
Tomi duduk di kursi taman yang menghadap langsung ke depan Anincake. Hari libur cafe Anindi itu ramai pengunjung. Bisa mengamati dari jauh sudah cukup membuat hatinya sedikit lega, walau tak dapat bertemu langsung.
Setelah tak dapat tidur tadi malam, Tomi memutuskan untuk jadi penguntit hari ini. Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya.
Guntur : Kalau kangen masuk ke dalam, bukan nongkrong di taman. Gak bosan jadi pengamat? Kalau cuma mau jadi pengamat mending cek cctv dari kamar. Hidup kok dibikin repot. Kalau kangen, bilang. Kalau sayang, ngomong. Mumpung MUI belum mengharamkan menikahi kembali mantan istri.
Tomi mengumpat dalam hati setelah membaca isi pesan, hidupnya tidak bisa damai selama Guntur masih hidup.
Argh, Tomi mengabaikan isi pesan Guntur kembali ke rumah. Moodnya sudah hancur, sepanjang jalan dia mengumpat.
"Ngapain pulang Woy," teriak Guntur yang sedang menonton televisi sambil memakan cemilan.
"Lo bisa gak, gak ganggu hidup gue kan Tur!" Tomi melemparkan bantal sofa ke wajah Guntur. Mending ke kamar Ghani, melihat Kha bisa mengobati rindunya pada Anindi.
Guntur hanya bersiul-siul, enggan menanggapi kekesalan Tomi.
Tomi menyeret kakinya menaiki undakan tangga langsung mengarah ke kamar Ghani. Pintu kamar itu terbuka jadi dia tidak perlu mengeluarkan suara.
Laki-laki itu mematung di depan pintu melihat orang yang ingin sekali ditemuinya ada di dalam. Ingin berbalik arah ketahuan sekali kalau sedang menghindar.
"Ada apa?" Tanya Ghani melihat wajah kesal Tomi yang mengambil posisi duduk di sofa.
"Cuma dikerjai Guntur," desis Tomi. Ghani sudah paham apa maksudnya.
"Kha aku pulang dulu ya, hari libur pasti lagi rame di toko." Pamit Anindi buru-buru, Khalisa menjawab dengan anggukan. "Mari Gha, Mas." Ujarnya ketika melewati Tomi.
"Hati-hati," jawab Tomi pelan dengan senyuman. Lelaki itu menghela napas lega setelah Anindi meninggalkan kamar.
"Gak mau ngejar?" Tanya Khalisa yang paham kegundahan hati Tomi.
"Buat apa Kha, aku gak mau menyakiti Nindi lagi. Dia bahagia tanpa aku." Tomi meyakinkan hatinya untuk melepas Anindi. Tanpa mereka sadari perempuan yang dibicarakan masih bisa mendengar dari depan kamar.
"Gue ke kamar dulu," pamit Tomi. Sepasang suami istri itu hanya mengiyakan.
__ADS_1
"Jangan pikirkan, mereka sudah dewasa. Tau yang terbaik untuk diri mereka sendiri, Sayang." Ghani dapat membaca kerisauan istrinya.
"Apa mereka harus diuji seperti kita juga agar bisa menyadari kalau sudah saling mencintai."
"Jodoh urusan Allah Kha, kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau Dia berkata tidak." Ghani mengingatkan Khalisa, "Anindi akan baik-baik saja walau dia tidak bersama Tomi. Jangan khawatirkan yang belum terjadi."
"Apa salah kalau aku ingin yang terbaik untuk Anindi."
Ghani menggeleng pelan, "semua orang pasti punya sisi baik dan buruk. Hanya Allah yang tau mana yang benar-benar baik untuk kita kan? Sering yang kita anggap buruk itu yang terbaik menurut Allah. Kita hanya bisa mengingatkan, selebihnya Tuhan yang menentukan."
Apa yang dikatakan Ghani benar, Khalisa hanya bisa mengangguk menyetujui.
Di luar kamar Ghani, Tomi mengamati Anindi dari lantai atas sambil tersenyum. Berharap bertemu kembali pun dia malu, Tomi menggeleng pelan lalu masuk ke kamarnya. Allah kasih kesempatan bisa bersama selama lima bulan ini saja sudah alhamdulillah.
Anindi meredakan debaran jantungnya dengan mengusap-usap dada setelah memasuki taksi online. Ada apa dengan jantungnya, dia tidak punya riwayat sakit jantung, huuhh.
