
"Tom, aku sedang belajar mencintainya. Memenuhi jiwanya dengan sentuhanku. Baru itu yang bisa kulakukan sekarang. Melupakan seseorang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dari TK kita disuruh belajar mengingat bukan? tidak pernah belajar melupakan."
"Apa kamu tulus melakukan dengannya Gha."
"Aku menginginkannya Tom, aku terlalu egois menginginkannya tanpa bisa memberikan cinta yang seutuhnya. Tapi itu cukup aku dan kamu yang tau." Rasa sesal menyelinap dalam dada. Memenuhi paru-parunya yang tiba-tiba terasa sesak mengucapkan kenyataan itu.
"Kamu mencintainya Gha, hanya perasaanmu pada Clara yang selalu kamu besar-besarkan. Kamu tidak akan bisa sepeduli ini pada Kha kalau tidak cinta."
"Begitu banyak air mata yang kamu keluarkan saat melihatnya tidak bangun. Itulah cinta."
"Kamu memperlakukannya begitu lembut, semua itu cinta Gha, yang belum kamu sadari."
"Kha kecilku Tom, kamu ingat itu, yang selalu aku jaga. Saat dia menangis aku yang selalu menyediakan bahu untuknya."
"Semakin beranjak dewasa aku lupa dengannya, bahkan tak terpikir untuk bertemu dengannya lagi." Ghani menarik napas berat membuka matanya menatap Tomi yang masih memperhatikannya. "Clara masih di sini?"
"Masih, mau bertemu dengannya?"
"Jangan memancingku Tomi, aku tidak akan menemuinya lagi. Sia-sia perjuanganku untuk Kha kalau menemuinya." Sentak Ghani dengan geram, walaupun rindu, saat ini dia masih bisa menahannya.
"Bagus, itu yang mau aku dengar. Bisakah kamu makan siang denganku kita temui Ayah Haris."
"Yaa, apapun untukmu Tom."
"Gombal. Tanda tangani dokumen-dokumen itu. Ada yang harus kuurus sekarang."
"Oke, kakakku sayang." Ghani menyeringai.
Plaakk... Tomi memukulkan kertas yang dipegangnya ke kepala Ghani.
"Gara-gara Kha nih, otakmu jadi sarang semut seperti ini."
"Kha ngasih gulanya kebanyakan." Ghani terkekeh
Kha maafin kakak Sayang.
Ghani menatap layar ponsel yang menampilkan fotonya dengan Clara, ponselnya masih penuh foto mantan kekasihnya. Dihapusnya semua foto itu, menyisakan satu foto saat dia mencium pipi gadis itu. Manis, cantik kamu Ra. Kenapa sesulit ini lepas dari bayanganmu Sayang.
***
Ghani melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah istrinya mengabari lima belas menit lagi akan pulang. Dia berjalan menuju gedung tempat istrinya mengajar, sesuai petunjuk yang dikirim Khalisa.
Menunggu di samping pintu sambil menyimak penuturan Khalisa, entah apa itu beberapa rumus-rumus kimia begitu lancar keluar dari mulut sang istri. Kepalanya saja mendadak mumet mendengarnya. Apalagi para mahasiswa, pasti membosankan sekali belajar kimia.
Setelah selesai Khalisa mengakhiri pertemuan dengan salam, Ghani menghadangnya di depan pintu dengan tersenyum. Seperti abg yang baru saja jatuh cinta.
"Sudah lama menunggu Kak?"
"Tidak selama aku merindukanmu."
"Rindu..!!" Ghani menegaskannya, berjalan bersisian dengan Khalisa, tak berhenti melirik wajah cantik sang istri.
"Sama siapa?"
__ADS_1
"Istriku."
"Kirain sama...!"
"Kha...!" Ghani menghentikan langkah Khalisa dengan berdiri di depannya, tidak mempedulikan para mahasiswa yang memandangi mereka dengan tersenyum. "Jangan nakal."
"Aku suka jadi nakal." Istrinya tersenyum menggoda.
"Jangan senyum-senyum di sini. Nanti banyak yang salah paham."
"Ayo...!!" Ghani menarik tangan Khalisa membawanya berjalan cepat.
"Kak, pelan-pelan. Masih sakit."
"Mau kugendong?"
Khalisa menggeleng, "malu, jalannya pelan aja."
"Iya Sayang." Ghani merangkul pinggang istrinya berjalan pelan disisinya.
Sesakit itukah, atau Kha cuma pura-pura. Ghani tersenyum geli.
"Mau kemana lagi Kha?"
"Kita pulang aja ya, capek."
"Mau makan sesuatu, cokelat atau cake."
"Tumben nawarin yang manis deh, biasanya gak boleh." Khalisa menyelidiki wajah suaminya yang terus-terusan menggodanya.
"Lagi?"
