
"Hampir terbongkar, pasti kerjaan Tomi atau Guntur yang bikin Mama curiga." Geram Ghani di depan Khalisa yang tertawa gelak. "Aktingmu bagus Gha." Ledek istrinya.
"Senang bener liat suami pusing. Lalu kapan aku boleh mencoba?"
"Kapan-kapan.."
"Khaa,, nakal.." Ghani mencubit kedua pipi Khalisa.
"Kamu capekkan, sini tidur sama aku." Khalisa menggeser badannya memberikan ruang untuk sang suami.
"Nanti kena kepalamu, Sayang." Tolak Ghani.
"Kamu gak nyundul kepalaku juga 'kan Gha." Khalisa mendelik, Ghani menurut berbaring di sisi sang istri.
"Kha, kangen."
"Sama."
"Cuma gitu jawabannya." Protes Ghani, sekarang dia yang gak rela kalau cuma dibalas singkat.
"Lalu mau dijawab apa."
"Panjangin dikit kek biar ada pemanisnya."
"Pemanis buatan gak baik."
"Kalau dari mulutmu pasti baik." Ghani menggenggam tangan Khalisa kemudian menciuminya.
***
"Siapa lelaki yang di luar bersama Ayah Haris?" Selidik Tomi saat mereka sudah sampai di kantor.
"Calon suami Anindi."
"Beraattt...!!" Tomi mendesah, Guntur memandang Tomi dengan serius.
"Beneran suka sama Nindi Tom?"
"Menurut lo?"
"Oh Tuhan, dalam masalah lagi gue." Guntur menepuk jidatnya.
"Salah lo ngajakin gue ke sana."
"Sorry, baru tau tadi kalau dia sudah punya calon suami. Lo belum jatuh cinta masa sudah mau patah hati duluan Tom, jangan gini dong, gue jadi merasa bersalah."
"Nanti gue tanyain Papa Rizal, siapa tau ada dokter muda yang cantik atau anak koas."
"PHP mulu." Tomi mencebik.
"Gimana dong, kecuali kita mau cara licik."
"Apaan?" Guntur membisiki Tomi dengan serius.
"Gila lo. Gak perlu, kalau jodoh gak akan kemana."
"Emang gak kemana, tapi keduluan orang Tom."
"Mending lo urus Azhar sana dan pasang pengamanan rumah baru Ghani seperti yang diminta papa."
Tomi meninggalkan Guntur ke kantin, selain Ghani, anak satu itu selalu membuatnya kesal. Dia lebih memilih menyesap kopi di kantin dari pada memikirkan masalah perempuan.
__ADS_1
"Iya Dhafi Sayang, kamu masih di rumah sakit menemani Anin?"
Tomi berpindah duduk mendekati perempuan yang sedang bicara ditelepon setelah tau siapa yang dibicarakannya. Tidak lupa merekam jika nanti diperlukan.
"Kapan dong kamu jujur sama dia, kalau kamu tidak mau menikah dengannya."
"Aku sudah sabar Dhafi, kamu saja yang tidak berani memutuskan Anindi." Ucap perempuan itu dengan kesal kemudian mematikan teleponnya sepihak.
Masih berdiam di tepat duduknya Tomi menghabiskan segelas kopi, sayang kalau ditinggal nanti mubajir. Dia tidak mengenal perempuan itu. Tidak semua orang yang bekerja di kantornya Tomi kenal.
Lelaki itu meninggalkan kantin tanpa melirik pada perempuan yang sudah diawasinya. Tomi melangkahkan kakinya menuju tempat Guntur bersemayan. Tomi seperti sedang mendapat peluang bisnis yang nilainya triliunan. Dia duduk di depan Guntur dengan wajah merona-rona, membuat yang memandangnya keheranan.
"Kesambet apa Tom, kayak habis ketemu cewek cakep aja."
"Emang, ini lebih dari sekedar cewek cakep." Jawab Tomi sumringah.
"Curiga gue, lo mau jalanin niat licik yang gue saranin."
"Yes, tepat sekali. Tapi ini akan menyakitkan buat dia." Guntur mengernyitkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang Tomi maksud.
"To the point aja jangan bertele-tele, bikin kepala tambah mumet deh."
"Tugas lo selidiki perempuan ini..!" Tomi memberikan ponselnya dengan semangat.
"Wani piro, ini urusan pribadi." Goda Guntur setelah mengerti maksudnya.
"Duit lo sudah banyak bego, masa gini doang minta bayaran."
"Jasa profesional selalu dibayar mahal." Guntur menyeringai.
"Nanti gue mintakan papa Rizal."
"Eettzz, jangan bawa-bawa papa bro, ini urusan pribadi."
"Nada, bagian accounting ruangannya di lantai dua, umurnya dua puluh lima tahun. Lulusan terbaik di Universitas Pancasila anaknya Om..."
"Om siapa?"
"Om siapa ya, belum kenalan sama papanya." Guntur menampilkan deretan gigi putihnya, karena berhasil membuat Tomi geram.
"Astaga Guntur, masih bisa bercanda."
"Lo aja yang serius, aku tak seserius itu." Guntur terkekeh.
"Informasi tadi juga gak serius?" Tanya Tomi dengan wajah masam.
"Kalau itu bisa dibuktikan sendiri."
