
"Bundaaa, Nefa naik ke atas pot bunga. Tuh jatoh, nangis lagi." Ujar Arraz, bukannya membantu bocah laki-laki itu malah berdiri mengawasi adik sepupunya gengan garang.
"Astaghfirullah Arraz. Bukannya ditolong, adek malah dipelototin." Khalisa mendelik pada putranya yang usil mengikuti jejak sang ayah itu.
Anak laki-laki yang baru duduk di kelas satu sekolah dasar itu mengendikkan bahu tak acuh masuk ke rumah lebih dulu.
"Lagi kecil aja bilangnya calon istri, sekarang malah dimusuhin!" Omel Khalisa pada putranya.
"Bundaaaa, waktu itu Arraz masih gak tau apa-apa. Mana mau Arraz sama bocah ingusan itu!!" Serunya tak sadar diri kalau dia juga masih sering ingusan dan ileran kalau tidur.
"Ya Allah Arraz, mulutmu pedas banget. Bunda ngajarin gitu!!" Seru Khalisa emosi pada putranya.
"Cakiiit," rengek bocah yang belum genap tiga tahun itu. Khalisa segera mengangkat Nefa membawanya masuk ke rumah.
"Kenapa marah-marah sih Kha?" Tegur Ghani yang sambil bekerja di ruang tengah.
"Nefa jatuh malah dipelototin Arraz Bang, kan Kha jadi kesal." Adu Khalisa pada suaminya, Ghani tersenyum mengambil Nefa ke pangkuannya.
"Mana yang sakit Sayang?" Ghani memijat pelan kedua kaki Nefa. Anindi sedang launcing cabang baru Anincake di Bandung bersama Tomi. Jadi putrinya itu di titip ke mereka.
"Cini," Nefa menunjuk lututnya. Ghani berpindah mengelus di lutut.
"Arraz," panggil Ghani pada putranya yang melengos ingin masuk ke kamar.
"Iya Ayah."
"Sini Sayang," panggil Ghani lembut. Putra Khalisa itu berjalan malas mendekati sang Ayah.
"Adeknya disayang dong, ini calon menantu Ayah." Goda Ghani pada putranya, Arraz langsung membuang muka tidak suka.
"Berhenti mengejek Arraz Ayah, dulu Arraz masih kecil bilang dia calon istri itu."
"Tapi adek mau main sama Abang nih." Ujar Ghani saat Nefa menarik-narik tangan baju Arraz.
"Arraz mau ngerjain PR." Tolak Arraz, malas menemani adik sepupunya.
"Abang, temani adek sebentar. Kalau nangis kasihan bunda repot Sayang. Nanti bunda yang cepek," bujuk Ghani.
"Iya," jawab Arraz malas-malasan. Masa setiap hari dia harus menemani Nefa main boneka barbie.
"Main sama Abang ya Sayang." Ghani menurunkan Nefa, bocah cilik itu langsung menarik Arraz duduk di bawah. Lalu ia duduk di pangkuan bocah lelaki itu dengan manja.
Ghani terkekeh geli melihat putranya yang cemberut masam karena Nefa tidak mau beralih dari pangkuannya.
"Bundanya anteng banget, putrinya seperti layangan putus. Gak bisa diam, panjat sana-sini." Komentar Ghani.
"Nurun Ghina kali Bang, perempuan perkasa." Jawab Khalisa ikut tertawa.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Khalisa dan Ghani bersamaan. Mereka menoleh pada ayah dan bundanya Nefa.
"Wah-wah anak Ayah lagi anteng main sama Abang. Tapi kenapa wajah Abang kayak kaset kusut gini, hm." Goda Tomi mengacak rambut Arraz dengan sayang.
"Adek gak mau turun, kaki Abang pegel." Jawab Arraz jutek.
"Nefa dengarkan Sayang, kaki Abang pegal. Jadi Ayah pangku aja ya."
Kepala mungil gadis itu menggeleng, masih duduk nyaman di pangkuan Arraz sambil memainkan rambut barbie.
"Sama Bunda Sayang, kalau kaki Abang sakit nanti gak bisa jalan lagi." Anindi mengulurkan tangan yang langsung di sambut Nefa. Gadis itu banyak gerak tapi sedikit bicara. Berbicara saja belum lancar.
Tomi juga membawa Arraz duduk di sofa, "oleh-oleh buat Abang." Katanya memberikan paper bag pada Arraz. Bocah laki-laki yang tadi cemberut itu langsung tersenyum cerah.
"Nefa gak dapat?" Tanya Nefa kaku.
"Kaku banget sih kayak kanebo kering," Khalisa mengunyel gemas pipi gadis kecil itu.
"Cairnya cuma kalo sama Abang Arraz," Ghani melirik putranya yang tidak suka dibawa-bawa.
"Kenapa benci banget sama adek gitu sih, udah gak sayang lagi?" Tanya Tomi yang memang sangat dekat dengan keponakannya ini.
"Enggak, manja." Gumamnya.
"Adek manjanya kan cuma sama Abang, Sayang." Khalisa ikut menanggapi.
Untung Nefa kecil tidak mengerti dengan apa yang Arraz ucapkan. Kalau paham pasti patah hati sejak bayi.
"Ya sudah Abang mandi, baru kerjain PR." Ujar Khalisa sambil senyam-senyum pada putra semata wayangnya.
