Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
38


__ADS_3

Sejak lima menit yang lalu mobil Ghani sudah terparkir di depan rumah Sisil, tapi istrinya enggan beranjak keluar.


"Kha, sudah sampai? Nungguin apalagi?" Ghani berdiri di depan pintu menunggu istrinya keluar.


"Gendong...!!" Ujar Khalisa manja sambil terkekeh.


"Manjanya nanti di rumah aja Kha." Ghani mengulurkan tangannya menggandeng Khalisa keluar dari mobil. Khalisa memencet bel rumah Sisil, disambut pekikan terkejut dari tuan rumah yang langsung menghambur kepelukannya.


"Kha, kangeen. Kamu datang juga." Khalisa tidak habis tersenyum melihat temannya yang sangat girang.


"Ayo masuk Kha, ajak suamimu."


"Temenin ke mobil boleh?" Pinta Khalisa manja.


Hmmm emang dari sononya manja ternyata sama siapa aja. Hati Ghani yang tadinya senang mendadak garing.


"Apaan, ada suamimu ngapain minta temenin aku ke mobil." Sisil mengomel sambil mengikuti sahabatnya, Khalisa mengabaikan ocehan itu membuka pintu mobil.


"Bawa sendiri, semua dari babang tampan." Khalisa mengedipkan matanya pada Ghani.


"Woww, mau bikin taman bermain ini namanya." Pekik Sisil, Khalisa membawa boneka besar, sedang beberapa paper bag di bawa Sisil.


"Gha, bonekanya lebih besar dariku."


"Kamu mungil Sayang."


Mereka berjalan mengikuti Sisil ke ruang tamu.


"Diranya mana Sil, aku kangen."


"Ada, sama papanya di kamar. Kalian tunggu dulu aku panggilin."


Khalisa masih memeluk bonekanya di pangkuan.


"Sayang, bulunya berdebu taroh aja mending peluk aku sini." Ghani mengambil boneka itu dan meletakkan di sofa sampingnya. Tangannya merangkul pinggang sang istri. "Pengen cepat pulang tidur dalam pelukanmu, capek Sayang."


"Tadi yang ngajakin ke sinikan kamu juga."


"Jangan lama-lama yaa."


Khalisa mengangguk, menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami.


Sisil datang membawakan minuman dan cemilan, diikuti suaminya dan putri kecil mereka. "Minum dulu, kalian belum pulang ke rumah ya?"


"Iya, langsung ke sini. Diraaa sini sama tante Sayang." Anak yang dipanggil langsung mendekatinya, bergelayut manja dalam pelukannya.


"Kenapa kita ketemu lagi bro." Ghani menyalami suami Sisil.

__ADS_1


"Baru juga ketemu, sampai bosan lihat muka lo Gha."


"Jadi kalian kenal?" Tanya Sisil melongo keheranan. Menatap Ghani dan suaminya bergantian.


"Kenal, kenapa emang?" Dimas terkekeh.


"Dimas temen nongkrong." Sahut Ghani cepat, biar tidak ada yang curiga.


"Jadi gimana kasus siang tadi?" Tanya Dimas pada Ghani.


"Kasus apa nih?" Khalisa langsung menyambar.


"Sayang." Ghani menarik istrinya kembali dalam pelukan yang masih memangku gadis mungil itu. Ghani mengisyaratkan pada Dimas untuk tidak melanjutkan pembahasannya. Dia mengambil Dira dari pangkuan istrinya. "Sayang mau sama Om aja ya jangan mau sama Tante Kha?"


"Yeee, bisa ngomong gitu."


"Kan Om yang belikan hadiahnya, jadi sayangnya sama Om aja yaa.."


"Gha...!!" Khalisa menarik paksa Dira dari Ghani.


"Sayang pelan-pelan, nanti dia sakit."


Sisil dan Dimas tersenyum geli melihat tingkah penganten baru itu.


"Mainan sebanyak ini buat apa, bisa di jual lagi." Ujar Dimas melihat banyak mainan baru di ruang tamu.


