
Khalisa menyambut suaminya dengan senyuman cerah, "gimana hari pertama ngantor?"
"Kangen."
Khalisa mengernyit, pertanyaannya apa jawabannya apa.
"Uuh, kangen banget ya?" Khalisa beringsut mundur menggoda Ghani yang ingin memeluk.
"Kha, jangan nakal!" Ghani menangkap Khalisa dengan gerakan cepat. Membawa berguling di tempat tidur.
"Abang bau, belum mandi." Pekik Khalisa mencoba melepaskan diri dari pelukan Ghani.
"Wangi Sayang, Abang gak bau." Ghani menciumi istrinya sampai puas, dari pipi, mata, hidung, kening, bibir dan leher.
"Dedek sakit nanti, lepasin Abang!" Khalisa mencari alasan agar bisa selamat dari kebrutalan Ghani.
"Ups, maaf. Abang lupa kalo ada dedek." Ghani membantu istrinya untuk bangun, memagutnya dengan posesif.
"Aku khawatir sama Nindi Bang, walaupun gak punya perasaan sama Tomi, pasti dia juga ngerasa sedih." Ujar Khalisa setelah merasa nyaman dalam pelukan suaminya.
"Mau jengukin Nindi malam ini?" Tawar Ghani.
"Abang gak capek nih?"
"Enggak, buat Kha gak akan ada capeknya. Apalagi kalau diajak main, hm." Ghani mengerling jahil.
Khalisa mendengus, memutar bola mata malas. Tidak khawatirkah dia sedang hamil muda, masa mau digempur terus. "Mandi!" Titahnya galak.
Ghani menggeleng manja semakin menguatkan tautan tangan di pinggang Khalisa, "minta obat."
"Nggak ada obat, kalau belum mandi."
"Bentar aja, Beb."
"No. No. No." Khalisa menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Ghani, "lepasin Abang, gerah ih. Kha jadi bau lagi kalau dipeluk gini," kesalnya.
"Iya-iya Abang lepasin." Ghani melepaskan istrinya yang memasang tampang kecut dari pelukan. Sebelum beranjak ke kamar mandi dia mencuri satu kecupan di bibir, lalu kabur. Sebentar lagi Khalisa pasti berteriak, Ghani menghitung mundur. Tiga, dua, satu.
__ADS_1
"Abaaangg, ih bau. Kha gak suka!" Pekik Khalisa garang. Ghani mentertawakan istrinya dari dalam kamar mandi. Membuat Khalisa berteriak kesal itu hobby Ghani sekarang.
Ghani membawa Khalisa keluar malam hari dibersamai pengawal. Dia tidak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan nyawa istrinya lagi. Mereka sampai di tempat Anindi dengan selamat.
"Kenapa kalian datang ke sini malam-malam." Tanya Anindi saat membuka pintu untuk pasangan suami istri itu. Khalisa memberengut, sepupunya seperti tidak suka dikunjungi.
"Hei, cemberut. Ayo duduk," Anindi mempersilahkan tamunya, dia mengambil minuman dingin juga cake yang ada di etalase.
"Aku khawatir kamu sendirian di sini." Khalisa mengamati sekeliling ruangan. Khawatir terjadi sesuatu lagi pada kakaknya ini.
"Sebelum menikah aku juga sendiri, apa yang kamu khawatirkan Kha. Dah, gak usah melow gitu. Nanti dedeknya juga ikutan sedih." Anindi mengelus perut Khalisa, dia jadi teringat keinginan Tomi yang ingin punya anak.
"Dulu dan sekarang berbeda Nin, sekarang orang mengenalmu sebagai istri Tomi."
Anindi hanya menanggapi dengan senyuman. Apa yang dia punya sekarang, tidak ada. Bukan Anindi tidak ingin membuka hati untuk Tomi. Dia sudah mencoba, tapi tidak bisa. Cinta tidak bisa dipaksakan.
Ghani sengaja duduk lebih jauh memberi ruang untuk dua orang perempuan itu.
"Jangan khawatirkan aku, semua akan baik-baik saja."
"Kamu tidak kehilangan Tomi?"
"Aku tau kalau kamu bohong, Nin. Tidak ada orang yang baik-baik saja dengan mata bengkak seperti itu." Khalisa memainkan kaleng minuman di depannya dengan tersenyum miring.
Anindi menghela napas panjang untuk menormalkan deru napasnya yang memburu. Ada rasa sakit saat jauh dari Tomi, dia mengakui itu. "Biar seperti ini dulu, Kha. Kalian pulang gih, jangan khawatirkan aku."
"Abang, pulang yuk." Ajak Khalisa, Anindi masih perlu waktu sendiri. Dia tidak ingin mengganggu, yang penting sepupunya itu baik-baik saja.
