
Selepas pekerjaannya selesai Tomi mengunjungi restoran dan supermarket milik Ghani. Sekarang dia berada di salah satu restoran.
Tomi mencicipi berbagai menu yang disediakan restoran. Entah dari mana sepupunya itu memiliki bakat di bidang kuliner.
Setelah selesai makan Tomi menemui manager Riko yang bertanggung jawab di sana. Dia juga diajak berkeliling ke setiap sudut restoran mewah. Matanya terhenti pada satu orang yang sangat dia kenal.
Siapa perempuan itu? Dia seperti pernah melihat tapi lupa dimana. Paman Lutfhi? Ada urusan apa di sini bersama perempuan, itu bukan istrinya. Tak lupa Tomi mengabadikan momen itu.
Sangat mencurigakan, dari cara mereka berbicara. Tomi berbincang dengan Riko sebentar. Dia meminta satu orang pramusaji untuk merekam pembicaraan dua orang yang dicurigainya itu.
Tomi mengawasi dari salah satu meja, tiga puluh menit kemudian dua orang itu pergi. Dia menunggu pramusaji datang mengembalikan ponselnya. Tomi penasaran dengan kedekatan dua orang yang terlihat sudah sangat akrab itu.
***
"Abang, aku dapat surat ini." Lirih Khalisa memberikan surat dari kampus pada Ghani.
"Kha sudah kirim surat balasan?" tanya Ghani lembut setelah selesai membaca surat yang berisi permintaan untuk Khalisa kembali mengajar, dari rektor Universitas Pancasila.
"Belum. Boleh?" Ghani menarik pinggang Khalisa untuk duduk di pangkuannya. Dia baru selesai meeting dengan manager di Malaysia.
"Enggak!" Satu kata yang keluar dari mulut Ghani mampu membuat Khalisa mengerucutkan bibir beranjak dari pangkuan Ghani.
"Sayang, dengerin Abang dulu." Ghani menyusul Khalisa ke sofa.
"Enggak!" Perempuan itu meniru ucapan Ghani.
"Kha belum dengerin penjelasan Abang, kenapa gak boleh." Bujuk Ghani, Khalisa menggeleng-geleng. "Kha lagi hamil, Sayang." Dia menarik paksa tubuh istrinya dalam pelukan.
"Aku gak mau dipeluk!" Khalisa beranjak dari sofa meninggalkan ruang kerja Ghani dengan membanting pintu keras.
Astaghfirullah, kenapa istrinya jadi merajuk seperti itu. Ghani ingin menyusul tapi keburu ada meeting virtual dengan manager restoran, si Riko. Terpaksa membiarkan Khalisa merajuk dulu. Setelah meeting selesai Ghani akan membujuknya lagi.
__ADS_1
Ghani menyajikan lebih sedikit variasi menu di restorannya untuk menjaga standar kualitas. Juga tidak membingungkan bagi pelanggan.
Semakin banyak variasi menu, maka semakin lama pelanggan berpikir untuk membeli. Selain itu pelayanan yang paling utama, agar pelanggan tidak jera datang ke restoran. Ghani selalu menekankan hal itu pada managernya untuk terus menjaga kualitas dan pelayanan. Komplain sekecil apapun Ghani harus tau penyebabnya.
Satu setengah jam Ghani habiskan untuk meeting. Dia beranjak dari ruang kerja mencari Khalisa ke kamar.
"Sayang!" Ghani membuka pintu kamar, tidak ada istrinya di sana. Dia ke kamar Ghina, mungkin Khalisa sedang bermain dengan Airil.
"Ghin, lihat Kha gak?" tanyanya pada pemilik kamar.
"Kan sama kamu Gha dari tadi." Jawab Ghina heran, pasutri itu tidak pernah pisah.
"Tadi ngambek, tapi aku tinggalin meeting jadi gak sempat bujuk." Jelas Ghani kemudian berlalu dari kamar Ghina. Turun ke ruang keluarga, di dapur juga tidak tampak batang hidungnya.
"Kha!" Teriak Ghani dari ruang tengah. Dia lelah mondar-mandir tapi tidak ketemu istrinya itu. Dari kamar sampai ke taman dan kebun sayur Mira di belakang juga tidak ada.
"Kenapa teriak-teriak Gha?" Omel Mira menyusulnya ke ruang tengah.
