Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
83


__ADS_3

"Sayang, temani Kha tidur sana. Sama kamu dia pasti mau nurut." Ujar Zaky, tidak mungkinkan mereka membiarkan Khalisa tidak tidur semalaman. Tadi siang masih bisa dibujuk diajak main sama Airil.


"Ayo Kha tidur sama aku." Ajak Ghina, Khalisa menangamati wajah iparnya itu, dari mata, hidung, bibir.


"Mirip Abang." Pekiknya girang, rupanya Khalisa baru mengamati secara detail wajah Ghina. Kembaran Ghani itu berusaha menahan tawanya, menuntun Khalisa ke kamar.


Ghina berhasil menemani Khalisa tidur tanpa rewel. Sebelumnya dia menceritakan tentang Ghani pada iparnya itu. Mungkin pembawaan mereka yang sama membuat Khalisa merasa aman.


Di negara tetangga Ghani berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Mendapati laporan Khalisa yang tidak mau makan sampai siang saja Ghani kelabakan. Apalagi saat istrinya itu minta tidur siang dipeluk Guntur.


Duh Gusti cobaan apa ini, bagaimana istrinya bisa tidur malam ini. Tak ingin membuang waktu Ghani membereskan urusannya yang bisa dia kerjakan malam ini. Agar besok siang sudah pulang.


Tak segan-segan Ghani mengajak Riko—managernya meeting sampai larut malam. Demi sang istri, dia akan memberikan bonus untuk orang kepercayaannya ini.


***


"Abaang!" Seru Khalisa saat melihat suaminya, Ghani merentangkan tangan menyambut sang istri yang berlari ke arahnya.


"Abang lama, huu. Abang lama." Ghani mengangkat tubuh yang sekarang masih kurus itu menggendongnya seperti bayi koala.


"Ini Abang pulangkan, gak jadi dua malam." Ucap Ghani menenangkan, "tadi malam bisa tidur?" Tanyanya, gadis itu menggeleng sendu.


"Gak ada yang meluk Kha. Guntur gak mau tidur sama Kha." Adunya manja, Ghani membulatkan mata ingin sekali tertawa melihat wajah teraniaya Guntur.


"Mandi dulu Gha, kamu baru perjalanan jauh langsung meluk istrimu gitu." Tegur Mira, Ghani memutar bola mata menatap sang mama.


"Mah, Kha bukan bayi yang rentan terserang virus dan bakteri. Kenapa jadi berlebihan seperti ini." Ghani mulai puyeng ini kalau orang rumah memperlakukan istrinya seperti bayi.


Ghani tidak menyadari kepolosan Khalisa bisa menjadi bumerang untuknya. Tingkah polos istrinya bisa mengundang buaya-buaya lapar di luar sana. Dia tak bisa melepas Khalisa tanpa ada dirinya mendampingi.

__ADS_1


Gawatnya lagi karena terbiasa bersama Guntur dan Tomi membuat Khalisa juga ikut lengket pada dua lelaki itu. Ghani semakin khawatir, bukan karena Tomi dan Guntur memangsa istrinya. Tapi khawatir Khalisa minta yang aneh-aneh pada dua sepupunya itu.


Terpisah dengan istri polosnya ini satu malam saja membuat Ghani sangat rindu. Lelaki itu membelai lembut pipi Khalisa yang tertidur pulas dalam dekapaannya.


Baru satu hari dia menitipkan istrinya, semua penghuni rumah sudah gempar dengan tingkah Khalisa. Ghani tersenyum geli, "sekarang kamu jadi hiburan buat orang rumah, Sayang." Kecupan sayang dia berikan sebagai ucapan selamat malam. Ghani ikut terlelap dengan nyaman dalam pelukan istrinya.


***


Hari ini Ghani bekerja ikut kehendak istrinya, pagi tadi duduk di tamannya. Katanya kalau pagi bunganya cantik-cantik. Terus menjelang siang minta di temani di dapur. Pengen lihat asisten rumah tangga masak.


Dengan sabar Ghani mengikuti sambil menenteng laptop di tangan. Setelahnya Khalisa mau kembali ke kamar.


"Abang istirahat sebentar ya Kha." Gadis itu mengangguk, Ghani memejamkan matanya yang terasa berat. Tak menyadari kalau Khalisa meninggalkan kamar.


"Gha, istri lo!" Teriak Guntur dari depan pintu, dia frustasi menghadapi Khalisa yang minta dimanja.


