
"Tidak ada yang mencurigakan lagi dari Nada. Mungkin cuma kebetulan dia berada disekitar rumah kita." Jelas Guntur setelah beberapa hari menyadap ponsel Nada.
"Bisa saja dia digunakan sebagai pengecoh, agar kita salah fokus," Zaky menambahkan.
"Bagaimana keadaan di kantor setelah penangkapan Om Ardi?" Ghani tidak tau perkembangan karena dia hanya diam di rumah sambil mengurus bisnisnya. Sedang Zaky dapat bagian mengurus rumah sakit dan hotel.
"Tidak ada yang aneh dan mencurigakan. Tetap seperti biasa." Tomi mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke meja. Mereka sekarang berdiskusi di ruang rahasia Emran.
"Dari keluarga Azhar, Clara dan Dhafi apa ada yang mencurigakan?" Tanya Ghani.
"Sejauh ini tidak ada," sahut Guntur sambil memainkan layar ponselnya.
"Dari penculik Anindi tidak ada petunjuk?" Ghani mengaitkan kejadian yang saling berhubungan.
Tomi menggeleng, "kita tidak menemukan apa-apa, mereka bersikeras tutup mulut lebih memilih membusuk di penjara.
"Kasihan, hanya dijadikan umpan. Berapa orang yang melakukan penyerangan?" Selidik Ghani.
"Sebelas orang."
"Semuanya tertangkap?" tanya Ghani, Tomi mengangguk lagi.
"Mereka seperti penjahat amatiran," Zaky bergumam.
"Aneh! Ini pasti bukan dilakukan oleh penjahat kelas atas. Mereka hanya mencoba-coba keberuntungan." Ghani mengeluarkan pendapatnya walau dia tidak ikut terjun ke lapangan tapi bisa menyimpulkan dari pembicaraan ini.
"Hasil lab sudah ada?"
Zaky memberikan selembar kertas pada Ghani, si empunya melotot tajam. "Racun Digoxin, yang berasal dari bunga foxglove, bisa digunakan untuk obat jantung. Tapi juga bisa membuat jantung berhenti berdetak." Terang Ghani setelah mengetahui jenis racun yang digunakan.
Lelaki itu menggelengkan kepala, dia tidak menyangka ada orang yang seniat itu ingin membunuh istrinya. Tomi dan Guntur yang tidak tahu menahu hasilnya meneguk ludah lemas.
"Allah, apa salah Kha." Ghani berdesis, "siapa perempuan itu?"
"Perempuan itu melarikan diri, dia menggunakan identitas palsu. Sepertinya semua sudah direncanakan dengan matang," jelas Tomi.
__ADS_1
"Jadi, penculikan dan racun itu dilakukan oleh dalang yang berbeda atau...!!" Zaky menjeda kalimatnya, membuat Guntur berdecak kesal. "Atau apa Zaky!" Pekiknya nyaring.
"Mereka hanya mengecoh, agar kita tidak langsung menahan perempuan itu, mengalihkan perhatian."
"Jenius Zaky. Tapi sayang kita sudah tidak bisa mengambil sidik jari pelaku, toko Anindi juga sudah diacak-acak. Sangat jelas bukan kalau mereka ingin menghilangkan jejak."
"Kenapa jadi semakin rumit begini, terlalu banyak teka-teki. Satupun belum bisa dipecahkan." Lanjut Guntur mendesah berat.
"Sabotase outletmu sudah ada titik terangnya Gha?" tanya Tomi, Ghani hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Teror yang selama dua bulan terjadi itu juga kita belum menemukan titik terangnya. Apa semua berhubungan, teror berhenti lalu serangan terbuka dilakukan." Zaky mengeluarkan uneg-uneg yang bersarang di kepalanya.
"Kemungkinan pelakunya hanya satu orang, mereka sudah mengetahui segalanya tentang kita." Kata Tomi, setelah dia mencorat-coret dikertas mencari benang merah.
"Ini musuh Ayah Haris atau Papa Emran? Kita dapat serangan semi terbuka setelah Ghani menikah dengan Kha. Tapi kalau musuh Papa Emran harusnya hanya Kha yang jadi sasaran. Kemungkinan ini musuh Ayah Haris." Ungkap Guntur setelah berpikir keras.