"Ya ampun Gha, kayak orang bego." Cerca Ghina yang datang sambil menggendong Airil, "lihat cctv, ngapain teriak-teriak." Serunya dengan suara yang tidak kalah menggelegar.
"Kha gak mungkin kemana-mana Gha, paling dia lagi sembunyi ngerjain kamu." Mira terkekeh melihat putranya yang panik. Ghani mengabaikan ucapan Mira, dia kembali ke ruang kerja.
Mungkin bagi mama, Ghani terlalu berlebihan dia benar-benar cemas. Seisi rumah tidak tau keberadaan Khalisa. Dia sudah menanyakan pada art dan tukang kebun, tapi tidak ada yang melihatnya.
Ghani berteriak histeris setelah melihat rekaman cctv di depan pintu gerbang. "Bodooh!!" Pekiknya geram dengan mata yang sudah memerah menahan marah. Kha, istrinya sedang hamil. Apa yang akan mereka perbuat dengan kesayangannya lagi.
Rekaman itu hanya menunjukkan sesosok lelaki yang membekap Khalisa dari belakang. Dan membawanya pergi setelah tubuh mungil istrinya itu lemah tanpa perlawanan.
"Ghinaaa!!" Ghani berdiri di tangga paling atas sambil berteriak. "Telepon semua orang untuk pulang, Kha diculik."
Mira dan Ghina menyusul Ghani setengah berlari menaiki tangga, "jangan bercanda Gha." Geram Mira yang mulai panik karena ucapan putranya.
__ADS_1
"Cepat Ghin, aku gak bercanda Mah. Lihat cctv kalau gak percaya." Berang Ghani lalu kembali ke ruang kerja. Dia tidak tau harus kemana sekarang, buntu.
"Astaghfirullah, Kha lagi hamil Ghin." Tangis Mira dengan terus beristighfar.
"Mah tenang! Kita tunggu di kamar ya." Ghina membawa mamanya ke kamar, setelah menitipkan Airil pada babysitter. Dia sudah menelpon suami dan ayahnya untuk segera pulang.
"Kha, Sayang. Kemana aku harus mencarimu." Lirih Ghani, Zaky barusan menelponnya, meminta Ghani untuk tenang dan menunggu mereka datang.
"Assalamualaikum," Tomi baru sampai, langsung masuk ke ruang kerja Ghani, ada hal penting yang harus mereka bicarakan. Rumah sepi, dia tidak melihat mama dan Ghina. Setelah mendengarkan pembicaraan di rekaman itu Tomi memutuskan untuk pulang.
"Tomi!" Ghani melihat Tomi berdiri di depan pintu, itu seperti angin segar. Dia sekarang tak mampu berpikir lagi.
"Kenapa Gha?" Ghani terduduk lemas di sofa membuat Tomi cemas. Apa yang sudah dilewatkannya selama tidak ada di rumah.
"Kha diculik Tom. Gue gak tau kenapa bisa kecolongan begini. Tadi dia ngambek, gak gue susul karena ada meeting sama Riko. Saat gue cari udah gak ada." Jelas Ghani dengan lemas, Tomi beranjak menuju meja kerja Ghani memutar rekaman cctv satu jam yang lalu. Matanya beralih pada amplop putih yang ada di meja lalu membacanya.
"Gha!" Pekik Guntur dari depan pintu, "gimana ceritanya Kha bisa diculik?" Cerocosnya. Emran dan Zaky berada di belakang mengikuti. Ghani hanya menggeleng lemah.
"Guntur kemari!" Panggil Tomi, dia sekarang sudah kembali duduk di sofa membawa amplop putih di tangannya. "Lo kenal perempuan ini?"
Guntur mengambil ponsel yang disodorkan Tomi, "sekilas mirip Clara." Desisnya, Ghani merebut ponsel di tangan Guntur setelah mendengar nama Clara.
"Tante Tyas, ini mama Clara, tapi kenapa sama Paman Luthfi. Ini foto dimana?" Selidik Ghani, merasa ada keanehan dengan foto itu. Mirip restorannya di Singapura.
"Itu foto gue ambil di restoran lo kemaren," jelas Tomi.
"Lutfhi tidak punya bisnis di Singapura." Tutur Emran.
"Ini jebakan!" Tomi mengangkat amplop di tangannya.
"Dugaan gue benar, Paman Luthfi ada ambil bagian dalam masalah yang kita hadapi akhir-akhir ini," gumam Guntur menggebu-gebu.
__ADS_1