
Malam itu mereka langsung mengadakan syukuran atas kehamilan Anindi. Semua tersenyum bahagia karena sebentar lagi akan kedatangan anggota baru.
"Alhamdulillah Sayang, Allah sayang kalian." Mira memeluk menantunya dengan tangisan bahagia.
"Ini berkat doa Mama dan kalian semua," ucap Anindi yang lagi-lagi menangis. Sudah berapa kali Tomi melihat istrinya itu menangis hari ini. Bukan tangisan kesedihan lagi, tapi tangisan bahagia.
"Sayang, nangisnya sudah ya. Arraz sampai bingung kenapa bibinya nangis terus." Ujar Tomi yang mendekati istrinya sambil menggendong sang keponakan. Bocah kecil itu ingin digendong Anindi, perempuan itu dengan senang hati menyambutnya.
"Arraz berat Sayang, biar Mas yang gendong." Cegah Tomi, "Arraz sama Paman aja ya. Nanti dedek kesakitan kalau Bibi gendong kamu."
"Abang Arraz gak mau dedek sakit," ucap bocah cilik itu. Tomi tersenyum, "kita duduk aja yuk sama Bibi." Katanya membawa Anindi kabur dari perkumpukan anggota keluarganya. Mereka mengasingkan diri ke ruang keluarga. Acara sebenarnya sudah selesai, hanya sebagian tamu saja belum pulang.
Arraz sangat antusias menciumi perut Anindi. Tomi dan Anindi tertawa gemas melihat tingkah anak kecil itu.
“Ayo dedek cepat keluar, kita main bola sama Abang Arraz di taman. Nanti Abang yang tendang, dedek yang tangkap bolanya.” Seru Arraz dengan bola mata yang berbinar-binar.
“Kalau dedeknya perempuan gak bisa diajak main bola Sayang,” ujar Anindi memberitahu.
“Kalau dedeknya perempuan mau Arraz jadikan istri,” jawab Arraz kecil. Tomi dan istrinya semakin tertawa geli, sebelum ketegangan terjadi.
“What? Masih kecil sudah mau punya istri!!” pekik Khalisa kaget, “jangan bilang kamu yang ngajarin, Guntuuuurrr!!” teriaknya geram pada sepupu Ghani yang ikut ke ruang keluarga bersamanya.
“Kenapa jadi aku yang salah Kha, kapan aku ngasih tau Arraz. Dari tadikan aku sama kalian!” ucap Guntur ngegas. Ia tidak terima disalahkan.
“Siapa lagi yang suka ngajari Arraz gak bener, kalau bukan kamu!!” balas Khalisa ketus.
“Kha, Sayang. Arraz masih kecil, ngapain ucapannya kamu telan bulat-bulat.” Ghani menarik istrinya untuk mendekat, semenjak punya anak Khalisa suka marah-marah tidak jelas. Apalagi kalau Guntur yang memulai.
__ADS_1
Ia jadi terpikir, apa Khalisa kelelahan mengurus putranya yang memang sangat aktif itu. Bagaimana kalau mereka punya anak kembar, pasti akan tambah kelelahan. Tapi istrinya ini sangat ingin punya baby twin, emang bisa request minta kembar dan langsung jadi.
“Abang, ucapannya itu gak pantas diucapkan oleh anak seusianya,” ujar Khalisa melembut.
Anindi sudah memangku Arraz, takut-takut keponakannya itu yang jadi sasaran kekesalan Khalisa. Tapi sebenarnya Kha tidak pernah kasar pada putranya, dia akan memberi tahu dengan lembut. Hanya saja ceramahnya yang sangat panjang. Orang dewasa saja akan pusing mendengarnya apalagi anak kecil.
“Tuh dengerin yang Ghani bilang, ucapan anak kecil jangan dijadikan pedoman!” seloroh Guntur yang masih kesal, membanting pantatnya di sofa.
“Guntur, kamu juga ya suka ngajakin Kha berantem terus.” Tegur Emran, menantunya yang satu ini tidak bisa diberitahu dengan kasar atau nada suara tinggi.
