Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
96


__ADS_3

"Abang!"


"Hm, kenapa Sayang?"


"Abang gak mau bantu papa lagi ngurus perusahaan?" Tanya Khalisa hati-hati, dia sedang menyiram kebun sayur kesayangan mama mertua. Tanaman hijau itu membuat matanya berbinar cerah. Bosan tiap hari diam dalam kamar. Ghani meletakkan laptop di sampingnya, beranjak ke sisi Khalisa.


"Sayang, kamu taukan Abang gak suka kalau Kha tanya masalah ini." Ucap Ghani dingin, Khalisa melepaskan selang air lalu mematikan kran.


"Maaf, Kha gak bermaksud buat Abang marah." Dia tau Ghani tidak suka dicampuri masalah pekerjaannya.


"Abang gak marah sama Kha, enggak." Ghani menarik lembut tangan Khalisa, membawanya duduk di gazebo.


"Kha taukan, apa yang Abang lakukan ini buat kamu, Sayang." Khalisa mengangguk pelan, tangan Ghani mengelus lembut pipi Khalisa. "Abang gak bisa mengambil kembali perusahaan itu."


"Maaf," Khalisa memeluk badan tegap suaminya.


"Kha gak salah, Sayang." Biarlah Ghani menjadi egois, dia punya harga diri tidak akan mengambil kembali perusahaan yang sudah dilepaskannya. "Jangan minta Abang ngelakuin itu ya?" Khalisa mengangguk.


"Istri pintar!" Ghani mengecup kening Khalisa lama.


"Ekhem, dicariin ke seluruh penjuru negeri ternyata pacaran di sini." Guntur mencebikkan bibirnya, dimana-mana lihat orang pacaran. Kasihan mata polosnya selalu ternoda.


"Kenapa di rumah? Bukannya di kantor!"


"Besok ada acara di hotel, lo wajib datang. Ini perintah dan selama beberapa hari gue sibuk di luar lo bantu Tomi, ya ya!" Mohon Guntur dengan wajah memelas.


"Ogah, urusan lo!"


"Sayang!" Khalisa turun tangan membujuk Ghani, "jangan egois dong. Biasanya Guntur juga banyak bantu kita."


"Kha, aku gak suka kamu ikut-ikutan!" Khalisa langsung kicep karena ucapan Ghani. Guntur ikut duduk di gazebo mencomot pisang goreng yang sudah dingin.


"Minggu lalu gue ketemu teman kuliah lo sama Zaky." Ghani mengernyitkan kening. "Teman?"


"Ho'oh, Erfan Bumi Wijaya masih ingat?"


"Ya ya ingat, dimana? Lama banget gue dan Dimas gak pernah lihat tuh orang lagi."

__ADS_1


"Besok dia datang, sekalian kita ngadain kegiatan CSR dengan beberapa perusahaan yang dibantu Emeral Hospital. Lo mau bantu kegiatan CSR apa bantu Tomi?"


"Mending bantu Tomi, gue masih bisa ajak Kha ke kantor, dari pada ngurusin banyak kepala."


"Cakep, jadi Zaky gak perlu susah-susah bujuk lo lagi."


"Wait, sejak kapan Zaky ikutan sama masalah beginian. Gue mencium aroma gak beres."


"Teman lo itu yang gak beres!" Sarkas Guntur, dia kesal karena Zaky mau aja mengikuti keinginan gila temannya itu.


"Ngapain lo ngomel ke gue, gue tau masalahnya juga kagak."


"Yang penting lo ikutan besok, ajak Kha biar gak bosan di rumah mulu. Gue ke kantor dulu, nanti ditebas papa kebanyakan main." Setelah mengucapkannya Guntur beranjak pergi.


"Gak jelas!" Ghani berdecak kesal, tatapannya beralih pada Khalisa yang duduk di sampingnya. "Sayang, Abang sudah bilang, gak suka kalau Kha ikut-ikutan. Abang bisa mutusin sendiri!" Tegasnya, Khalisa hanya diam tidak mendebat memainkan kuku-kukunya dengan kepala tertunduk. Kok sakit ya, Ghani bicara begitu.


"Paham?" Tegas Ghani lagi, Khalisa mengangguk sekali. Ghani tersadar sudah bicara terlalu keras pada Khalisa saat terdengar isakan tangis yang sangat pelan. Astaghfirullah, istrinya masih sangat sensitif.


"Sayang, maaf." Ghani mengangkat tubuh Khalisa untuk duduk dipangkuannya, mengangkat dagu istrinya lembut. "Jangan menangis, Abang gak bermaksud memarahi Kha."


"Cup cup, maaf ya!" Ghani menciumi puncak kepala Khalisa. "Sayang, maaf." Khalisa mengangguk lalu membenamkan kepala di dada Ghani. "Sayang, jangan diam terus!" Tapi Khalisa betah untuk diam.


"Kha ngambek Mah." Jawab Ghani, si empunya tidak peduli menyuap nasi dengan menulikan telinganya.


