Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
56


__ADS_3

"Ada permen gak? Lagi rewel nih." Ujar Ghani sembari memeluk tubuh mungil kesayangannya. Guntur mengeluarkan stok permen dari tasnya.


"Coba ini Sayang." Ghani membukakan permen relaxa memasukkan ke mulut istrinya namun langsung dimuntahkan, dicobanya permen lain lagi tetap sama.


"Abaanngg, permennya gak enak!" Khalisa kembali merengek seperti anak kecil dengan mata berkaca-kaca. Ghani langsung menangkup bibir mungil itu tanpa mempedulikan kedua sepupunya yang menelan ludah gusar.


"Sudah?" Ghani menghentikan dosis cintanya saat Khalisa mulai tenang. Mengusap bibir istrinya yang membengkak karena terlalu sering bekerja. Khalisa mengangguk malu, membenamkan kepala dalam pelukan Ghani.


"Gara-gara kalian datang, dia jadi rewel nih."


"Mana kami tau penyebabnya apa." Tomi hanya bisa menanggapi dengan tawa.


"Untung banyak kamu Gha." Ujar Guntur terkekeh, siapa yang nolak juga kalau bibir semanis itu. Tolong hentikan pikiran liarmu Guntur, pekiknya pada diri sendiri.


"Pegel juga gak bisa dilepas."


"Tidur ya Sayang," Ghani mengusap kepala istrinya yang berada dalam pelukan dengan lembut. Hingga perempuan hamil itu merasakan nyaman. Lalu terlelap dalam pelukan hangat suaminya.


"Tidur dia." Ujar Tomi, memperhatikan Khalisa yang tepejam dalam pelukan Ghani.


"Persis anak kecil," cela Guntur.


"Gak pernah ngerepotin gini, biasanya dibujuk sekali juga mau." Ghani mengecup puncak kepala kesayangannya.


"Bawa pulang aja dulu, dia kangen tuh." Saran Tomi.


Ghani menenangkan istrinya yang mulai menggeliat-geliat lagi. "Gue harus bawa ke kamar dulu sebelum merengek lagi nih." Lelaki itu dengan sabar menggendong istrinya ke kamar. Menidurkannya kembali, baru beranjak ke ruang tamu.


"Ada misi apa kalian ke sini, selain disuruh papa ngajak gue pulang." Selidik Ghani, dia tahu persis apa yang membuat dua sepupunya itu mau datang jauh-jauh ke Singapura.


"Mastiin aja kalau kalian bisa makan." Sahut Tomi santai, tak mempedulikan tatapan tajam adiknya.


"Lo pikir gue sebodoh itu Tom, sampai gak bisa bertahan hidup." Ghani menyeringai, "dulu mungkin gue gak bisa hidup tanpa uang papa. Tapi sekarang gak masalah tuh," tambahnya.


"Perlu tambahan modal?"


"Enggak, yang ada cukup kok untuk hidup kami di sini."

__ADS_1


"Ayolah Gha, lo gak terbiasa hidup seperti inikan tanpa mobil, rumah sempit, tidak ada fasilitas mewah."


"Cukup Tom. Asal sama Kha, semuanya sudah cukup. Gue cuma butuh Kha menemani di sini." Tegas Ghani, dia tidak suka dikasihani. Apalagi menjilat ludahnya senderi dengan menerima bantuan dari Emran.


"Aku transfer buat Kha lahiran." Tomi tetap tidak menyerah membujuk adik sepupunya itu.


"Sudah ada tabungan lahiran, kalian gak perlu repot. Kalian lihatkan, gue bahagia sama Kha di sini. Itu sudha lebih dari segalanya."


"Oke, tapi besok pulang sama kita sampai Kha lahiran di sana." Putus Tomi akhirnya.


"Gak bisa Tom, usaha gue di sini gak bisa ditinggalin lama." Ghani tetap bersikeras pada pendiriannya. Usahanya di sini, itu menjadi bukti kalau dia mencintai Khalisa. Dan ingin terus berjuang untuk membahagiakan anak dan istrinya.


"Bisa, gue yang atur." Sahut Tomi geram.


"Gue mau sama Kha di sini. Hidup dengan tenang, tidak ada yang mengganggu." Tegas Ghani, tak ada yang bisa merubah keputusannya ini.


"Susah ngebujuk orang yang emang gak niat buat dibujuk." Tomi berdecak kesal.


"Lo taulah rasanya dibuang, kalau bukan karena Kha mana mungkin gue pulang. Mending kalian istirahat di hotel. Rumah gue sempit, kecuali mau tidur berempat sama Kha." Usir Ghani


"Otak mesum!" Tomi menjitak jidat Guntur keras, sampai si empunya terpekik kesakitan.


