Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
129


__ADS_3

"Nikah sama Mas lagi ya, Sayang. Kita perbaiki semuanya dari awal. Kamu maukan?" Mohon Tomi, berharap masih bisa mendapat kesempatan.


"Maaf aku gak bisa, Mas."


"Gak papa kalo kamu gak bisa. Kamu pantas dapetin lelaki yang lebih baik." Tomi mengurai pelukan, tersenyum pada Anindi. Dia tidak akan memaksa kalau Anindi tidak bahagia bersamanya.


"Maafin kesalahan Mas sama kamu ya. Maaf untuk yang tadi malam." Lelaki itu membelai lembut pipi Anindi. Apa ini terakhir kali dia bisa bersikap seperti ini pada perempuan yang dicintainya.


"Lupain aja Mas." Ujar Anindi kembali tersenyum, "aku mau pulang. Pasti karyawanku pada bingung nanti lihat toko berantakan."


"Mas antar."


Anindi mengangguk, mengambil jaket dan tasnya. Dia berpamitan pada semua orang yang ada di ruang keluarga, termasuk Devina.


"Mau antar Anindi?" Tanya Emran, Tomi mengangguk, "sekalian antar Dev ya. Dia naik ojol tadi ke sini."


"Iya Pah. Ayo Dev." Tomi mengulurkan tangannya, yang di sambut Devina dengan senang hati.


Devina duduk di samping Tomi, sedang Anindi di belakang. Dua orang itu tampak asyik berbincang. Anindi hanya menatap jalanan yang sedang macet parah.


Bukan siapa-siapa Tomi saja, melihat pemandangan seperti ini hatinya memanas. Apalagi kalau dia menjadi istri Tomi, Anindi tidak akan kuat.


"Aku antar Nindi dulu ya Dev, baru antar kamu pulang." Tomi melirik spion, dia senang melihat Anindi cemburu. Tapi tidak tau bagaimana cara agar mantan istrinya itu mau menerimanya kembali.


"Oke siap, kamu gak ke kantor hari ini?"


"Ke kantor, agak siangan. Bantu beresin toko Nindi dulu."


Devina menanggapi dengan anggukan lalu menoleh ke belakang. "Nin," panggilnya.


"Hm, iya."


"Aku pinjam Tomi boleh?" Izin Devina dengan senyuman yang sulit diartikan.


Anindi mengangguk, mengingat ucapannya pada Devina dia jadi malu sendiri.


"Itu lebih baik, daripada kalian melakukan zina."


Kenyataannya sekarang, dia yang berbuat zina. Anindi menarik napas panjang, semoga Allah masih mengampuni dosanya.

__ADS_1


Setelah ini dia akan menghindari Tomi. Lelaki itu bisa membuatnya kehilangan akal sehat. Tidak terasa mereka sudah sampai di toko Anindi. Tomi memutari mobil membukakan pintu.


"Aku tinggal dulu ya, nanti aku ke sini lagi."


"Gak perlu Mas, aku bisa beresin toko sendiri," tolak Anindi. Semakin sedikit berinteraksi dengan Tomi akan semakin bagus.


"Kamu lagi sakit, jangan banyak gerak. Nurut sama Mas, kali ini aja."


Perempuan itu mengangguk, dia malas berdebat. Apalagi masih ada Devina dalam mobil.


"Pintar," Tomi mengusap kepala Anindi. Dia suka melihat Ghani melakukan Khalisa seperti itu. Jadi ingin melakukannya pada Anindi.


Anindi masuk ke dalam toko, dia dan Tomi sudah terlalu jauh. Lelaki itu semakin terbiasa memperlakukannya seperti seorang istri. Dia sebenarnya siapa sih, jadi bingung sendiri. Tomi ingin menikah dengannya, tapi memperlakukan perempuan lain dengan mesra juga. Sudahlah, dia lelah memikirkan lelaki itu.


"Kamu belum cerita?" Tanya Devina ketika Tomi sudah menjalankan mobilnya.


"Sudah, tapi dia masih gak mau nerima aku." Tomi mendesah berat, harusnya dia bertanggung jawab pada Anindi.


"Dia cinta sama kamu Tom, aku bisa lihat tatapan matanya yang terluka. Ketika aku godain kamu. Dia kuat banget sih, masih bisa tersenyum."


Ya Tomi tau itu, kalau Anindi belum mencintainya mana mungkin mau menyerahkan tubuh padanya. Jadi inikah definisi dosa terindah yang sudah menjebaknya dalam kesalahan besar.


