
"Gimana rasanya tidur dengan Devina?" Tanya Ghani dengan senyuman mengejek. Dia pikir Tomi sudah berhenti berhubungan dengan perempuan itu.
"Not bad, bisa bikin gue terbakar gairah." Jawab Tomi santai tanpa saringan.
"Pantas sih Nindi gak mau menyerahkan tubuhnya sama lo. Kecewa dikit aja langsung cari pelampiasan." Sarkas Ghani pedas, Tomi hanya bisa membenarkan. Tanpa perlu bercerita bagaimana dia bertahan selama lima bulan ini tapi tidak dilirik Anindi sama sekali.
"Terserah bagaimana orang lain mau menilai, bukan hak gue mengatur pikiran orang." Tomi berujar dengan tenang, meskipun hatinya teramat sakit dituduh seperti itu.
"Gue juga kecewa sama lo Tom, dulu lo yang selalu mengingatkan gue untuk menghargai perempuan."
"Gue bakal nikahin Devina." Lelaki itu masih bersikap tenang di hadapan Ghani.
"Kalau lo mau jadi pebinor silahkan!"
"Apa maksud lo, Devina belum punya suami! Kan lo juga yang minta buat gue nikah lagi."
Ghani menghela napas panjang. "Lo tanya aja Guntur!" Ujarnya lalu meninggalkan kamar Tomi. Dia merasa gagal menjadi saudara yang baik.
"Mikirin apalagi sih?" Khalisa mendekati suaminya yang kembali uring-uringan.
"Gak papa Kha, lagi pusing aja." Bohong Ghani, tidak mungkin menceritakan apa yang dia tau pada istrinya.
"Minum obat dulu baru kita istirahat," Khalisa mengambilkan obat pereda nyeri untuk Ghani lalu membawanya berbaring di ranjang.
Ghani memejamkan matanya yang lelah. Mengurus Tomi ternyata semelelahkan ini. Ghani memeluk istrinya agar bisa terlelap dengan cepat.
Di kamarnya Tomi tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Ghani. Pebinor? Devina belum menikah, bagaimana mungkin dia disebut pebinor.
"Baru pulang?" Tanya Tomi, dia sudah lama menunggu di kamar Guntur.
"Yo'i. Lo ngapain di kamar gue?" Guntur tersenyum miring, dia sudah tau apa yang dimau lelaki di depannya ini.
"Gue tadi ke hotel sama Devina, apa lo membuntuti kami?" Selidik Tomi.
"Ngapain gue buntutin lo, gue udah pusing sama kasus dokter Hira dan Erfan hari ini." Guntur berdecak kesal.
"Lo menyelidiki Devina?" Tomi mengangkat sebelah alis sambil melipat tangan di dada.
__ADS_1
"Kalau itu iya, lo mau tau juga?" Guntur menjawab dengan senyuman mengejek.
"Apa yang lo tau?" Tanya Tomi tanpa basa-basi.
"Dia simpanan pejabat dan sekarang sedang hamil. Cuma itu kan info yang penting buat lo. Anggaplah apa yang lo lakukan tadi bonus karena khilaf." Guntur menyeringai, kemudian beranjak ke kamar mandi meninggalkan Tomi yang membeku di tempat.
Pantas saja Devina tidak mau dia nikahi. Apa yang sudah Tomi lakukan tadi. Menggoda istri orang. Astaghfirullah. Ghani benar, dia memang tidak pantas untuk Anindi.
Tomi kembali ke kamar, memutus semua akses yang membuatnya penasaran dengan Anindi. Dia sudah tidak pantas lagi untuk perempuan itu. Tomi akan belajar mengikhlaskannya tanpa mencari pelarian lagi.
Lelaki itu menatap luka-luka di tangan yang sudah mengering. Berbeda dengan luka di hatinya yang tak berbekas ini, namun masih terasa perih.
***
Ghani membuat ruang kerja khusus sesuai janjinya pada sang istri. Sama seperti di kamar, dia memasang akses murottal agar terus menggema di ruangan. Terbukti itu membuat Khalisa lebih tenang. Kalau manja itu memang tidak pernah bisa jauh dari sifat istrinya.