"Sekarang cari tau siapa Dhafi, anak siapa, kerjaannya apa, kenal Anindi berapa lama."
"Posesif amat bro. Santaiii. Main chantiikk dong."
"Serah lo yang penting dapat info." Tomi tak menghiraukan ucapan Guntur.
"Hehh, sudah telepon Dimas gimana perkembangan di sana."
"Belum ada, masih sangat rapi pembukuannya. Perlu waktu untuk menemukan."
"Ini yang lo cari." Guntur memutar laptopnya pada Tomi.
"What, seperti sebuah rencana yang cukup licik." Tomi membuka mulutnya lebar setelah menemukan fakta baru.
__ADS_1
"Itulah susahnya jadi horang kaya, banyak musuh dalam selimut." Guntur menyeringai, "tapi gue yakin papa dan ayah Haris lebih licik. Mereka sudah membaca semua ini tinggal menunggu tanggal mainnya." Tomi hanya mampu manggut-manggut.
***
Setelah pemulihan selama seminggu pasca operasi Khalisa boleh pulang. Mereka langsung pindah ke rumah baru yang Emran siapkan.
Rumah mungil bertingkat yang tergolong mewah lengkap dengan perabotannya sudah tersusun rapi. Dengan nuansa abu, hitam dan putih. Warna kesukaan Ghani, mereka menempati kamar di lantai dua. Di rumah sudah ada dua orang ART yang membantunya.
Kondisi Khalisa sudah semakin baik, bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Juga hatinya yang semakin baik dengan adanya Ghani. Mereka tidak bisa tidur terpisah lagi karena sudah ada mata-mata di rumah.
Khalisa menyusun pakaiannya ke dalam lemari, hanya barang pribadi miliknya dan Ghani yang belum di rapikan. Tidak banyak hanya dua koper, tidak terlalu melelahkan.
"Sayang...!!" Ghani memeluk istrinya dari belakang, dengan dagu menopang pada bahu Khalisa.
"Hmmm."
"Sekarang."
Khalisa menggelengkan kepala mendapati tingkah suaminya yang sudah seperti bayi besar yang sedang merengek minta permen. "Sebentar lagi Sayang, tunggu dulu ya tinggal dikit nih," sergahnya.
"Nanti aja, masih ada waktu beresin itu." Ghani bergelayut manja di pinggangnya. Khalisa terpaksa melepaskan baju-baju yang ada di tangannya menutup kembali pintu lemari. Membalikkan badan, menatap wajah suaminya yang menyeringai manja.
Ghani mengangkat tubuh mungil itu ke tempat dengan hati-hati. Kepalanya yang baru mulai sembuh kalau kebentur bisa berabe. Kalau tidak sadarkan diri Ghani bakalan tambah repot.
"Gha adakah sedikit cintamu untukku."
"Tidak tau, tapi aku tak bisa tenang kalau jauh darimu. Hatiku selalu diselimuti rindu." Ghani membenamkan kepala di bahu Khalisa. Khalisa mengusap kepala itu dengan lembut memberikan cinta yang dimilikinya.
"Datanglah Sayang, aku akan memberikan cintaku untukmu. Jangan sedih, aku ada di sini untuk membantumu jatuh cinta padaku."
"Maaf Kha, maaf."
Khalisa mengangkat wajah suaminya yang mendadak layu.
"Apa kamu rindu Clara Gha?"
Ghani menggeleng, "aku rindu kamu Kha, aku takut kamu meninggalkanku dengan rasa bersalah ini. Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia selama menjadi istriku. Aku takut."
"Aku bahagia bersamamu, Sayang." Khalisa mengusap lembut pipi suaminya.
"Apa boleh aku memintanya sekarang?"
"Ambillah itu hakmu." Ucap Khalisa dengan tersenyum. Dia sudah siap menyerahkan apa yang dimilikinya untuk Ghani.
"Tapi jangan pingsan lagi yaa." Ghani semakin mendekatkan tubuhnya pada Khalisa. Tak membiarkan jarak tercipta. Keinginan yang sudah tak dapat ditahannya lagi. Ingin menyatukan dirinya bersama gadis kecilnya.
"Hmmm."
"Kha..!!" Ghani menyatukan napas dengan Khalisa, membawa debaran jantung yang menggila. "Maafkan kakak melakukan ini padamu Sayang, dulu kakak berjanji menjagamu tapi setelah bertemu denganmu kakak lebih sering membuatmu menangis." Ghani mulai menciumi leher istrinya dengan lembut. Namun terhenti oleh panggilan Khalisa.
"Kak...!"
"Ya Sayang."
"Kita belum berdoa."
Ghani mengusap puncak kepala Khalisa, "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa." Kemudian mematikan lampu kamar.
Deru napas mereka menyatu menghilangkan jarak antara keduanya. Kerinduannya telah usai dengan adanya sang kekasih di sisinya. Debaran-debaran di dada menyatu sempurna. Ditatapnya lekat wajah Khalisa yang tersipu malu.
"Sakit Sayang?" Ghani menyelimuti istrinya yang sudah tak tersisa sehelai benang ditubuhnya.
__ADS_1
Khalisa mengangguk, "Maaf Sayang, awalnya sakit nanti terbiasa." Tangan Ghani mengusap lembut pipi istrinya dengan sayang, sampai mereka tertidur pulas.