Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
100


__ADS_3

"Sayang," Ghani mengejar istrinya ke kamar. Dia melesat dibalik pintu sebelum pintu doraemon itu dikunci Khalisa dari dalam.


"Tidur di luar sana!" Khalisa melempar bantal dan guling ke arah Ghani.


Ghani memeluk istrinya dari belakang agar berhenti mengamuk, "maaf Sayang, maaf. Tadi Tomi mancing-mancing Abang. Dia cuma masalalu aku, kamu masa depan aku, Sayang."


"Kejar sana masalalu yang masih kamu bangga-banggain itu. Kamu bangga ceritain aib kamu ke orang lain. Kalau tadi yang dengar itu bukan aku. Kamu tau gimana malunya aku."


"Maaf," sesal Ghani membenamkan wajahnya di bahu Khalisa. Kenapa dia jadi bodoh terpancing ucapan Tomi tadi.


"Maaf kamu udah basi sekarang, aku sakit hati." Khalisa melepas pelukan Ghani lalu beranjak ke kasur. Menutup wajahnya dengan bantal.


"Sayang maaf, Abang harus apa biar Kha maafin Abang."


Khalisa bergeming, tak menghiraukan suaminya. Dia tidak benar-benar marah. Hanya ingin mengerjai suami nakalnya itu saja.


"Rasakan," gumam Khalisa sambil menahan tawanya di bawah bantal.


"Sayang maafin Abang." Ghani naik ke atas ranjang, memeluk istrinya yang membungkus diri dengan selimut. "Abang menyesal, Sayang. Abang menyesal."


Ghani memindah bantal yang menutup wajah istrinya. Membenamkan kepala Khalisa dalam dadanya. "Abang sayang Kha, sayang banget." Bisiknya di telinga Khalisa.


Khalisa ingin berhenti akting tapi sudah terlanjur, lanjut sajalah. Lagian masih tidur dalam pelukan suaminya.


"Kasih tau, Abang harus apa biar Kha berhenti marah." Ghani tidak berhenti mengusap kepala Khalisa.


Karena terlalu nyaman dengan sentuhan yang Ghani berikan akhirnya Khalisa tertidur tanpa mempedulikan suaminya yang mengoceh meminta maaf.


Di atas tempat tidur Anindi gelisah membolak-balikkan badannya tapi tak bisa tidur juga. Dia merasakan kehilangan orang yang selama lima bulan ini memberikannya rasa aman dan nyaman. Tapi Anindi tidak pernah melihat usaha Tomi dalam mencintainya, dia buta.


Kemana saja selama ini, Anindi memukul pelan kepalanya yang masih bersarang Dhafi di dalamnya. Orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Tomi lah yang bersedia melindunginya selama ini.


Aarggh, dia bisa tertular kegilaan Khalisa kalau begini. Malas memikirkan masalah hidupnya Anindi keluar kamar, dia ingin mencari sesuatu yang bisa mendinginkan otaknya yang mulai tidak waras.


"Belum tidur?" Sapa Tomi, saat Anindi menuruni tangga. Entah kenapa langkah kakinya bukan menuju dapur tapi malah mendekati suaminya.


"Gak bisa tidur," rengeknya. Tomi bangkit dari rebahan membawa Anindi untuk duduk di sampingnya. "Kenapa?"


Perempuan itu menggeleng, Tomi menghela napas berat. "Ayo aku temani sampai kamu tidur." Ucapnya dengan berbesar hati.


Perlu diuji seperti apalagi kesabaran Tomi ini, walau dia lebih banyak diam. Anindi menurut mengikuti Tomi ke kamar.


"Tidur!" Tomi ikut berbaring di samping Anindi seperti biasa, memberikan pelukan hangatnya sampai istrinya itu tertidur.


Setelahnya Tomi kembali ke kamar, memejamkan mata yang mulai terasa berat. Hidup terus berlanjut tanpa peduli seperti apa perasaannya.


Paginya Anindi tidak mendapati Tomi tidur di sampingnya. Suaminya itu benar-benar kembali ke kamarnya. Selesai membersihkan diri perempuan itu beranjak ke kamar suaminya.


"Mas, bangun. Hampir subuh." Anindi menepuk-nepuk bahu Tomi.


"Nindi!" Kaget Tomi dengan suara serak, seingatnya tadi malam dia tidur sendiri.

__ADS_1


"Ayo bangun, mandi." Desak Anindi.


"Masih ngantuk."


"Enggak, bangun sekarang. Atau aku siram." Ancam Anindi sambil cekikikan.


"Iya bawel." Kesal Tomi lalu beranjak ke kamar mandi.


