Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
126


__ADS_3

"Nin, ini aku. Buka pintunya." Panggil Tomi lembut dari depan pintu.


Pintu terbuka, menampakkan tubuh bergetar Anindi yang menangis ketakutan.


Tomi segera membawa tubuh itu dalam pelukan, "kamu aman, Nin." Katanya seraya mengusap punggung Anindi untuk memberikan ketenangan.


"Kamu diapain?" Lirih Tomi, Anindi masih menangis sesenggukan.


"Aku takut, dia mau melecehkan aku."


Huuhh, Tomi menarik napas dengan kasar. Dia saja tidak pernah memaksa Anindi saat masih berstatus sebagai suami.


"Kamu tenangin diri dulu ya," Tomi membawa Anindi duduk lalu mengambilkan air putih. "Jangan takut, ada aku di sini." Ucapnya lembut.


Anindi dapat melihat ketulusan dan cinta yang diberikan Tomi untuknya. Selama ini dia sudah menyia-nyiakan semua itu.


"Terimakasih Mas, aku gak tau lagi kalo kamu gak ada." Anindi kembali memeluk Tomi, "maafin aku yang egois menyakiti kamu. Maafin aku yang gak bisa menghargai perjuanganmu."


Tomi mengangkat dagu Anindi dengan lembut, lalu menyeka air mata di pipinya. "Aku akan ada kapanpun kamu butuh, jangan merasa sendirian."


"Kalau sudah tenang lepas pelukannya ya." Ucap Tomi lembut, hanya pelukan begitu saja juniornya sudah menjerit. Dia tidak ingin menyakiti perasaan Anindi lagi dengan kelancangannya. Perempuannya ini pantas bahagia bersama lelaki lain.


"Maaf," Anindi melepaskan pelukannya. "Sekali lagi makasih, aku sudah gak papa." Katanya dengan tersenyum.


Senyuman tulus itu, lama tidak Tomi lihat. Huft, dia tidak boleh gagal move on dong sekarang. Harus kuat, dia datang tulus hanya untuk menolong. Bukan modus, walau sangat ingin menjadi pelindung Anindi.


"Ikut aku pulang ya, lebih aman."


"Gak usah, Mas. Nanti aku cari satpam buat jaga di depan." Tolak Anindi halus, dia tidak enak hati. Mantan suaminya sudah ingin menikah masa ikut tinggal di sana.


"Untuk malam ini aja, besok pagi aku bantu beresin toko dan keamanan di sini. Kalau aku tinggal kamu saat seperti ini, mama pasti khawatir."


"Oke," Anindi beranjak mengambil jaket dan keperluan.


Mata Tomi terus mengekori, dia penasaran dengan obat yang dimasukkan Anindi dalam tas.


"Ayo Mas," ajak Anindi setelah sudah siap. Perempuan yang tadi Tomi lihat lemah sekarang sudah tidak ada lagi. Sangat cepat Anindi mengontrol dirinya.

__ADS_1


Guntur sudah menunggu di balik kemudi dengan tenang. Entah apa yang dilakukan dua orang itu sampai begitu lama.


"Ada yang luka Nin?" Tanya Guntur, ketika Anindi sudah duduk di kursi penumpang.


"Alhamdulillah enggak, makasih ya udah nolongin." Ujar Anindi dengan tersenyum.


"Jangan makasih sama aku, makasih sama Tomi aja. Dia yang panik banget dengar kamu diserang. Bawa mobil aja sampai terbang."


"Udah jalan, jangan kebanyakan ngomong." Tegur Tomi dingin, lelaki itu masih dalam mode singa.


Guntur menyalakan mesin lalu menjalankannya, daripada di santap singa hidup-hidup. Dia masih belum merasakan yang namanya bahtera rumah tangga.


Anindi menerawang ke luar jendela, menikmati kerlap-kerlip lampu yang menghiasi ibu kota. Kota ini tidak pernah tidur, aktivitas tidak pernah berhenti meskipun malam sudah semakin larut.


Mobil terparkir di depan kediaman Emran, rumah yang sudah beberapa minggu ini dia tinggalkan. Anindi ragu untuk melangkah masuk, biasanya dia berkunjung ke rumah ini untuk Khalisa. Tapi malam ini dia menginap sebagai tamu tak diundang.


"Ayo masuk," ajak Tomi. Guntur sudah melenggang pergi ke ruang tengah. Emran dan Mira masih mengobrol di sana.


