Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
51


__ADS_3

Mundurnya Ghani dari Emeral Corporation membuat Tomi dan Guntur pusing. Pekerjaan yang awalnya dipegang Ghani untuk sementara diserahkan pada mereka. Belum lagi kasus penggelapan dana yang belum tuntas.


"Tom, lo yang meeting jam delapan dan jam sebelas ya, gue yang siang." Ujar Guntur.


"Sepadat itukah jadwal kita." Tomi tertawa penuh paksaan.


"Gara-gara Ghani nih pake kabur segala, nambahin kerjaan." Runtuk Guntur, masih sibuk memeriksa berkas-berkas yang harus di sign.


"Masa bodo dia, bawa hatinya yang patah aja ketar-ketir."


"Kita yang dibuatnya keteteran."


"Udah kerjain aja daripada ngomel gak jelas." Sergah Tomi.


"Lo udah ngomong sama Anin?"


"Belum, gak tega lihat muka manisnya cemberut." Sahut Tomi sambil cengengesan menggigit ujung pulpennya, seperti anak SD yang tidak bisa menjawab soal ulangan harian.


"Fix lo jadi ketularan Ghani, gegana." Guntur terkikik, hatinya juga ikutan galau semenjak ditinggalkan Ghani, kerjaannya tak pernah kelar.


"Ada yang lebih sedih dari itu, udah gelisah, galau, merana lagi?" Sela Tomi tidak terima.


"Gimana kabar Kha?" Selidik Guntur, setelah pernyataan papa memintanya menikah dengan Khalisa. Membuat Guntur berjarak dengan perempuan itu. Dulu dia hanya bercanda menggoda Ghani untuk menikahi jandanya.


"Fisiknya sehat, cuma hatinya aja dibawa Ghani. Paling bentar lagi Ghani balik menjemputnya, dia gak bakalan tega lihat Kha tersiksa."


"Adik kesayangannya ngalahin Ghina." Guntur terkekeh pelan.


"Lo pernah liat, dia manjain Clara sama manjain Kha itu beda banget, memang Kha spesial. Ghaninya aja yang gak nyadar."


"Tau, lo jugakan?" Tatapan sinis muncul dari wajah Guntur.


"Asal bacot," geram Tomi.

__ADS_1


Plaak..


Satu bundel dokumen mendarat di kepala Guntur.


"Kalau iya, gue udah ambil kesempatan ogeb. Loyalitas bro, masa iya gue ngebiarin adik ipar sendiri dalam bahaya."


"Bercanda, serius amat." Ujar Guntur dengan tampang cengengesan.


"Kalau gak serius lo bakal ngecek sendirian dokumen ini." Tomi menyodorkan setumpuk dokumen yang tingginya satu jengkal pada Guntur.


"Ampuuunnn, lo selesain itu. Punya gue juga belum selesai nih." Tunjuk Guntur pada dokumen yang tak kalah banyak.


"Bisa ya Ghani nyelesain ini semua dengan cepat, padahal dia sering pulang lebih awal."


"Kalau Ghani jangan ditanya. Masternya dia."


"Gue mau ketemu Anin ya lo selesain sendiri, kangen red velvet." Goda Tomi dengan tertawa jahat.


"Ogah, bilang aja kangen orangnya. Tinggal pesan minta anterin orangnya langsung ke sini terus pura-pura ngobrolin Kha. Beres, kerjaan selesai, rindu pun selesai."


"Baru tau dia, gue belajar licik dari Papa." Guntur tertawa gelak diikuti Tomi.


***


Ghani tersenyum lega, pembukaan outlet burger pertamanya dikunjungi ramai pembeli. Terlepas dari papa dia masih bisa hidup, bahkan lebih bahagia. Hanya saja hatinya yang sekarang telah tertinggal pada Khalisa yang masih marah padanya.


Minggu ini Ghani berhasil membuka tiga outlet, itu cukup untuk bertahan hidup di negeri orang. Setelah keluar dari apartemen papa dia tinggal di sebuah rumah kecil yang di kontraknya.


Ghani mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, memandang cicak yang sedang kawin. Bayang-bayang Khalisa muncul di kepalanya. Perempuan cantik yang sangat manja itulah istrinya.


Dia baru menyadari cintanya tertinggal pada gadis kecilnya. Cinta yang dicari-carinya agar bisa tetap melanjutkan pernikahan. Bukan karena ingin mendapatkan harta dari sang ayah. Tapi ingin selalu berdampingan dengan Khalisa.