"Polanya adalah Kha dan Anindi saudara sepupu, Azhar dan Dhafi saudara sepupu. Jadi kemungkinan—"
"Ini ulah saudara sepupu Ayah Haris?" Sambung Ghani memotong pembicaraan Guntur.
"Masuk akal, mungkin Ayah Haris dan Papa Emran sudah tau dalangnya! Kita juga belum tau alasan papa menikahkan Ghani dengan Kha."
"Tomiii...!!" Sentak Ghani, dia tidak suka masalah pernikahannya dikaitkan. Apalagi jika itu sebagai bisnis atau misi balas dendam orang tuanya.
"Kenyataannya begitukan Gha? Kita tidak tau bagaimana jalan pikiran papa yang misterius itu." Ghani setuju dengan Tomi, tapi dia belum bisa menerima jika kenyataan begitu.
"Gue takut Kha kecewa, kalau kenyataannya seperti itu." Ghani menghirup napas kasar.
"Itu hanya asumsi Gha, kita belum tau kebenarannya." Zaky menenangkan kakak iparnya.
"Wait!" Pekik Guntur setelah mengingat sesuatu.
"Apa?" Tomi mengangkat sebelah alisnya.
"Siapa yang membebaskan Azhar atas tindakan pelecehan Kha waktu di kampus dulu, Om Ardi kan?" Tanya Guntur dengan semangat empat lima. Tiga orang di depannya mengangguk bersamaan.
__ADS_1
"Apa bisa mengembalikan Azhar begitu saja ke kampus tanpa orang dalam?" Tanyanya lagi.
"Jadi maksudnya ini bisa ada hubungannya dengan Paman Luthfi?" Zaky menegaskan.
"Mungkin, gue takut berasumsi. Masih masuk pola yang gue pikir asal sih. Paman Luthfi, Mama Mira sepupuan. Apa hubungannya ya?" Ucapnya seraya menggaruk kepala yang penuh tanda tanya. "Tapi intinya Paman Luthfi bisa terlibat."
"Kita gak bisa sembarangan membuat asumsi begini. Kalau ini sampai di dengar papa, habis kita." Ghani mengingatkan, "kecuali sudah ada bukti," lanjutnya lagi.
Ghani kembali ke kamar masih membawa pikiran yang diucapkan Tomi, benarkah pernikahan mereka hanya kepentingan bisnis orang tuanya. Jika diawal pernikahan dulu dia akan sangat senang kalau kenyataan seperti itu. Tapi sekarang tidak, dia sangat takut.
Tak pernah puas Ghani mengamati wajah cantik istrinya yang sedang tertidur. Disingkapnya rambut yang menutup wajah Khalisa.
"Kenapa mencintaimu harus melewati semua ini Kha, kita hanya ingin hidup bahagia bersama tanpa menyakiti orang lain."
"Abang!" Ghani mengerjapkan mata saat kepergok menatap istri sendiri.
"Hm, kenapa bangun? Abang ganggu tidur Kha ya?" Khalisa menggeleng lalu tersenyum manis dengan wajah bantal.
"Peluk!"
"Uh, istri Abang mau dipeluk." Khalisa mengangguk lucu. Ghani mendekat, menarik Khalisa dalam pelukannya. "Tidur lagi Sayang, baru jam sebelas."
"Abang mikirin apa?"
"Mikirin kamu Sayang." Ghani tersenyum lalu mengecup kening Khalisa, "Tidur Kha."
"Huumm!"
"Jangan bikin gemas Sayang, kalau gak mau Abang ajak olahraga sekarang." Khalisa mengerucutkan bibirnya kesal. "Bibirnya nakal," Ghani mencubitnya pelan. Khalisa malah nyosor ke bibir Ghani. Istrinya nakal sekarang, tidak memberikan Ghani kesempatan untuk bernapas.
"Kamu harus tanggung jawab, Kha!" Ghani sudah merubah posisi jadi di atas Khalisa, membungkam tubuh mungil sang istri. Melahap lapar bibir ranum Khalisa, tangannya sudah siap menjelajah.
Khalisa salah, sudah memancing singa yang sedang kelaparan.
"Makasih Sayang." Ghani mengapus keringat di kening Khalisa sebelum mengecupnya, lalu berlayar bersama ke alam mimpi setelah melalui malam yang panjang.
__ADS_1