
Braak
Suara nyaring benda di banting di lantai bawah mengusik Anindi. Dia memberanikan diri untuk melihatnya. Tidak mungkin meja dan kursi jatuh sendiri kan.
Dengan was-was Anindi menuruni tangga. Ada tiga orang berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup mengobrak-abrik toko. Meja dan kursi di banting kasar.
Anindi sudah ketakutan, dia bersembunyi di balik etalase yang tidak dapat menutupi dirinya dengan sempurna. Tubuhnya bergetar dengan jantung yang berdegup kencang.
"Itu orangnya!" Teriak salah satu penjahat, melihat Anindi yang bersembunyi di balik etalase. Anindi berlari menaiki tangga saat tiga orang tak di kenal itu melihat ke arahnya dan mengejar.
"Allah, siapa mereka." Lirih Anindi dengan napas ngos-ngosan. Untuk mencapai puncak tangga saja rasanya sangat lama. Kakinya lemas, jarak antara tangga dan kamar seperti berkilo-kilo meter.
"Ayo ikut!" Bentak seorang pria yang bertubuh gempal. Menarik tangan Anindi dengan kasar menaiki tangga dan memasukkan ke kamar.
"Kalian berjaga di bawah," perintahnya pada dua orang temannya. Pria itu membanting tubuh Anindi ke tempat tidur.
"Kamu mau apa?" Tanya Anindi dengan bibir bergetar.
"Aku mau kamu!" Sorot mata tajam menghunus Anindi. Perempuan itu semakin ketakutan, dengan cepat dia menendang pria yang ingin menaiki ranjang. Kesempatan itu Anindi gunakan untuk berlari.
"Brengsek!" Pekik pria itu kesakitan, lalu mengejar Anindi yang sudah berhasil keluar kamar dan menangkapnya kembali.
Anindi menginjak dan menendang lurut lelaki itu lalu masuk ke kamar dan menguncinya.
"Alhamdulillah," lirihnya saat berhasil masuk ke kamar. Dia bersandar di belakang pintu dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Siapa yang bisa menolongnya sekarang. Satu nama muncul dalam benaknya, dengan tangan gemetar Anindi menelpon Tomi. Baru tersambung, telpon langsung dijawab. Berulang kali dia mengucap syukur dalam hati.
"Mas!" Lirih Anindi dengan bibir bergetar.
"Kamu kenapa Nin?" Tanya Tomi khawatir, suara itu seperti orang ketakutan.
"Tolong aku, ada orang yang menyerang tokoku. Aku takut!" Baru selesai Anindi berucap, pintu di gedor-gedor dengan keras. Tomi bisa mendengar suara keributan itu.
"Mas, mereka masih ada di depan kamarku." Tangis Anindi pecah, dia sangat takut.
__ADS_1
"Aku ke sana sekarang, telponnya jangan dimatikan!"
Tomi menarik tangan Guntur yang sedang asyik menonton televisi sambil nyemil.
"Sakit Tomi!" Guntur menepis kasar tangan Tomi.
"Nindi kenapa Tom?" Tanya Mira melihat wajah cemas putranya.
"Nindi dalam bahaya Mah, temenin gue Tur." Ujarnya, tanpa memberikan penjelasan lebih.
"Nindi kenapa?" Guntur melepaskan toples cemilan di tangannya dengan perasaan tak rela. Tapi juga panik saat mendengar mantan istri Tomi itu dalam bahaya.
"Toko Nindi diserang orang gak dikenal!" Teriak Tomi lalu berlari meninggalkan Guntur yang lambat.
"Eh, tunggu!" Teriak Guntur lalu menyusul. "Bilangin Zaky, siap siaga ya Pah!" Katanya dengan setengah berlari menoleh ke arah Emran.
Emran yang masih syok hanya menganggukkan kepala.
"Pah, itu Anindi dirampok." Mira menyadarkan suaminya yang masih bengong, "hubungi polisi!"
"Mereka berdua bisa menyelesaikan Mah, kalau banyak polisi nanti Anindi tambah syok. Kamu tenang ya."
Emran mengode istrinya agar tidak menceritakan kejadian yang dialami Anindi di depan Khalisa.
"Itu, biasa Guntur teriak-teriak kayak lagi di kebun binatang." Jawab Mira dengan cengiran yang tak dapat menyembunyikan ke khawatirannya.
