
Setelah satu minggu lebih terkurung dalam kamar, akhirnya Khalisa bisa bergerak lebih bebas. Tangannya sudah bisa di gerakkan, walau kadang masih terasa nyeri.
Kandungannya memasuki minggu ke tujuh. Meskipun tangannya berangsur pulih, tapi sekarang perut dan indera penciumannya sangat sensitif.
Ghani sangat berhati-hati menjaga istrinya. Dia takut kejadian Khalisa keguguran terulang kembali.
"Sayang jangan terlalu sering naik turun tangga. Kalau perlu sesuatu bilang." Ghani mengingatkan, matanya masih menatap layar laptop memeriksa laporan keuangan.
"Iya Abang," sahut Khalisa dengan wajah kecut.
"Jangan banyak bergerak, lukanya belum sembuh total!"
"Iya Abang."
"Jangan kebanyakan main hp, Sayang." Ghani tersenyum jahil melihat wajah kesal Khalisa.
"Iya, iya Abang, iya." Khalisa menghentak-hentakkan kaki di lantai. Dia sangat kesal, ini dilarang, itu dilarang. Apa bedanya dia sehat dengan masih terbaring di kasur kalau serba gak boleh.
"Sayang, kalau gitu nanti dedeknya kesakitan. Lukanya berdarah lagi." Omel Ghani, mendekati Khalisa yang sedang mencak-mencak.
"Abang cerewet, kerja melulu. Kha dicuekin, bosan, bosan, bosan." Rengeknya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, Sayang. Maaf. Ayo kita jalan-jalan sore." Bujuk Ghani, menggenggam tangan Khalisa membawa perempuannya itu berkeliling komplek.
"Sayang ada sate, mau?" tanya Ghani saat mereka berada di taman komplek, di sana ada penjual sate keliling dengan gerobak yang berasap mengepul.
"Mau, mau!" Seru Khalisa antusias, aroma sate membuat perutnya lapar. "Abang, bau satenya enak."
"Kha gak mual nyium bau sate?"
"Enggak, malah suka. Beli asapnya sekalian buat parfum." Ujar Khalisa nyeleneh sambil cekikikan.
"Kamu kalo ketawanya gitu nanti dikira kuntilanak loh."
"Emang ada kuntilanak cantik gini, Bang?" Khalisa memasang tampang imut di depan Ghani.
"Ada, nih di samping Abang." Canda Ghani, mereka mendekati gerobak penjual sate. "Pak satenya sepuluh tusuk," pesannya. Sembari menunggu, mereka duduk di kursi plastik.
"Pakai lontong Mas?"
"Pakai Pak." Ghani menjawab asal, dia baru tau kalau beli sate ditanya pakai lontong. Memang begitu ya?
__ADS_1
"Ini Mas." Penjual sate memberikan kresek hitam yang berisi sebungkus sate. Ghani meraba saku celananya tapi tidak menemukan dompet. Ponselnya juga tertinggal di meja.
"Sayang, Abang gak bawa uang. Dompetnya ketinggalan." Lirih Ghani, Khalisa melotot. "Ngapain nawarin sih kalo gak ada duit," kesalnya. Ghani cengengesan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf Pak, dompet saya ketinggalan. Boleh ngutang dulu, istri saya lagi ngidam ini. Nanti kalau lewat rumah no 157 itu, bapak mampir ya. Saya bayar." Ucap Ghani malu-malu, demi apa dia sampai berhutang sama penjual sate. Khalisa sudah membalikkan badan karena malu.
"Iya Mas, bawa saja dulu. Nanti saya mampir."
"Terimakasih Pak." Ghani mengambil kresek satenya, "saya tunggu ya Pak, di depan."
Penjual sate itu hanya mengangguk dan tersenyum ramah. Untung Ghani ketemu penjual sate yang baik, jadi bisa ngutang.
"Abang malu-maluin!" Kesal Khalisa saat sudah sampai rumah. Berjalan ke ruang makan dengan wajah cemberut masam.
"Maaf Sayang, tadi Kha ngambek. Abang lupa bawa hp dan dompet." Ghani menyiapkan sate di piring setelah mendudukkan Khalisa di kursi. "Makan dulu ya, marah-marahnya nanti. Kuntilanaknya jadi jelek kalo marah," godanya.
"Abang!"
Pekik Ghina nyaring. Semua penghuni rumah utama keluar. Kebetulan jam pulang kerja jadi semua personil lengkap ada di rumah.
Ghani menyusul ke sumber suara, meninggalkan Khalisa yang asyik dengan satenya.
