
Usai sholat subuh Tomi melanjutkan tidur di ruang tengah dengan tangan kanan terbalut perban. Benar kata Khalisa dia susah melakukan apapun.
"Bangun-bangun, kerja!" Teriakan Guntur menggema di seluruh ruangan. Pagi-pagi anak satu itu sudah membuat keributan.
"Berisiikk!" Kesal Tomi, tidurnya sudah terganggu.
"Sarapan!" Guntur menarik tangan kiri Tomi untuk bangkit dari sofa. Lelaki itu mengikuti Guntur dengan malas.
"Ulu-ulu yang patah hati sampai bikin menderita diri sendiri." Sindir Ghina, saat Tomi bergabung meja makan. Tomi tidak menanggapi mengambil nasi dan lauk menggunakan tangan kiri. Biasanya Anindi yang melayaninya.
Aaarrgh, kenapa selalu Anindi yang muncul di kepalanya. Dengan santai Tomi menyuap nasi menggunakan tangan kiri walaupun susah.
"Susahkan!" Geram Khalisa beralih duduk ke samping Tomi lalu merebut piring nasi lelaki itu dan menyuapinya.
"Aku bisa sendiri Kha," tolak Tomi. Dia seperti orang cacat saja disuapi, sangat menyedihkan. Semua orang jadi semakin puas memberikan tatapan mengejek padanya.
"Jangan membantah, atau kupotong sekalian tuh tangan!" Berang Khalisa.
Tomi langsung menciut hanya dengan satu kalimat yang ibu hamil itu ucapkan. Mengingat kejadian kemaren saat Khalisa membanting tengkorak, itu sangat mengerikan.
Ghani jadi ikut merinding, dari mana istrinya punya jiwa sadis seperti itu. Sejak hamil kenapa semakin garang kelakuan. Mending kalau cuma garang, kadang manjanya kebangetan.
Khalisa menyuapi Tomi dengan telaten sampai nasi di piring ludes paling duluan. "Mau nambah?" Tawarnya, Tomi menggeleng lalu mengucapkan terimakasih.
"Sekarang Kha yang makan, Sayang." Ghani mengusap belakang kepala Khalisa dengan bangga. Istrinya itu sangat peduli dengan orang lain.
"Suapin, tangannya capek." Ucap Khalisa manja, Ghani memutar bola mata malas. Tangan hanya digunakan untuk menyuapi Tomi, capek katanya. "Pake tangan, gak mau pake sendok," lanjutnya.
Guntur dan Ghina membulatkan mata atas kelakuan ibu hamil itu. Baru beberapa menit yang lalu bersikap dewasa menyuapi Tomi seperti ibu yang sedang menyuapi anaknya. Sekarang sudah berubah menjadi manja lagi.
"Hm," Ghani berdehem tapi tetap menyuapi istrinya dengan tangan.
__ADS_1
Selepas sarapan Ghani membawa istrinya kembali ke kamar. "Sayang, Abang hari ini menemani Tomi ke kantor karena Guntur ada urusan lain selama seminggu ini. Kha Gak papa kan kalo tinggal di rumah."
"Gak papa, Kha siapin pakaiannya." Khalisa mengambilkan jas, kemeja dan celana kerja untuk suaminya. Lalu membantu Ghani memasangkan kemeja.
Entah kenapa Ghani melihat istrinya itu lebih manis hari ini. "Kha kalau bosan nanti telpon Abang aja."
"Iya, aku mau nyelesain novel yang udah lama tertunda itu juga. Jadi mungkin sibuk." Katanya seraya memasangkan kancing kemeja Ghani satu persatu kemudian memasangkan dasi.
"Asal jangan capek-capek. Nanti gak ada yang nyuapin kalau tangannya capek." Sindir Ghani, Khalisa mengendikan bahu.
"Kha gak semanja itu kalau gak ada Abang ya. Lagian aku cuma pura-pura aja biar bisa manja terus sama Abang." Khalisa merapikan pakaian Ghani kembali setelah memasangkan jas.
"Jadi nakal nih ngerjain Abang terus sekarang." Ghani mencubit pipi Khalisa gemas.
"Gak nakal Abang, cuma iseng." Jawabnya sambil cengengesan.
"Abang berangkat kerja dulu, Kha hati-hati di rumah. Kalau ada paketan aneh lagi jangan dibuka. Kha juga jangan ke balkon. Oke." Khalisa hanya mengangguk dengan pesan suaminya itu.