"Abang!" Khalisa mendekati Ghani di mejanya. Pria itu baru selesai meeting virtual membahas laporan dengan managernya. Ghani sudah tidak ke kantor lagi karena Tomi sudah sembuh.
"Iya Sayang," Ghani menarik pinggang Khalisa, lalu mengecup di perut yang masih datar. "Assalamualaikum anak Ayah, hari ini sehat."
"Heii, kesayangan Abang mau apa? Kenapa jadi cemberut?"
"Yang dicium cuma adek, bundanya enggak!" Rengut Khalisa masam.
"Oh, bunda juga mau disayang?" Goda Ghani lalu berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri. Memberikan kecupan hangat diseluruh wajah.
"Abang!"
"Iya Sayang." Ghani merangkul Khalisa membawanya ke sofa bed berwarna dusty pink kesukaan sang istri.
"Bosan, mau jalan-jalan. Boleh?"
"Kha mau jalan kemana?"
"Mau ke taman terus beli jajan di sana."
"Ini sudah siang Sayang, jajanannya ada kalau pagi. Besok pagi aja gimana kita jalan-jalannya," bujuk Ghani.
__ADS_1
"Huum," tidak menolak atau mengiyakan. Tingkah Khalisa membuat Ghani gemas.
"Ih, bikin gemes deh. Jadi pengen jenguk dedek." Ghani mengunyel kedua pipi Khalisa.
"Abaaanggg..!!" Seru Khalisa marah, pipinya sakit dijadikan mainan. "Nanti pipiku mleyot, gak cantik lagi."
"Tetap cantik, apalagi kalau merah-merah gini." Ghani tidak berhenti, kedua telapak tangannya menekan gemas pipi chubby sang istri. Tidak peduli empunya marah-marah dan memberontak.
Di depan ruang kerja Ghani, Tomi mengetuk pintu itu, "boleh masuk?" Tanyanya.
"Ya masuk." Ghani mengakhiri keisengannya dengan mengecup kedua pipi Khalisa yang memerah. Tomi muncul di balik pintu mendekat ke sofa setelah menutup pintu kembali.
"Kha kenapa, alergi?" Tomi mengamati pipi Khalisa yang memerah, "ada salah makan?"
Khalisa menggelengkan kepala, "habis disiksa Abang," adunya manja.
"Astaga Ghani, sampai memerah gitu." Ghani hanya cengengesan, "gue laporin Mama, habis lo."
"Janganlah, gemas aja sama nih pipi." Ghani kembali mengunyel pipi Khalisa.
"Abaaang, sakit!!" Pekik Khalisa marah, pipinya beneran sakit. Ghani kasar banget mainin pipi gembulnya.
"Ghani!!" Tegur Tomi serius dengan tatapan membunuh.
"Cup cup cup, sini Sayang." Ghani mengelus lembut kedua pipi itu dengan sayang. Tomi geleng-geleng kepala. "Gemesin banget sih Sayang." Dia mengecup basah seluruh wajah Khalisa di depan Tomi.
"Abang, malu!" Khalisa membenamkan wajah dalam pelukan Ghani.
"Cuma ada Tomi Sayang, gak usah malu." Ghani tersenyum smirk, sedang Tomi berdecak kesal.
"Tidurin dulu!" Ujar Tomi, Ghani memutar bola mata malas. "Mana bisa Tom, baru jam sepuluh."
"Bisa, setengah jam lagi gue balik." Tomi meninggalkan ruang kerja Ghani. Sering dia iri melihat kebahagian Ghani dan Khalisa.
Melihat Khalisa bisa meredakan rindunya pada Anindi. Selain wajah mereka yang mirip, suaranya juga, yang membedakan hanya kemanjaannya. Anindi sangat dewasa dan mandiri.
Tomi sedang berusaha melupakan Anindi, tidak bisa dipaksa melupakan dalam sekejap. Mencintai Anindi membuat Tomi candu, hanya perempuan itulah yang bisa menjadi penawarnya.
__ADS_1