Masih maukah Kha hidup bersamanya saat tak memiliki apa-apa. Relakah perempuan itu menyerahkan seluruh hidupnya pada orang yang hampir jadi gelandangan.

__ADS_1


Benar kata Dilan rindu itu berat, seberat gunung es yang susah diangkat. Rindu istri sendiri halal bos, asal jangan istri orang. Dua bulan yang singkat, tidak banyak kata cinta yang terucap. Pantas saja jika menyisakan rindu yang sangat berat.


Ponsel di tangan bolak balik dimainkannya, sangat ingin mendengar suara istrinya. Apa Kha juga rindu. Atau memilih menenggelamkannya dalam kelabu.


Ghani beranjak mencoba membuat menu baru untuk menghilangkan segala gundah yang dirasakannya. Tidak kuat rasanya kalau harus berdiam diri memandangi cicak yang tidak tahu diri.


Semua orang pergi saat dia tak punya apa-apa lagi. Ghani tetap bertahan demi masa depan, juga untuk menafkahi istrinya. Walau tidak bisa sebanyak saat dia memegang perusahaan papa.


***


Dengan riang Khalisa menuliskan halaman demi halaman tentang kisah pertemuannya kembali dengan Ghani setelah terpisah belasan tahun. Tulisannya banjir komentar setelah dipublish. Kisah cintanya akan abadi di sini, dia berharap masih bisa bersama Ghani lagi. Cinta Gha & Kha akan terus bersemi.


Dering ponselnya berbunyi memecah kebahagiaannya pagi ini. Panggilan dari orang tidak dikenal, Khalisa enggan menjawabnya. Tapi ponsel itu terus berdering tanpa henti, terpaksa dia menjawab.


"Kha, kamu di mana?" Terdengar suara yang sangat dikenalnya. Khalisa mematikan sambungan telpon lalu memblokir nomornya.


Khalisa tidak ingin ada yang tau tempatnya bersemayam. Itu akan membuatnya dihujani banyak pertanyaan. Memilih bersembunyi itu lebih aman, saat dia tidak bersama Ghani. Akan banyak pertanyaan yang muncul ketika menantu Emran ini memilih berhenti mengajar dan menghilang bak ditelan bumi.


Dia akan keluar kalau Ghani yang mengajaknya. Khalisa tidak mau keluar rumah tanpa izin dari suami galaknya itu. Suami yang sampai sekarang belum ada kabarnya. Padahal ada rindu berbalut sendu yang belum tersampaikan.


***


Ghani memutuskan untuk pergi jauh dari Khalisa. Dua bulan terakhir ini membuat pikirannya berserabut. Kehilangan Khalisa ternyata tidak kalah menyakitkannya seperti kehilangan Clara. Siang malam pikirannya terganggu, tidak bisa tidur dengan tenang.


Dia lebih memilih membawa cintanya pergi, entah cinta yang mana ini. Dua bulan bersama perempuan itu membuat Ghani segila ini sekarang. Apakabar kamu Kha, ada rindu untukmu. Dapat salam dari langit yang kelabu.


Ghani mundur dari perusahaan papa tanpa membawa apapun keluar dari rumah. Dia menjalankan bisnis kecil yang dirintisnya di Singapura. Andai dia lakukan ini dari dulu, Ghani tidak akan terjebak dengan perjodohan yang malah menyakiti Khalisa.


Sikapnya yang pengecut sudah membuat gadis kecilnya terluka. Kenapa Ghani tidak menolak permintaan papa dulu. Biarlah dia yang tersiksa jadi gelandangan asal jangan Kha kecil kesayangannya. Namun sekarang sudah terlambat. Saat dia bisa berpikir benar, adik kecilnya itu sudah terluka parah. Tanpa bisa disembuhkan.


"Aku berharap ada benihku dalam rahimmu Kha, agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Maaf tidak bisa mendampingimu Kha. Aku rindu."


Dia meninggalkan papa yang murka atas kepergiannya. Terdengar kabar papa akan menikahkan Guntur dengan Khalisa, tapi sayang dia belum resmi bercerai dengan perempuan itu. Membuat papa tambah marah dengannya.

__ADS_1


Berita itu sungguh sangat menyakitkan, Khalisa dipaksa menikah lagi. Kenapa Papa begitu kejam, bagaimana pun caranya Ghani akan menyelamatkan gadis kecilnya.


__ADS_2