"Me too." Khalisa tidak ikut mengantar Ghani ke bawah.
Seperginya sang suami Khalisa melanjutkan menulis. Rutinitas yang dia lupakan sejak ikut Ghani ke Singapura.
Khalisa ingin menemani Anindi, pasti sepupunya itu sekarang juga sedang sedih. Tapi dia takut keluar rumah.
Khalisa percaya Anindi menyayangi Tomi. Awalnya dia ingin menentang keputusan pasangan itu, tapi mengingat nasehat Ghani, Khalisa mengurungkan niatnya.
Di sebuah bangunan ruko bertingkat Anindi masih membenamkan dirinya dalam selimut. Dia tak bersemangat untuk bangun. Tadi malam insomnia melandanya. Semalaman Anindi tak bisa terpejam hatinya gelisah. Selepas sholat subuh baru bisa memejamkan mata.
Anindi tidak mencintai Tomi, tapi kenapa terasa sakit saat terpisah seperti ini. Mereka sudah resmi bercerai. Dia tidak menyesali kesepakatan yang sudah mereka buat. Hanya saja hatinya sekarang sedang tidak tenang jauh dari Tomi.
Mendekati lelaki itu dan meminta kembali tidak mungkin Anindi lakukan. Dia masih punya rasa malu.
__ADS_1
Perempuan itu menatap wajah kusamnya di cermin. Baru satu malam dia tidak tidur, wajahnya sudah mengenaskan seperti ini dengan mata membengkak.
Anindi memaksa dirinya untuk bangun dan mandi. Melakukan aktivitas akan membuatnya melupakan Tomi. Perempuan itu turun ke bawah untuk membuka toko lebih pagi.
"Mas!" Anindi terjingkat kaget, pagi-pagi begini Tomi sudah berdiri di depan pintu. "Ya Allah, tangan kamu kenapa?" Perempuan itu menarik Tomi untuk masuk karena panik.
"Kamu gak bisa tidur?" Lelaki itu mengamati wajah Anindi yang terlihat lelah dengan kantung mata. Dia tak mempedulikan pertanyaan Anindi. Tomi sengaja berangkat lebih dulu menggunakan taksi agar bisa menemui Anindi tanpa sepengetahuan Ghani.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku Mas. Aku gak mau jawab juga." Ujar Anindi merajuk di depan Tomi.
Tomi terkekeh kecil, mengusap lembut pipi Anindi.
"Mas, kita bukan suami istri lagi." Anindi menyingkirkan tangan Tomi dari pipinya. Mantan suami Anindi itu mengangguk dengan lesu, "maaf, ya sudah aku pergi dulu."
Tomi beranjak meninggalkan Anindi, dapat melihat perempuan itu saja hatinya sudah lebih baik. Ah iya, dia masih bisa mengamati semua aktivitas mantan istrinya itu dari cctv.
"Dari mana? Aku tanya Kha katanya kamu sudah tidak ada di rumah. Kenapa jadi baru sampai? Nyasar ke toko Anindi?"
"Iya," Tomi melanjutkan langkah menuju meja kerja. Ghani menarik napas panjang, semoga dia bisa bersabar menghadapi lelaki yang sedang patah hati ini.
"Gue bisa bantu apa?" Ghani menatap sendu wajah kakak sepupunya.
"Tanda tangan nih, gue perlu bantuan menandatangani berkas-berkas ini." Jawab Tomi santai, Ghani sudah mendesah berat ingin menghajar sepupunya yang satu ini.
"Gue baru lihat seorang Tomi yang tangguh ternyata juga bisa selemah ini karena perempuan."
"Semua ada waktunya masing-masing Gha. Tidak masalahkan kalau orang sehat tiba-tiba sakit." Katanya sambil memeriksa berkas-berkas juga laporan.
"Batu yang kuat saja bisa retak kalau terus di pukul. Apalah hati gue. Gue manusia biasa, ada saatnya merasakan terluka." Lanjut Tomi, selama ini dia tidak pernah mengeluh apapun tentang hidupnya. Menjalani seperti apa yang orang ingin lihat. Kehilangan orang tua sejak kecil membuat Tomi tumbuh jadi sosok yang mandiri.
Ghani hanya bisa mengangguk terserah Tomi sajalah. Memang tidak ada yang bisa mengukur kekuatan hati seseorang, walau badan terlihat kekar.
__ADS_1
Dia juga pernah berada diposisi kehilangan. Semua orang juga pernah mengalaminya, hanya cara penerimaannya saja yang berbeda.