
Kamu sedang kangen Clara kah Gha, kalau dia hamil dan Ghani masih sering bersikap seperti ini bagaimana. Hari ini sangat melelahkan. Khalisa menelungkupkan wajahnya di bawah bantal. Resiko menikah dengan orang yang tidak memiliki rasa cinta ya begini. Sering diacuhkan kalau sedang tidak dibutuhkan.
Kuat Kha, kamu kuat, bertahanlah. Mendampingi orang yang belum mencintai memang berat, perlu perjuangan yang tidak mudah. Akankah cinta itu diberikan Ghani untuknya. Sampai kapan harus hidup dalam kepura-puraan seperti ini. Menganggap Ghani sudah mencintainya, tapi nyatanya hanya menutupi kenyataan agar hati tidak terlalu terluka.
Khalisa mengambil lembaran jawaban post test memeriksanya satu persatu sambil bersandar di kepala ranjang. Sampai azan maghrib berkumandang, dia tidak mandi karena semua pakaiannya ada di kamar Ghani. Setelah membersihkan tubuh dan berwudhu melakukan sholat maghrib.
Sampai sehabis isya pun Ghani tidak mencarinya, mungkin dia masih marah dan mengunci pintunya. Khalisa membaringkan badan sampai tertidur, perutnya sudah diisi dengan roti sore tadi itu sudah bisa membuatnya tidur nyenyak.
Usai sholat subuh Khalisa mengetuk pintu kamar Ghani yang masih di kunci. Beberapa menit menunggu tidak ada jawaban, dia kembali ke kamar di sampingnya.
Hari ini gak bisa ke kampus lagi, lirihnya. Arrgh kenapa jadi sangat sakit sekarang setelah memberikan seluruh cinta pada suaminya. Menunggu Ghani pergi baru Khalisa bisa masuk ke kamar untuk mengambil pakaiannya.
Kalau ada masalah diomongin jangan diam begini Gha, sakit rasanya sangat sakit. Khalisa kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi malam belum selesai.
Hatinya gelisah menimang-nimang ponsel, telpon gak yaa, walau hanya bersebelahan kamar tapi temboknya terlalu besar. Kalau berteriak gak akan bisa kedengaran. Khalisa menelpon suaminya, tersambung tapi tidak ada jawaban.
Kha : Gha, marah banget yaa. Maaf yaa.. aku mau mandi gerah banget gak ganti dari kemaren, boleh buka pintunya bentaar aja, janjiii gak gangguin kamu.
Send, pesan terkirim centang dua tapi belum diread padahal online. Itu tuh sakit banget rasanya, detik berganti menit berlalu tidak ada balasan. Khalisa kembali menyibukkan diri dengan lembaran-lembaran kertas yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling, kayak tawaf aja.
Pintu kamar diketuk, Khalisa berharap Ghani yang sedang di depan pintu. Tapi kekecewaan melanda hatinya yang ada di sana malah Mbok Sri.
"Mbak makan dulu ya ini saya bawakan sarapan."
Dia rindu, bukan lapar. Hatinya lagi gundah gulana mana bisa makan, walau cacing berteriak minta dikasih makan.
"Mas Ghani sudah berangkat Mbok?"
"Masih sarapan di bawah." Khalisa mengangguk.
"Sarapannya taroh aja Mbok, saya mau mandi dulu." Katanya sambil tersenyum, setelah Mbok Sri pergi baru dia masuk ke kamar Ghani mengambil pakaian dan perlengkapan mandi lalu kembali ke kamar sampingnya. Cepat-cepat dia mandi dan sarapan agar sempat berangkat ke kampus ikut Ghani.
Sesampainya di teras mobil Ghani sudah tidak ada. "Yah ditinggal, padahal udah cepat-cepat, kok gini sih Gha. Sakit."
__ADS_1
Khalisa memesan taksi online, telat ngajar gak masalah, yang jadi masalah kalau ketemu Azhar. Apa harus minta tolong Tomi atau Guntur. Aahh tidak perlu, jangan ketergantungan atas nama Ghani. Pasrah aja kalau Azhar menyakiti, biar Ghani puas.
Khalisa tidak mampir ke kantor, langsung masuk ke kelas. Untuk menghindari Azhar juga, begini lebih baik. Ghani, Ghani kenapa jadi marah sekali.
***
Berulang kali Ghani membaca pesan yang Khalisa kirim, ada rasa bersalah sudah mendiamkan istrinya. Dibukanya galeri menatap dalam—foto bersama Clara, rindu ini tak pernah pudar untukmu Ra. Selalu kamu yang terngiang dalam bayangan, susah payah menghapusmu dalam ingatan.
