Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
94


__ADS_3

"Lo emang pintar, tapi gak bisa jaga perasaan orang. Gak mikir gimana depresinya Ghani malah diajak bercanda." Tembak Tomi, lah kena lagi Guntur. Padahal sudah berusaha jadi anak pendiam dia.


"Senggol tuh mobil Zak, sekarang!!" Titah Guntur, mobil yang Zaky kemudikan sudah melintas melewati mobil para pengawalnya. "Bodoh, melakukan penculikan siang bolong."


"Wooowww...." teriak Guntur girang saat goncangan terjadi dalam mobil. Zaky menyerempet mobil penculik dengan sempurna. Tomi keluar mobil, dengan membabi buta membuka pintu dan menghadiahkan bogeman mentah pada si pengemudi. Para penculik amatiran masih syok karena mobilnya terguncang. Tidak ada orang yang Tomi kenal di sana. Anindi masih dalam pengaruh bius.


"Maju dikit Zak." Teriak Guntur saat keluar mobil, dia sudah seperti tukang parkir. Lalu mengurus tiga orang penculik yang masih syok karena guncangan dalam mobil. Menghantamnya hingga babak belur, tidak ada yang berani melawan. Beberapa saat kemudian tiga mobil patroli menghampiri.


Tomi memindahkan Anindi ke mobil. Setelahnya mendekati Guntur menyapa beberapa anggota polisi. "Guntur, lo urus mereka. Nanti Zaky nyusul."


"Yo'i." Tugas Guntur memang membereskan sisa-sisa kekacauan.


Zaky melajukan mobil meninggalkan lokasi menuju rumah. Banyak hal yang mengganjal pikiran Zaky.


"Tom, mereka seperti bukan orang yang berpengalaman dalam penyerangan seperti ini. Musuh bisnis tidak akan bertindak ceroboh seperti anak kecil begini."


"Iya, jelas sekali mereka amatiran. Tidak ada perlawanan." Tomi mengelus-elus pipi Anindi, agar istrinya cepat sadar, lalu membawa Anindi dalam pelukan.


Tidak ada percakapan selama perjalanan, Tomi dan Zaky sama-sama memilih diam dengan pikiran masing-masing. Empat puluh menit kemudian mereka sampai di rumah. Tomi membawa Anindi ke kamar. Istrinya itu masih belum sadar.


Khalisa baru terbangun dari tidurnya, Ghani sudah tidak ada di kamar. Dia bergegas ke kamar mandi, setelahnya menggunakan daster rumahan dan jilbab kaos instan.


Matanya melirik ke arah ruang keluarga, Ghani ada di sana. Pasti suaminya itu belum mandi, Khalisa menggeleng-geleng lalu tersenyum.


Matanya bertabrakan dengan mata Ghani yang juga menatap ke arahnya. Pria itu lekas berdiri menyusulnya yang masih tidak bergerak di tangga paling atas.


"Sayang, sudah wangi aja." Ghani merengkuh tubuh Khalisa, "Nindi masih belum bangun, dia dibius." Ucapnya pelan, tangannya mengelus kepala Khalisa untuk memberikan ketenangan.


"Ayo kita lihat." Ujar Khalisa, Ghani menangguk menuntun istrinya ke kamar sebelah. Setelah mengetuk pintu, Ghani masuk tanpa menunggu jawaban.


Tomi duduk di sisi ranjang menggenggam erat tangan Anindi. Dia melepaskan tangan dan berpindah ke sofa ketika Khalisa datang.


"Anindi!" Khalisa menepuk-nepuk pipi sepupunya, "sudah berapa lama Nindi belum bangun?" Khalisa melirik Tomi.


"Empat jam."

__ADS_1


Ghani menatap istrinya yang sedang khawatir. Khalisa mengoleskan minyak kayu putih berkali-kali tapi tidak bereaksi. Dia juga mencubit pipi dan hidung Anindi dengan kesal, karena tidak bangun-bangun.


Bosan melihat Anindi tidak bangun, Khalisa mengambil gelas air di meja. Mencelupkan tangannya lalu dia percikan ke wajah Anindi.


"Sayang!" Cegah Ghani, Khalisa tidak peduli terus melakukannya sampai Anindi mau bangun.


"Sayang, ngeri banget banguninnya pakai cara gitu." Ghani mengelus kepala Khalisa, istrinya itu pasti sedang cemas berlebihan. Khalisa terus melakukannya.


"Nindi, Banguuuunnn!" Pekiknya geram, Ghani hanya bisa memeluk Khalisa agar lebih tenang.


"Arrgh!" Anindi bergumam pelan, mengusap wajahnya yang terasa basah. Matanya mengerjap sebelum membuka sempurna. Tomi mendekat ketika mendengar istrinya bersuara.


