Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
113


__ADS_3

Satu tahun yang lalu, di sebuah cafe ruang VIP seorang pria dan wanita paruh baya bertemu. Mereka sengaja memesan tempat itu agar lebih privasi.


"Mas, aku ingin kamu membebaskan Azhar."


"Aku tidak bisa melakukannya Tyas." Tegas Lutfhi, dia memang rektor di Universitas Pancasila. Tapi tidak bisa melakukan itu karena Azhar hampir melecehkan istri dari keponakannya sendiri.


"Aku akan membuatmu bisa melakukannya Mas." Lutfhi mengangkat sebelah alisnya, "apa maksudmu Tyas, kamu mengancamku?"


"Tentu, kamu mau semua keluargamu tau kalau Clara itu putri kandungku denganmu, bukan putri Mahesa." Luthfi membeku, wajahnya pias seperti tidak mendapatkan aliran darah segar.


"Kenapa mengungkit itu lagi Tyas, aku selalu memberikan nafkah untuk Clara. Memenuhi segala kebutuhannya. Jangan ganggu keluargaku lagi. Kita sudah sepakat kembali ke keluarga masing-masing."


"Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan keponakanmu itu mencampakkan anakku begitu saja."


"Kamu terlalu berambisi ingin menguras harta Emran dan Mira." Luthfi mengingatkan perempuan yang pernah dicintainya ini.


"Turuti kemauanku atau aku bongkar semua rahasia kita!" Ancam Tyas tanpa ragu.


Luthfi terdiam.


"Baiklah, aku akan bantu Azhar bebas." Putus Luthfi akhirnya, dia tidak ingin aibnya terbongkar setelah tertutupi puluhan tahun. Kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu bisa menghancurkan rumah tangganya sekarang.


"Bagus itu yang kumau."


Tapi sayang, ambisi Tyas tidak berakhir sampai di situ. Dia terobsesi menghancurkan istri Ghani. Dia tidak rela lelaki yang sangat dicintai anaknya itu menikah dengan perempuan lain.


Setelah meracuni Azhar agar berambisi untuk terus mengejar Khalisa. Dia juga menggunakan Dhafi, tunangan sepupu Khalisa sebagai bahan untuk menggugurkan kandungan perempuan sialan itu. Mudah untuknya meracuni Dhafi dengan iming-iming harta Haris bisa berpindah padanya.


Kejadian itu tidak membuat Khalisa hancur. Tyas murka melihat semuanya. Dia menjadikan suaminya Mahesa sebagai umpan juga ayahnya Azhar, Ardi saudara tiri suaminya. Dia berhasil membuat Khalisa hampir mati, namun tidak sampai mati. Itu yang membuatnya tambah marah.

__ADS_1


Dia mendalangi korupsi besar-besaran yang dilakukan Ardi demi memuaskan keinginannya membuat Ghani hancur. Tyas juga yang menghanguskan outlet Ghani di Singapura. Dia puas melihat semua itu. Namun tidak bertahan lama, Ghani cepat melesat dengan kecerdasannya mengelola bisnis.


Tyas melanjutkan misinya membunuh Khalisa menggunakan racun. Itu paling mudah, dia cukup melakukan seperti saat Dhafi mencampurkan obat penggugur kandungan ke cake kesukaan Khalisa.


Tapi rencananya lagi-lagi gagal, Ghani terlalu cerdas. Dia terlalu protektif terhadap istri tersayangnya itu. Tidak ada cara lain lagi membunuh Khalisa selain menggunakan orang dalam. Luthfi, pasti akan sangat mudah. Pria itu tidak akan berani menentangnya. Namun pria tua bangka itu bergerak sangat lambat.


Perempuan itu harus mati, karena sudah membuat Clara menghilang bersama Azhar. Saat mereka mereka ingin mencabut nyawa Khalisa di rumah sakit. Dhafi lebih dulu menghilang setelah menghancurkan mantan tunangannya.


Keluarga Emran memang bukan lawannya. Tapi dia sudah terlanjur memulai, tidak mungkin mundur untuk membunuh Khalisa.


Usahanya kali ini tidak boleh gagal, Khalisa harus mati. Selangkah lagi impiannya itu berhasil. Konsekuensi melawan keluarga Emran, mati atau membusuk di penjara. Tyas sudah tidak peduli.