***


"Abang, Nindi." Lirih Khalisa dalam pelukan Ghani. Tidak tau apa yang terjadi dengan kakak sepupunya itu. Dia ikut terluka, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang, kita ke kamar."


Khalisa menggeleng. Ghani memberikan belaian lembut di pipi sang istri. Menguatkan pelukannya. "Mereka punya jalan masing-masing, Sayang."


Apa Ghani sudah keterlaluan merencanakan semua ini. Dia hanya ingin Anindi mengakui perasaannya pada Tomi.


"Kha mau ketemu Nindi sekarang."


Ghani memandang Guntur mengisyaratkan untuk cepat bertindak. Mereka belum membereskan sisa kekacauan di toko Anindi semalam.


"Ayo, Kha siap-siap dulu." Katanya membawa sang istri undur diri dari ruang tengah. Perempuan hamil itu berjalan lesu menaiki undakan tangga.


"Abang mau Kha janji, apapun nanti yang terjadi antara mereka, kamu gak boleh sedih berkepanjangan."

__ADS_1


Khalisa menghentikan langkah di undakan tangga terakhir. Ghani menengok ke belakang. Ada apa lagi dengan calon ibu ini. Dia harus menambah stok sabar untuk menghadapi istrinya yang susah ditebak maunya apa.


"Kalau Kha stres, kebanyakan pikiran. Berpengaruh sama dedek dan ini." Ghani menepuk kepala Khalisa lembut. "Apapun yang Kha minta pasti Abang kasih. Tapi tolong, dengerin Abang untuk kebaikan Kha sendiri."


Khalisa merentangkan tangan kanan minta di peluk. Ghani menarik pelan tangan Khalisa untuk masuk ke kamar lalu memberikan pelukannya.


"Maaf Abang belum bisa gendong Kha, Sayang. Abang sayang banget sama Kha. Abang gak mau Kha ikut sedih berlebihan karena masalah Nindi dan Tomi."


"Maafin Kha yang terlalu khawatir sama mereka."


"Abang tau, Kha sayang sama mereka. Tapi Abang gak suka kalau lihat Kha sedih terus."


Istri Ghani itu hanya diam dengan bibir yang dimanyunkan.


"Gak jadi ke tempat Nindi?" Goda Ghani mencubit bibir Khalisa.


"Eh, jadi Abang." Khalisa langsung berganti pakaian sebelum batal pergi. Ghani tersenyum geli.


Mereka langsung mendatangi toko Anincake. Syukurlah Guntur cepat bergerak, tempat itu sudah rapi. Ghani bisa bernapas lega.


"Kha, kenapa ke sini. Kamu masih sakit." Anindi membawa Khalisa dan Ghani masuk ke ruang kerjanya. Di sana juga ada Tomi.


Ghani dan Tomi saling pandang, mereka sepakat untuk tidak banyak bicara.


"Gak ke kantor Tom, kamu kenapa keringetan?" Tanya Khalisa penuh kecurigaan.


"Anjing tetangga galak banget Kha, kayaknya doyan orang ganteng. Jadi ngejar aku." Jawab Tomi asal, gimana gak keringetan. Dia membereskan meja-meja dan kursi kilat bersama Guntur. Entah sembunyi dimana itu anak.


Khalisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dari di rumah tadi yang di bahas anjing. Padahal dia tau, bukan anjing sesungguhnya yang mereka maksud. Sebenarnya apa yang sedang mereka sembunyikan.


"Kalau mau bohong yang realistis ajalah. Di kejar depkolektor kek." Sinis Khalisa, Tomi susah payah meneguk ludah.


Ghani mengelus tangan Khalisa yang ada dalam genggamannya dengan jempol. Kenapa istrinya bisa cerdas sih. Terlalu terbiasa dengan Khalisa yang manja dan polos, membuatnya jadi tertipu.


"Kha mau cheese cake?" Ghani mengganti topik pembicaraan untuk menyelamatkan Tomi.


"Hm, chocolate cake." Katanya setelah berpikir lama. Anindi segera mengambilkan. Untunglah bumil itu lupa dengan apa yang diucapkannya tadi.


"Abang, Kha mau ngomong sama Nindi. Cuma berdua."

__ADS_1


"Oke, Abang sama Tomi keluar, Sayang." Ujarnya, Ghani hanya bisa berdoa semoga Anindi tidak terpojokkan oleh istri nakalnya itu.


__ADS_2