"Kha, kamu menyiramku!" Seru Anindi berang.


"Siapa suruh tidur lama bikin orang takut aja. Kamu jangan mati sekarang, nanti aku sendirian." Khalisa melepas tangan Ghani dari pelukannya, dia beralih memeluk Anindi sangat erat. Khalisa takut kehilangan kakak tersayangnya.


"Kamu ingat siapa aku?" Lirih Anindi pelan, baru sadar dengan perkataan adik sepupunya.


"Aku ingat, aku ingat semuanya." Khalisa mengurai pelukan, menangkup kedua pipi Anindi. "Jangan tinggalin aku."


"Aku takut Kha, takut!" Suara lirih itu sangat menyayat hati. Khalisa memeluk Anindi kembali. "Kamu aman di sini Nin, jangan takut lagi."


"Aku takut kamu terluka lagi Kha." Ucapan Anindi menyentak Ghani, dia juga sangat takut Khalisa terluka lagi. Khalisa melirik suaminya yang berubah sendu.


"Aku tidak akan terluka, selama ada kalian di sini." Bohong jika Khalisa tidak takut, dia sangat takut malahan. Tidak ada orang yang tidak takut jika dihantui kematian.


"Jangan lupakan kami lagi," lirih Anindi.


Khalisa tersenyum lalu mengangguk, bukan inginnya untuk lupa.


"Kamu mandi dan istirahat ya, kasihan Tomi khawatir banget sama kamu." Khalisa mengurai pelukannya, membawa Ghani kembali ke kamar meninggalkan Anindi dan Tomi.


"Sayangku kenapa?" Tanya Ghani, Khalisa menggeleng duduk di sisi ranjang.


"Kamu belum mandi Gha, bentar lagi ashar." Khalisa mengingatkan.

__ADS_1


"Sekali lagi baru mandi." Ghani menggoda istrinya. Tangannya sudah bergeriliya mencari celah agar bisa masuk di daster, tapi zonk.


"Aku sudah mandi, Sayang." Khalisa mau marah, tapi kasihan dengan Ghani yang sudah sangat sabar merawatnya.


"Kita mandi bareng setelahnya." Bujuk Ghani dengan wajah memelas.


"Bentar lagi ashar, Sayang."


"Masih sempat sholat Kha, setelah mandi." Rengek Ghani manja, mengendus-endus gunung Khalisa. Huh, mana tahan kalau begini.


"Kunci pintu dulu!" Khalisa pasrah, padahal tadi siang sudah. Selapar itukah Ghani padanya.


"Makasih Sayang." Ghani menubruk tubuh Khalisa pelan, menindihnya setelah mengunci pintu.


"Lapar banget, Gha?" Ghani mengangguk polos. "Ya sudah, terserah kamu mau apa."


Ghani berdendang ria melihat kepasrahan Khalisa. Istrinya itu memang juara.


Khalisa merasa tubuhnya seperti babak belur, hari ini Ghani puas menyiksanya. Sampai malam pun masih minta lagi. Dia hanya menurut, memberikan yang bisa dilakukannya.


"Nggak capek Gha? Aku capek lho!" Ringis Khalisa merasakan sakit di bagian bawah perutnya. Mau ke kamar mandi pun susah untuk berjalan. Ghani benar-benar memangsanya dengan buas.


"Maaf Sayang." Ucap Ghani merasa bersalah, sudah membuat istrinya kesakitan.


"Kita langsung mandi ya, biar kamu segar. Janji gak lagi malam ini." Ghani menggendong tubuh Khalisa ke kamar mandi, mereka mandi bersama. Khalisa tidak bisa menolak, badannya sakit semua.


Selesai mandi dan berpakaian Ghani membaringkan Khalisa kembali ke ranjang. Dia ke dapur membuatkan istrinya segelas susu cokelat dan beberapa roti. Kemudian kembali ke kamar.


"Minum dulu Sayang." Ghani membantu Khalisa duduk memberikan segelas susu, kemudian roti. "Capek banget ya?" Pria itu mengelus lembut surai hitam Khalisa.


"Maaf ya Sayang gak bisa nahan diri." Khalisa hanya berdehem, bersandar di bahu Ghani. "Abang pijat, mau?" Khalisa cepat menggeleng.


"Enggak, nanti Abang kebablasan."


Ghani tersenyum geli, rencana liciknya sudah terendus Khalisa. Padahal tadi sudah janji, malam ini gak lagi. Istrinya sampai tidak bisa berjalan normal lagi. Dasar Babang Ghani nakal.

__ADS_1


__ADS_2