Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
114


__ADS_3

"Luthfi, aku bilang tembak jantungnya kenapa malah tangannya bodoh!" Teriak Tyas.


Khalisa terkulai lemas melihat darah berceceran dari lengan kirinya. Sakit, sangat sakit. Dia melihat dua orang tua bangka itu berdebat. Bersyukur bukan jantungnya yang tertembak.


"Bangs*t!" Teriak Ghani menendang pamannya dari belakang.


"Ghani!!" Pekik Tyas dan Luthfi bersamaan. Tyas mematung sesaat, sedang Luthfi sudah terjatuh ke lantai.


"Tepat sekali Ghani, kalian akan mati bersama!" Teriak Tyas, beberapa detik kemudian dia mengambil pistol yang terjatuh di lantai, dengan cepat mengarahkan pada Ghani.


Dor!


"Abaang!!" Teriak Khalisa dengan sisa tenaganya, setelah mendengar kalimat yang diucapkan Tyas. Matanya terpejam karena menahan rasa sakit yang luar biasa.


Ghani terjatuh di lantai dengan darah yang membanjiri perutnya.


Zaky meloloskan peluru menembus jantung Tyas, sebelum ada korban lagi. Tubuh itu ambruk dengan darah yang berceceran. Diam-diam Zaky, dia tidak segan untuk membunuh musuh.


Tomi mengamankan Luthfi memberikannya pada tim kepolisian yang baru tiba menyusul mereka.


Ghani masih syok dengan suara tembakan yang di dengarnya. Tapi dia masih hidup, hanya perutnya yang tertembus peluru.


"Kha, kuat Sayang." Ghani berusaha bangun, ingin menggapai istrinya. Tapi tubuhnya malah ambruk lagi.


"Kha akan kuat, kamu juga harus kuat." Tomi mendekati sepupunya memberikan kekuatan.


Emran bersimpuh di depan Khalisa, melepas ikatan tangan kemudian kakinya, "bertahan Nak!" Pria paruh baya itu melepaskan dasi dan mengikat lengan kiri menantunya, agar darah berhenti keluar. Begitu juga Tomi berusaha menghentikan pendarahan perut Ghani.


Khalisa mendengar suara papa mertuanya, ikatan di tangannya sudah terlepas. "Ghani Pah." Lirihnya.


"Aku di sini Sayang." Ghani melambaikan tangan dengan tersenyum sebelum matanya terpejam. Perlahan Khalisa membuka mata, "Abang!" Tangis Khalisa pecah melihat Ghani bersimbah darah.


"Tenang Sayang," Emran segera menggendong menantunya ke dalam helikopter. Sedang Ghani di bopong Zaky dan Tomi.

__ADS_1


"Bertahan Kha, suamimu pasti kuat." Emran terus menepuk pipi Khalisa agar tetap sadar.


Setelah terbang selama lima belas menit mereka sampai rumah sakit. Tim medis langsung melakukan tindakan pengangkatan peluru. Khalisa dan Ghani di pindahkan ke ruang rawat setelah hampir satu jam ditangani.


Khalisa sadar lebih dulu, netranya menatap sendu Ghani yang masih belum sadarkan diri di brankar samping kanannya.


"Abang bangun, Kha mau Abang bangun." Lirihnya dengan isak tangis, mengabaikan rasa sakit di tangan dan pipinya.


"Abang pasti bangun Kha," Tomi mengusap kepala Khalisa untuk menenangkan, "kamu tenang ya, biar dedeknya gak ikut sedih." Hanya ada Tomi dan Zaky yang menjaga di ruang rawat. Emran pulang menjemput Mira yang tak berhenti menangis histeris di rumah.


"Kalau Kha gak nakal, Abang pasti masih bangun." Khalisa menggenggam tangan kiri Ghani. Dia sangat takut suaminya itu tidak bangun lagi.


"Abang maafin Kha, Abang harus bangun. Jangan tinggalin aku sendirian, aku takut. Aku gak akan nakal lagi. Kha janji gak nakal lagi, tapi Abang harus bangun." Mohonnya sambil menciumi tangan kiri Ghani.


"Kha gak nakal, ini bukan salah Kha. Abang pasti bangun buat kamu." Tomi tidak kuat melihat Khalisa yang terus menangis, tangannya menyeka air mata yang membasahi pipi perempuan itu.