"Nindi, kamu gak papa, Sayang?" Mira langsung menghambur ke pelukan perempuan yang dibawa Tomi pulang.


"Syukurlah, Mama khawatir banget kamu kenapa-kenapa."


"Mama jangan khawatirkan aku berlebihan ya, ini sudah malam loh kenapa masih belum tidur." Anindi menggenggam tangan Mira, di rumah ini dia mendapatkan banyak cinta. Mengingat itu, Anindi rasanya sudah menjadi orang yang paling bodoh karena menyia-nyiakan keluarga ini.


"Sebentar lagi kami tidur kok, Tom bawa Nindi ke kamar." Titah Mira, dia dapat menangkap raut lelah di wajah Anindi.


"Kamu istirahat ya Sayang. Besok aja kita ngobrolnya," lanjut Mira.


Anindi menjawab dengan anggukan, energinya sudah terkuras malam ini. Dia memang butuh istirahat.


"Siap Mah, ayo aku antar Nin." Ajak Tomi tenang, dia sudah bisa menetralkan diri untuk bersikap biasa saja.


"Kamu hutang penjelasan sama Papa!" Emran menatap tajam Guntur setelah Tomi dan Anindi pergi.


"Nanti aku jelasin Pah, Guntur mandi dulu ya. Gerah banget, keringetan habis dibawa Tomi terbang." Katanya dengan senyuman menggoda, lalu pergi dari ruang tamu meninggalkan tanda tanya di benak Mira.


"Ada apa sih Pah?" Tanya Mira penasaran.

__ADS_1


"Gak ada perampokan Mah. Semua akal-akalan Guntur aja, biar Nindi mau ke rumah ini lagi." Jelas Emran setelah menangkap mimik wajah Guntur yang senang, bukan sok khawatir seperti berangkat tadi.


"Astaga itu anak, bikin jantungan aja." Geram Mira, kalau Guntur ada di hadapannya sekarang, sudah dia pites-pites tuh anak.


Setidurnya Khalisa, Ghani mendatangi kamar Guntur. Sepupunya itu mengabari mission complete. Memang mereka berdua yang merencanakan semua ini.


"Berhasil bro," Guntur bertos ria dengan Ghani yang datang ke kamarnya.


"Bagus, tinggal kasih bara api sedikit lagi. Dev sudah beres?"


"Beres, Dev mah gampang kalo sama gue. Kalo perlu kita bawa Dev ke sini besok, biar kita bisa lihat ekspresi Nindi." Ujar Guntur dengan gelak tawa, "sumpah, kalo dibiarin bisa mati orang suruhan gue dihajar Tomi."


Ghani ingin tertawa tapi tidak berani, ingat luka di perutnya yang belum sembuh total.


"Jangan sampai Kha tau semua ini. Lo harus tutup yang bener tuh mulut biar gak kesceplosan."


"Papa sih udah curiga, nanti gue yang atur itulah. Lo jinakin Kha aja, pasti besok dia sedih lagi dengar Nindi diserang."


"Jadi kalian yang bikin ulah, hm." Emran sudah berada di depan pintu kamar Guntur.


"Eh Papa." Guntur menarik tangan Emran untuk masuk dan menutup pintu kembali. "Jangan keras-keras, nanti rencananya gagal."


"Kamu itu kalo mau bikin ulah gini, kasih tau Mama dulu biar gak jantungan. Kalau jantungan kan kita semua jadi repot."


"Ngasih tau Mama, sama aja bocorin rencana Pah. Mending kasih tau sekalian Tomi dan Nindinya." Guntur berdecak, ribet kalau ngajak orang tua kerja sama.


"Bener juga, jadi gimana-gimana?" Ujar Emran antusias, duduk di sisi ranjang.


"Lihat nanti besok aja Pah, kalo kita kasih tau gak surprise lagi." Ghani terkekeh kecil.


"Kalian itu bukan cuma ngerjain Tomi dan Nindi, tapi semua orang juga."


"Namanya juga misi rahasia Pah, polisi mau nangkap penjahat aja gak pake pengumuman dulu." Sahut Guntur, Emran berdecak.


"Kamu ini kalau orang tua ngomong dijawab terus."


Guntur membulatkan mata, kalau ada orang ngomong memang harus dijawab kan? Untuk menghargai. Kenapa dia jadi salah lagi sih?

__ADS_1


__ADS_2