
Mondar-mandir Ghani menunggu di depan ruang operasi. Sudah tiga jam berlalu para dokter belum juga keluar. Ayah mertuanya mendekat lalu merangkul pundaknya.
"Banyak berdoa Gha, terimakasih sudah membujuk putri Ayah."
"Aku takut dia tidak bangun lagi Yah." Gumam Ghani yang hampir tak terdengar.
"Khalisa pasti bangun, Nak. Putri Ayah kuat dia bisa bertahan dua tahun hanya bantuan obat setelah di vonis tumor otak. Apalagi sekarang, ada kamu yang menguatkannya."
"Iya Yah."
Ghani menarik napas panjang, berulang kali ke kamar mandi mencuci mukanya yang kusut dan basah dengan air mata.
"Kuat Kha, kamu harus kuat, aku menunggumu di sini."
Ruang operasi terbuka pertanda operasi selesai dilakukan. Ghani langsung mendekati salah satu dokter yang merupakan pamannya.
"Bagaimana Kha, Paman?"
"Masih kritis, dia belum sadar Gha. Kamu bersabar yaa." Ucap Dr. Rizal
"Allah...!!" Kakinya terasa lumpuh sekarang, tubuhnya lemas. "Kha, bangun Sayang."
Ghani tertatih-tatih mendekati brankar setelah istrinya dipindahkan ke ruangan ICU.
"Kamu ingat janjimu Kha, tidak boleh tidur lama. Aku tidak ingin tidur sendirian."
"Berapa lama, dia baru sadar Pah?" Tanya Guntur pada papanya dr. Rizal.
Dr. Rizal menggeleng, "Kondisinya sangat lemah saat dilakukan tindakan. Beberapa kali hampir kehilangan detak jantung." Jawabnya dengan menarik napas panjang.
Guntur menepuk-nepuk pundak sepupunya. "Sabar Gha, Kha pasti kuat."
"Sayang, kamu janji mau bangun. Jangan lama-lama di sini. Aku kesepian." Ghani memeluk pinggang istrinya, merebahkan kepala di sisi brankar. Hanya dia yang tinggal dalam ruangan.
"Ghani Pah," Tomi memeluk Emran, hatinya ikut hancur melihat adik sepupunya yang terus menangis.
"Dia sangat menyayangi Kha sejak dulu Tom. Hanya karena jarak dan waktu yang begitu lama membuatnya tidak bisa mengenali perasaan itu lagi."
"Kha harus bangun Pah, Kha harus bangun. Carikan dokter terbaik untuknya."
"Tomi, kita sudah mengusahakannya yang terbaik. Tinggal menunggu respon tubuh Khalisa." Ucap dr. Rizal tersenyum. Dia tau semua orang menyayangi gadis itu.
"Tomi kita harus ke kantor ada meeting satu jam lagi, berhenti memikirkan Ghani." Guntur menarik Tomi yang masih dalam pelukan papa. "Kenapa jadi ikutan cengeng sih."
"Guntur, bisa gak sih santai, orang lagi sedih juga." Tomi mencebik.
"Kita tidak bisa lengah Tomi, jangan sampai pecah fokus karena Kha. Mereka menjadikan Kha sebagai senjata melemahkan Ghani, dengan kondisi Kha seperti ini, itu sudah menguntungkan mereka." Guntur terus mengoceh melajukan mobilnya menuju kantor.
"Tumben pintar...!!" Tomi membenarkan ucapan Guntur, dia tidak boleh terbawa suasana dengan keadaan Ghani dan Khalisa.
"Dodol, aku memang pintar makanya papa Emran menarikku juga."
"Urusan Azhar beres?" Tanya Tomi.
__ADS_1
"Belum, dia memang suka Kha dari dulu apa perangkap aja?"
"Sejak dulu, dia mau melamar Kha tapi keduluan Ghani. Papa pasti tau semua ini, makanya mendesak Ghani menikah."
"Papa memang licik, dia menjadikan Kha menantu karena kecerdasannya, haha." Timpal Guntur.
"Baru terpikirkan." Ujar Tomi.
Guntur ikut tertawa. "Intinya papa yang lebih cerdas, dalang dibalik keruwetan hidup kita."
"Yang ngasih duit juga." Tomi terkekeh.
"Tapi menantu papa yang idealkan? Cantik, smart, pandai menjaga diri."
"Hidup kita tambah susah, kalau minta dicarikan menantu selevel Kha. Mampusss." Tomi mendesah berat.
"Aku ada kandidat kalau mau?"
"Siapa? Cantik gak?"
"Anindi, sepupu Kha, masih ingat?"
"Lupa sih, gak memperhatikan." Sahut Tomi santai.
"Makanya kalau disuruh mama beli cake nurut, jangan minta gue yang beli. Kita ke sana sekarang."
