
Khalisa sudah menunggu Ghani di kamar sebelum suaminya pulang. Tanpa menyapanya Ghani langsung beranjak ke kamar mandi.
"Gha...!" Khalisa menarik tangan suaminya, "aku mau bicara sebentar aja." Mohonnya dengan lirih.
"Bicaralah...!!" Sahut Ghani datar tanpa menatapnya. Mata lelaki itu mengarah ke balkon. Tidak menoleh pada Khalisa sedikitpun.
"Lepaskanlah jika tidak menginginkanku, Gha. Maaf tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku tidak akan membuatmu tersiksa lagi karena terpaksa bersamaku, temuilah Claramu. Aku pamit, terimakasih untuk semua ini."
Khalisa meninggalkan kamar tanpa menunggu komentar Ghani. Mengambil tas, tanpa membawa pakaiannya. Karena semua ada di kamar Ghani, dia cukup membeli apa yang diperlukan nanti. Membawa pergi dirinya yang sedang terluka, air mata itu ditahannya agar tidak luluh lantah dihadapan Ghani.
Dia sudah tak penting lagi untuk Ghani, menatapnya pun lelaki itu enggan. Sebegitu tak berharganya 'kah kamu Kha. Sakit, semua ini sangat menyakitkan. Menyayat hati yang meninggalkan pilu dengan seberkas kenangan.
Dia tidak mungkin pulang ke rumah. Dengan menaiki taksi, Khalisa menuju sebuah penginapan sederhana, cukup untuknya beristirahat tidak perlu yang mewah. Setelah memesan kamar, Khalisa membawa barang-barangnya.
Bismillah. Tak apa Kha, kamu bisa hidup sendiri tanpa mereka. Sementara waktu tidak perlu ke kampus karena Ghani pasti mencarinya ke sana. Juga harus menonaktifkan ponsel, agar tidak bisa dilacak. Semoga tidak ada benih Ghani di sini. Khalisa mengusap perutnya, butiran bening terjatuh dari matanya. "Sakittt."
Pada akhirnya dia tetap kalah melawan orang yang saling mencintai, sedang dia hanya berjuang sendirian dalam luka.
***
Sehabis mandi Ghani memeriksa kamar di sampingnya ingin memastikan apakah Khalisa benar-benar pergi. Kamar itu dalam keadaan rapi tidak ada barang-barang lagi di sana.
Keterlaluan kamu Gha mendiamkannya sejak kemaren sore. Wajar kalau Kha meragukan perasaannya, karena sampai sekarang perasaan itu milik Clara.
Ghani memejamkan matanya, Khalisa pasti pulang ke rumah ayah. Istrinya tidak akan pergi kemana-mana. Besok pagi dia harus membujuknya pulang, sebelum papa yang bertindak.
Pagi ini Ghani sudah siap ke kantor, ingin menjemput istrinya terlebih dahulu. Berulang kali menghubungi nomor Khalisa namun tidak tersambung.
Tidak biasanya nomor Kha tidak bisa dihubungi. Hatinya mulai resah, ada ketakutan jika istrinya tidak pulang ke rumah. Ghani menghubungi ayah, kakinya lemas mengetahui sejak semalam istrinya tidak pulang ke rumah ayah.
__ADS_1
"Kemana kamu pergi Kha, maaf kakak menyakitimu lagi. Pulanglah Kha, pulang."
Kalau tidak pulang ke rumah ayah, Kha pasti tidak akan pulang ke rumahnya. Ghani melajukan mobilnya menuju Universitas Pancasila, tapi di sana juga tidak ada Khalisa. Teman-temannya juga tidak ada yang tau istrinya kemana.
"Kemana kamu Sayang, jangan buat aku khawatir seperti ini. Kemana aku harus mencarimu."
Ghani memasuki ruang kerjanya dengan frustasi, memanggil kedua sepupunya. Berkali-kali dia mengusap wajah dengan kasar. Pikirannya mendadak buntu, tidak tau kemana harus mengadu.
"Kenapa Gha?" Tomi mendekati Ghani yang sedang gusar menarik kedua tangannya yang sedang menutupi wajah.
"Kenapa Gha?" Bentak Tomi sekali lagi, saat tidak mendapatkan jawaban.