"Mama gak lagi bohongkan?" Khalisa menatap dalam mama mertuanya.
"Enggak kok Kha, kalian kenapa belum tidur. Apa kamu kelaparan?" Mira mengalihkan topik pembicaraan.
"Kha mau ice cream Mah," ujar Ghani, "Abang ambilin dulu Sayang, kamu tunggu di sini aja."
Khalisa mengangguk, setelahnya Ghani beranjak ke dapur. Mengambil ice cream yang dibelinya tadi siang di lemari pendingin. Lalu kembali ke ruang tengah.
"Tangannya masih sakit Kha?"
__ADS_1
"Kadang-kadang nyeri dan ngilu aja Pah."
"Kamu diam aja di kamar, jangan banyak begerak dulu sebelum benar-benar pulih." Nasehat Emran, Khalisa menggerakkan kepalanya mengangguk.
"Gha, bawa Kha makan ice cream di kamar." Perintah Emran, agar menantunya itu tidak curiga dengan masalah yang mereka sembunyikan.
"Iya Pah, ayo Sayang kita naik ke atas aja." Khalisa menurut, dia bingung kenapa papa mertuanya terkesan mengusir dari sana. Apa yang sedang papa bicarakan sebelum mereka datang.
"Abang, mereka lagi ngomongin apaan sih, kayaknya penting banget sampai kita diusir." Ujar Khalisa keheranan, Ghani mengendikkan bahu.
"Dari tadi Abang sama Kha, gak tau apa yang mereka bicarain. Abang bukan peramal, Sayang." Ghani menempelkan ice cream ke hidung Khalisa.
"Abang dingin, huhh." Kesal Khalisa, suaminya malah tertawa. "Gak ada yang lucu, aku lagi gak ngelawak."
"Lucu banget malahan, bikin gemas terus." Ghani menyuapkan ice cream ke mulut Khalisa yang ingin mengoceh.
"Huuh, dingin." Katanya sambil mengipaskan tangan ke mulut yang belum siap menerima dinginnya es.
"Tuh kan gemesin banget, dingin kok dikipasin. Sini Abang bantu ngilangin dinginnya." Ujar Ghani, lalu melahap bibir Khalisa saat ada kesempatan. Tangan Khalisa memukul-mukul lengan Ghani. Dia belum punya persiapan saat diserang, jadi kehabisan napas.
"Huuhhh." Khalisa menarik napas panjang setelah berhasil lepas dari suaminya. "Abang jahat banget main nyosor. Kha bisa mati, kehabisan napas nih."
"Maaf Sayang. Abang suapin pelan-pelan, gak nakal lagi." Ghani terkekeh kecil setelah berbuat usil, dia menyuapi Khalisa kembali.
Sementara itu Tomi melajukan mobil sampai lupa diri karena mengkhawatirkan Anindi. Guntur yang duduk di sampingnya tak berani menegur, takut dibunuh Tomi di tempat.
Tomi tiba di toko Anindi dengan napas memburu. Tempat itu sudah berantakan, meja kursi di obrak-abrik.
"Lo cari Anindi biar gue yang urus mereka." Guntur langsung menghajar dua orang yang merusuh toko. Satu orang lagi masih berada di depan pintu kamar Anindi.
"Brengsek," Tomi menghajar orang yang menggedor-gedor pintu dengan berapi-api. Tangan yang tadi terkepal kuat itu akhirnya menemukan tempat pelampiasan juga. Dia akan menghabisi orang yang sudah mengusik kesayangannya tanpa ampun.
Pria bertubuh gempal itu tidak tinggal diam. Dia melepaskan tinjuan balasan di wajah dan perut Tomi. Membuat Tomi meringis.
Guntur datang melumpuhkan orang yang di hajar Tomi dari belakang.
__ADS_1
"Biar gue yang urus," lelaki itu mengambil alih setelah membereskan tugasnya di bawah. Di seretnya orang yang sudah tak berdaya itu ke lantai satu. "Bawa Nindi pulang ke rumah Tom," teriaknya nyaring.
Malam ini Guntur tidak perlu fitnes lagi. Kalori di tubuhnya sudah habis terbakar. Dia mendorong pria yang di seretnya tadi, lalu menepukkan kedua telapak tangan ke baju seperti sedang membersihkan debu.