
Khalisa membangunkan Arraz dengan mencium di pipi. Ia mengajarkan pada putranya itu untuk sholat subuh. Walau sebenarnya kasihan membangunkan anak kecil yang masih nyaman-nyamannya tidur. Tapi dia tidak ingin putranya dilahap api neraka karena mengabaikan sholat subuh ketika besar nanti. Jadi khalisa membiasakannya sejak dini.
“Pagi kesayangan Bunda,” sapa Khalisa tersenyum manis, sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi.
“Bunda sudah sholat subuh?” tanya Arraz lebih dulu.
“Belum, Bunda nunggu Arraz bangun.” Jawab perempuan yang sudah berusia kepala tiga itu.
“Hoam, Arraz sikat gigi dan wudhu dulu.” Ujarnya sudah hafal apa yang harus dilakukan pagi hari seperti yang bundanya ajar.
“Sebentar ya Sayang, ayah masih di kamar mandi.” Bocah laki-laki itu mengangguk membaringkan badan kembali dengan tangan memeluk pinggang Khalisa.
Khalisa membangunkan Arraz kembali setelah Ghani sudah selesai mandi. Ghani mengajak Arraz ke mesjid sedang Khalisa sholat sendirian di kamar.
“Ayo kita sarapan Sayang, pasti sudah ditunggu.” Ajak Ghani seraya menutup laptop, khawatir dimainkan Arraz.
Setelah menunaikan kewajiban di pagi hari dan melakukan aktivitas ringan lainnya ia langsung bekerja agar nanti siang bisa punya waktu lebih banyak untuk menemani Arraz bermain.
__ADS_1
“Abang aja, ajak Arraz sekalian. Aku puasa,” jawab Khalisa asal. Sebenarnya ia sedang malas turun ke bawah.
“Puasa apa hari selasa? Kha masih marah?” tanya Ghani lembut, ia sangat paham perangai istrinya yang tidak bisa diucapi dengan kata-kata kasar ini.
“Enggak.”
"Katanya enggak, tapi jawabnya singkat banget." Gumam Ghani tersenyum dalam hati.
“Kha taukan kalau puasa sunnah itu harus seijin suami, hari ini Abang gak ijinin Kha puasa.” Ghani langsung menyerobot bibir Khalisa setelah selesai mengucapkannya. Mumpung Arraz sedang ke kamar sebelah, katanya ingin menyapa dedek dalam perut bibi dulu.
“Kita sarapan di sini aja,” ujar Ghani setelah mencuri satu dosis obat pagi ini. Dia meminta art untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya. Ghani tidak ingin membuat Khalisa semakin tidak nyaman.
“Kita pindah Sayang, nanti siang Abang cek rumahnya dulu lama gak ditempatin.” Putus Ghani akhirnya, “Abang gak mau Kha gak bahagia gini,” Ghani ikut duduk memeluk Khalisa dari samping.
“Maafin Kha gak nurut sama Abang,” ucap Khalisa pelan.
“Abang bukan gak mau nurutin Kha, Sayang. Abang cuma gak mau Kha kelelahan dan kesepian di rumah, karena gak ada yang diajak mengobrol sesama perempuan.”
__ADS_1
“Kha ini penulis Abang, Kha lebih suka sendirian.”
“Kalau istri Abang sudah bicara seperti ini, Abang bisa apa selain menurut. Maafin Guntur yang suka bikin Kha kesal ya.”
Khalisa tidak menjawab sampai pintu kamarnya diketuk, art sedang mengantarkan sarapan untuk.
“Kalau kita bikin rumah di samping rumah Papa ini gimana Sayang, kalau Kha mau istirahat masih bisa nitipin Arraz kan. Dan Kha juga bisa punya waktu untuk sendiri. Gak ada yang gangguin," usul Ghani.
“Emang boleh?”
“Boleh Sayang, apasih yang enggak buat Kha. Biar papa sama mama juga gak sedih kita tinggalin. Tapi harus sabar, bikin rumah gak bisa kebut semalam seperti bikin candi. Karena Abang bukan Bandung Bondowoso.” Ucap Ghani sambil bercanda, Khalisa akhirnya ikut terkekeh karena ucapan konyol suaminya itu. Siapa juga yang minta dibuatkan rumah dalam waktu semalam.
“Kalau sudah bisa ketawa gini, sekarang saatnya kita sarapan." Ajak Ghani, mengunyel gemas pipi Khalisa.
“Arraz gak dikasih makan juga?” tanya Khalisa mendelik. Bisa-bisanya suaminya itu melupakan putra mereka.
“Abang jemput Arraz dulu, dia mau makan bareng kita atau bareng calon istrinya yang masih dalam perut Nindi.” Goda Ghani, Khalisa memberengut masam mendengar candaan sang suami. Mengingat itu ia jadi kesal lagi.
__ADS_1
😆
Itu Arraz yang bikin bunda sama Oomnya ribut😄