Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
144


__ADS_3

"Ngambek beneran gak sih, Sayang." Goda Ghani, usai meeting baru lelaki itu membujuk istrinya lagi.


"Bohongan, tapi gak dibujuk. Jadi ngambek beneran deh," jawab Khalisa asal dengan bibir di manyun-manyunkan.


"Abang sudah bujuk, sudah minta maaf juga. Apalagi yang kurang?" Tanya Ghani dengan kening berkerut, istrinya ini mau apasih. Perempuan sulit sekali untuk dimengerti.


"Belum di sun," Khalisa menunjuk bibirnya cemberut.


Ghani terkekeh geli, "bilang dong kalau mau di sun." Katanya sambil menepuk paha, Khalisa segera berpindah duduk ke pangkuan suaminya.


"Supaya apa, mau di sun tapi ngambek dulu, hm?"


"Supaya Abang manja," sahut Khalisa sambil menyandarkan kepala di bahu Ghani.


"Ini siapa yang manja, Bunda apa dedek?"


"Bunda," jujur Khalisa.


Ghani semakin terkekeh, dia tidak mempermasalahkan kemanjaan istrinya ini. Sisi lain yang hanya Khalisa tunjukkan pada orang-orang tersayangnya saja.


"Kalau bundanya aja manja begini, gimana nanti dedeknya ya?"


"Dedek gak manja kayak Abang, biar bundanya aja yang manja sama kalian nanti."


"Maunya kamu," Ghani mengecup pipi Khalisa gemas. "Lepas jilbabnya Sayang," pintanya.


"Nanti ada yang masuk, gimana?"


Ghani mengambil remot lalu mengunci pintu hanya dengan satu sentuhan tombol.


"Sudah, Sayang." Ghani membantu melepaskan jilbab Khalisa. Lalu membenamkan dagu di bahu sang istri. "Kapan jadwal Kha kontrol lagi?"


"Kha lupa, Abang." Jawab Khalisa dengan cengiran.


Ghani mengacak rambut istrinya. Khalisa memang sering lupa dengan hal-hal kecil sejak mengalami amnesia.


"Sama Abang gak lupa kan?"


"Lupa, boleh cari suami lagi?" Khalisa terkikik geli.


Ghani langsung menggigit leher Khalisa, "ini hukuman karena Kha nakal. Dan ini karena sudah berani mau cari suami lagi."


"Kha gak nakal Abang, ampuun!" Pekik Khalisa, Ghani menggelitikinya sampai tidak bisa bernapas.


"Makanya jangan nakal!" Ghani berhenti menggelitiki karena kasihan. Ibu hamil itu susah menghirup udara segar.

__ADS_1


"Abang, Kha capek."


"Minum dulu, Sayang." Ghani mengambilkan air putih. Khalisa langsung menandaskannya, dia seperti habis lari maraton.


"Abang, nakal. Kalau Kha mati gak bisa napas, gimana?"


"Kalau mati emang gak bisa napas, Sayang." Canda Ghani, melihat Kha tidak bangun saja dia sudah seperti kehilangan separuh nyawa. Apalagi kalau istrinya itu benar-benar pergi, Ghani takut memikirkannya.


"Ih, Abang udah gak sayang lagi sama Kha."


"Kata siapa. Abang sayang banget sama Kha. Cuma Kha kesayangan Abang." Ghani mengelus sayang perut Khalisa.


"Abang mau dicium Ghina berarti gak sayang sama Kha."


Ghani membulatkan mata, yang sudah berlalu masih saja dibahas. Istri siapa sih ini. "Ghina adik Abang, Sayang. Abang sayang kalian berdua," jelasnya lembut.


"Katanya tadi cuma Kha kesayangan Abang." Khalisa mengembalikan ucapan Ghani. Si empunya menggaruk tengkuk sambil cengengesan. Mencari-cari kalimat yang pas untuk menjawab.


"Abang sayang sama Kha sebagai istri, dan Ghina sebagai adik. Kalian punya porsi masing-masing, Sayang. Abang gak bisa milih salah satu. Dua-duanya Abang sayang."


"Banyakan siapa, Ghina apa Kha?"


"Banyakan Kha dong," ujar Ghani meyakinkan.


"Masa sih, kalau Kha pukul Ghina siapa yang Abang bela?"


"Tuhkan, berarti Abang sayangnya banyakan sama Ghina." Ujar Khalisa pura-pura cemberut, dalam hatinya tertawa cekikikan.


