
“Arraz mau ituuu… yang merah,” tunjuk Arraz pada red velvet yang berjejer di etalase. “Itu juga tunjuknya pada cupcake yang terlihat menggoda karena berwarna-warni tertata rapi di etalase. Bocah tiga tahun itu bingung mau yang mana, jadilah semua ditunjuk.
“Satu dulu Sayang, kalau habis baru minta lagi sama bibi ya. Mubajir kalau Arraz gak bisa habisin semua,” nasehat Khalisa pada putranya yang ternyata sudah berlari ke ruang kerja Anindi. Duduk di sofa layaknya bos menunggu pesanan datang.
Anindi tersenyum geli melihat keponakannya yang sangat menggemaskan itu. Arraz menjadi penghiburnya disaat Allah belum memberi mereka kepercayaan untuk memiliki keturunan.
“Arraz sudah pesan minumnya?” tanyanya. Duduk tepat di depan anak lelaki itu.
“Sudah, Arraz pesan milkshake strawberry.” Jawabnya sambil mengulurkan tangan meminta tab pada sang bunda.
“Hari ini kita main di luar, jadi gak boleh main game.” Beritahu Khalisa dengan lembut, bocah itu membuang wajahnya merajuk.
“Arraz makan kue-nya dulu,” bujuk Anindi setelah pesanan bocah kecil itu datang. Arraz dengan tidak sabaran menyendok cake di depannya sampai bibirnya belepotan.
“Pelan-pelan Sayang,” tegur Ghani sambil mengelus kepala putranya.
Melihat baby boy itu makan dengan lahap membuat Anindi ngiler. Ia jadi tergoda melihat Arraz yang asik menyendok red velvet.
“Sayang, Bibi minta.” Ucap Anindi melayangkan sendok yang ingin di suap Arraz ke mulutnya.
“Bibi, ini punya Arraz. Bibi bisa beli sendiri!!” katanya sewot.
Anindi menggeleng, “Bibi maunya disuapin Arraz,” ujarnya memelas. Tomi mengernyitkan kening melihat tingkah aneh sang istri. Kena angin apa jadi manja dengan keponakan sendiri.
“Mas ambilkan dulu, kamu jangan gangguin Arraz makan Sayang.” Ujar Tomi mengingatkan, istrinya itu sudah mengganggu kesenangan sang keponakan. Bisa-bisa baby boy itu mengamuk.
“Aku maunya punya Arraz,” rengek Anindi menahan Tomi yang ingin beranjak. Semua tidak terlepas dari pengamatan Ghani dan Khalisa, pasangan itu saling pandang karena keheranan melihat sikap Anindi.
“Arraz suapin bibi ya Sayang,” pinta Ghani.
__ADS_1
Sang putra menggeleng cemberut, suami Khalisa itu berbisik di telinga Arraz. “Itu dedek Arraz yang minta disuapin, di perut bibi pasti ada dedek.” Sebut Ghani dengan yakin, membuat mata bocah laki-laki itu berbinar cerah.
“Bibi, sini Arraz suapin.” Katanya menyuapkan sesendok cake ke mulut Anindi.
“Makasih Sayang,” perempuan itu memberikan hadiah kecupan di puncak kepala Arraz.
Anak lelaki itu mengangguk senang, “mau lagi?” tawarnya.
Anindi menolak dengan gelengan kepala, “Arraz mau ikut Bibi beli es campur?” ajaknya.
“Sayang, mau beli es campur dimana. Jangan beli sembarangan ada pemanis buatannya,” tegur Tomi. Ia sangat menjaga pola makan Anindi, agar program hamil yang mereka lakukan berhasil.
“Tapi aku mau es campur Mas,” ucap Anindi cemberut.
“Bikin sendiri aja, aku minta mbak bikinkan di rumah ya." Usul Tomi yang tidak diterima Anindi dengan baik.
"Rasanya beda sama yang dijual di pinggir jalan," jawab Anindi kekeuh ingin membeli es campur diluar.
"Ya sudah Mas pesenin," pasrah Tomi.
"Aku mau beli sendiri ke sana, gak mau lewat orang lain. Mau lihat penjualnya langsung."
Tomi semakin mengkerutkan kening. Anindi yang melihat suaminya tidak akan mengijinkan kembali berucap. "Aku mau kolang-kalingnya 15 butir, selasih dua sendok, cincau sepuluh, ada tape singkong dan, hm." Perempuan itu tampak berpikir, "rotinya satu lembar," lanjutnya.
"Sayaaang," Tomi mendesah berat mendengar keinginan istrinya itu. Ingin dia menjedotkan kepala ke tembok, ada apa dengan istrinya ini.
"Ya udah ayo," ajaknya yang masih belum mengerti dengan Anindi hari ini.
"Arraz ikut," bocah itu beranjak lebih dulu dengan semangat empat lima yang dimilikinya.
__ADS_1
"Ayo Kha, kita ikut juga." Ajak Ghani. Khalisa yang masih kebingungan dengan tingkah Anindi hanya melongo.
"Kha sayang," panggil Ghani menyadarkan istrinya yang bengong.
"Abang, Nindi kenapa?" Tanya Khalisa, Tomi sudah keluar lebih dulu menuntun Arraz dan istrinya.
"Kita kasih mereka kejutan Sayang," Ghani tersenyum misteri. Sedang Khalisa, otaknya masih loading berusaha mencerna ucapan sang suami.
*
Empat orang dewasa dan satu bocah laki-laki itu akhirnya menikmati es campur di sebuah depot yang cukup ramai.
"Gak suka es campurnya Nin?" Tanya Tomi yang melihat istrinya hanya memainkan sendok di mangkok.
"Udah kenyang," jawab Anindi sambil menyengir lebar. Tomi membulatkan mata, malah mereka yang jadinya minum es campur.
"Dedek mau Abang suapin?" Sebut Arraz sambil membelai perut sang bibi. Ghani menggaruk tengkuknya, "gagal memberi kejutan," serunya dalam hati.
"Arraz ngomong apasih?" Khalisa mengkode putranya untuk diam. Dia tidak mau Anindi sedih kalau ada yang membahas perihal bayi.
Tomi sudah menggenggam tangan istrinya. Ia tidak bisa melarang anak kecil yang tidak tau apa-apa itu.
"Suapin dedeknya Sayang, pasti dedek senang." Ucap Tomi pada Arraz, berharap ucapan anak kecil itu jadi doa untuk mereka.
"Aminkan aja Sayang," bisik Tomi di telinga istrinya, agar Anindi tidak mengambil hati ucapan Arraz. Perempuan itu mengangguk, membuka mulut saat Arraz ingin menyuapinya.
"Bibi sudah kenyang Sayang," tolak Anindi ketika Arraz ingin menyuapinya lagi.
"Bibi, ini baru satu sendok." Ucap Arraz bingung, ia menyuap es campur yang sudah ada di sendok itu ke mulutnya. "Gak bisa langsung kenyang," gumamnya yang mengundang kekehan dari empat orang dewasa itu.
__ADS_1
"Kalau bibi sudah kenyang, jangan dipaksa Sayang." Ghani tersenyum menepuk kepala Arraz dengan sayang. "Baguslah tidak ada yang mengerti dengan ucapan jagoannya ini."