"Kenapa teriak-teriak?" Kesal Ghani, dia lagi menikmati wajah senang istrinya saat melahap sate.
Ghani tersenyum cengengesan mendengar penuturan Ghina.
"Eh malah senyam-senyum, itu orang nagih hutang loh."
"Pinjam duit seratus ribu." Pinta Ghani mengulurkan tangan, tanpa peduli dengan kekesalan sang adik.
Ghina mencebik, mengambil uang di saku. Untung dia selalu sedia uang buat jajan Airil.
Ghani menerimanya dengan sumringah, lalu beranjak ke depan. Emran, Mira dan yang lainnya terbengong-bengong.
"Ini Pak buat bayar sate tadi, kembaliannya ambil aja. Terimakasih ya sudah dihutangin." Kata Ghani ramah, bersyukur penjual sate itu percaya padanya.
"Sama-sama Mas, terimakasih juga." Jawab penjual sate, lalu melanjutkan keliling komplek. Ghani kembali ke rumah masih dengan wajah cengengesan tidak jelas.
"Emang hutang apaan Gha?" Tanya Mira heran.
"Sate, tadi lupa bawa uang. Satenya udah terlanjur pesan jadi ngutang deh." Sahut Ghani dengan cengiran, melanjutkan langkah menuju meja makan.
__ADS_1
"Sayang, sudah habis?" Tanya Ghani tidak percaya, dia belum sampai sepuluh menit pergi.
"Mau lagi," pinta Khalisa dengan tatapan memohon.
"Astaghfirullah."
Ghani beristighfar, itu perut apa balon, batinnya. Lalu mengejar penjual sate setelah pinjam uang lagi. Seisi rumah malah mentertawakan, bukan iba padanya.
"Enak?" Tanya Tomi, dia penasaran, apa benar ibu hamil itu menghabiskan satenya sendirian. Jadi membuntuti Ghani ke meja makan.
"Banget, mau nyoba." Khalisa memberikan setusuk sate pada Tomi. Dia sedang melahap sate putaran kedua yang dibelikan sang suami. Porsinya lebih banyak.
Tomi menerima lalu melahapnya, melihat wajah bahagia itu dia jadi ingat Anindi. Ah, apa kabarnya perempuan itu. Sejak kejadian kamera itu Tomi tak pernah bertemu lagi.
Ghani mengamati tatapan Tomi pada istrinya. Dia Khawatir kalau Tomi terus menganggap Khalisa sebagai Anindi.
"Mau lagi?" Tawar Khalisa.
Tomi menggeleng lalu tersenyum sambil mengusap kepala Khalisa, "kamu aja makan lagi Kha."
Khalisa melirik sang suami yang masih berdiri di sampingnya. Ghani hanya mengangguk kecil.
"Abang, kenyang." Cicit Khalisa menyandarkan kepalanya ke perut Ghani. Tangan kanan Ghani terulur mengusap pipi, sedang tangan kirinya mengusap kepala Khalisa dengan sayang.
Tomi menghela napas panjang, yang ada di sampingnya ini Khalisa bukan Anindi. Selama satu rumah dengan istri Ghani ini dia akan sulit melupakan Anindi. Lelaki itu meninggalkan meja makan dengan langkah gontai.
"Abang, Tomi kenapa?" Khalisa menatap punggung Tomi yang semakin menjauh.
"Dia lagi kangen Nindi, Sayang."
Ghani tidak tega melihat keadaan Tomi sekarang, seperti melihat dirinya beberapa bulan yang lalu.
"Abang gak bisa bantu Tomi?" Khalisa menatap Ghani dengan tatapan memohon. Ghani menarik kursi lalu duduk dengan menggenggam kedua tangan istrinya.
"Abang bisa apa, Sayang. Mereka punya pilihan masing-masing. Kha, gak perlu mikirin mereka dulu ya. Kesehatan kamu lebih penting sekarang."
Istrinya ini sangat overthinking, sampai masalah orang lain pun dipikirkan.
"Aku gak bisa buat gak mikirin mereka, Abang."
"Peduli dengan orang lain boleh, Sayang. Tapi gak sampai ganggu pikiran kamu sendiri juga." Ghani mengingatkan, dia tidak ingin Khalisa jadi banyak pikiran.
__ADS_1
Khalisa menggembungkan pipinya, Ghani menusuk kedua pipi itu dengan telunjuknya lalu mengecup singkat di bibir.
"Dah kita kembali ke kamar, mandi dulu. Kha bau asem." Ajak Ghani, sejurus kemudian Khalisa kembali cemberut.