
Kamar Ghani berganti menjadi ruang rawat, pagi ini baru selesai ganti perban dan diperiksa dokter. Ghani ingin mentertawakan Khalisa yang tidak bisa banyak bergerak karena kesakitan. Tapi juga kasihan, istrinya yang takut jarum suntik itu harus di infus lagi.
"Kha bosan, ih." Keluhnya, Ghani menjangkau remot di atas nakas, menghidupkan televisi.
"Mau tidur di rumah sakit?" Tawar Ghani, dengan cepat Khalisa menggeleng. "Enak di rumah, bisa tidur sama Abang."
Ghani memiringkan badan dengan gerakan pelan, "sini Abang peluk, tapi jangan banyak bergerak."
"Jangan, nanti kesenggol perut Abang."
Lelaki itu mengusap kepala Khalisa sambil tersenyum. Dia bersyukur Allah mengembalikan perasaannya yang terkubur bertahun-tahun.
"Abang kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Khalisa Khawatir, memeriksa suhu tubuh Ghani.
"Abang gak punya alasan untuk bersedih setelah Allah berulang kali memberi kesempatan untuk melanjutkan hidup bersamamu, Sayang."
"Terimakasih sudah mau mencintaiku yang jauh dari kriteria istri idaman ini." Khalisa mengambil tangan Ghani menggenggam kuat lalu mengecupnya, "maaf selalu nyusahin Abang."
Ghani merapikan rambut Khalisa tanpa menjawab, bibirnya terus menyunggingkan senyuman manis.
"Ekhem, senangnya yang sakit janjian." Ghina sengaja menurunkan Airil ke atas ranjang untuk mengganggu sepasang suami istri itu.
"Awas Airil naik ke perut Ghani, Sayang." Zaky mengingatkan sambil meringis, membayangkan putranya yang tidak bisa diam itu menendang luka Ghani.
"Sini sama papa, Sayang." Ghani memanggil Airil untuk duduk diantaranya dan Khalisa. Tangan kirinya mengusap kepala anak laki-laki itu, sedang tangan kanannya menutupi luka. Dia juga khawatir anak itu menandang perutnya.
"Aku bawain salad buah kamu, makan lagi ya Kha." Ghina menarik kursi, menyuapi Khalisa.
"Aku masih bisa makan sendiri Ghin."
"Udah jangan bawel, diam napa." Ujar Ghina sambil melotot, Khalisa menurut sajalah. "Sayang jaga Airil, kalau dia nendang perut Abang nanti yang nangis bukan Abang, tapi si bumil," sindirnya.
Zaky menarik putranya ke pangkuan. Duduk di ujung tempat tidur. Daripada nambah masalah kalau luka itu di tendang baby boy.
"Nyindirnya pedas banget, buu. Emang situ gak nangis juga. Sampai pipi Abang lebam, hm." Nyinyir Khalisa sambil tertawa kecil.
"Enggak tuh, kesal aja kalau Abang kelamaan tidur."
"Yakin?" Khalisa menaik turunkan alisnya menggoda.
__ADS_1
"Kamu nyebelin banget deh," Ghina mencubit pipi iparnya gemas.
"Eh, eh, kenapa main tangan." Tegur Ghani, sambil mengusap pipi kesayangannya itu.
"Abang dari dulu belain Kha terus, gak pernah sayang sama aku." Kesal Ghina berhenti menyuapi Khalisa, meletakkan salad ke atas meja. Ibu hamil itu menatap bingung, apa yang terjadi dengan adik iparnya.
"Kenapa cemburu sih, sini-sini." Panggil Ghani lembut. Ghina memutari ranjang duduk di samping kanan Ghani. "Kenapa cemburu hm, Abangkan sudah bilang. Jangan minta memilih kalian berdua, kalian sama-sama penting buat Abang." Lelaki itu mengusap lembut punggung adiknya.
"Abang sayang Ghina," katanya lagi. Ghina berbaring dan memeluk kembarannya itu dengan hati-hati.
Ghani memandang Zaky penuh tanya, si empunya mengendikkan bahu tidak mengerti. Sama halnya dengan Khalisa yang masih keheranan.
Tangan kiri Ghani mengusap kepala Khalisa, jangan sampai yang satu tenang. Satunya lagi merajuk, bisa mendidih otak Ghani.
"Ada drama apa?" Tanya Tomi sambil tertawa kecil saat memasuki kamar Ghani. Hari libur mereka gunakan untuk merecoki orang sakit.