Ghani mendekati Khalisa, "ayo, hati-hati Nin kami pulang dulu."
"Iya, kalian yang hati-hati." Anindi mengantar tamunya sampai ke depan pintu.
"Kasih Nindi waktu ya Sayang, kalau memang mereka masih berjodoh pasti ada jalannya." Ghani mengusap puncak kepala Khalisa. Sepanjang jalan istrinya itu hanya diam.
"Aku takut ada yang jahatin Nindi, Bang."
"Nanti Abang kirim pengawal buat jaga Nindi dari jauh." Putus Ghani, Khalisa menyetujui usul suaminya itu.
__ADS_1
Sepulangnya Khalisa, Anindi menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia sudah menyiapkan obat tidur jika malam ini tak bisa terlelap lagi. Anindi malas memikirkan masalah percintaan.
Bagaimana dengan Tomi? Entahlah, dia sudah menjadi janda sekarang. Suara ketukan di pintu kamar membuat Anindi terkejut. Siapa yang bisa masuk ke dalam rukonya. Semua pintu sudah dia kunci.
Dengan tangan bergetar karena takut Anindi membuka pintu. "Astaghfirullah!" Perempuan itu mengelus dada kaget. Jantungnya sudah berdegub kencang karena ketakutan.
"Mas kenapa bisa masuk ke sini?"
"Aku mau menemani kamu tidur." Tomi sudah lebih dulu berbaring di tempat tidur, tanpa izin Anindi.
Anindi menggeleng tak percaya Tomi memiliki sikap seperti ini. Selama bersamanya lelaki itu selalu bersikap lemah lembut. Dia takut Tomi memaksanya. Argh, bayangan tentang Dhafi berputar kembali di kepala.
"Mas, kita bukan suami istri lagi." Anindi mengingatkan, dia masih berdiri di depan pintu kamar.
"Aku gak ngapa-ngapain kamu Nin, kamu ragu? Selama lima bulan bersama apa pernah aku memaksa kamu." Ujar Tomi dengan nada tinggi.
"Bukan begitu, Mas. Tetap aja kita gak boleh berduaan dalam kamar." Jelas Anindi sepelan mungkin, agar Tomi tidak tersinggung.
"Dahlah, mending aku di hotel sama perempuan yang bisa muasin aku!" Tomi bangkit dari ranjang dengan emosi, "nih kuncimu." Ujarnya melempar kunci cadangan ke atas ranjang.
Anindi menatap kepergian Tomi dengan rasa bersalah. Dia tidak pernah memikirkan kebutuhan batin suaminya itu. Ah, mantan suami maksudnya.
Hufh, Anindi mengusap dada untuk meredakan rasa sesak yang datang tanpa diundang. Ada rasa tidak rela ketika Tomi mengatakan kalimat itu. Dari sekian banyak perempuan, kenapa Tomi harus memilihnya.
Biarlah, Anindi langsung meminum obat tidur. Agar bisa melupakan semuanya, dia berharap bangun tidur langsung amnesia seperti Kha dulu. Supaya tidak ada rasa sakit yang mendadak hadir seperti ini.
Anindi ingin mengatakan kalau dia sekarang merasakan terluka atas perpisahan ini. Tapi dia malu, semua yang terjadi atas keinginannya.
Karena belum bisa tidur juga, Anindi bangkit dari kasur. Mungkin obat yang dia minum belum bereaksi. Perempuan itu mencoba resep yang baru didapatnya.
Dalam mobilnya Tomi tersenyum mengamati cctv yang menampakkan Anindi sedang membuat cake. Dia masih berada di depan ruko mantan istrinya itu ditemani pengawal.
Karena perempuan dia jadi gila seperti ini. Hal yang dulu dianggapnya sia-sia karena hanya membuang waktu mengurusi wanita. Sekarang membuatnya candu.
Bukan tanpa alasan Tomi sengaja masuk ke kamar Anindi, dia sedang melakukan misinya.
Setelah berjam-jam berada dalam mobil, Tomi memutuskan untuk pulang. Dia tidur di kamar bekas Anindi lagi. Di sana Tomi lebih mudah untuk terlelap karena masih meninggalkan aroma tubuh Anindi.
__ADS_1
Tomi mengamati layar ponsel yang menampakkan Anindi sudah tertidur. Dia yakin perempuan itu minum obat tidur. Huhh, andai Tomi masih bisa memeluk untuk membuat Anindi terlelap dengan nyaman.
Sadar Tom, saatnya melangkah. Berhenti mengawasi mantan istrimu itu. Tomi mengingatkan dirinya sendiri. Dia harap Anindi segera menemukan kebahagiaan.