Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
59


__ADS_3

Hari ini Anincake ramai pengunjung. Anindi sibuk melayani pelanggan-pelanggannya dengan senyuman yang tak lepas dari bibir manisnya itu. Matanya terbelalak saat melihat sepasang suami istri yang berjalan ke arahnya.


Perempuan itu tak lepas dari genggaman tangan suaminya dengan perut yang membuncit. Bukan karena kebanyakan lemak, tapi karena perbuatan suaminya.


"Khaa..!!"


Anindi berlari menghambur kepelukan sepupunya, tak menghiraukan para pelangan yang menatap ke arahnya. "Kenapa baru ke sini, sudah bosan melihatku?"


Khalisa menyeringai, walau Anindi dua tahun lebih tua darinya wajahnya tetap saja manis. Banyak yang bilang mereka sangat mirip hampir seperti saudara kembar. "Gak mau ajak aku duduk dulu nih."


"Oh iya, bumil capek kalau kebanyakan berdiri." Anindi menunjuk sebuah meja kosong, mereka segera ke sana.


"Jangan nanya macam-macam sebelum ambilkan aku cheese cake yang lumer itu." Khalisa menelan ludahnya, sudah lama dia tidak memakan si manis itu. Cake menjadi salah satu pelampiasannya saat kehilangan mood.


Ghani tidak banyak bicara, menikmati obrolan dua perempuan yang saling melepas rindu. Sesekali diciumnya puncak kepala sang istri dengan hangat. Membuat banyak mata menangkap keromantisannya.


Anindi mengambilkan sendiri permintaan adik sepupunya dengan senang hati.


"Habisin. Kalau gak habis, gak boleh pulang."


"Cuma segini." Khalisa menyipitkan mata melihat dua potong cheese cake. Kurang, dia mau lebih banyak lagi kalau gratisan. Ah, mode gratis itu emang paling disukai emak-emak.


"Makan dulu nanti nambahnya, kalian gak balik lagikan, menetap di sini."


Saat tidak mendapatkan jawaban, Anindi tampak kecewa.


"Betah banget tinggal di negeri orang. Aku kesepian di sini."


"Bukannya sudah kesepian sejak dulu." Khalisa menyengir menikmati setiap sendok cake yang masuk mulutnya.


"Sayang pelan-pelan." Ghani membersihkan ujung bibir Khalisa yang menempel sisa-sisa makanan dengan jarinya. Anindi menutup mata dengan kedua tangan melihat pemandangan di depannya.


"Kenapa?" Khalisa keheranan melihat sepupunya seperti sedang menonton film horor.


"Kalian dari tadi bermesraan di depanku." Dengus Anindi, Ghani dan Khalisa terkekeh.


"Maaf, dedek suka manja sekarang." Ucap Ghani mengusap lembut perut kekasihnya.


"Kalian menodai mataku." Cerca Anindi lagi.

__ADS_1


"Mau yang lebih menodai matamu." Tawa jahat muncul dari bibir Khalisa.


"Kha, jangan nakal." Cegah Ghani saat istrinya mau nyosor di depan Anindi yang sudah melotot pada mereka.


"Makanya cepetan nikah, Dhafi jangan digantungin mulu kaya jemuran." Celetuk Khalisa yang mendapat cubitan keras dihidungnya.


"Abaaang, Nindi jahat!" Adu Khalisa manja sambil merengek-rengek. Ghani hanya mengusap hidung yang memerah itu dengan tersenyum.


"Masih sakit." Katanya manja.


Ghani menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal melihat kelakuan istrinya yang minta sesuatu. Sudah sangat pahan dengan otak istrinya.


Cup, Ghani mengecup hidung mancung itu, mengabaikan Anindi yang menatap gusar pada mereka berdua.


"Masih sakit Bang." Rengek Khalisa manja, Anindi menaikkan alisnya.


"Kamu memancingnya Nin." Anindi tambah bingung dengan ucapan Ghani, Khalisa malah merengek menjadi-jadi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nanti di mobil ya Sayang." Bujuk Ghani, istrinya menggeleng, merengek lebih keras.


"Nin, aku pinjam ruanganmu sebentar." Anindi mengangguk masih keheranan, membawa sepasang suami istri itu ke ruang pribadinya.


Semenjak hamil, Khalisa semakin sering meminta tak peduli sedang berada dimana. Membuat Ghani malu sendiri, jika tidak bisa mengendalikan istrinya yang merengek manja.


"Astaghfirullah." Anindi terperanjat dan langsung beristighfar setelah melihat pemandangan panas di depannya. Kalian menodai ruangan yang suci, geramnya. Ghani menghentikan aksinya mendengar suara Anindi, melihatnya keluar.