Kehilangan Clara membuatnya tambah gila. Tyas tidak tau dimana keberadaan putrinya itu sekarang. Dia ingin Emran dan Mira merasakan kehilangan menantu kesayangannya. Juga membuat Ghani menderita atas kematian anak dan istrinya. Itu akan membuatnya puas dan bahagia.


Sebentar lagi semuanya akan jadi kenyataan dengan satu tarikan pelatuk. Peluru akan menancap tepat di jantung Khalisa, sangat menyenangkan.


"Apa kamu ragu untuk membunuhnya Luthfi?" Tyas geram karena Luthfi belum juga menarik pelatuknya. "Kalau dia masih hidup keluargamu tidak akan baik-baik saja. Camkan itu!"


"Kapan kalian membunuhku, aku tidak sabar melihat malaikat maut menjemput. Kenapa kalian malah bertengkar sendiri." Pancing Khalisa, dia kembali mengulur waktu agar dua orang itu terus berdebat.


"Diam kau ******!" Teriak Tyas, Khalisa tertawa gelak.


"******? Apakah kata itu pantas untukku."


Lutfhi takjub dengan keberanian Khalisa. Saat nyawanya terancam pun masih bisa berusaha tenang melawan rasa takutnya. Apa berita yang dia dengar itu sebuah tipuan? Kalau Khalisa seperti anak kecil polos yang tidak berani melakukan apa-apa. Karena Khalisa yang di depannya sekarang bukan seperti itu. Perempuan ini sangat berani.


"Ya, kau pantas disebut ******!" Pekik Tyas emosi, Khalisa senang perempuan tua itu terpancing juga.


"Kalau saya ******, lalu anda pantas disebut apa?" Khalisa tersenyum smirk, setidaknya pistol itu tidak mengarah padanya lagi.

__ADS_1


"Saya pantas disebut pembunuh." Tegas Tyas berang.


"Oh ya. Kalau begitu bunuh saya sekarang. Saya yakin anda tidak berani melakukannya sendiri makanya menggunakan pria tua bangka ini." Tantang Khalisa dengan berani.


"Kamu menantang saya, hah!" Kesabaran Tyas habis sudah, dia mengambil pistol dari tangan Luthfi dengan tangan bergetar.


"Anggap saja begitu." Khalisa dapat melihat tangan yang bergetar saat Tyas mengambil alih pistol.


"Oh ya, satu lagi. Clara tidak akan bisa kembali walau kalian membunuh saya. Malahan setelah kalian membunuh saya, kalian akan hidup tenang di balik jeruji besi menunggu kematian. Jangan lupakan sidang peradilan Allah itu nyata." Lanjutnya dengan setengah tertawa. Luthfi tercekat, dia salah culik orang. Perempuan di depannya ini bisa melemahkan mental musuh.


"Saya lebih baik membusuk di penjara daripada melihatmu hidup bahagia." Teriak Tyas lantang, lagi-lagi Khalisa tertawa.


"Pikiran anda sangat pendek Nyonya, saya tidak mungkin mati sekarang." Tukas Khalisa lebih lantang. Dimana Ghani, dia sudah tidak punya banyak cara untuk mengulur waktu lagi.


"Membual-lah sepuasmu sebelum peluru ini menembus jantung kesayanganmu." Tyas mengarahkan pistol tepat ke jantung Khalisa dengan tangan yang gemetar.


"Biar aku yang melakukannya." Luthfi merebut pistol dari Tyas. Dengan yakin dia menarik pelatuk. Ini pertama kalinya dia menjadi pembunuh.


Di luar bangunan tua Ghani dan yang lain berpencar setelah helikopter mendarat dengan sempurna.


Bangunan lima lantai itu tidak ada penjagaan. Kemungkinan mereka sedang dikibuli lagi.


Dor!


Semua asumsi itu tekalahkan oleh suara tembakan di lantai atas.


Ghani sekarang sudah berada di lantai empat. Suami Khalisa itu berlari terbirit-birit menaiki anak tangga dengan keringat sudah sebesar butir jagung.


Jantung Ghani ketar-ketir mengingat istrinya sedang hamil muda. Dia tidak ingin kehilangan istrinya sekarang. Ghani sangat takut kalau istrinya tidak mau bangun lagi dari tidur.

__ADS_1


Empat orang yang lain berlari ke sumber suara dan bertemu di depan sebuah ruangan. Sama sekali tidak ada penjagaan di sana, penculik itu terlalu berani.


__ADS_2