Tidak sampai memakan waktu dua puluh menit Anindi sampai di tokonya. Baru selangkah kakinya masuk, Mita sudah mencegatnya.
"Mbak, ada yang mau bertemu, sudah nunggu dari tadi." Mita memberi tahu bosnya, Anindi mengernyit, siapa yang ingin bertemu dengannya sampai mau menunggu.
"Perempuan Mbak." Anindi mengangguk, "bawa ke ruangan aku dulu Mit, aku ke atas dulu."
"Siap Mbak," Mita melakukan tugasnya.
Tidak berapa lama Anindi masuk ke ruang kerjanya duduk di salah satu sofa. Otaknya berpikir keras untuk mengingat orang yang duduk di depannya sekarang ini. Dia seperti pernah melihat tapi lupa dimana.
"Maaf Mbak, ada perlu apa ya mau bertemu saya?" Tanya Anindi sopan, kalau pelanggan tidak mungkin mencarinya.
"Kenalkan saya Devina."
Anindi menyambut uluran tangan itu dan menyebutkan namanya dengan tersenyum. Berusaha ramah dengan siapapun walau belum mengenalnya.
"Kamu istri Tomi?"
__ADS_1
Anindi menggerakkan kepalanya mengangguk. Saat nama Tomi disebut memori tentang orang di depannya ini muncul. Perempuan yang ada dalam video itu, gumamnya dalam hati.
"Tomi ingin menikahiku."
Anindi hanya tersenyum mendengarkan pengakuan itu. "Itu lebih baik, daripada kalian melakukan zina," jawabnya tenang.
Pembawaan Anindi yang tenang, tidak ada yang bisa menebak kalau dia sedang emosi. Itu menguntungkannya saat dipancing seperti ini.
"Kamu tidak melarang Tomi menikah lagi?" Devina penasaran dengan perempuan di depannya ini. Dipancing seperti itu masih bisa bersikap tenang.
"Itu lebih baik, daripada kalian melakukan zina," Anindi menjawab dengan perkataan yang sama.
"Tapi aku tidak ingin dimadu, aku ingin menjadi istri Tomi satu-satunya. Kalau Tomi menikahiku, aku ingin kalian cerai."
"Bicarakan itu dengan Tomi, bukan dengan saya." Jawab Anindi dengan tersenyum manis. Untung dia bukan istri Tomi lagi sekarang, kalau masih berstatus sebagai istri lelaki itu bagaimana hancurnya hati Anindi sekarang.
"Kamu bersedia cerai dengan Tomi?" Tanya Devina memastikan.
"Tomi yang berhak menjawab, bukan saya." Jawab Anindi tenang dengan tersenyum kecil.
Devina tersenyum penuh arti, pantas saja Tomi cinta mati dengan perempuan di depannya ini. Dalam keadaan seperti inipun masih bisa tersenyum.
"Terimakasih untuk izinnya, aku permisi." Devina berdiri lalu menundukkan kepala dengan tersenyum manis. Dia tidak bisa memancing perempuan itu untuk cemburu. Rencananya gagal, huhh.
Anindi hanya mengangguk diikuti senyuman. Setelah perempuan itu pergi, dia kembali ke lantai atas.
Huft, belum puas rupanya jantungnya loncat-loncat saat bertemu Tomi tadi. Sekarang malah dapat berita yang lebih mengejutkan. Belum satu bulan cerai, mantan suaminya sudah ingin menikah lagi.
Anindi tengkurap di atas kasur, membenamkan wajahnya pada bantal. Dia sangat jarang menangis, untuk hari ini izinkan matanya ini menangis. Dia juga bisa lelah dan terluka, setelah semua hal yang di alaminya dalam hidup ini.
Kenapa sedih seperti ini sih, apa dia sudah jatuh cinta dengan Tomi. Anindi tersenyum, cinta datang terlambat, gumamnya.
Hatinya sakit saat mendengar pengakuan perempuan itu. Kalau ingin menikah kenapa juga harus pamer padanya. Dia juga masih punya hati yang bisa merasakan sakit saat sedang terluka.
__ADS_1
Anindi bangun, menghapus air matanya dengan kasar. Jangan cengeng Nindi, hadapi semuanya dengan senyuman. Berdiri tegaklah hadapi segala rintangan.
Patah hati tidak akan membuat jam berhenti berdetak, kecuali habis baterai, huh.