
"Belum Allah kasih kepercayaan, Sayang." Tomi membawa Anindi dalam pelukan, membuang testpack di tangan mungil itu. Entah berapa kali sudah Tomi membuang benda itu ke tempat sampah.
"Kalau itu menyakitkan, jangan coba lagi. Kita nikmati apa yang ada sekarang. Ini terakhir kali aku melihat kamu menggunakan benda itu."
Anindi terisak dalam pelukan Tomi, ia merasa gagal menjadi seorang perempuan.
"Gak lelah menangis, Sayang." Tomi menyeka air mata yang berjatuhan itu. "Sayang air matanya kamu keluarin setiap pagi. Hari ini mau ikut ke kantor apa ke toko?"
"Ke kantor," jawab Anindi pelan.
"Aku cariin manajer buat toko kamu ya, kamu gak perlu ke toko setiap hari. Kalau kamu hamil, aku gak akan ijinin kamu ngelola toko itu sendirian lagi."
"Nanti aku bosan di rumah."
"Gak akan bosan, kamu bisa ajak mama bikin kue di rumah, atau bantu Kha jagain Arraz. Bisa ikut aku ke kantor juga."
"Terserah kamu, Mas."
Tomi tersenyum, "ayo kita sarapan." Ajaknya seraya menggandeng Anindi.
"Cuit... cuit... gandengan terus. Rumah ini pengamanannya sudah ekstra, gak akan ada yang bisa nyulik Nindi." Usil Guntur pada pasangan yang baru menuruni undakan tangga.
Anindi hanya tersenyum kecil menanggapi keusilan Guntur yang tak pernah berkurang setiap harinya.
"Jomblo gak usah rese, truk aja gandengan masa lo masih sendiri." Jawab Tomi dengan tenangnya melepaskan tangan Anindi lalu berpindah ke pinggang.
"Uhukk-uhukk. Gak ngefek sih, tapi kena di hati." Ujar Zaky yang sudah sampai lebih dulu di meja makan.
"Curang woy, tiga pasang lawan satu!" Seru Guntur merasa terzalimi.
"Gue kasih amalan biar cepat dapat jodoh mau gak?" Ghani dari meja makan menimpali. Guntur bergegas mendekati Ghani.
"Apa?" Guntur dengan serius duduk di samping Ghani.
"Ikuti gue, baca bismillah dulu. Boleh dalam hati."
Dengan semangatnya Guntur mengikuti ucapan Ghani.
"Wataqida’ watalmadh ‘aumi gainnahu laysabaynahaa qa baynallaha khijaabu." Ujar Ghani sambil tersenyum tipis.
"Pelan-pelan, eja perkata." Ujar Guntur merasa gagap mengulangi apa yang Ghani bacakan.
"Wataqida’ watalmadh,"
"Wataqida’ watalmadh," Guntur mengikuti dengan serius.
"‘aumi gainnahu,"
"‘aumi gainnahu,"
__ADS_1
"laysabaynahaa,"
"laysabaynahaa,"
"qa baynallaha,"
"qa baynallaha,"
"khijaabu." Tutup Ghani yang diikuti Guntur.
"khijaabu."
"Dengarkan artinya baik-baik," Ghani memasang wajah serius.
Guntur mengangguk, melipat tangan di meja seperti anak sd jaman dulu.
"Artinya: “Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (H.R. Bukhori dan Muslim). Amalkan dengan baik agar lo berhenti dizalimi." Ghani mengakhiri kalimatnya yang mendapat tabokan keras di punggung.
Zaky dan Tomi tertawa paling nyaring, sedang Emran sudah tidak dapat bersuara lagi saking puasnya tertawa melihat kepolosan Guntur.
"Makanya jangan bodoh-bodoh amat, biar gak dibodohi!" Ghina tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut.
Mira geleng-geleng kepala, "disuruh belajar ngaji itu yang benar. Jangan cuma bisa baca alif-alifan."
"Lo hapal berapa hadis, hah?" Guntur tidak terima dibodohi Ghani. Pelakunya hanya cekikikan.
"Bodoh, bodoh. Maunya gue dibodohi orang bodoh!" Teriak Guntur frustasi, pagi-pagi dia sudah jadi bahan tertawaan.
Hanya Anindi yang tidak mentertawakannya. Perempuan itu hanya tersenyum melihat kepolosan Guntur.
"Dah gue mau makan!" Ujar Guntur yang masih merasa kesal.
