Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
84


__ADS_3

Ghani kembali ke ruang keluarga dengan wajah muram, menghempaskan tubuhnya di sofa samping Tomi.


"Apa perlu kita bawa Kha ke psikiater Gha?" Usul Tomi, Ghani tampak berpikir keras, tidak ada salahnya mencoba.


"Apa terlihat seperti itu Tom, aku belum pernah dengar orang gangguan jiwa bersikap seperti anak kecil."


"Mungkin bisa saja terjadi, Kha pernah melewati masa koma dua kali Gha. Pengangkatan tumor otak lagi, itu bisa saja berpengaruhkan." Jelas Ghina.


Sedikit banyak ucapan Ghina mempengaruhi pikiran Ghani malam ini. Matanya tak bisa terpejam, terus menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Pipi istrinya mulai chubby kembali.


"Aku takut tidak bisa menjagamu Sayang, takut ada orang yang memanfaatkan kondisimu sekarang. Takut ada yang menyentuhmu." Dia takut, sangat takut. Kalau Khalisa terus bersikap seperti ini, dikhawatirkan dirinya yang akan gila.


"Ya Allah, kali ini aku memohon ingin Engkau mengembalikan istriku seperti dulu lagi. Walau aku sangat suka kepolosan Kha yang sekarang. Tapi aku takut kepolosannya malah membuatnya celaka." Lirih Ghani, mengeratkan pelukannya di tubuh Khalisa.


Khalisa mengerjapkan matanya, setelah sholat subuh tadi ketiduran lagi. Alhasil sekarang kesiangan begitu juga dengan Ghani yang enggan melepaskan pelukannya.


"Abang bangun!" Khalisa menoel hidung mancung Ghani, tapi tak ada respon. Dengan jahilnya Khalisa memainkan ujung rambutnya di hidung mancung itu sambil terkikik.


Ghani menggaruk hidungnya yang gatal, dengan berat hati terpaksa membuka mata. Pelakunya ternyata kesayangannya sendiri, dengan geram Ghani menggigit pipi istrinya pelan. Tidak sampai melukai, dia tidak sanggup menyakiti kesayangannya ini.


"Nakal ya, hm." Ghani mengelus rambut Khalisa dengan sangat lembut.


"Abang ayo bangun, sudah siang."


"Abang pusing Sayang, tidur bentar lagi ya." Khalisa meletakkan punggung tangannya di dahi Ghani.


"Abang sakit, huuu, Abang sakit." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca, Ghani jadi gemas pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan seperti ini.


"Cuma demam Sayang, bangun tidur nanti sembuh." Ujar Ghani menenangkan istri polosnya, "Kha mandi dan sarapan duluan ya, ingat gak boleh minta peluk atau gendong siapapun kecuali Abang."


"Iya, Kha ingat kok. Gak boleh menyentuh laki-laki lain kecuali Abang." Khalisa mengulangi ucapan Ghani beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Istri sholehah," puji Ghani mengecup kening Khalisa, lalu melanjutkan tidur. Kepalanya sangat berat, hanya ingin melanjutkan tidur.


Selesai mandi Khalisa ke dapur untuk sarapan, semua orang sudah sarapan. Tidak ada yang membuatkannya susu cokelat, suaminya sedang sakit. Khalisa menatap sendu piring dihadapannya, lalu menempelkan pipi di meja.


"Ada apa Kha?" Tegur Tomi heran, tidak biasanya Kha kesiangan dan sarapan sendirian.


"Abang sakit, kata Abang cuma demam." Adunya dengan wajah yang menyedihkan.


"Kamu makan dulu ya, nanti ikutan sakit." Bujuk Tomi setelah mengerti kesedihan gadis itu.


Khalisa menggeleng. "Kha maunya disuapin, tapi kata Abang gak boleh dekat dengan lelaki lain nanti dosa." Ucapnya polos, Tomi sampai gemas sendiri. Menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Sekarang Kha ke kamar dulu, nanti minta suapin Abang. Sarapannya aku bawakan." Khalisa mengangguk lucu, kembali ke kamarnya berbaring di samping Ghani. Dia tidak tau harus melakukan apa saat ada orang sakit seperti ini.


"Abang, Kha takut. Abang jangan sakit." Katanya lirih sambil menangis. Ghani membuka matanya, terusik karena suara tangisan. Dia tidak bisa benar-benar terlelap, kepalanya sangat berat.


