Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
85


__ADS_3

Tiga lelaki itu seolah sibuk dengan dunianya masing-masing, padahal pikiran mereka hanya pada satu masalah. Siapa peneror itu? Ghina langsung keluar setelah Khalisa menandaskan air di gelas yang dibawanya.


"Sekarang masih takut?" Khalisa mengangguk, "tidur aja biar takutnya hilang Sayang." Ghani mengusap punggung halus gadisnya sampai obat tidur itu bereaksi. Baru jam sembilan pagi istrinya sudah dipaksa tidur lagi. Jahat memang Ghani ini. Hampir saja dia juga ikutan tidur karena kepalanya yang semakin berat.


"Kondisi lo sekarang yang memprihatinkan Gha, obatnya sudah diminum?"


"Belum," Ghani menanggapi ucapan Tomi dengan santai, Tomi berdecak mengambil obat yang tadi dibawanya lalu memasukkan paksa ke mulut Ghani. "Jangan bikin susah, kalau lo sakit kita semua kesusahan ngadepin istri lo itu."


"Hm, sorry. Gue capek banget." Lirih Ghani, badannya memang sangat lelah.


"Lo sambil istirahat biar kita yang mikir." Zaky menarik kursi di meja rias.


"Yakin Om Mahesa dan Om Ardi sudah tertangkap, tidak ada yang kabur lagi?" Tanya Ghani, siapa lagi yang bisa dicurigainya selain orang-orang itu.


"Sangat yakin, gue masih dapat laporannya setiap hari," tegas Tomi.


"Azhar dan Clara?" Ghani memijat pelipis sambil menahan kantuknya.


"Gue sudah kirim mereka ke luar negeri tempat paling terpencil." Jawab Zaky, matanya masih menatap ke arah balkon. "Bersama?" Ghani ingin jawaban yang lebih lengkap.


"Pisahlah, enak aja bersama." Zaky terkekeh, "Dhafi juga." Sambungnya, Ghani baru ingin bertanya adik iparnya itu sudah paham. Hatinya sedikit lega, tapi belum benar-benar lega.


"Berarti orang yang berbeda pelakunya." Guntur memainkan jemarinya di atas keyboard. Entah apa yang sedang dia lakukan, atau hanya sekedar akting biar terlihat keren.


Guntur beranjak menuju balkon sedikit menggeser pintu agar tubuhnya bisa menyempil keluar, mendekati cairan menyerupai darah tapi tak berbau anyir. Dia mengeja tulisan yang terjalin oleh cairan pekat itu. "M-A-T-I"


Guntur berdecak, "WOW." Dengan nyaring, entah karena kagum atau syok. Menarik perhatian tiga orang dewasa di dalam kamar, Khalisa tidak termasuk.


Zaky dan Tomi beranjak dari duduknya karena penasaran, begitu juga dengan Ghani walau dengan keadaan kepala yang berat dia melompat dari atas ranjang.


Empat orang itu tertegun menatap tulisan di lantai yang jelas tertuju untuk pemilik kamar. Ghani membalik badan menatap lekat gadisnya yang tertidur pulas. Hatinya diliputi kekalutan, belum selesai satu masalah datang lagi masalah baru.

__ADS_1


Bahaya apalagi yang sedang menanti gadisnya ini. Ghani kembali naik ke atas ranjang, mengusap kepala Khalisa dengan sayang.


"Apa sebenarnya yang mereka mau, salah apa Kha?"


"Kamu tenang dulu, kita selidiki semuanya. Jangan biarkan Kha ke balkon." Tomi menepuk pundak adik sepupunya. "Kamu istirahat, nanti kita bicara lagi." Tomi meninggalkan kamar Ghani, diikuti Zaky dan Guntur.


Seperginya tiga orang itu Ghani memeluk erat sang istri. "Kamu janji harus kuat Sayang, apapun yang kita hadapi nanti kamu harus bertahan." Lirihnya, tidak hanya kepalanya yang berat. Hidupnya juga berat.


Ghani tidak bisa leluasa mengajak Khalisa keluar rumah lagi. Itu sangat berbahaya untuk keselamatan sang istri. Mengikuti jejak Khalisa, Ghani ikut tertidur.