"Yeee, mama sama papamu sama aja Nak, mata duitan." Omel Khalisa. "Mau ikut tante pulang Sayang, biar Om yang jagain di rumah."


"Ghaaa...!!"


"Kalian ini ya, emang yang masak masih kamu Gha."


"Sisil.. jangan ikut-ikutan jahat." Serang Khalisa, tidak terima temannya malah mendukung Ghani.


"Ghani lho capek Kha, masa ngurusin kamu lagi."


"Aku gak minta, dia yang mau sendiri. Ke sini sendiri juga gak boleh."


"Prosesif amat Gha." Dimas terkekeh.


"Asetku nanti lecet." Tawa Ghani pecah, Khalisa menampakkan wajah masamnya, mengembalikan Dira pada sang papa. "Gak bisa ditinggal dikit ada yang ngincar." Dimas yang paham maksud Ghani tersenyum, memangku putrinya kembali.


"Ghaa, kamu jahaatt...!! Ghani tidak habis-habis menggodanya, bukan dia yang ketemu Sisil. Malah Ghani yang ketemu temannya.


"Minum dulu nanti dingin, berantem aja. Kalian di rumah juga berantem gini." Sisil mendekatkan minumannya, Khalisa dan Ghani meminum teh di hadapannya.


"Kalau di rumah berantemnya beda sambil sayang-sayangan." Sahut Ghani tidak bisa menahan senyum melihat wajah masam istrinya.

__ADS_1


"Jadi Dira bakal cepat punya adik nih." Tambah Dimas yang disela Sisil. "Sayang, jangan gitu kayak bisa sekali bikin aja."


"Dikira bisa dibikin kayak boneka kali ya." Khalisa mencebik, Ghani terkekeh geli. Setelah mengobrol lama mereka berpamitan pulang.


Sesampainya di rumah mereka mandi dan berganti pakaian di kamar masing-masing. Ghani membuatkan susu sebelum ke kamar Khalisa. Dia masuk dengan kaos tipis dan celana pendek.


"Sayang, sudah minum obatnya?"


Khalisa melepaskan kertas-kertas di mejanya berpaling pada sang suami.


"Sudah Gha."


"Minum susunya dulu, kamu gak capek masih ngerjain itu lagi, ini sudah larut malam."


"Sedikit lagi, masih ada sekitar tiga puluh lembar yang harus diperiksa." Kata Khalisa sambil meminum susunya kemudian meletakkan gelas kosong ke meja.


"Nanti besok pagi aja dilanjut sekarang temani aku tidur, capek." Ghani membaringkan tubuhnya di ranjang. Khalisa tidak membantah ikut berbaring samping suaminya.


"Kha..."


"Hmmm."


Ghani mendekatkan tubuhnya pada Khalisa, membawa tubuh mungil istrinya dalam pelukan.


"Kita operasi yaa secepatnya seperti yang dokter sarankan."


Khalisa mendongakkan kepala mendengar permintaan suaminya. "Kalau nanti aku gak bangun lagi gimana?"


"Pasti bangun, kamukan belum ngasih malam pertamamu buatku." Ghani menggoda sembari mengusap kepala istrinya.


"Aku takut Gha." Khalisa membenamkan wajahnya kembali ke dada bidang suaminya, tempat ternyaman untuknya mencari ketenangan.


"Aku akan selalu berada di sampingmu Sayang, jangan takut."


"Kapan?"


"Besok.."


"Gha, aku belum siap...!!"


"Apa kamu mau mati perlahan meninggalkanku Kha. Kamu tega melihatku tersiksa sendirian. Semakin lama kamu menunda akan semakin memperbesar resiko Sayang. Mau ya?"


"Iya, aku mau." Jawab Khalisa lirih, suaranya hampir tak terdengar.


"Tapi harus bangun ya, janji sama aku gak boleh tidur lama setelah operasi. Aku gak mau tidur sendirian lagi."


"Iya."

__ADS_1


"Pintar, istriku sayang. Kalau kamu sudah sembuh kita honey moon."


Khalisa mengangguk, Ghani menciumi puncak kepala istrinya dan menguatkan pelukan sampai mereka tertidur.


__ADS_2