Guntur sih bisa saja melakukannya, tapi setelah itu lehernya akan ditebas Ghani konsekuensinya.


"Kha minta digendong ke kamar." Ujar Guntur, menarik-narik rambut karena saking pusingnya.


"Ya Allah, apalagi ini." Ghani berlari menuruni tangga, baru ditinggal tidur siang sebentar istrinya sudah berulah. Belum sampai setengah jam. Didapatinya Khalisa sedang menangis menelungkupkan wajah di meja makan.


"Sayang, ada apa?" Ghani menegakkan tubuh Khalisa, menghapus air mata yang jatuh di pipi istrinya. "Ayo cerita sama Abang, siapa yang nakal."


"Guntur nakal." Adu Khalisa sambil menangis, "Guntur gak mau gendong aku ke kamar." Ghani meneguk ludahnya, ya iyalah Guntur gak mau. Kalau sampai mau, mati hari ini juga tuh anak.


"Ya sudah, Abang yang gendong." Ghani membawa tubuh Khalisa dalam gendongan, bagaimana caranya membuat Khalisa mengerti. Bersyukur orang di rumahnya tidak ada yang ambil kesempatan.


"Kha belum tidur siangkan? Sekarang istirahat ya." Khalisa mengangguk patuh, membaringkan tubuhnya di ranjang. Ghani mengikutinya, memeluk dari belakang.

__ADS_1


"Sayang, jangan minta gendong sama siapapun lagi selain Abang ya. Kha ingatkan Abang pernah bilang kalau gak boleh menyentuh lelaki lain selain Abang."


"Kenapa?"


"Karena bukan mahram Sayang, kecuali sama Ayah atau Papa. Kha boleh bersalaman, kalau yang lain gak boleh. Paham Sayang?" Khalisa mengangguk polos.


"Pintar, istri Abang solehah." Ghani mencium belakang kepala Khalisa, semoga pesannya hari ini bisa diingat Khalisa. Badannya cuma satu tidak bisa menemani dua puluh empat jam.


Ghani selalu mengingatkan batasan-batasan antara lelaki dengan perempuan secara sederhana. Berharap istrinya itu bisa paham dan mengingatnya dengan baik.


***


"Pah, Guntur tinggal sama Papa Rizal aja ya?" Pinta Guntur, seperti biasa mereka berkumpul di ruang keluarga terkecuali Aninidi dan Khalisa.


"Kenapa, tiba-tiba mau pindah?" Tanya Emran heran, menatap satu persatu putranya.


"Takut kebablasan sama tingkah Kha, Pah." Jujurnya, "aku juga manusia biasa kali. Kalau Ghani gak ada masa dia minta ditemani tidur, minta dipeluk, minta digendong." Keluh Guntur frustasi. Ya, dia sedang mengalami itu sekarang karena kepolosan istri Ghani yang meresahkan penghuni rumah.


Ghani mengusap kasar wajahnya, sejujurnya dia juga lelah. Setelah keluar dari rumah sakit tingkah Khalisa menjadi-jadi. Tak bisa disalahkan memang, dengan nasehatnya pun kadang gadis itu lupa. Hampir satu bulan sudah Khalisa tidak ada perubahan.


"Aku harus gimana Mah Pah, aku gak ngerti sama tingkah Kha. Aku udah ingetin buat jangan manja dengan orang lain, tapi dia gak bisa mengingatnya lama."


"Abaang!" Suara teriakan Khalisa mengintrupsi pembicaraan.


"Astaghfirullah Kha," Ghani berlari mendekati istrinya yang berdiri di anak tangga, untung gadis itu ingat kalau keluar kamar harus pakai jilbab. "Kenapa Sayang?"


"Takut, Abang ninggalin Kha." Cicitnya dengan suara lemah, setelahnya terdengar suara isak tangis. Ghani mendekap istrinya untuk menenangkan, membawanya kembali ke kamar.


Ya Allah semoga Ghani kuat menghadapi Khalisa. Dan Allah berikan kesabaran serta kekuatan untuk bisa menjaga dan membahagiakan istrinya.

__ADS_1


Kenyataan apalagi ini, terlalu banyak kejadian yang membuat Ghani menjadi hilang kewarasannya. Ditatapnya sang istri yang sudah tertidur lagi. Banyak tanda tanya yang tak bisa dijelaskan. Kalau boleh mengeluh, ingin dia menyerah sekarang juga. Tapi itu tidak akan pernah terjadi Ghani sangat mencintai istrinya ini.


__ADS_2