
Emran beranjak ke arah balkon, pagar yang mengelilingi rumahnya sudah cukup tinggi. Pengawal juga berjaga di setiap sudut. Dari mana datangnya teror itu.
Pria paruh baya itu menutup pintu dan juga tirai. Menantunya itu masih ketakutan dengan wajah yang pucat.
"Kita main di bawah yuk, Sayang." Ajak Ghani untuk mengalihkan pikiran istrinya. Dia sudah berusaha membuat Khalisa tidak mengetahui ini, tapi gagal.
Ghani menuntun istrinya keluar dari kamar, dia tidak bisa menggendong karena sedang pusing. Lelaki itu berbaring di karpet sambil menemani istrinya yang bermain dengan Airil.
"Abang masih sakit?" Tanya Khalisa sendu, menarik kepala Ghani ke atas pangkuannya. Lelaki itu memeluk pinggang Khalisa, membenamkan wajah di perut sang istri.
Tangan Khalisa memijat lembut kepala Ghani, melupakan Airil yang baru belajar jalan, baby boy itu mondar-mandir kesana kemari.
"Abang tidur?" Tanya Ghina menjauhkan putranya agar tidak mengganggu sang kakak. Khalisa mengangguk dengan wajah sendu.
Orang rumah jadi ikutan memanggil Ghani dengan sebutan Abang, ketularan Khalisa.
"Kamu temani Abang, aku bawa Airil tidur siang dulu ya." Khalisa lagi-lagi mengangguk, dia tidak tau cara menyembuhkan orang yang lagi sakit.
Berbeda dengan Khalisa yang sedih melihat suaminya sakit. Ghani justru tidur dengan nyaman dipangkuan sang istri. Lelaki itu membuka mata perlahan, memutar kepala menatap Khalisa.
Eh, gadisnya menangis dalam diam. Ghani segera bangkit dari pangkuan sang istri. "Kha menangis kenapa?" Tanyanya membawa Khalisa dalam dekapan.
"Abang sakit," cicitnya.
"Abang sudah sembuh, Sayang. Nih lihat sudah bisa peluk Kha kan." Ucap Ghani dengan tersenyum. Istri polosnya ini sangat menggoda iman.
"Jangan sakit lagi, Kha takut sendirian."
"Iya Sayang," Ghani membawa istrinya berbaring di sofa bed lalu menghidupkan televisi. Sesulit ini merawat bayi dewasa. Khalisa benar-benar aset berharganya sekarang.
***
"Kha mau jajan," Khalisa pagi-pagi merengek manja saat Ghani membawanya duduk santai di taman samping rumah.
__ADS_1
"Mau jajan apa, Sayang?" Lelaki itu sambil mengawasi renovasi outletnya di Singapura lewat Riko.
"Yang di sana." Khalisa membawa telunjuknya ke arah luar, "yang banyak orang." Lanjutnya sambil berpikir mengingat nama tempat itu, "emm, pasar."
"Ayo, Abang ambil kunci mobil dulu." Ghani menuruti kemauan istrinya, kalau ditolak pun pasti menangis seperti anak kecil. Dia belum punya cara jitu untuk mengendalikan istrinya ini selain menurut.
Wajah cerah itu sangat cepat berubah sendu begitu sebaliknya. Tempatnya pun harus sesuai keinginan gadis itu, Ghani menurut sajalah Khalisa maunya ke pasar.
Sejak kapan Ghani menginjakkan kaki ke pasar tradisional. Kalau bukan karena Khalisa dia tidak akan pernah menginjak tempat ini.
"Kha mau beli apa?" Tanya Ghani, istrinya itu seperti tampak bingung melihat banyaknya jajanan yang berjejer di meja.
"Mau kue bolong itu." Khalisa menujuk donat, "mau itu, itu, itu dan itu." Ghani melongo, bukan takut tidak bisa membayar. Gimana cara memakannya, hampir semua kue yang ada di meja itu ditunjuk sang istri. "Eemm, itu juga, itu juga."
"Ada lagi?" Tanya Ghani, dia meminta ibu yang menjual untuk membungkus semua yang ditunjuk Khalisa. Istrinya itu tidak mau satu, masing-masing harus lima. Serah ajalah nanti mau diapain, asal Khalisa senang.
"Sudah." Katanya dengan wajah berbinar cerah. Dua puluh macam kue kali lima, hitung aja sendiri. Mana mungkin masuk di perut Kha semua.
