
Di sudut cafe Tomi mengamati wajah cantik Anindi, tidak tega rasanya kalau harus mengatakan apa yang sempat di dengarnya.
"Boleh aku makan?" Tomi menunjuk red velvet yang sangat menggodanya.
"Habiskan, nambah juga boleh." Sahut Anindi sambil tersenyum.
Dering ponsel Tomi, menghentikan aktivitasnya menatap dalam diam wajah cantik itu.
"Di mana Tom?" Terdengar suara Guntur setelah Tomi menjawab panggilannya. "Anincake." Sahutnya santai yang menimbulkan kecurigaan dari lawan bicaranya.
"Ngapain?"
"Ngedate." Tomi menyeringai mendapati perempuan dihadapannya juga tersenyum padanya. Tidak masalah sedikit membuat hati wanita berbunga-bunga, pikirnya.
"Bukannya nyari Kha malah pepetin anak orang."
Tomi mematikan ponselnya sepihak, tanpa membalas perkataan Guntur.
"Guntur?" Tanya Anindi.
Sangat manis senyumannya. Gumam Tomi hanya diucapkannya dalam kalbu.
"Siapa lagi, kalau bukan Ghani ya Guntur yang rese." Mereka berdua terkekeh, setelah tidak mendapatkan informasi apa-apa lagi Tomi pamit undur diri. Takut tidak bisa tidur kalau terlalu lama melihat wajah cantik itu.
Guntur tertawa puas setelah bisa mengganggu Tomi yang sedang asyik mengobrol dengan Anindi.
"Kebelet banget pingin nikung calon istri orang." Guntur terkekeh.
"Ganguin orang aja." Ghani menjitak kepala Guntur. "Kha masih belum bisa ditemukan radarnya?" Tanyanya serius yang hanya mendapatkan gelengan kepala.
"Pantau terus, Kha pasti mengaktifkan hpnya walau sebentar." Terang Ghani yang kemudian mengetikkan pesan di ponselnya.
Gha : Sayang, maafin kakak ya, kamu ada dimana sekarang. Pulang yaa, kakak khawatir kamu kenapa-kenapa. Kalau udah gak marah lagi kabari ya, aku jemput.
Hanya centang satu, itu digunakannya untuk memantau istrinya saat berubah menjadi centang dua. Walau tidak dibalas tapi dia bisa melacak keberadaannya. Ghani menyeringai licik.
"Senang banget." Goda Guntur, sambil melirik ponsel Ghani.
"Lihat nih, kalau centang dua segera bertindak." Titah Ghani sambil tertawa. "Istriku itu harus dihadapi dengan otak, dia tidak sebodoh itu."
"Udah cerdas, cantik, mau ngasih segalanya masih aja disia-siain. Jangan sampai kuambil jandamu nanti." Guntur tertawa jahat.
"Mau kamu bekasanku?"
__ADS_1
"Kalau masih cantik gak masalah, janda semakin di depan sekarang." Sahut Guntur, "lagian dicobanya juga baru sekali." Kekehnya geli.
Plaakk...
Rahang Guntur mendapat sentuhan manja Ghani.
"Jangan harap, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskannya Guntur. Kamu pikir bisa mendapatkannya, sedang hatinya sudah bertekuk lutut padaku." Ghani menyeringai, mereka berdua akhirnya tertawa.
***
Puas menulis di laptopnya Khalisa membaringkan badan, berjam-jam dia terbawa suasana saat menulis. Aktivitas itu membuatnya lupa sejenak akan hatinya yang penat.
Bayangan suaminya mencium mesra perempuan terlintas dalam kepala. Menari-nari bersama sebuah pelukan hangat yang menyapu tubuh Ghani tepat dihadapannya.
Melihat mereka jalan bersama itu lebih menyakitkan. Bukan sebuah kebetulan, entah seberapa sering mereka bertemu di belakangnya. Semua yang Ghani ucapkan padanya hanyalah bualan semata. Tipuan semu yang mampu membuatnya menjadi layu.
Sesak dalam dada yang tak mampu dielakkan. Hidupnya sekarang menjadi kelam setelah kehilangan cahaya yang sempat menerangi hatinya. Khalisa membaca ulang secuil tulisannya.
Senjaku menjadi kelabu, hatiku menjadi pilu saat jauh darimu. Tatapanmu menenangkan jiwaku, senyumanmu meredakan gemuruh di dadaku.
Gemericik air yang membuat awan menjadi kelabu. Semua membisu, saat mereka bertemu. Melepas rindu pada cinta yang tak bisa menyatu.