"Hei, kesayangan Abang kenapa menangis." Ghani menepuk pipi Khalisa dengan sayang.


"Kha takut." Khalisa beringsut kepelukan Ghani. Ghani menahan Khalisa agar tidak memeluknya.


"Bisa bangun Gha?" Tiba-tiba Tomi datang, meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di sisi ranjang Ghani.


"Pusing sedikit."


"Suapi Kha dulu, dia gak mau makan kalau gak disuapi." Tomi mengambil kembali nampannya, meletakkan di atas nakas dekat Ghani. Ghani menegakkan badannya mengambil sarapan.


"Ayo Sayang, Abang suapi." Khalisa menurut bersila di depan Ghani. Sesabar itu Ghani melayani Khalisa, walau dirinya sakit tapi tetap memprioritaskan istrinya.


"Apa perlu gue panggil dokter Gha?" Tomi menempelkan punggung tangannya di dahi Ghani, panasnya lumayan tinggi.


"Gak usah, cuma demam habis minum obat nanti juga sembuh."

__ADS_1


"Abang makan juga biar cepat sembuh." Khalisa mengambil piring di tangan Ghani lalu menyuapi suaminya. Ghani tersenyum, menepuk pipi halus Khalisa dengan sayang.


"Lo istirahat lagi Gha, kalau perlu apa-apa telpon aja." Ghani mengangguk, "Kha jangan nakal ya, di kamar aja temani Abangmu." Pesan Tomi lalu beranjak meninggalkan sepasang pasutri yang saling suap-suapan.


Ghani mendapati istrinya lebih sendu, apa Kha takut karena dirinya sedang sakit. Lucu sekali kesayangan Ghani ini, sangat menggemaskan.


"Sayang kenapa cemberut gitu?"


"Abang gak mau peluk Kha." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca, selalu saja begitu. Ghani bisa apa, hatinya langsung luluh kalau cintanya bersikap seperti itu.


"Sini, Abang peluk." Ghani merentangkan tangannya, semoga istrinya tidak ikutan demam. Khalisa langsung beringsut maju, wajahnya kembali cerah. Semudah itu membuat gadisnya bahagia.


Buukkk


Suara benda yang di lempar ke kaca, Ghani tidak bisa mengambil resiko membuka pintu balkon sekarang. Dia melepaskan tubuh Khalisa.


"Sayang tiduran ya tutup mata dan telinganya." Khalisa mengangguk beringsut membaringkan tubuhnya. Ghani menyelimuti Khalisa sampai kepala. Lalu membuka laptop mencek cctv di balkon.


Ada cairan merah pekat seperti darah yang membanjiri lantai. Sedang diterorkah dia saat ini. Ghani memanggil Tomi, Guntur dan Zaky melalui telpon.


Beberapa menit kemudian tiga orang itu berkumpul di kamar Ghani. Ghani menyingkap selimut Khalisa sedikit di bagian kepala, kasihan istrinya tidak bisa bernapas dengan leluasa.


Ghani memberikan laptopnya pada Guntur, mereka bertiga mengamati dengan seksama. Zaky meneliti kesekitar balkon. "Itu bukan darah, coba cek cctv di rumah depan sana Tur." Titah Zaky.


Ghani meletakkan jarinya di bibir mengisyaratkan agar tidak ada yang melanjutkan pembicaraan.


"Sayang buka mata dan telinganya." Khalisa mengangkat tangannya yang menepel di telinga, lalu menatap wajah Ghani dengan ketakutan, "mau main sama Airil gak?"


Khalisa menggeleng lemah, melirik tiga orang yang berdiri di depan ranjangnya.


"Takut, takut, takut!" Cicitnya lalu bangun dan menghambur kepelukan Ghani.

__ADS_1


"Jangan takut, Abang antar ke kamar Mama dulu sebentar ya." Khalisa menggeleng, "Kha mau sama Abang aja." Kalau sudah begini Ghani harus tega, dia mengirim pesan pada Ghina untuk membawakan segelas air putih yang sudah dicampur obat tidur dosis rendah.


"Oke, ayo kita tidur lagi." Ghani terus menenangkan Khalisa sampai Ghina datang. "Minum dulu ya Sayang biar tenang." Untunglah istrinya sekarang penurut, jahat sekali Ghani.


__ADS_2