
"Cantiknya hilang kalau menangis terus." Ghani mendudukkan istrinya di sisi ranjang, lalu membelai lembut pipi yang semakin tirus dan mata sembab karena selalu menangis.
"Eumm." Khalisa menggembungkan pipinya dengan bibir yang maju, membuat Ghani tambah gemas.
"Bisa gak sih gak usah gemesin gini." Ghani mengunyel kedua pipi Khalisa. Si empunya hanya geleng-geleng semakin menggoda.
"Kapan kita pulang Bang? Aku pengen pulang, takut tinggal di sini."
"Hm, maunya kapan?"
"Ihh Abang, kenapa malah nanya balik." Khalisa memeluk tubuh Ghani kembali.
"Tau gak, Abang tuh rasanya pengen makan kamu sekarang Sayang." Ujar Ghani yang hanya ditanggapi kekehan oleh Khalisa.
"Setelah masalah Nindi beres kita pulang ya." Khalisa mengangguk, yang pasti tak dapat dilihat oleh Ghani. Karena kepala gadis itu terbenam dalam dada bidangnya.
Setelah mengunci pintu Ghani melepas jilbab Khalisa, membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. Masih ada waktu untuk mereka tidur siang. Ghani tidak mendapat tugas apapun, karena tugasnya menjaga gadisnya agar selalu bahagia. Hm, maunya begitu.
Begitu mudahnya tubuh mungil itu terlelap seakan tanpa beban, Ghani mengamati mata sendu yang terlalu banyak menangis dengan lingkar hitam yang semakin jelas. Tubuhnya semakin kurus karena tidak mau makan.
Di samping kanan kamar Ghani, ada seorang gadis yang tengah mematung di depan cermin. Lelaki yang sejak tadi mengamatinya mendekat.
"Ada yang sakit?" Anindi menggeleng, "ini untuk mengompres apa?" Anindi tidak menjawab, menyingkap jilbab kaosnya sampai terlihat leher yang memerah. Tomi mengusap lembut kepala si gadis yang tertutup jilbab kaos.
"Biar aja, nanti hilang sendiri. Kan tertutup jilbab." Tomi tau Anindi pasti tidak ingin dia melihat bekas kiss mark yang sangat banyak disetiap inci tubuh mungil itu. Dia tidak ingin mempermasalahkan, toh tidak terlihat.
Bajing*n itu sangat puas menikmati tubuh gadisnya dengan leluasa. Argh, saat mengingat itu membuat darahnya berdesir sampai keubun-ubun.
"Sudah sholatkan?" Anindi mengangguk lagi, dia tak mampu bicara di depan orang lain selain Khalisa. "Kalau sudah, sekarang tidur siang gih, jangan pikirkan apapun." Tomi menuntunnya menuju ranjang.
"Mau cerita?" Tomi duduk di sisi ranjang, menarik selimut Anindi sebatas pinggang. Hanya gelengan kepala yang Tomi dapat dari pertanyaannya.
Tomi harus sabar, seperti yang Ghani bilang menghadapi orang yang sedang tidak baik-baik saja lebih sulit dari pada menghadapi musuh yang nyata. Yeah itu benar sekali.
"Oke, tidur." Anindi bergeming, "tidur, nanti aja dipeluknya." Bisik Tomi jahil sambil tersenyum, tangannya masih mengusap lembut puncak kepala Anindi untuk memberikan rasa nyaman. Hanya itu yang bisa Tomi lakukan, tak bisa banyak membantu memang.
Suara ketukan pintu yang kencang membuat Tomi menoleh, siapa lagi kalau bukan Guntur pelakunya.
__ADS_1
"Berisik."
"Tangannya Tom belum halal." Guntur nyelonong masuk duduk di sofa tanpa peduli tatapan tajam Tomi.
"Tidur ya." Bisik Tomi kemudian beranjak duduk di samping Guntur, matanya melirik Anindi yang sudah terpejam. Ditariknya Guntur ke dalam kamarnya.
"Ganggu aja deh Tur kebiasaan."
"Biasanya juga lo yang gangguin Ghani Tom. Karma berlaku sekarang." Guntur terkikik geli.
"Gue baru mau nemenin Anindi tidur lo ganggu."
"Belum boleh ngelonin juga, kecuali tadi malam, itu bonuslah buat lo."
"Lo liat?"