"Kha pergi Tom, tidak tau kemana, di rumah ayah, di kampus, gak ada."
"Tenang dulu Gha. Kita tidak bisa berpikir kalau melihatmu begini." Guntur menepuk pundak Ghani untuk menguatkan. "Hpnya gak aktif, gak bisa dilacak keberadaannya."
"Sebar orang untuk mencarinya di seluruh hotel dan penginapan. Sebelum papa tau kabar ini." Tegas Tomi pada Guntur.
"Kha, gak mungkin pergi kalau kamu tidak menyakitinya Gha. Dia sudah memberikan seluruh hidupnya untukmu."
"Aku yang selalu menyakitinya dan membuatnya menangis Tom, aku yang salah."
"Minum dulu Gha." Guntur memberikan segelas air putih. "Tenanglah."
"Gimana caranya aku bisa tenang Guntur, aku tidak tau dimana Kha sekarang, selamatkah dia atau Azhar sudah menyakitinya." Ghani membenamkan wajahnya ke meja tangannya ikut memukul-mukul meja.
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu pada Khalisa."
"Dia selamat Ghani, kalau Kha terluka pasti sudah ada yang mengabarimu. Saat ini masih belum ada yang tau kalau Kha pergi." Jelas Guntur, tumben dia cerdas hari ini. Biasanya juga cerdas, tapi usulnya selalu disimpan dalam kantong kresek.
__ADS_1
Guntur mengambil laptop Ghani mencek semua cctv depan pagar rumah Ghani, otaknya berpikir cepat melacak plat mobil yang membawa Khalisa pergi.
"Aku tinggal sebentar, tunggu kabar dariku." Guntur bergegas pergi setelah mencatat semua informasi yang di dapatnya.
Setelah menemukan supir taksi yang ditumpangi Khalisa dan mendapatkan alamat penginapannya Guntur mengabari Tomi.
Ghani dan Tomi menuju lokasi, bertemu dengan Guntur di depan hotel Melati. Mereka langsung menuju resepsionis menanyakan perempuan yang check in tadi malam, tapi tidak ada.
"Kha ternyata sangat cerdas, dia sengaja minta di antar ke sini agar kita terkecoh." Guntur berdecak kesal, usahanya tidak berhasil.
"Lo terlalu yakin sih." Tomi terkekeh, Guntur garuk-garuk kepala.
"Coba cari di sekitar hotel ini." Ujar Ghani. Mereka bertiga berpencar memasuki beberapa hotel dan penginapan terdekat.
Ponsel Ghani berdering, dengan cepat mengambilnya dari saku celana. "Papa..!!" Ghani tidak menjawab membiarkan suara berisik itu berhenti sendiri.
Sekarang dering ponsel itu beralih pada Tomi.
"Pasti Papa." Gumam Tomi, menatap layar ponsel sambil menarik napas panjang. Masalah tambah panjang kalau pulang tanpa Kha.
Di balik dinding rumah megahnya Emran marah pada anak-anaknya. Tidak ada yang menjawab teleponnya. Kemana saja mereka, umpatnya kesal. Beberapa menit yang lalu dia mendapat kabar menantunya menghilang.
"Pak Maman, tolong cari Ghani, Tomi dan Guntur di kantor suruh dia menghadap saya." Pinta Emran pada supir pribadinya.
"Siap Pak." Sahut lelaki paruh baya itu, kemudian beranjak pergi.
Sepuluh menit kemudian Emran mendapat kabar kalau anak-anaknya tidak ada yang berada di kantor. Kemarahannya semakin memuncak. Mengingat lawan bisnisnya yang sekarang sedang mengincar menantunya, membuat Emran tambah garang.
"Papa tenang dulu, minum dulu yaa." Mira mengusap pundak suaminya, Zaky dan Ghina yang berada di sana tidak berani bersuara. "Ingat kesehatan Pah, jangan marah-marah." Tambah Mira.
__ADS_1
"Zaky coba lacak di mana keberadaan Ghani." Ujar Emran, ngeri yaa kalau keluarga detektif semua. Gak bisa kabur kemana-mana.
"Mereka di sekitar hotel Melati Pah." Zaky menimbang-nimbang ponselnya kemudian menelpon seseorang. "Mereka sedang mencari Kha Pah." Tambahnya untuk meredakan emosi papa mertuanya.