Anindi terdiam di tempat, tidak biasanya Tomi bersikap begitu padanya. Apa benar hubungan mereka hampir berakhir. Dia kembali ke kamar setelah berhasil membuat Tomi mandi.


"Kalian lagi sariawan?" Mira heran anak-anaknya yang biasanya ribut di meja makan tiba-tiba jadi anak baik semua.


"Suasana lagi gak mendukung buat cari keributan Mah." Jawab Guntur, melihat muka Ghani dan Khalisa yang tidak enak dipandang. Juga Anindi dan Tomi yang semakin dingin.


Khalisa beranjak lebih dulu setelah menyelesaikan makannya. Dia tidak bisa menahan tawa terlalu lama. Melihat wajah Ghani yang merana itu sangat menggemaskan.


"Sayang, berhenti dong marahnya." Ghani menyusul Khalisa ke kamar, dia bisa stres kalau Kha marah lagi.


"Nggak mau!"


"Sayang, please maafin." Ucap Ghani memelas dari sebelum tidur, bangun tidur dan sekarang masih belum dimaafkan juga.


Khalisa membalikkan badan sambil tertawa geli melihat tampang kusut suaminya. "Gemesin banget kalau tampangnya gini." Perempuan itu mencubit pipi Ghani sampai memerah.


"Aauw, sakit Sayang," pekik Ghani kaget.


"Itu hukuman karena sudah nakal. Dan ini..." Khalisa mencubit bibir Ghani, "puasa," desisnya.


"Sayang, hukum yang lain. Jangan puasa, gak kuat kalo gak dapat obat." Perempuan itu menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Ghani.


"Tidur di luar selama satu minggu?" Tawar Khalisa, Ghani memberengut masam.


"Puasa," jawabnya malas menghempaskan pantat di atas tempat tidur. Ibu hamil itu tertawa penuh kemenangan. Mendekati Ghani lalu menyosor duluan. Tak memberikan suaminya kesempatan untuk protes.


"Sayang, kamu nakal." Kesal Ghani setelah Khalisa menjauhkan dirinya. "Awas kamu, sudah puas bikin Abang kesalkan." Ghani menangkap istrinya sampai tak bisa memberontak lagi.


"Abaang!" Pekik Khalisa nyaring.


"Iya Sayang, mau apa, hm?"


"Lepasin, Kha gak bisa napas." Ujarnya dramatis, Ghani tertawa geli, "kalau gak bisa napas sudah dalam kubur, Sayang."


"Ampun nggak?"


"Enggak!"


"Ampun nggak?" Ulang Ghani, sambil menggelitiki istrinya.


"Enggak!"


"Sekarang ampun nggak?" Ghani menggelitiki sambil menciumi Khalisa di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ampun, capek Bang." Suami Khalisa itu tertawa puas.


"Awas nakal lagi, Abang buang ke rawa-rawa."


"Lubang buaya sekalian Bang, huh." Khalisa bangkit dari tidurnya, lalu bersandar dengan nyaman di bahu sang suami. "Aku beneran marah, Bang."


"Iya, maaf udah bikin Kha sakit hati. "


"Maafin gak ya, enggak deh."


"Maafin dong."


"Males!"


"Sayang!"


"Apa?"


"Main yuk?"


"Main ular tangga apa rumah tangga?"


"Ular tangga."


"Sana gih sama Airil, main monopoli sekalian," desis Khalisa.


"Bukan ular itu."


"Teroooss!"


"Nabrak." Ghani menggaruk kepala, kenapa dia jadi ketularan gilanya Khalisa.


"Ooo."


"Bulat."


"Dah ih Bang, kita jadi kayak orang stress."


"Kamu yang mulai duluan, Sayang."


"Dah kerja sana, aku mau nyiramin tanaman mama dulu."


"Kamu jangan capek-capek. Ingat lagi hamil."


Khalisa memutar bola mata malas, "nyiram bunga pake selang capeknya dimana, Abang suami."


"Apa? Abang suami. Manis banget."


"Ih, gak bisa dimanisin dikit langsung aja diabetes kayak aki-aki. Bawa berobat sana gih, nanti gak panjang umur. Aku gak mau jadi janda masih muda gini ya."


Ghani menahan tawa, gini nih kalau Khalisa aslinya sudah kembali.

__ADS_1


"Ketawa-ketawa aja. Mumpung masih belum ada panitia ketawa. Sekarang tuh yang banyak panitia dosa. Ngitungin dosa orang lain sampai lupa sama dosa sendiri."


"Kamu kenapa ngelantur gitu sih, Sayang." Ghani akhirnya tertawa gelak. Salah makan apa istrinya ini.


__ADS_2