Ghani mengambil satu kantong besar jajanan yang sudah masuk kotak setiap jenisnya. Mereka seperti mau mengadakan syukuran di rumah dengan berbagai macam jajanan tradisional.
Byuurr
Cairan berwarna merah pekat membasahi pakaian Khalisa bagian depan.
"Abang!" Pekik Khalisa saat ada yang melemparnya dengan satu plastik cairan merah. Plastik itu sudah dibolongi dengan sengaja agar isinya tumpah. "Abang darah, Abang darah!" Teriaknya yang sudah mengangis histeris.
Ghani mencari-cari orang yang melempari istrinya. Tapi dia tidak tau bentuk wajah orang itu. Mereka sedang mengantri minuman jadi tidak fokus pada sekitar.
Darah, batin Ghani. Darah ayam karena ada bulu-bulu ayam yang menempel di sana. Khalisa sudah menangis ketakutan, bajunya penuh noda.
Ghani segera menggendong istrinya kembali ke mobil. Tidak mungkin dia bisa menemukan pelaku di tempat yang ramai seperti ini.
"Tenang Sayang, nanti kita mandi ya." Ghani mendudukkan istrinya di jok mobil. Tapi Khalisa tidak mau dilepas. Dia tidak bisa menyetir kalau begini.
__ADS_1
"Kha takut, Kha takut!" Teriaknya histeris, Ghani membawa istrinya masuk ke kursi penumpang. Mereka sudah jadi tontonan orang-orang di pasar. Terpaksa Ghani meminta Tomi untuk menjemputnya.
"Tenang Sayang, tenang. Kita tunggu Tomi jemput ya." Ghani menciumi puncak kepala Khalisa, agar lebih tenang. Bau amis sangat menyengat.
"Kha bau, takut, takut." Cicitnya masih menangis sesenggukan.
"Nanti mandi sama Abang." Bujuk Ghani sambil tersenyum untuk menenangkan, "kalau menangis gini cantiknya berkurang."
Ghani membenamkan wajah Khalisa di bahunya. Siapa yang tega berbuat seperti ini di tempat umum. Dia langsung membawa istrinya pulang setelah Tomi dan Guntur datang. Tomi menyetir mobilnya, selama perjalanan sampai ke rumah mereka tidak membicarakan apapun.
Lelaki itu langsung membawa istrinya ke kamar mandi setelah sampai. Dia tidak menjawab tatapan bingung mama dan adiknya.
Selesai ritual mandi Ghani membawa istrinya ke ruang tengah untuk mencicipi kue yang tadi mereka beli.
"Banyak banget," Ghina bergumam saat membuka kantong plastik yang berisi dua puluh kotak jajanan, "kita mau syukuran apa nih."
Tidak ada yang menanggapi, Mira ikut menatap bingung jajanan di atas meja itu.
"Mau makan yang mana, Sayang?" Ghani membukakan satu persatu kotak itu, tapi Khalisa menolak untuk mencicipinya.
Jadi, tadi Ghani ribet-ribet ke pasar hanya untuk membelikan orang rumah. Istrinya bahkan takut melihat jajanan itu. Beri Ghani stok sabar yang banyak, ya Allah.
"Coba sedikit aja, Sayang." Bujuk Ghani menyuapkan donat yang pertama kali dipilih istrinya.
"Darah," gumamnya sambil bergidik ngeri. Ghani langsung memeluk Khalisa, jantungnya mendadak nyeri. Semua tak terlepas dari pengamatan Tomi dan Mira.
"Kita ke kamar, Sayang." Ghani menggendong istrinya kembali ke kamar. Harus apa dia sekarang. Khalisa perlu penanganan lebih serius.
"Abang di sini, Kha jangan takut lagi." Ghani membaringkan istrinya lalu memeluk dengan erat, baru jam sembilan pagi. Tidak mungkin mereka harus tidur lagikan. Badannya bisa menggembung karena kebanyakan tidur menemani Khalisa.
"Jangan tinggalin Kha, takut." Rengeknya semakin membenamkan wajah dalam pelukan Ghani.
"Abang gak kemana-mana Sayang, Abang di sini aja." Bujuk Ghani menenangkan. "Kha gak perlu takut lagi, ada Abang."
__ADS_1
Walaupun dia ada tetap saja tak bisa menjamin Khalisa bisa selamat. Sekarang psikis istrinya yang mereka serang. Salah apa Kha sampai disakiti begini.