“Aku terus yang disalahin!” Tukas Guntur membaringkan tubuh di sofa panjang.
“Kalau memang salah mana bisa dibenarkan, Guntur.” Emran berusaha menengahi perdebatan putra-putrinya.
“Tapi Kha yang mulai duluan Pah, dia nuduh aku tanpa ada barang bukti!!” seru Guntur, sudah seperti dituduh mengedarkan narkoba saja.
Khalisa memanyunkan bibir, “Abang temani ke kamar.” Ucapnya pelan, Ghani mengangguk membawa istrinya ke kamar. Menitipkan Arraz pada Tomi.
“Kamu tau sendiri gimana Kha, gak usah dilawan, cukup di dengarkan.” Nasehat Mira pada putranya setelah Ghani dan Khalisa pergi dari sana.
Anindi melepaskan tangannya dari telinga Arraz yang ia tutup saat terjadi perdebatan sengit tadi. Begitu juga yang Ghina lakukan pada putranya. Dua anak kecil itu menatap Guntur bingung.
“Kha capek?” tanya Ghani pada istrinya yang kesal.
Perempuan itu menggerakkan kepala sedikit. Membaringkan badan kemudian menarik selimut. Ghani ikut berbaring memeluk Khalisa dari belakang.
“Gak mau ganti baju dulu Sayang, biar gak gerah.” Bujuk Ghani lembut, lagi-lagi Khalisa hanya menggeleng malas.
__ADS_1
“Kan Guntur yang bikin salah, kenapa marah sama Abang juga.” Dengan gerakan pelan Ghani melepaskan jilbab sang istri.
“Kha gak marah sama Abang, cuma capek. Kha minta pindah rumah dari dulukan. Tapi Abang gak mau nurutin," sebut Khalisa sendu.
“Abang bukan gak mau nurutin maunya Kha, Papa sama Ayah yang larangkan. Mereka gak mau Kha kelelahan jaga Arraz sendirian. Kalau di sini ada Nindi, ada Mama dan juga babysitter yang bantu jaga Arraz.” Jelas Ghani lembut sambil mengelus kepala Khalisa.
“Kha mau hidup mandiri, Abang. Kha mau urus Arraz sendiri. Aku bisa kok," kekeuh Khalisa.
Ghani membalik tubuh Khalisa pelan, “nanti Abang bicara lagi sama Papa dan Ayah.” Katanya merapatkan tubuh Khalisa ke pelukan.
Kalau Ghani menuruti keinginan istrinya ini, akan semakin sedikit waktunya untuk berduaan. Karena Khalisa akan disibukkan mengurus Arraz sendirian. Sudah tau isi otak Ghani kan, dia hanya menenangkan. Tapi belum tentu merealisasikan keinginan istrinya itu.
Saat Khalisa sudah tertidur, Ghani menjemput Arraz ke bawah. Putranya itu juga sudah tertidur dalam pelukan Tomi. "Kalian memang klop," gumamnya tersenyum pada putra kecilnya.
“Kha sudah tidur?” tanya Emran pada putranya.
“Iya Pah, Kha mau tinggal sendiri. Gak mau di sini lagi,” beritahu Ghani. Pria paruh baya itu mendesah berat.
“Kalian itu jangan suka bikin Kha kesal, dia jadi gak nyaman tinggal di sini. Sudah taukan dari dulu dia mau pergi dari sini.”
Sejak Ghani masuk rumah sakit karena bertengkar dengan Tomi dulu, menantunya itu sudah ingin tinggal terpisah. Tapi dia melarang keras.
“Biar aku aja yang keluar dari rumah ini,” ucap Guntur kemudian beranjak dari sana. Pria yang biasanya terlihat enjoy dengan apapun itu, kini nampak aneh.
“Kenapa dia? Biasanya juga bertengkar dengan Kha, tapi gak sampai merajuk begitu.” Tanya Ghina heran. Semua yang ada di sana tidak ada yang menjawab.
Ghani mengambil putranya lalu membawa ke kamar, dia jadi pusing kalau di rumah ada masalah yang membawa nama istrinya.
__ADS_1