"Kha!" Pekik Mira tergopoh-gopoh berlari mendekati brankar Khalisa. Emran, mengikuti di belakang.


"Pah, Mama harus ketemu Bang Luthfi, Mama harus minta penjelasan. Mama gak rela dia melukai anak dan menantu Mama." Ujar Mira menggebu-gebu, dia tidak tau salah apa sampai Abang sepupunya itu bertindak seperti ini.


"Mama, nanti kita temui Luthfi ya setelah selesai penyidikan." Bujuk Emran menenangkan Mira. Perempuan paruh baya itu mengangguk, menatap nanar lengan kiri menantunya yang diperban juga putranya yang masih belum sadarkan diri.


"Abang Mah, Abang gak mau bangun karena Kha nakal." Rengek Khalisa, air mata itu seperti tidak ada habisnya. Mira ikut merasakan sakit yang menantunya itu rasakan.


"Abang akan bangun Kha, kamu tenang ya Sayang. Abang pasti bangun," Mira mengusap lembut pipi menantunya.


Khalisa menggeleng, "Kha mau dipeluk Abang. Kha mau Abang bangun sekarang!"


Zaky sedari tadi hanya diam mengamati, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa agar Ghani cepat sadar.


"Papa yang peluk ya." Bujuk Emran, Khalisa menggeleng. "Kha, mau Abang. Kha mau Abang," teriaknya histeris.


"Pokoknya Kha mau Abang," teriaknya dengan suara parau di tengah tangis.

__ADS_1


"Kha tenang ya," Tomi menangkup kedua pipi Khalisa, "tenang, tunggu Abang bangun. Jangan menangis seperti ini."


Tidak tahan melihat Khalisa terus histeris, Tomi membawa tubuh Khalisa dalam pelukannya dengan pelan.


"Abang akan cepat bangun kalau Kha pintar." Bujuk Tomi seraya mengusap kepala Khalisa, "Kha harus pintar, kalau kamu menangis nanti Abang jadi sedih."


"Kha harus pintar biar cepat sembuh ya," ucap Tomi lagi, Khalisa mengangguk lemah.


"Pintar, Abang pasti sayang Kha yang pintar." Cukup lama Tomi menenangkan sampai perempuan itu berhenti histeris dan tertidur dalam dekapannya.


Tomi membaringkan Khalisa kembali setelah tertidur, sekarang dia beralih pada Ghani. "Gha, bangun. Kha nungguin kamu. Jangan tidur kelamaan, aku tau kamu gak selemah itu." Bisik Tomi, Ghani hanya dalam pengaruh bius, luka tembaknya tidak terlalu parah.


"Kalian kenapa sakit janjian gini," ujar Ghina berlari sambil menangis mendekati brankar kembarannya.


"Gha kamu harus bangun, aku hitung sampai tiga, kalau gak bangun aku pukul lukamu." Teriak Ghina marah.


"Sayang, ini rumah sakit jangan berteriak." Zaky menenangkan istrinya.


Ghina tidak mempedulikan perkataan Zaky, perempuan itu menampar pipi Ghani dengan keras.


"Sayang!" Zaky menangkap tangan Ghina yang ingin menyerang Ghani lagi, memeluk perempuannya itu agar tidak memberontak.


"Gak mau, Ghani harus bangun!" Pekiknya nyaring.


"Sstt," Tomi mengambil alih Ghina kepelukannya, dia hampir frustasi menenangkan Khalisa. Sekarang satu orang lagi yang mengamuk.


"Tenang Ghin, Abang sakit kalau kamu tampar." Tomi menyeka air mata Ghina sambil tersenyum, dari kecil memang dia yang selalu menjaga Ghina kalau Ghani tidak ada.


"Ghani pasti bangun, dia hanya istirahat sebentar. Sekarang tenang, peluk suamimu ya." Bujuk Tomi, Ghina menggeleng. "Aku mau Ghani, aku gak mau dipeluk Zaky."


"Oke, kita tunggu Ghani sama-sama ya." Tomi mendudukkan Ghina di brankar samping Ghani. Perempuan itu membenamkan wajah di bahu Ghani sambil menangis. Zaky mengusap kepala istrinya untuk menenangkan.


"Mama juga mau Tomi peluk?" Tanya Tomi dengan tersenyum mendekati Mira lalu membawanya dalam dekapan. Tubuhnya sangat lelah hari ini, kepalanya hampir saja meledak menenangkan dua perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2