Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
63


__ADS_3

Anindi masih tinggal bersama keluarga Emran, mengingat sejak kejadian penangkapan tunangannya beberapa hari yang lalu. Perempuan itu juga masih dalam mode diam, ditambah melihat kondisi adik sepupunya membuatnya tambah pilu.


"Anin makan!" Ghani yang memperhatikan Anindi memainkan sendok menegurnya. Dia cukup tau apa yang sedang dirasakan dua perempuan itu. Melawan pergulatan pikiran tak semudah melawan musuh berbentuk manusia.


"Ya." Sahut Anindi, tangannya mulai menyendok nasi tapi tatapannya masih tertuju pada Khalisa dengan sendu.


"Kha akan baik-baik saja, jangan khawatirkan itu. Yang perlu dikhawatirkan itu hatimu." Geram Tomi pada Anindi, semua sudah menyelesaikan makannya terkecuali Anindi. Si empunya hanya mengangguk lemas.


"Aku bawa Kha ke kamar duluan Pah Mah, titip Anin." Ghani beranjak bersama Khalisa meninggalkan meja makan yang hening tidak seperti biasanya penuh dengan canda tawa. Dia mendudukkan Khalisa di sisi ranjang membelai pipi gadisnya dengan lembut.


"Kalau mau nangis jangan ditahan Sayang." Ghani membawa Khalisa ke dalam pelukannya. Dadanya sesak melihat istrinya sudah tidak ceria lagi. Selalu melamun dan menangis. Ghani membelai punggung Khalisa yang turun naik, jelas sekali sedang menangis tanpa suara.


"Luapkan segala sakitmu Kha, aku di sini selalu bersamu Sayang."


"Aa—baang!" Panggil Khalisa lirih dengan napas tersendat-sendat.


"Ya Sayang." Ghani mengangkat dagu Khalisa lembut, menghapus air mata yang mengalir di pipi lembut sang kekasih.


"Aku mau menyusul anak kita, dia pasti butuh bundanya. Anak kita pasti takut sendirian. Aku mau selalu disisinya, bersama dengannya." Tubuh Ghani menegang, dadanya sangat sesak karena terhimpit.


Penyerangan musuh sangat sempurna, tak perlu membuat bisnisnya hancur. Cukup sakiti orang yang sangat dicintainya, itu sudah membuatnya luluh lantah. Air matanya tanpa dikomando menetes mendengar istrinya yang meracau.


"Kha gak sayang sama Abang jadi mau ninggalin juga? Cukup anak kita yang pergi, kamu jangan Sayang. Abang akan hancur kalau jauh darimu." Khalisa menggeleng kemudian tersenyum sekilas.


"Abang akan kuat tanpa aku, seperti selama ini." Ucapan Khalisa cukup menikam jantung Ghani, mereka memang baru bersama. Tapi sejak mengetahui Khalisa mengandung anaknya dia mulai memfokuskan dunianya pada anak dan istrinya. Selama beberapa bulan terakhir bersama Khalisa, Ghani sangat bahagia. Bahkan sekarang tak sedetikpun dia ingin berjauhan dengan istrinya.


"Tidak, Abang tidak akan kuat Sayang." Ghani menangkup pipi Khalisa dengan kedua tangannya. Menciumi seluruh wajah itu dengan lembut dari kening, mata, pipi dan hidung kemudian berakhir di bibir.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu lagi Sayang." Mereka tenggelam dalam air mata, menangis bersama. "Abang pernah salah menyia-nyiakan kamu, maafkan Abang."


Ghani merengkuh istrinya dengan erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatan yang dimilikinya. Sampai Khalisa tak lagi bersuara, napasnya mulai teratur dalam dekapannya. Ghani melirik kemudian tersenyum melihat istrinya yang tertidur. Dibawanya tubuh yang rapuh itu ke ranjang, setelah melepaskan jilbabnya Ghani menyelimutinya. Dikecupnya kening itu dengan hangat dan lembut.


"Kha sudah tidur?" Tanya Tomi saat Ghani mendaratkan pantatnya di sofa ruang keluarga. Setelah memastikan istrinya tertidur dan menunaikan sholat isya Ghani bergabung bersama dua sepupunya. "Sudah," sahutnya sambil memijat pelipisnya dengan bersandar di sofa, matanya terpejam.


"Lo abis nangis?" Kali ini Guntur yang bertanya dengan menyodorkan segelas kopi ke hadapan Ghani.


"Memang sepupu lucknut tidak mengerti situasi dan kondisi." Ghani berdecak lalu menyeduh kopi yang masih mengepul.


"Biar lo gak tegang, rileks sedikit." Guntur terkekeh kecil, niatnya bercanda malah dapat sentilan dijidat dari Tomi. Kasihan nasibnya yang selalu teraniaya, mentang-mentang dia yang paling muda.


