
Ghani terbangun ketika pintu kamarnya diketuk, Tomi masuk diikuti Guntur dan Dimas. Dia enggan membangunkan tubuh, mengabaikan tamunya. Dimas mendekat ke sisi ranjang, menarik tangan Ghani untuk duduk.
"Tidurnya sudah cukup? Sudah tiga jam aku menunggumu bangun Gha." Ledek Dimas yang ikut duduk di sisi Ghani mengeluarkan senyuman mengejeknya.
"Lo ganggu Dim, masih ngantuk. Otak gue masih belum bisa bekerja kalau ngantuk begini." Ghani kembali menghempaskan kepalanya ke atas bantal.
"Kalian sudah siap?" Zaky menutup pintu mengambil bagian duduk di kursi kerja Ghani.
"Siap lahir bathin." Guntur terkekeh, memangku laptopnya dengan manja. Tomi memberikan beberapa dokumen pada Ghani juga laptopnya, dengan malas Ghani bangun menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
"Gue masih ada waktu di sini, penyidikan nanti siang baru dilakukan." Ujar Tomi.
"Sudah dipastikan mereka bersih?" Tomi mengangkat kedua bahu sebagai jawaban pertanyaan Zaky. Dimas membuka dokumen yang baru Tomi letakkan di kasur Ghani.
"Kalian sudah punya clue pelakunya kan? Semua saling berkaitan dengan kasus korupsi perusahaan? Apa bukti sudah ada?"
"Nanya satu-satu Dimas, otak gue bisa geser denger pertanyaan gitu." Dimas tersenyum mengejek pada Guntur.
"Gha, lo tau gak Clara tinggal dimana?"
"Di rumahnya lah, dimana lagi." Guntur mengangguk, "lagian ngapain bahas Clara," tegas Ghani.
"Cuma nanya, lo ternyata sebodoh itu ya sampai bisa dibohongi Clara."
"Dari dulu dia bodoh kali kalau soal Clara." Tomi mencebikkan bibirnya.
"Jadi sekarang kita mau bahas kasus korupsi, penembakan atau Clara?" Zaky mempertegas ucapannya karena Guntur semakin ngelantur.
"Semuanya," sahut Guntur masih dengan ekspresi cengengesan yang minta dilempar duit segepok.
__ADS_1
"Kalau lo gak serius mending keluar Tur, bikin mood gue tambah jelek."
"Yakin, lo mau gue keluar nih." Guntur terkekeh, memberikan Tab miliknya pada Ghani. "Lihat dulu baru usir gue yaa." Guntur tersenyum penuh kemenangan, anak satu itu memang tak pernah serius, untung ganteng.
Guntur berdiri menuju balkon menatap bangunan di depan dengan jarak kurang lebih lima ratus meter dari kamar Ghani.
"Jadi bangunan itu punya Om Mahesa, Ayah Clara." Terang Guntur, "Om Mahesa dan Om Ardi itu saudara tiri, so Clara dan Azhar saudara sepupu." Guntur membalik badannya menatap empat pria tampan yang sedang menunggu penjelasan darinya. "Dhafi itu saudara sepupu Azhar dari pihak ibu."
"Sayangnya tidak ada rekaman cctv tadi malam, kabarnya rumah itu sedang kebobolan bertepatan terjadinya penembakan itu." Guntur kembali duduk di sofa samping Tomi, "semua sudah direncanakan, bisa saja Om Mahesa hanya dijadikan sebagai kambing hitam, atau ikut ambil bagian dalam rencana itu."
"Om Ardi?" Ghani melirik Tomi, meminta penjelasan.
"Papa sudah membereskan Om Ardi setelah tragedi Cheese cake." Ghani belum puas dengan jawaban yang diberikan Tomi, "Dhafi kenapa masih berkeliaran?"
"Sejak awal aku tidak setuju kalau pihak kepolisian yang bertindak, pasti dengan mudah dibebaskan seperti Azhar." Sudah tidak heran lagi kalau mereka menggunakan uang, Ghani tau akan hal itu.
"Dia tidak pernah pergi ke Paris Gha, itu hanya kamuflase agar kamu percaya kalau Clara sudah ikhlas melepaskanmu namun nyatanya tidak."
"Sungguh permainan yang indah, aku bahkan tidak pernah tau ada wujud Azhar dan Dhafi selama beberapa tahun bersama Clara." Ghani membuka laptop memeriksa laporan perusahaan beberapa bulan terakhir.
Selama dia memutuskan lepas dari perusahaan ternyata dampaknya sebesar ini. Banyak tikus-tikus yang bersarang dengan mudahnya.
"Lakukan audit diseluruh cabang segera." Desak Ghani, lalu beralih pada dokumen yang ada di sisinya. "Aku akan sidak seluruh cabang mulai besok, juga proyek-proyek ini." Ghani mengangkat salah satu dokumen, "Zak, bersiap untuk penyergapan tikus hingga antek-anteknya."