"Kita mau meeting Guntur." Tomi kesal dengan tingkah Guntur yang seenaknya sejak di rumah sakit.
"Bentar aja, cek ombak dulu, gara-gara lo mancing tadi."
"Gue sudah punya pilihan Tomi, gak kayak lo jomblo akut."
Guntur memarkirkan mobilnya tepat di depan Anincake. Ruko yang disulap menjadi seperti cafe menyediakan berbagai macam cake.
"Siang Nin." Sapa Guntur pada wanita cantik dengan gamis modern dipadukan jilbab segi empat bermotif bunga, yang sedang menyusun cake di etalasenya.
"Hei Guntur, mau seperti biasa pesanan Mama Mira?" Tanya Anindi, mengambil satu box brownis talas kukus kesukaan Mama Mira.
"Iya seperti biasa aja, selain itu yang enak apa?"
"Ada red velvet, chocolate cake, cheese case, brownis, semuanya enak kalau nanya aku." Anindi tertawa kecil, "apa mau nyobain semuanya?"
"Hmmmm."
"Kalian duduk aja dulu aku ambilkan." Anindi membawa dua lelaki itu pada meja kosong.
Guntur sengaja mengulur waktu agar Tomi dapat menilai kandidatnya.
"Gimana?" Tanya Guntur saat Anindi meninggalkan meja mereka.
"Not bad, mirip banget sama Kha."
"Sepupunya oon, jelas mirip." Guntur menjitak jidat Tomi, sedang orang yang dijitaknya tidak bergeming menatap perempuan yang sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Ini yang seperti biasa punya Mama Mira." Anindi memberikan paper bag yang dibawanya. "Dan ini cobain aja dulu, sambil minum." Ucapnya bergabung di meja itu memberikan beberapa potong cake yang bisa mereka coba gratis.
"Thanks Nin, gak jenguk Kha?" Guntur menyendok red velvet yang dimaksud Anindi, sebenarnya dia tidak terlalu suka cake. Demi Tomi apapun dilakukannya, insting aja kalau Tomi bakalan suka.
"Belum, nanti habis dzuhur baru ke sana." Sahut Anindi, "gak mau nyoba Tom?" Tanyanya pada Tomi yang masih diam mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.
"Gak terlalu suka yang manis." Jawab Tomi lalu melayangkan senyumannya.
"Karena yang dipandang sudah manis ya kan Tom." Guntur terkekeh.
Tomi mengabaikan ucapan Guntur melirik jam di tangannya. "Sepuluh menit Guntur."
"Oke, tapi tester dulu, siapa tau jatuh cinta sama pemiliknya." Guntur melayangkan sendoknya ke mulut Tomi. "Gimana?"
"Enak."
"Karena ada yang buat jadi bilang gitukan." Anindi terkekeh kecil.
"Yang bikin enak itu karena ada yang dipandang." Guntur mencebik.
"Mau red velvetnya." Kata Tomi, tanpa menanggapi Guntur karena itu akan membuatnya tambah klepek-klepek.
"Oke." Anindi langsung menyiapkankan, kemudian kembali ke meja untuk menyerahkan pesanan.
"Bayar Guntur, kita harus meeting."
"Iyee, buru-buru amat." Setelah membayar Guntur berpamitan dengan Anindi. Menyusul Tomi yang sudah menunggu di mobil.
"Jangan bilang, lo gak tahan jadi pengen cepat pulang."
"Gak tahan mau nikahin." Sahut Tomi asal.
"Tapi gak bisa mastiin juga sih kalau dia belum punya orang."
"PHP, lo ngasih kandidat belum tau kejelasannya."
"Kalau papa yang beraksi semua jadi masalah mudah Tomi, siapa yang bisa menolak lamaran Papa Emran."
"Licik."
"Kabar baiknya, papa pasti langsung setuju kalau dia yang lo jadikan kandidat. Keponakan Ayah Haris. Gimana?"
"Kasus seperti Kha jangan terulang lagi Guntur, kasian dia kalau dipaksa menikah."
"Makanya PDKT dulu. Gue ngajak lo buat deketin dia."
"Selesaikan masalah dulu, baru mikirin itu." Tegas Tomi, mengalihkan pembicaraan.
"Barusan dapat info dari penanggung jawab operasional kantor cabang kalau ada penggelapan dana yang masih di selidiki. Nilainya fantastis."
"Hmmm."
"Cuma hmmm, bantuin mikir kek."
__ADS_1
"Ini juga lagi mikir Guntur, rese amat sih." Guntur memarkirkan mobilnya, langsung bersiap meeting.
"Guntur, kita ke ruangan Ghani dulu." Ajak Tomi, setelah mengecek semua data mereka bersama ke ruang meeting. Tanpa Ghani agak sedikit berat, karena hanya sepupunya itu yang bisa mengendalilan macan-macan yang sedang kelaparan.