"Iya dong." Ghani tertawa jahat.
"Heemm."
"Kita ketempat Anindi ya cari cakenya?" Ajak Ghani
"Yuhuuu, buat sogokannya ya."
"Iyaa, biar gak manyun lagi." Ghani mengusap puncak kepala istrinya.
Kamu cantik Kha, sangat cantik.
"Azhar mengganggu lagi ya, jadi bete." Ghani mengamati wajah istrinya yang tak seceria saat berangkat tadi pagi.
"Iya...!" Sahut Khalisa lemas, Ghani menepikan mobil, mendekap erat istrinya. Itu akan membuat Khalisa lebih tenang sekarang.
"Apa Azhar menyentuhmu."
Khalisa menggeleng, "dia bilang kita cuma pura-pura romantis."
"Gak usah didengerin Sayang, kita akan tetap begini ada atau tidak ada merekakan. Jadi tidak akan berpengaruh."
__ADS_1
"Kamu istriku, aku akan tetap memperlakukanmu seperti ini. Kita akan menjalani hari-hari dengan bahagia."
"Apa kamu sudah mencintaiku?"
"Kenapa bertanya seperti itu terus, kamu masih ragu? Aku sudah memberikan semuanya untukmu, hidupku, waktuku, perhatianku apa bukti ini masih kurang."
"Aku takut kamu kembali pada Clara dan meninggalkanku."
"Kalau itu terjadi Papa yang akan lebih dulu membunuhku Sayang, kamu menantu kesayangannya tak ada satu orang pun yang boleh menyakitimu termasuk aku."
"Mulutmu sangat manis meyakinkanku Gha, padahal aku tau isi di kepalamu. Haha." Khalisa tertawa geli.
Apa? Dari tadi Ghabi bicara panjang lebar cuma dianggap Khalisa bualan semu.
"Kha, kamu belum percaya padaku?"
"Tidak sepenuhnya Gha."
Ghani menghela napas kasar lanjut mengemudikan mobilnya, sekuat apapun berjuang kalau kepercayaan itu tidak ada akan menyulitkannya.
Kehancuran terasa sangat dekat dengan hidupnya, tak berarti apa-apakah yang terjadi tadi malam itu. Segala perhatian sudah dicurahkannya namun hanya dianggap formalitas oleh sang istri.
Ghani memasukkan mobilnya ke parkiran tanpa banyak suara. Meninggalkan Khalisa yang masih dalam mobil.
"Ghani kenapa? Serius menanggapi ucapanku 'kah?" Khalisa berjalan pelan menaiki tangga, saat mau masuk kamar pintunya dikunci. "Yah, dia kenapa, masih ingin tidur sendirikah?" Khalisa menggelengkan kepalanya, berjalan menuju ruang keluarga memanggil wanita paruh baya yang membantunya di rumah.
"Mbok Sri..."
"Iya Mbak. Mau makan sesuatu?" Tanya wanita itu sambil tersenyum padanya.
"Boleh ambilin susu sama roti, laper belum makan." Pintanya sambil tertawa kecil, membaringkan tubuhnya di sofa. Kenapa nyerinya ikut menjalar ke hati setelah mendapati sikap cuek Ghani.
Mbok Sri mengangguk meninggalkannya ke dapur kemudian kembali dengan segelas susu cokelat dan beberapa potong roti.
"Ini Mbak minum dulu, kakinya sakit ya." Tanya wanita dihadapannya saat melihatnya memijat-mijat lutut dengan tangannya.
"Iya Mbok, gak tau kenapa rasanya pegal." Sahutnya, Mbok Sri tanpa banyak tanya langsung memijat kakinya.
"Saya pijetin yaa Mbak..."
"Jangan, gak usah Mbok nanti hilang sendiri kok." Ucapnya merasa gak sopan kalau minta dipijetin sama orang yang lebih tua.
"Gak papa Mbak, saya udah gak ada kerjaan lagi kok." Sahut mbok Sri memijat kakinya dengan pelan.
"Mbok, jangan bilang Mama ya kalau mas Ghani diem gini. Nanti minta tolong rapikan kamar di samping ya Mbok."
"Iya Mbak, sabar yaa, kamarnya udah rapi bisa langsung ditempati...!"
"Dia lagi capek aja Mbok sama kerjaan, perlu istirahat." Ucapnya tersenyum, walau tidak tau pasti penyebab Ghani marah apa.
"Mau rotinya lagi Mbak, saya ambilkan."
"Udah kenyang Mbok, makasih yaa, udah mijetin juga."
__ADS_1
Mbok Sri mengangguk, "Ayo saya antar ke kamar."
Khalisa membaringkan tubuh setelah melepas pasminanya, Mbok Sri sudah meninggalkan kamar. Ada yang membakar di hati meski tidak sedang bikin sate.