"Siap Bos." Sahut Dimas diikuti Zaky.
"Apa kamarku sudah dipasang anti peluru Tur?" Ghani mengalihkan tatapannya pada adik sepupu tengilnya.
"Sudah, juga ada cctv di depan balkon dan depan kamar. Apa perlu balkon dipasang anti peluru juga?"
__ADS_1
"Maunya begitu, tapi udara segarnya mau masuk lewat mana?" Ghani mendengus berjalan menyusuri balkon dengan hati gerimis. Apa Kha sudah bangun sekarang, hatinya rindu. Rindu senyuman manis istrinya. "Apa rumah itu bisa di awasi dari sini?"
"Tinggal pasang kamera tersembunyi di depan balkon sana, tidak ada yang susah."
"Lakukan, berikan aku aksesnya juga. Oh ya bisakah pasang cctv di ruang ICU," pinta Ghani.
"Mana bisa Gha." Guntur berdecak, sepupunya itu aneh-aneh saja.
"Apa yang gak bisa Guntur, aku ingin bisa melihat Kha 24 jam. Tapi hanya aku yang punya aksesnya."
"Akan kubicarakan dengan pihak rumah sakit, sesuai keinginanmu." Zaky menengahi.
"Kau memang adik ipar terbaik." Ghani tersenyum cerah pada Zaky, bola matanya melirik Tomi. "Tom, apa Nindi baik-baik saja?"
"Tidak ada yang baik-baik saja saat seperti ini Gha, kalau berpura-pura baik, iya." Jawab Tomi lugas, matanya fokus pada dokumen yang sedang dibacanya. Ghani mengangguk, "ya benar, sekar kita hanya sedang berpura-pura baik-baik saja."
"Aku berpikir membawa Kha pergi dari tempat ini agar dia tidak tersakiti. Tapi aku terlambat yang terjadi di luar dari bayanganku. Mereka sampai berani membayar sniper hanya untuk menyakiti milikku." Ujar Ghani sendu, matanya menatap langit cerah. Tadi malam dia menatap langit yang indah bersama istri tercintanya.
"Sejak memutuskan melepaskan semua yang kumiliki, duniaku hanya terpusat pada Khalisa Rihana, hanya dia orang yang selalu aku rindukan. Aku rela hidup susah agar dia bisa bahagia. Seperti keinginannya lepas dari hidupku agar bisa bahagia. Aku melakukan itu untuknya, secinta itu aku padanya. Rela melepaskan agar dia bahagia." Ghani tersenyum, menghapus kasar air mata yang terjatuh di pipinya.
"Ternyata aku salah, bahagianya bukan saat jauh dariku. Kha memintaku datang untuk menjemputnya. Sejak saat itu tidak sedetikpun aku ingin jauh darinya. Aku ingin membayar kesalahanku dengan membahagiakannya. Apapun untuknya, segalanya aku lakukan untuknya."
"Tapi mereka tanpa permisi membunuh anakku dan sekarang ingin membunuh istriku. Aku bisa kehilangan anakku, aku masih bisa tetap waras. Tapi kehilangan Kha, aku tidak bisa." Ghani melepaskan segala sesak yang membuncah di dadanya, meluapkan segala sakit yang lagi dan lagi hadir. Empat orang dewasa yang ada dalam kamar Ghani bungkam tanpa suara. Hanya suara jam yang berdetak mengiringi alunan suara Ghani yang sangat memilukan.
Dimas beranjak ke balkon merengkuh pundak Ghani untuk menyalurkan kekuatan. Dia mengerti kesakitan yang Ghani rasakan, dia paham. Namun tak ada yang bisa dilakukannya selain memberikan kekuatan.
"Konsekuensi dari jatuh cinta adalah terluka Gha, setiap insan yang ditakdirkan bertemu pasti juga akan ditakdirkan berpisah. Konsekuensi mencintai makhluk-Nya dengan berlebihan adalah terluka dengan sangat dalam." Dimas menatap langit biru dengan awan cerah. Dia ingin menangis mengucapkan ini, kalimat yang Ghani ucapkan cukup menghipnotis membuatnya ingin menangis.
"Setiap perjalanan cinta memiliki ujiannya masing-masih, ada yang diuji dengan pasangan yang belum saling mencintai, ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan memiliki mertua yang bawel, ada yang diuji dengan penyakit, ada yang diuji dengan anak-anak. Semua manusia memiliki porsi ujiannya masing-masing, tidak ada yang lebih ringan atau berat. Semua adil dengan timbangan yang Allah mau." Lanjut Dimas kemudian tersenyum menatap Guntur, orang yang dipandang bergidik ngeri.
__ADS_1