"Kha kenapa sih, nanyanya gitu. Kha kan tau di hati Abang cuma ada Kha. Jangan bandingin sama kembaran Abang dong, Sayang." Ghani memeluk Khalisa lemas.


"Kalau Ghina sakit, Abang juga ngerasain sakitnya. Kami satu, Sayang."


Khalisa tertawa kecil sambil menyisir rambut Ghani. "Kha tau Abang, Kha cuma gak suka ada yang nyium Abang."


"Kalau gitu Kha harus sering-sering cium Abang," Ghani menyatukan keningnya dengan kening Khalisa. Perempuan hamil itu mengangguk semangat.


Hari demi hari Ghani lewati dengan bekerja sambil menemani sang istri. Dia sangat protektif menjaga ibu hamilnya yang manja ini.


"Abang, Kha bosan. Mau jalan-jalan." Rengek Khalisa, usia kandungannya sudah memasuki bulan ketujuh.


"Sebentar Sayang, Abang selesain balas email dulu, boleh?" Izin Ghani, kalau tidak seperti itu istrinya ini bisa merajuk tidak jelas. Untung Ghani sangat sabar menghadapi.


"Jangan lama-lama," ujar Khalisa kembali menyandarkan punggung ke sofa. Perut yang sudah membuncit ini membuat ruang geraknya berkurang.


Ghani mengangguk, menyelesaikan membalas email-email yang masuk. Dia bisa memeriksa laporan saat Khalisa tidur nanti. Sudah biasa bekerja dimanapun sambil menemani kesayangannya ini.

__ADS_1


"Ayo Sayang, kita jalan-jalan." Ghani mengulurkan tangan, membantu Khalisa berdiri. "Perutnya mau dititip sama Abang?"


"Babang kalau buncit gak tampan lagi, Kha malas lihatnya nanti."


"Jadi kalau Abang gak tampan, Kha gak mau sama Abang lagi?" Ghani mengernyitkan kening menunggu Khalisa menjawab.


"Enggak. Kha gak mau pisah sama Abang, biarin aja Abang gak tampan. Nanti Kha operasi plastik aja."


"Pintar ya jawabnya." Ghani terkekeh kecil mencium di kening dan bibir sekilas lalu berjongkok membenamkan wajah di perut sang istri. "Ayah sudah gak sabar pengen dedek keluar, biar bunda gak berat lagi jalannya."


Ghani membawa Khalisa jalan-jalan sore di taman komplek perumahannya. "Abang, Kha mau main itu." Perempuan hamil itu menunjuk ke arah ayunan.


"Ayo, hati-hati ya Kha."


Khalisa mengangguk duduk di ayunan. Ghani mendorong ayunan dengan pelan.


"Gak usah di dorong, Abang. Kha takut." Suami Khalisa itu menurut, berjongkok di depan sang istri.


"Bosannya sudah hilang, Sayang." Ghani menyeka keringat di kening Khalisa. Mereka ke taman dengan berjalan kaki, jadi istrinya ini keringetan.


Khalisa mengangguk antusias, "Abang kapan ajak Kha liburan?"


"Kalau dedek sudah besar kita liburan Sayang." Kasihan istrinya ini pasti iri melihat Anindi dan Tomi yang baru pulang liburan. Ghani belum sempat mengajak Khalisa jalan-jalan.


"Kha harus sehat, biar kita bisa cepat liburan ya Sayang. Kita berangkat kemanapun yang Kha mau."


"Kha mau tinggal berdua aja sama, Abang."


"Oke, setelah Kha lahiran kita pindah ke rumah yang dulu."


"Makasih Abang."


Ghani menanggapi dengan senyuman, doa duduk di samping Khalisa lalu membawanya dalam dekapan. "Abang akan usahakan apapun yang istri tersayang Abang ini mau."


Malamnya Khalisa mengeluh kakinya pegal-pegal setelah jalan ke taman komplek sore tadi. Ghani dengan sigap memijatnya.


"Abang geli ih."


"Yang geli dimana Sayang?" Bisik Ghani menggoda.


"Abang, Kha jadi merinding. Abang kayak hantu aja," omel Khalisa.


"Abang bukan hantu, Sayang."


Ghani menciumi perut buncit Khalisa yang tidak tertutup kain. "Ayah sayang kalian, sehat-sehat ya kesayangan Ayah."

__ADS_1


"Makasih Ayah sudah sabar jagain bunda." Tangan Khalisa terulur mengusap kepala Ghani.


__ADS_2