Karenamu mereka tak bisa jadi satu. Satu harapan yang mereka inginkan. Sedang satu harapan lagi milikmu yang semu.
Puluhan panggilan masuk dari Ghani, ayah dan papa. Jari lentiknya terhenti pada pesan Ghani.
Suami Galak : Sayang, maafin kakak ya, kamu ada dimana sekarang. Pulang yaa, kakak khawatir kamu kenapa-kenapa. Kalau udah gak marah lagi kabari ya, aku jemput.
Khalisa menyunggingkan senyuman sinis, makanan jatuh belum lima menit juga dipanggil sayang, runtuknya kesal. Semudah itu kamu mengucapkannya Gha, sedang hatinya seperti dicakar kura-kura.
Dia memesan makan siang dan cemilan untuk mengganjal perut sampai malam. Hidup tanpa Ghani memang tak bisa mendapatkan pelayanan istimewa, tapi lebih lega karena tak perlu memendam cemburu pada lelaki itu.
Hampir setengah jam Khalisa menunggu abang gofood mengantarkan makanannya, dia langsung menonaktifkan ponselnya kembali. Melahap makanannya dengan semangat, walau ada rasa yang kurang di sana. Rasa yang pernah ada.
***
Guntur yang sejak tadi tidak berkedip menatap layar ponsel Ghani terpekik senang. Langsung beralih ke layar ponsel miliknya. Ghani terperanjat bangun dari tidurnya yang baru saja terlelap mendengar suara berisik Guntur.
"Bisa gak, gak usah teriak-teriak Guntur, ganggu orang tidur aja." Ghani mengacak wajah Guntur. Guntur menepis tangan Ghani dengan kasar kemudian menariknya.
"Ayo, bangun."
"Kemana, gue ngantuk?"
__ADS_1
"Nyari Kha bego, masih aja oon." Umpat Guntur, tanpa banyak tanya Ghani melompat dari ranjang.
"Di mana dia?"
"Ikut aja dulu, bawa hp lo." Perintah Guntur, mereka meninggalkan kediaman Emran menuju sebuah penginapan sederhana.
"Yakin Kha di dalam?" Tanya Ghani tak percaya istrinya menginap di tempat yang bisa disebutnya kurang layak.
Setelah ke meja resepsionis, mereka mendapatkan akses untuk masuk ke kamar Khalisa. Biar uang yang berbicara, gumam Guntur.
Ghani mengetuk pintu kamar yang di duga ada Khalisa di dalam. Perempuan yang membuka pintu mematung mendapati Ghani yang berdiri di depannya.
Tanpa banyak bicara Ghani masuk ke dalam kamar, kemudian mengunci pintu sebelum Khalisa mengusirnya. Ghani memeluk erat tubuh perempuan yang tak mau bersuara itu. Tapi istrinya malah mendorongnya melepaskan pelukan.
"Sayang. Maaf, maaf sudah menyakitimu lagi."
Perempuan dihadapannya tak menghiraukannya, membereskan barang-barangnya ingin meninggalkan Ghani lagi.
"Kha, Sayang jangan begini."
Ghani memeluk kuat istrinya, menariknya ke tempat tidur.
"Aku tidak akan melepaskanmu Kha." Ghani melepas jilbab istrinya yang memberontak.
"Lepas Gha, jangan sentuh aku."
"Sayang, jangan berteriak." Ghani membungkam mulut istrinya yang masih memukul-mukul dadanya. Namun tenaganya lebih kuat untuk menindih Khalisa.
Dilepasnya pakaian Khalisa yang terus memberontak, dengan begitu istrinya tidak akan berani keluar kamar. Hanya cara ini yang bisa membuat Khalisa tidak pergi lagi.
"Rileks baby, tenang Sayang. Ini aku suamimu."
"Kamu menjijikan Gha." Khalisa menutup wajahnya sambil menangis.
"Tenang Sayang, tenang. Aku tidak akan begini kalau kamu tidak memberontak untuk lari dariku lagi." Ghani membawa istrinya dalam pelukan. "Maaf, saat kamu lelah aku malah mendiamkanmu, maaf."
"Maaf Sayang."
"Aku tak bisa bersamamu lagi Gha."
"Jangan begini Sayang." Tangan Ghani bereaksi untuk memberikan sentuhan lembut yang menenangkan. "Tenang Sayang, maafkan aku."
"Maafkan kakak Sayang. Maaf sudah sering menanyakitimu."
__ADS_1
Khalisa tidak dapat berkutik dalam dekapan Ghani, rasa tenang kembali mengisi hatinya. Kenapa dia terperangkap dengan lelaki yang sangat mengerikan.