"Eitss tunggu dulu, Kha mana Gha. Pantesan Mama merasa ada yang kurang, satu orang gak ada. Panggil dulu Gha."
Ghani mengangguk, "iya Mah."
"Mah, aku lapar!" Rengek Guntur.
"Nunggu Kha sebentar gak akan bikin kamu jadi busung lapar, Guntur." Peringat Mira yang tidak suka di bantah.
Guntur memangku tangannya di meja dengan wajah kecut.
Ghani membuka pintu kamar, istrinya masih tertidur. Ditepuknya pelan pipi Khalisa.
"Pagi Sayang, Kha masih ngantuk?" Ghani tersenyum pada istrinya yang baru membuka mata jam tujuh pagi.
Setelah sholat subuh tadi Khalisa baru bisa tidur karena Arraz yang rewel semalaman setelah diimunisasi.
"Sedikit, aku bawa mandi dulu biar segar."
__ADS_1
"Iya, setelah sarapan nanti istirahat lagi. Sudah ditunggu, Sayang." Ghani mengusap rambut istrinya.
"Oke, aku mandi bebek dulu." Ujar Khalisa melimpir ke kamar mandi.
Saat sang istri mandi, Ghani menitipkan Arraz pada babysitter yang menemani Airil.
Selesai Khalisa mandi, Ghani langsung membawa Khalisa turun ke bawah untuk sarapan.
"Loh belum ada yang sarapan?" Tanya Khalisa.
"Nungguin bunda ratu, gak dibolehin kanjeng mami makan kalau semua gak ngumpul." Jawab Guntur sewot, cacing di perutnya sudah berdemo ria.
"Terimakasih telah sabar menanti," ucap Khalisa tanpa dosa, mengambilkan suaminya nasi dan lauk.
"Lihat Mah, yang ditunggu gak tau diri!" Protes Guntur.
"Guntur, lo kenapa sih jadi rempong banget. Kuping gue panas dengar ocehan lo doang!" Sarkas Ghina yang tidak tahan mendengar ocehan Guntur pagi-pagi, mana perut lapar gara-gara kebanyak ketawa.
"Di hadapan makanan itu bersyukur, bukan bertengkar. Kalian mau jadi gembel karena Allah anggap tidak pandai bersyukur?" Ceramah Mira, Guntur dan Ghina sama-sama diam dengan wajah di tekuk.
"Makan yang banyak, Sayang." Emran menepuk puncak kepala menantu kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Khalisa.
"Aku gak bisa makan banyak, Pah. Nanti kalau aku tambah melebar ada yang protes." Khalisa menyindir Ghani yang duduk di samping kirinya.
"Kapan Abang protes, Kha. Perasaan Abang kasih kamu makan terus deh."
"Sekarang ngomongnya gitu, nanti kalau aku beneran gendut, lari." Cibir Khalisa.
"Asal jangan lari dari kenyataan kayak Guntur, Sayang."
"Aku sudah diam loh Mah, Ghani yang mulai lagi." Adu Guntur memelas, dia lelah jadi bahan ghibah.
"Kalian makan, jangan berdebat lagi!" Tegur Mira, semua makan dalam diam. Tidak ada yang bersuara lagi sampai makan selesai.
"Arraz di mana, Bang?" Tanya Khalisa sambil membantu membereskan meja makan.
"Ada di kamar Airil, Sayang. Kamu bisa istirahat dulu. Dah, gak usah ikut beres-beres," larang Ghani.
"Masih kepagian tidur lagi, aku mau nyiram bunga dulu di depan." Sahut Khalisa seraya membawa piring ke wastafel.
"Gak boleh. Kamu gak boleh kerja berat-berat," ujar Ghani possesif.
"Abang, nyiram bunga gak berat. Aku gak ngangkat air juga, cuma gerakin selang doang." Protes Khalisa, memanyunkan bibirnya.
"Sekali gak boleh tetap gak boleh!" Tegas Ghani.
"Gha, nyiram bunga gak akan bikin Kha kelelahan. Biarin Kha beraktivitas, cuma diam di kamar jagain Arraz itu bikin jenuh. Nanti Mama yang menemani." Kanjeng mami akhirnya buka suara.
Ghani tidak bisa membantah lagi kalau sang mama yang sudah bicara. Terpaksa melepaskan istrinya itu dengan tidak rela, dia belum dapat jatah vitamin pagi ini.
__ADS_1