapun.
"Pah, kenapa Papa tega memperlakukan Ghani seperti itu. Mama tau Papa sangat sayang dengan Ghani. Kha sedang hamil Pah." Bujuk Mira, dia yakin suaminya itu punya alasan bersikap keras pada Ghani.
"Biar Ghani belajar Mah. Mama lihatkan dia banyak berubah sekarang. Mama gak suka lihat Ghani begitu?" Semua hanya akal-akalan Emran. Perihal perjodohan Guntur dengan Khalisa pun. Itu hanya bagian dari rencananya. Dia ingin putranya menjadi lebih tangguh
"Tapi Mama kangen putra kita Pah, sekarang Ghina juga dibawa Zaky pulang. Rumah jadi sepi."
"Namanya punya anak besar yang begitu resikonya Mira, kalau mau rumah rame kita bikin aja lagi." Goda Emran.
__ADS_1
"Jangan ngaco Pah, umur kayak papa pantasnya punya cucu bukan anak." Ucap Mira dengan cemberut. Tua bangka juga masih mau bikin anak, gerutunya. Emran terkekeh kecil menanggapinya.