"Anin udah tenang?" Tomi mengangkat kedua bahunya tanda tak tau, Ghani mendesah berat.


"Ghina dan Mama udah nenangin Anin." Zaky menepuk bahu Ghani dan duduk di samping Ghani yang menghembuskan napas lega. "Beban gue nambah jadinya mikirin psikis Anin juga." Ujarnya berusaha tersenyum untuk melepaskan beban yang menghimpitnya. Kalau melihan Anindi bersedih, Khalisa pasti akan bertambah sedih. Itulah yang sangat dijaganya agar kekasihnya tidak tambah tertekan.


"Kalau kalian frustasi seperti ini, lalu siapa yang akan membereskan masalahnya." Zaky terkekeh melihat tiga orang yang sedang kacau. Walau Tomi tak menampakkannya tapi dia tau lelaki itu tak kalah kacaunya.


"Menghadapi seseorang yang psikisnya sedang tidak baik-baik saja lebih sulit dari pada melawan musuh Zak."


"Hebat, mereka menggunakan dua umpan sekaligus." Tomi bergumam, dihirupnya aroma kopi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. "Awalnya mereka ingin beralih rencana, tapi ternyata keberuntungan sedang berpihak satu kail dapat dua ikan."


"Sebentar lagi kita juga akan mendapatkan keberuntungan itu." Ghani mengernyitkan kedua alisnya mendengar ucapan Zaky, dia memang bodo amat sekarang dengan masalah perusahaan yang terpenting istrinya ceria kembali.


"Pasti." Jawab Tomi antusias, Guntur hanya menyeringai. Biarlah mereka mau merencanakan apa, Ghani tidak akan ikut campur.


"Lo gak balik lagikan Gha?" Guntur menegakkan badannya mengamati wajah sepupunya dengan serius.

__ADS_1


"Bentar lagi balik, nunggu Kha pulih dulu. Dia mau pulang." Ujar Ghani santai, Guntur berdecak kesal. Yah, ini memang bukan keinginan mereka apalagi mama. Tapi ini keinginannya dan Khalisa. Hidup di Singapura jauh membuat Ghani lebih tenang.


"Pikirin Kha dong Gha, kasian dia di sana. Dia berhak bahagia, jangan biarkan Kha hidup susah."


Ghani sangat mengerti dengan perkataan Tomi, di sana mereka akan hidup dengan sederhana tanpa harta yang melimpah. Tapi itu lebih baik, hatinya lebih tentram tanpa banyak musuh yang siap menyerang sana sini.


"Kha tidak pernah kekurangan apapun, bahkan dia lebih bahagia seperti itu. Kha akan terus terluka kalau dia berada di sini," tegas Ghani.


"Kami bisa apa kalau kamu sudah bicara seperti itu Gha." Tomi menyerah, berharap Ghani kembali memimpin perusahaan itu hanyalah hal yang sia-sia.


"Aku tidak pernah main-main dengan keputusanku Tom, saat aku memilih pergi maka akan tetap seperti itu."


"Yaah, apapun yang bisa membuatmu bahagia Gha. Hiduplah dengan damai tanpa terganggu masalah perusahaan."


Ada nada sindiran yang tersirat untuknya, Ghani hanya tersenyum menanggapi. Dia memang seperti pengecut yang ingin lari dari masalah. Padahal bukan seperti itu, dia sudah memutuskan untuk melepaskan segala fasilitas yang papa berikan ketika memilih pergi.


"Itulah yang akan aku lakukan." Ghani tersenyum smirk.


"Apapun itu aku yakin kamu sudah mempertimbangkannya Gha. Selama bumi masih berputar masalah tidak akan berhenti datang. Kalau Ghani memilih kembali bukan berarti hidupnya bebas dari masalah Tom. Ghani hanya ingin membuktikan bahwa dia lelaki sejati." Zaky menengahi perdebatan diantara Ghani dan Tomi.


"Yups betul, jangan pikirkan hidupku. Walaupun dalam kekurangan aku takkan membiarkan anak istriku kelaparan." Ucap Ghani dengan yakin lalu beranjak dari sofa, "kalian lanjutkan diskusinya sudah terlalu lama aku meninggalkan Kha."


Walau Ghani paham keinginan Tomi tapi tetap tak bisa melakukannya. Sejak memilih pergi, keputusannya sudah tak dapat diganggu gugat lagi. Kasihan sih melihat kedua sepupunya kelabakan menangani perusahaan.


Seperti dirinya yang belajar keras untuk hidup sederhana mereka juga harus belajar keras untuk menjadi pemimpin yang bisa membanggakan.


Pikirannya tidak terlalu burukkan? Ghani bukan hanya ingin menang sendiri. Semua sudah dipikirkannya dengan baik dan matang.

__ADS_1


__ADS_2