"Jangan mengintip kalau tidak tahan, aku sudah membawanya agar kamu tidak melihat. Kamu sendiri yang memancing kemanjaannya." Ghani tersenyum penuh arti kemudian kembali pada istrinya.


"Sayang, sudah ya." Khalisa menggeleng, butiran kristal bening berjatuhan dari di pipi mulus itu.


Oh Tuhan, kenapa istrinya jadi sensitif seperti ini, maunya aneh-aneh saja. Tapi itu lebih baik daripada Khalisa merengek minta tinggal bareng papa. Diulanginya adegan yang sempat terjeda dengan membara. Ghani melepaskannya setelah calon ibu itu tersenyum ceria.


Mudah aja sih bikin Kha bahagia, tapi bisa bikin malu juga kalau mintanya gak tau tempat, batin Ghani merangkul istrinya keluar.


"Aku seperti tidak mengenalmu Kha." Anindi bergidik geli setelah melihat adiknya minta berkali-kali, Ghani hanya terkekeh.


"Jangan memancingnya lagi dengan menyentuh atau perkataannya yang membuatnya kecewa." Ujar Ghani, yang mendapat anggukan dari Anindi.


"Maaf Nin." Khalisa malu-malu bersembunyi dibalik lengan suaminya. "Aku tidak bisa mengontrolnya."

__ADS_1


"It's Okay. Lanjut lagi makannya, tadi belum puaskan. Kita di sini aja biar lebih dekat kalau dia aneh lagi." Sindir Anindi minta pegawainya mengambilkan cake lagi.


"Abaaang..!!"


"Udah, jangan malu." Ghani mengusap bibir lembut istrinya yang masih basah. Mereka duduk di sofa dalam ruangan Anindi melanjutkan mengobrol santai. Sampai terdengar suara ketukan, Anindi membuka pintu menyambut calon suaminya dengan tersenyum manis.


Ghani mengamati segala gerak-gerik lelaki yang baru saja ikut bergabung dengan mereka. Dia juga enggan untuk menceritakan apa yang diketahuinya pada Anindi. Karena bukan dia yang berhak melakukan itu. Obrolan hangat mengalir diantara mereka sampai Khalisa merengek minta pulang.


***


Ghani baru kembali dari rumah orang tuanya setelah Khalisa merengek ingin bertemu. Bumil manjanya makin menjadi-jadi. Hubungannya dengan papa semakin membaik, walau papa ingin dia kembali bergabung di perusahaan. Namun Ghani menolaknya dengan halus agar sang papa tidak kecewa.


Ghani merebahkan tubuhnya di ranjang. Memijat keningnya pelan, akhir-akhir ini Khalisa sangat menguji kesabarannya. Walau permintaannya sederhana tapi itu bisa merobek-robek harga dirinya sebagai lelaki.


Istrinya itu masih dalam kamar mandi, sudah lebih dari sepuluh menit tidak keluar. Bilangnya cuma mau cuci muka. Ghani terpaksa bangun mencari istrinya. Kamar mandinya tidak di kunci.


"Kha, lagi ngapain Sayang?" Ghani melihat istrinya sedang memainkan air di wastafel. Calon ayah itu mengernyitkan kening, makin hari makin aneh batinnya.


"Lagi mau main air di sini." Wajah cantik itu menyeringai dengan manja. Membuat pipinya semakin menggoda, tak tahan Ghani untuk tidak menciumnya.


Cup!


Satu kecupan mampir di pipi Khalisa yang kemudian memerah.


"Abaaang!" Kesal Khalisa karena dicium tiba-tiba.


"Nanti masuk angin, ayo masuk. Di meja ada cheese cake, kamu pesan ya?" Istrinya menggeleng, wajah cantik itu berbinar cerah. Lalu berlari keluar dari kamar mandi, membuat Ghani geleng-geleng kepala.


"Asyiiikk, pasti Nindi sengaja mengirimnya untukku." Dilahapnya sepotong cake yang sangat menggoda itu, Ghani tidak ikut memakan membiarkan Khalisa menikmatinya.


"Pelan-pelan Kha."


Khalisa kebahagiaan Ghani sekarangsegala hidupnya akan dia curahkan seluruhnya Khalisa. Tak peduli sesulit apa jalan yang harus dia arungi.


Ghani membelai lembut rambut kekasihnya. "Besok kita pulang ya Sayang." Sengaja Ghani memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya, saat mood ibu hamil itu sedang ceria. Anggukan muncul dari kepala istrinya.


"Abang aku mengantuk!"


"Tidurlah, Abang temani." Dengan sabar Ghani mengeloni istrinya yang terlampau manja. Gadis kecilnya itu sekarang membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Kehidupan mewahnya tak pernah dibawanya lagi. Selalu merasa cukup dengan apa yang di dapatnya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2