"Ada yang lagi cemburu sama istri sah." Jawab Zaky dengan kekehan.
"Yang hamil siapa yang manja-manja siapa." Tomi geleng-geleng kepala, "lo gak lagi program bikin adik Airil kan?" Tembaknya, Zaky langsung mendongak.
"Enggak, gue main aman sebelum Airil lepas ASI."
"Eh, manggil suami yang sopan." Ghani mengecup puncak kepala adiknya, "manja-manjanya udahkan. Sekarang sama suamimu gih."
"Abang gak suka aku peluk? Ngomong." Teriak Ghina nyolot.
Eh, Ghani salah lagi. Tomi melarikan diri tidak ingin ikut-ikutan. Lebih baik dia menyuapi Khalisa. "Kha lanjut makan saladnya ya, aku suapin."
Istri Ghani itu mengangguk, ingin tertawa takut Ghina tersinggung. Jadi diam saja lah.
"Bukan gitu, nanti suamimu cemburu sama Abang gimana?" Ghani mencari alasan yang masuk akal.
"Dia gak bakalan cemburu sama Abang." Kesal Ghina.
"Terus kenapa Ghina cemburu sama Kha?" Tanya Ghani lembut.
"Abang dari dulu selalu pentingin Kha, lupa sama aku. Dikit-dikit Kha, dikit-dikit Kha. aku selalu ditinggalin sama Tomi."
Kekesalan terpendam rupanya, Tomi sudah cekikikan karena tidak bisa menahan diri untuk tidak mentertawakan.
__ADS_1
"Maafin Abang gak ngerti perasaan Ghina." Ucap Ghani dengan rasa bersalah, "maafin Abang yang terlalu sibuk dengan dunia Abang sendiri."
Ghina mengangkat wajah menyeka bekas air matanya.
"Jangan menangis lagi." Kedua tangan Ghani mengusap lembut pipi adiknya. Ghina mengangguk beralih ke pangkuan suaminya. Airil asyik loncat-loncat dengan berpegangan di bahu Zaky.
"Apa aku sudah merebut Abang dari Ghina?" Tanya Khalisa setelah tinggal mereka berdua di kamar.
"Kha gak pernah rebut Abang dari siapapun. Jangan merasa bersalah dengan apa yang diucapkan Ghina tadi."
"Tapi aku emang salahkan?"
"Enggak Sayang. Abang yang kurang perhatian sama adik sendiri. Jadi ini bukan salah Kha, ngerti?"
Khalisa mengangguk, "Zaky teman Abangkan, gimana ceritanya dia bisa ketemu Ghina?" Tanyanya antusias.
"Teman Abang, teman Ghina juga Sayang. Kita kan kembar. Kita berteman sejak SMA, terpisah beberapa tahun karena Ghina kuliah di sini dan kami di luar negeri."
"Jadi mereka pacaran dari SMA?"
Ghani mengangguk membenarkan. "Kenapa, cemburu juga sama kembaran Abang?"
"Buat apa? Tadi Ghina bilang Abang selalu pentingin Kha, lalu buat apa aku cemburu. Aku kan udah menang dari dulu di hati Abang." Katanya dengan penuh percaya diri.
"Iya-iya yang penting banget di hati Abang. Sampai yang lain gak kebagian tempat."
"Clara dimana?" Goda Khalisa, "katanya penting, tapi masih masukin orang lain di hati."
"Maaf Abang khilaf, sekarang sudah sadar siapa yang penting buat Abang." Ghani membela diri sebelum terpojokkan. Kalau tidak sedang sakit, pasti sudah menghukum istri nakalnya ini.
"Masa sih sudah sadar?" Khalisa mengedipkan mata, "katanya suka gre*pe-gre*pe waktu di apartemen?"
"Kha, jangan nakal, Sayang. Ampuni masalalu Abang yang buruk." Ghani menggenggam tangan Khalisa dengan kedua tangan lalu menciuminya. "Andai bisa mengulang waktu, Abang tidak ingin berbuat seperti itu."
"Aku bangga sama Abang, terimakasih sudah mau berubah." Ucap Khalisa dengan tersenyum, dia tidak berhak menghakimi masalalu suaminya. Lebih penting merajut masa depan yang indah bersama.
"Apapun yang terjadi, Kha harus tetap kuat mendampingi Abang ya."
"InsyaAllah, kita akan sama-sama kuat menghadapi apapun yang terjadi kedepannya nanti." Khalisa meyakinkan suaminya.
__ADS_1