Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
141


__ADS_3

"Hai, hai, hai, apa kabar?" Khalisa mengirim pesan di grup rempong. Lama tidak bertukar kabar. Ada ribuan pesan membuatnya malas membaca chat masuk.


Tidak ada balasan, padahal mereka sudah membaca pesan yang dikirimnya. Beberapa menit kemudian panggilan video call masuk. Sisil, Marsya dan Ira masuk dalam frame ponselnya.


"Khaaaa!" Pekik ketiganya bersamaan, Khalisa sampai menjauhkan ponsel karena teriakan itu mengganggu telinganya. Dia melirik Ghani yang masih sibuk di depan laptop.


"Abang masih meeting, kalau ganggu aku ke kamar aja." Izin Khalisa, takut mengganggu suaminya. Tiga temannya sudah memasang wajah masam karena dicueki.


Ghani menggeleng lalu memberikan senyuman khas. Bagaimana mungkin dia terganggu dengan pemandangan istri cantiknya itu. Duh, Ghani jadi bucin akut sekarang.


"Hai, apa kabar?" Khalisa beralih ke layar ponsel setelah mendapat jawaban dari suaminya.


"Lo kemana aja sih Kha, gak bisa dihubungi. Pakai acara menghilang lagi, kita khawatir tau." Omel Marsya melebihi kecepatan rata-rata.


"Kangen juga tau, jahat banget gak ngasih kita kabar. Jangan sok ngilang deh biar dicariin," Sambung Ira kesal.


"Babang mana Kha?" Tanya Sisil, dia sudah tau kabar Khalisa dari Dimas jadi tidak terlalu cemas.


"Gue bingung mau jawab yang mana dulu." Khalisa terkikik geli, tingkah sahabatnya itu lucu. Untung mereka mengoceh bergantian, coba klau barengan apakabar telinga Kha yang langsung pusing mendengarnya.


"Lo malah ketawa, gak lucu tau! Kita gak lagi audisi nyari pelawak." Seru Marsya geram.


"Kalian sekarang lihat gue baik-baik ajakan. Gak ada yang perlu dijawab lagi. Kangennya juga udah hilang kan? Kecuali pertanyaan Sisil yang perlu gue jawab." Lagi-lagi Khalisa tertawa geli melihat wajah masam Marsya dan Ira.


"Serah lo deh. Yang sudah bahagia pake menghilang segala," gerutu Ira.

__ADS_1


"Sekarang mau marah-marah apa melepas kangen nih?" Ujar Khalisa, tidak akan ada habisnya meladeni omelan emak-emak itu.


Ketiganya serempak menjawab, "ngumpul bareng!" Dengan suara melengking, lagi-lagi Khalisa menjauhkan ponselnya.


"Kalian kalau ngomong ngalahin toa mesjid ya, kasihan anak gue nih kaget dia." Khalisa mendengus kesal, telinganya perlu diperiksa ke dokter THT nih setelah ini.


"Lo udah punya anak, kok cepat amat?" Tanya Marsya kepo.


"Di sini!" Khalisa mengarahkan kamera ke perutnya, "belum kelihatan sih." Lanjutnya dengan cengiran.


Marsya memutar bola mata jengah, "anak lo itu gak bakalan dengar mau kita ini teriak sambil salto."


"Tetap kasihan tau, entar dia bingung kenapa teman bundanya pada gesrek semua. Kan jadi salah gue yang tidak bisa memilih pergaulan." Jawab Khalisa asal, sontak dia mendapat pelototan dari ketiga sahabatnya itu.


Ghani mengernyit melihat istrinya itu terus tertawa, lalu mendekatinya. Dia sudah selesai meeting. "Asyik banget Sayang, ngomongin apaan sih?"


"Enak ya yang tiap hari pacaran," ledek Sisil pada pasangan yang sudah masuk dalam layar ponselnya.


"Huum, bosan di rumah mulu," keluh Khalisa sambil menyengir pada Ghani. Berharap suaminya itu paham kalau dia mau diajak jalan-jalan.


"Bosan-bosan senangkan."  Sambung Ira, "banyak senangnya sih pasti dari pada bosan. Buktinya jadi anak." Tambahnya dengan tertawa gelak, diikuti Marsya dan Sisil.


"Husst, sembarangan!" Khalisa mencebik kesal.


Ghani hanya menanggapi dengan senyuman pembicaraan teman-teman sang istri. Memeluk Khalisa dari samping, dia senang melihat wajah bahagia istrinya ini.

__ADS_1


"Ulu-ulu yang asik pacaran, kita dianggurin." Ejek Ira lagi.


"Eh, ada Babang," sapa Sisil sambil melambaikan tangan. Tadi mereka pura-pura tidak melihat.


"Pangeran berkuda putihnya ternyata sudah datang Sil," goda Marsya.


"Hai!" Ghani melambaikan tangan, "kangen Kha?" tanyanya.


Semenjak kembali dari Singapura waktu itu Ghani tidak pernah mengizinkan Khalisa kemana-mana lagi untuk keselamatannya. Sekarang keadaan sudah aman jadi dia tidak perlu khawatir lagi.


"Banget!" Jawab ketiganya kompak.


"Nanti malam kita ngumpul gimana?" Ajak Ghani kemudian menatap wajah istrinya yang sudah berkaca-kaca.


"Kha kok nangis?" tanya Sisil, "nggak mau ketemu kita ya?"


"Mau!" Jawabnya cepat, lalu melingkarkan tangan di pinggang Ghani. Suaminya ini sangat pengertian, sangat tau apa yang dia mau.


"Kok nangis sih," Ghani segera memutus sambungan video setelah berpamitan.


"Bahagia," gumam Khalisa.


"Abang ikut bahagia kalau Kha bahagia sama Abang." Ghani membawa istrinya duduk di pangkuan.


"Terimakasih Abang," ucap Khalisa tanpa suara.

__ADS_1


"Apapun yang Kha mau, Abang akan berusaha untuk memberikannya." Ungkap Ghani seraya mengusap lembut pipi kesayangannya.


__ADS_2