"Tumben masih ngambek di depan kita juga, biasanya kalian jaga image." Ghani mengendikkan bahu, walau sedikit kepikiran dengan ucapan Ghina.


"Lanjut makan dulu, jangan ganggu Kha." Kata Emran, meja maka hening tidak ada pembicaraan. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing.


Selepas makan malam Ghani membawa istrinya ke kamar.


"Kha masih marah sama Abang. Abang minta maaf ya." Bujuk Ghani, Khalisa bergeming menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Tumben marah sampai segitunya, batin Ghani.


"Kha mau apa, Sayang." Ghani memeluk istrinya yang terbungkus selimut. Jangan berharap dapat jatah malam ini. Pertanyaannya dijawab saja alhamdulillah.


Sampai pagi Khalisa masih betah diam, Ghani berkali-kali minta maaf jawabannya hanya anggukan.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kalau marah ngomong langsung sama Abang."


Khalisa menggeleng, "Kha lagi males ngomong, Abang!"


"Oke, sini Abang kasih obat dulu buat nambah mood." Ghani ikut duduk di sisi ranjang. Mereka belum siap-siap untuk menghadiri acara hari ini. "Mau?" Tanyanya agar tidak salah lagi, Khalisa mengangguk.


"Abang gak tau Kha ini lagi kenapa." Ucap Ghani sebelum memberikan obat dengan dosis tinggi disertai gigitan kecil di bibir Khalisa. Perlahan tapi pasti permainan itu semakin panas, Khalisa juga mengikuti permainannya. Saling berbagi saliva, sampai napasnya memburu karena tidak ada kesempatan menghirup udara segar. Detakan jantung mereka semakin menggila, andai tidak mau pergi Ghani pasti sudah memakan istrinya itu.


"Astaghfirullah!" Pekik Guntur, dia syok ketika membuka pintu kamar Ghani. Tangan Ghani sedang kelayapan. Pria itu langsung menutup pintu kembali dengan keras. Matanya ternoda lagi dengan adegan panas yang tak pantas untuk jomblo lihat.


Ghani melepaskan pergulatannya, Guntur sangat mengganggu aktivitas mereka pagi ini. "Sudah lebih baik Sayang?" Khalisa mengangguk, "malu," cicitnya.


"Guntur gak lihat kamu Sayang." Ghani berusaha menenangkan, "sekarang cuci muka dan siap-siap ya. Abang keluar sebentar."


Tanpa menjawab Khalisa beranjak ke kamar mandi, Ghani lekas mencari Guntur. Si empunya masih bersandar di dinding luar kamarnya.


"Kebiasaan lo gak ketuk pintu Guntur, untung gak lagi gulat." Geram Ghani, menatap tajam Guntur yang matanya sudah ternoda.


"Lo juga, siang gini Kha masih diserang, kita sudah siap buat berangkat. Papa nungguin di bawah." Guntur berdecak kesal.


"Kalian berangkat duluan apa susahnya sih. Gue masih ngurusin Kha yang aneh dari kemaren." Jelas Ghani, dia sedang bingung dengan tingkah Khalisa sejak merajuk kemaren siang.


"Jangan-jangan dia hamil Gha, dulu juga gitukan. Maunya dikelonin terus." Tebak Guntur semangat. Ghani mengernyit, dia tidak terpikir sampai kesana.


"Bisa jadi, lima belas menit lagi gue turun." Ucap Ghani dengan semangat empat lima meninggalkan Guntur yang melongo.


Ghani berganti pakaian dengan cepat setelahnya dia membantu sang istri memilih gamis.


"Abang ganti baju ini, biar warnanya samaan." Khalisa memberikan kemeja grey pada suaminya. Lelaki itu membulatkan mata, "Abang sudah rapi, Sayang. Males ganti lagi." Tolak Ghani halus.


"Ya udah, Abang aja yang berangkat sana." Khalisa kembali naik ke atas ranjang, dia belum mengambil baju mana yang akan di gunakannya.


Ghani mendesah frustasi, pagi-pagi sudah harus mengurusi istri nakalnya ini. Lelaki itu melepas jas dan kemejanya mengganti dengan yang dipilihkan sang istri.


"Abang sudah ganti, ayo sekarang Kha yang ganti."


Khalisa mengangguk antusias beranjak dari tempat tidur, tangannya mengambil gamis berwarna navy di lemari.

__ADS_1


"Abang, ganti yang tadi aja. Kha pake warna ini." Ujarnya menggoyang-goyangkan gamis ditangannya. "Warnanya sama dengan baju Abang yang itu." Lanjutnya menunjuk kemeja navi yang tergeletak di atas ranjang.


Ghani beristighfar dalam hati, ingin menenggelamkan diri detik ini juga. "Iya," sahutnya malas lalu berganti pakaian lagi. Khalisa tersenyum senang, sedang suami cemberut masam.


__ADS_2