"Ya iyalah, gue fotoin malahan. Siapa suruh pintu gak ditutup."
"Kalau ditutup itu udah niat namanya." Tomi berdecak kesal.
"Yang tadi berarti gak niat dong. Kalau gak niat ngapain merasa terganggu," sindir Guntur.
"Cuma mau gangguin lo." Guntur tertawa jahat, Tomi berdecak lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur. Lelah, badannya sakit semalam tidur di sofa, ditindih Anindi lagi. Belum lagi upayanya menahan gejolak saat tubuh mungil itu menghimpitnya. Argh, susah dibayangkan menderitanya Tomi saat itu.
"Kalau sudah puas ganguinnya sekarang keluar gue capek."
"Capek ngelonin Nindi."
"Guntur, mulut bisa diam gak. Kalau Nindi dengar dia tambah sakit hati. Lo bisa jaga perasaan orang gak sih."
"Btw Dhafi udah ngapain dia?"
"Guntur, diam atau gue panggil sekuriti buat ngusir lo," geram Tomi.
"Iyaaa,, iyaaa sadis bener."
"Gue beneran capek Tur."
__ADS_1
"Oke, gue serius!"
"Masalah?"
"Anindi."
"Hm." Tomi akhirnya bangun dari posisi tidurnya setelah mendengar nama Anindi. Entah apa yang akan dikatakan Guntur. Atau anak itu hanya ingin mengerjainya.
***
Alhamdulillah, segala rangkaian akad nikah terlaksana dengan lancar. Meskipun persiapannya singkat namun hasilnya sangat maksimal. Tomi berjanji untuk terus menjaga Anindi dan membahagiakannya. Walau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan itu tak penting.
Ketulusan cintanyalah yang akan membuat perempuannya itu nanti jatuh hati. Pria dalam balutan tuxedo hitam itu terlihat sangat menawan, di sampingnya berdiri seorang wanita dalam balutan dress putih yang sama-sama menawan.
Make up tipis tetap mampu membuat sang wanita menjadi sangat cantik. Hijab tak membuat mempelai wanita menjadi ketinggalan model fashion.
Setelah selesai acara pukul sebelas malam, para anak muda itu berkumpul di ruang keluarga. Hanya satu orang yang jomblo dan layak untuk dibully. Siapa lagi kalau bukan Guntur.
Ucapan selamat terlalu basa basi mereka ucapkan saat ini. Lebih baik membully kaum jomblo yang tersiksa sendiri. Namanya juga sendiri, ya pasti tersiksa.
"Gue sama Kha duluan ya." Akhirnya Ghani angkat suara, mengakhiri kebisingan yang diterima telinganya. Terlalu malas meladeni mulut-mulut berbisa.
"Eits, yang penganten baru bukan lo Gha, kenapa jadi lo yang duluan ke kamar." Protes Ghina, kembarannya.
"Gue capek, mau tidur."
"Lo capek ngapain, seharian juga santai." Ghina mencebik, mulutnya sudah monyong lima senti.
"Emang kalian gak capek? Aku yang gak ngapa-ngapain aja capek denger mulut kalian ngoceh." Akhirnya Ghani tak jadi beranjak kembali menarik Khalisa dalam pelukannya. "Tidur aja Sayang, nanti Abang gendong ke kamar." Bisik Ghani yang hanya bisa di dengar istrinya.
"Kalau mau diskusi bukan malam ini waktunya Sayang, kita semua sudah sama-sama capek." Zaky buka suara, entah karena apa istrinya menahan semua orang agar tetap di ruangan ini.
"Iihh, kasian Guntur kan dia sendirian Yang, gak ada temennya." Semua mata sekarang beralih pada Guntur, kecuali Khalisa yang memilih menghirup aroma maskulin suaminya.
"Kok gue sih Ghin yang dijadiin kambing hitam, kambing putih aja kali biar beda."
"Tuh kan gak ada yang penting. Mending kita tidur." Ghani membawa istrinya dalam gendongan. "Bubar," titahnya lalu beranjak menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1
"Gue jadinya gak ada temen lagi." Guntur bedecak, setelah puas dijadikan bahan bullyan sekarang harus kesepian.
Nasib ya harus dijalani. Guntur mengikuti yang lain kembali ke kamar, bedanya dalam kamar hanya dia yang sendirian tak punya pasangan.