"Udah sana, gue mau kelonin Kha dulu."


Setelah berhasil mengusir kedua sepupunya untuk pulang Ghani berbaring disamping istrinya.


Sayang, kenapa mau pulang? Terpaksa ambil uang tabungan lahiran dulu. Dengan pelan Ghani melepas jilbab istrinya, kemudian mengusap lembut surai hitam itu.


Gampanglah, nanti cari lagi biaya lahirannya yang penting Kha bahagia. Ghani tidak mau mengemis pada papa, minta tolong sama ayah juga malu. Sedang uang belanja juga sudah menipis. Keuntunga bulan lalu digunakannya untuk menambah outlet.


Maaf Kha kamu jadi hidup serba kekurangan seperti sekarang, sesal Ghani.


"Abang, kenapa sedih. Kalau gak ada uangnya buat pulang gak papa, kita di sini aja. Kha mau kok di sini." Khalisa membuka matanya menatap wajah sayu milik sang suami.


"Ada kok Sayang, yang penting bisa ketemu Oma kan?" Ujar Ghani dengan tersenyum manis.


"Kangen banget sama mama, papa, ayah dan ibu." Ujar Khalisa membenamkan wajahnya dipelukan Ghani.

__ADS_1


"Iya, besok kita pulang ya, Sayang."


"Apapun untukmu Sayang akan kuusahakan. Kamu adalah prioritasku sekarang." Ghani bergumam sendiri. Memberikan kehangatan untuk perempuan yang sedang membesarkan benih cinta mereka.


***


Burung besi mengudara dari Bandar Udara Changi Singapura, di dalamnya ada ibu hamil yang tengah bergelayut dengan manja pada sang suami.


Ghani tak berhenti memberikan belaian lembut pada perut buncit itu untuk memberikan ketenangan pada anaknya. Perjalanan ini cukup beresiko untuk istrinya. Mereka sudah dua kali melakukan penerbangan selama Khalisa hamil.


"Sehat-sehat ya Sayang, pintar-pintar sama Bunda." Bisik Ghani di perut Khalisa. Perempuan itu membelai surai hitam suaminya.


 


"Ayah jangan khawatir, dedek sehat. Nih dia gerak dengerin Ayah." Khalisa meletakkan telapak tangan calon ayah itu di perutnya.


Selama perjalanan satu jam lima puluh menit pasangan suami istri itu tidak berhenti bersenda gurau. Khalisa seperti tidak memiliki rasa lelah, terus mengoceh. Membuat Ghani harus menjadi pendengar yang baik.


Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta masih tetap sama. Kapan orang berhenti bepergian? Sepertinya tidak mungkin. Itu menandakan penghuni planet ini masih produktif. Meskipun tidak bisa dipungkiri masih banyak juga kaum rebahan.


Dua buah mobil mewah sudah menunggu mereka. Mobil melaju memecah jalanan ibu kota yang tak pernah sepi, memasuki kawasan perumahan elit keluarga Emran. Mau tidak mau Ghani berusaha tersenyum untuk kebahagiaan istrinya.


Sesakit itu rasanya dibuang. Bukan karena hilangnya uang dan kekuasaan. Tapi karena tidak pernah diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan.


"Abang sedih ya mau ketemu papa, kalau gak mau ketemu kita langsung ke rumah ayah aja."


"Gak sedih kok Sayang, bahagia lihat istri Abang." Ghani mendekap erat sang istri yang sudah menjadi kekuatannya saat berjuang sendirian. Orang yang pernah diabaikannya sekarang jadi yang paling peduli padanya.


"Boleh beli rujak gak?" Pinta Khalisa mengalihkan perhatian Ghani.


"Boleh, tapi setelah dari rumah papa ya, Sayang." Bujuk lelaki itu, Khalisa mengangguk senang. Ghani tak mengalihkan netranya sedetikpun dari sang istri.


Perempuan yang sudah menjadi sumber kekuatannya. Perempuan yang sudah merebut hatinya. Membuat Ghani porak-poranda. Sejak mengetahui cintanya sudah berlabuh pada sang istri. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi untuk bisa terus mendekap kekasih halalnya ini.


Ghani bahagia sekarang. Sangat bahagia malahan, walau dia sudah tidak memiliki harta yang berlimpah ruah lagi. Cukup ada Khalisa di sisinya yang memberikan dukungan. Dia tidak perlu lagi pengakuan dari banyak orang bahwa dia hebat. Cukup istrinya yang mengakui itu.


Andai bisa, Ghani ingin memperlambat waktu bergerak. Agar dia bisa menunda pertemuan dengan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2