Clara sudah mengkhianatimu Gha, tidak pantas dipertahankan. Tapi kamu juga sudah mengkhianati istrimu dengan seperti ini. Apa pantas kamu ingin dipertahankan.
Ghani menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Apa yang sekarang sedang Kha pikirkan kalau dia lama mencueki perempuan itu. Pasti hatinya sedang sedih sekarang.
Ponsel Ghani berdering panggilan dari Clara. Ghani menimbang-nimbang mau menjawab atau tidak. Di jawab nanti Kha salah paham, gak di jawab kangen suaranya. Ghani menjawab telponnya, lalu menyetujui permintaan Clara.
***
Khalisa merapikan meja kerjanya sebelum pulang, membawa tumpukan lembar jawaban hari ini. Pekerjaan rumah sudah menunggunya, siap-siap kejar tayang.
"Kha, langsung pulang?" Tanya Winda yang duduk di meja samping kirinya.
"Temenin nyari sesuatu, boleh?"
"Boleh. Tapi anterin langsung pulang ya. Bawaanku banyak nih." Pinta Khalisa sambil memelas, itulah kebisaannya untuk merayu lawan bicaranya.
"Beres... kenapa gak bawa mobil sendiri sih?"
"Gak dibolehin babang tampan, dia takut aku keluyuran." Sahutnya tergelak.
"Haha,, suami cerdas. Ayo aku bantuin bawa." Winda mengambil laptop dari tangannya, mereka berjalan menuju parkiran.
"Nyari apa sih Win, tumben ngajakin aku biasanya sama yang lain."
"Temenin beli kado buat ponakan, sama cuci mata." Sahut Winda sambil membenarkan bingkai kacamatanya. Wajah tirus dengan jilbab terusan berwarna mocca itu memperindah penampilannya.
__ADS_1
"Cuci mata pakai rinso aja biar bersih dan hemat Win."
"Mataku gak kotor-kotor banget kok Kha, masih bisa kalau pake sunlight biar tambah mengkilap."
"Sekalian dikasih molto biar wanginya semerbak Win." Mereka berdua terkekeh.
"Babang tampanmu gak nyariin nih, kalau kamu aku culik."
"Gak, babang lagi sibuk biar aku bisa shopping juga. Haha." Khalisa berusaha menyembulkan tawanya menutupi rasa sakit yang Ghani buat.
Winda melajukan mobilnya menuju sebuah mall, setelah memarkirkan mobil mereka berkeliling. Memasuki toko-toko mainan, tidak lupa toko tas, sepatu, pakaian untuk cuci mata. Lumayan matanya di cuci walau gak beli, cuma numpang parkir doang.
"Kha, laper gak. Kita makan dulu yuk baru keliling lagi." Ajak Winda, sambil menggandeng tangannya.
"Yang dicari juga belum dapat, malah mikirin perut." Khalisa terkekeh mengikuti Winda yang membawanya menuju tempat makan cepat saji.
"Urusan perut lebih penting Kha, senjata perang nomor satu."
Langkah Khalisa terhenti, ketika Winda membawanya menuju tempat yang di sana ada seorang lelaki sedang berduaan dengan perempuan. Hatinya seketika remuk redam, seperti sedang diremas-remas. Tubuhnya bergetar tapi disembunyikannya, agar Winda tidak menyadari.
"Win, kita cari tempat lain aja yuk.." ajaknya sebelum Winda melihat orang yang dilihatnya.
Pantas saja kamu cuek Gha, ternyata sudah baikan sama Clara. Lalu apa posisinya di hati Ghani.
"Oke, aku ikut aja."
Winda mengikutinya menjauh dari tempat Ghani berada. Khalisa sengaja mencari tempat yang jauh dan memilih tempat duduk yang menjorok ke dalam.
"Di sini aja ya." Ujar Khalisa sembari melihat-lihat buku menu. "Aku mau steak, kamu apa Win?"
"Samain aja deh."
"Oke." Khalisa memanggil pramusaji, mereka banyak mengobrol sampai pesanan datang. Hatinya masih memikirkan Ghani yang tega membohonginya.
__ADS_1
Melepaskan mungkin lebih baik daripada bertahan Kha, jangan egois ingin memiliki Ghani yang tidak mencintaimu. Belajarlah untuk merelakannya Kha, belajarlah.
Setelah menemani Winda mendapatkan yang dicari. Khalisa pulang ke rumah dalam keadaan lemas. Sesakit ini rasanya berharap pada orang yang tak bisa membuka hati sedikit pun padanya.