Bocah lelaki itu cepat beranjak dari sana. Tomi juga pamit ingin istirahat, sebab dua hari ini mereka padat kegiatan.
Seperginya semua orang Khalisa mengambil laptop di atas meja. Dia menyempatkan menulis saat anak-anak sudah anteng. Kalau dulu dia yang sering menitipkan Arraz pada Anindi. Sekarang malah kebalikannya, sepupunya itu sering bepergian urusan bisnis sambil honeymoon.
Sebelum laptop Khalisa benar-benar menyala Ghani sudah merebutnya. "Sekarang waktunya buat Abang," ujarnya menarik lembut sang istri ke kamar.
"Masih sore Abang!"
"Gak ada larangan cari pahala kapanpun Sayang." Ghani mendudukkan Khalisa di sisi tempat tidur lalu menutup pintu.
"Kenapa dedek belum ada yang mau tinggal di sini ya, padahal Abang sudah umur tujuh tahun." Ghani menciumi perut Khalisa dan membenamkan wajahnya di sana.
"Belum di kasih Abang, sukanya Abangkan bisa puas manja-manja sama Kha." Khalisa mengelus rambut Ghani dengan sayang.
"Kangen tangisan bayi, Sayang." Ghani duduk di samping Khalisa dan menarik sang istri ke pelukan.
__ADS_1
"Sebentar Kha carikan suara bayi nangis." Ujar Khalisa jahil, membuka youtube sambil tertawa kecil.
"Kha, Sayaaaang." Rengek Ghani, istrinya ini nakal. Dia lagi serius melow malah diajak bercanda.
"Abangkan kangen tangisan bayi, jadi Kha mau obati kangennya." Bunda Arraz itu mengerling jahil, Ghani menggeleng pelan melepaskan penutup kepala Khalisa yang melindungi area favoritnya saat menggoda sang istri.
"Hm, Abang kangennya ini." Ghani menahan bibirnya di leher Khalisa seraya membuat gigitan-gigitan kecil. Dia akan menyiksa istrinya ini terlebih dulu.
"Aabaaang!!" Pekik Khalisa tertahan sambil mengerang kecil. Ghani menahan leher itu, tidak memberikan kesempatan untuk Khalisa kabur.
Jantung Khalisa sudah gladak gluduk seperti bunyi beduk. Bulu romanya dibuat merinding.
"Makanya jangan nakal sama Abang, hm." Ghani tertawa jahil, melihat istrinya yang sudah mulai kehilangan kendali.
Wajah cantik itu cemberut saat Ghani tidak melakukan apa-apa. Si empunya menggeleng, menolak Khalisa yang merengek-rengek.
"Abang please, tolongin Kha!!"
"Tolongin apa Sayang, bicara yang jelas. Jangan setengah-setengah." Ghani tersenyum semakin mengelus leher Khalisa dengan punggung tangannya.
"Kha gak tahan Abang, jangan siksa Kha!" Mohin Khalisa menarik-narik tangan Ghani. Tapi suaminya itu sangat usil.
"Abang gak nyiksa Kha, Sayang. Abang baik gak mau Kha capek." Jawab Ghani sambil tersenyum nakal.
"Abaang!!" Rengek Khalisa.
"Iya Sayang," Ghani mengecup sayang pipi Khalisa lalu memberikan yang istrinya itu mau. Dia sampai kaget saat Khalisa tidak ada lelahnya minta berkali-kali.
"Sudah Sayang, kamu kelelahan." Ghani membawa Khalisa ke atas tubuhnya dengan keringat yang bercucuran di kening.
"Kha kenapa Abang, apa karena mau haid ya?" Tanya Khalisa karena bingung dengan dirinya sendiri.
Ghani menggeleng sembari menghapus keringat Khalisa. "Mandi Sayang, kita ke periksa. Kamu biasa seperti ini kalau sedang hamil. Abang takut kamu hamil dan malah menyakiti yang di dalam sana."
"Sekali lagi please," mohon Khalisa. Kalau biasanya Ghani yang tidak mau berhenti sekarang malah Khalisa yang tidak mau dilepaskan.
"Istri Abang ini ya kalau sudah maunya gak bisa dihentikan. Tapi kalau gak mau, berbagai macam alasannya buat nolak." Ghani mencium gemas pipi Khalisa. Dia sedang membantu istrinya itu mengeringkan rambut.
Khalisa menyengir kuda, membalas perbuatan Ghani dengan mengulum di bibir. Sang suami langsung membulatkan mata. Ini bisa berakhir di tempat tidur lagi.
"Sayang sudah ya," Ghani melepas lembut tautan bibir mereka. Khalisa memandangnya dengan kabut gairah yang menyala-nyala.
"Sudah, kita pastikan dulu mereka gak ada di sini. Baru Abang kasih sepuas Kha." Bujuk Ghani menghentikan istrinya yang terus merengek-rengek.
"Abang Kha sudah gak,,,"
Ghani langsung mengangkat Khalisa ke tempat tidur kembali, memanjakan istrinya itu sampai berkali-kali meledak.
__ADS_1
Lelaki itu menciumi Khalisa yang lemas dipelukannya. Dia melepaskan istrinya itu dengan cara aman sebelum memastikan Khalisa hamil atau tidak.
"Kenapa kalau hamil kamu seperti ini terus Sayang," gumam Ghani dia yakin kalau istrinya ini sedang berisi. Membiarkan saja istrinya tertidur sebentar, pasti sangat lelah karena energinya terkuras.