Efek pengaruh obat tidur sampai siang Khalisa tidak bangun. Ghani bangun lebih dulu, setelah mandi dia beranjak ke dapur. Perutnya lapar, tadi pagi baru terisi sedikit. Setelah tidur badannya sudah lebih baik.


"Gha, Kha sakit dari tadi pada Mama gak lihat istrimu?" Tanya Mira saat Ghani ingin melangkah ke dapur, wajah putranya terlihat sayu.


"Masih tidur Mah, habis aku kasih obat." Jujur Ghani, Mira melotot tajam pada sang putra.


"Urgent Mah, kami diteror pagi tadi." Jelasnya sebelum sang bunda memberikan ceramah siang gratis yang bisa membuat kepala Ghani semakin pusing tujuh keliling.


"Cuma pusing sama lapar, Pah." Jawabnya cengengesan, sambil menggaruk kepala.


"Duduk sini, biar Mama ambilin makannya." Ujar Mira, dia kasihan melihat putranya yang sudah tak terurus dengan baik semenjak Khalisa sakit.


Ghani menurut duduk di sofa samping Emran dengan menyandarkan kepala.


"Apa perlu perawat buat bantu ngurus Khalisa?" Tanya Emran, dia prihatin dengan kondisi putranya ini.


"Kha gak perlu perawat seperti itu Pah, dia cuma butuh perhatian lebih dari aku. Kha juga gak bakalan mau diurus orang lain," jelas Ghani.


"Kamu sudah ajak Kha ke psikiater?"


"Dia takut yang berbau rumah sakit dan dokter, Pah. Kha seperti mengalami trauma." Ghani menghela napas berat.

__ADS_1


"Makan dulu, sup hangat biar pusingmu berkurang." Ujar Mira kemudian duduk di samping putranya. "Kamu harus sehat biar bisa jaga Kha." Perempuan paruh baya itu memijat kepala Ghani pelan.


Dulu mereka yang memaksa Ghani untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Sekarang putranya itu sudah menjadi seperti yang mereka mau.


Ghani menyelesaikan makannya dengan cepat sebelum istrinya bangun dan mencarinya.


Khalisa mengerjapkan mata yang seperti di lem, sangat mengantuk. Istri Ghani itu terbangun, sang suami tidak ada di sampingnya.


Kakinya beranjak menuju balkon, dia penasaran dengan kejadian sebelum tertidur tadi. Apa yang mereka lihat di luar sana. Khalisa membuka pintu balkon. Dia memekik keras mendapati cairan merah di sana.


Anindi yang berada di samping kamar itu langsung mencari Khalisa di kamarnya. Kamar mereka berdampingan.


Khalisa menyapu cairan di lantai itu dengan kedua tangannya sambil menangis sesenggukan.


"Allah, Kha." Teriak Anindi, "kamu ngapain?" Istri Tomi itu berlari keluar kamar berteriak memanggil Ghani dari tangga.


Bukan hanya Ghani yang datang seluruh penghuni rumah juga mendekat. Karena ini hari libur, jadi semua orang ada di rumah.


"Sayang!" Teriak Ghani kaget. "Kha ngapain, Sayang?" Tanyanya lembut, membawa istrinya berdiri menuju kamar mandi.


"Kha takut, darah itu harus hilang." Ucapnya di tengah isak tangis. Salah Ghani tidak langsung membersihkannya.


"Nanti Abang yang bersihin." Katanya seraya membantu Khalisa mencuci tangan. Pewarna itu menempel di tangan susah untuk dibersihkan.


"Abang, darahnya gak mau hilang. Darahnya gak mau hilang." Teriaknya histeris, Ghani membawa istrinya dalam dekapan. Setelah lebih tenang dia menuntun Khalisa duduk di sisi ranjang.


Anindi sudah selesai membersihkan balkon dibantu Ghina. Mira memberikan segelah teh hangat untuk menantunya agar lebih tenang.


"Kha ingat gak, Abang kasih tau jangan ke balkon. Kenapa dilanggar, hm?" Tanya Ghani pelan sambil memeluk istrinya, dia takut Khalisa kenapa-kenapa lagi.


"Maaf," cicitnya.

__ADS_1


"Abang marah bukan karena Kha nakal, Abang gak mau Kha terluka." Jelasnya lembut, huhh dadanya sekarang susah menghirup oksigen dengan bebas. Di tambah beban pada kepalanya yang semakin berat.


__ADS_2