
“Abang Arraz!!” Nefa langsung melompat ke pelukan Arraz.
Untung bocah laki-laki itu tanggap dan dapat menahan beban tubuh gadis yang masih menggunakan seragam merah putih ini.
“Kenapa gak ganti baju dulu, Abang gak akan kabur kalau Nefa telat sampai rumah Oma kan?”
‘’Nefa mau cepat-cepat main sama Abang!!” Serunya dengan pipi menggelembung manja.
“Arraz antar adek ganti baju dulu ya Sayang.” Anindi memberikan paper bag ke tangan putrinya yang masih berada dalam gendongan Arraz.
“Iya Bibi,” Arraz terpaksa menggendong adik sepupunya yang tidak mau turun dari gendongan itu. Tapi baru beberapa langkah sudah ada yang berteriak nyaring.
“Turun!!”
Pekik Celena menunjuk ke arah Nefa yang berada dalam gendongan sang abang. Putri bungsu Ghani itu memang lebih emosional dibanding kakak kembarnya yang terlihat anggun dan lemah lembut.
“Abang sebentar aja antar Kak Nefa ganti baju ya cantik,” bujuk Arraz pada adiknya yang sudah cantik dengan balutan busana pink. Hari ini adik kembarnya itu berulang tahun yang ke empat.
“No!! Cece juga mau digendong.” Dengusnya dengan wajah merengut masam.
“Cece sama Abang Airil yuk,” putra Ghina dan Zaky itu merentangkan tangan.
Dia selalu jadi pendingin antara Nefa dan Celena yang tidak pernah akur. Sedang Celin anteng menggandeng tangan sang nenek kemana-mana.
“Cece maunya sama Bang Arraz!” Tegas Celena, Ghani terpaksa turun tangan untuk mengatasi dua gadis manja itu.
__ADS_1
“Sekarang bagi dua aja badan Abang Arraz-nya!!!” Ghani memberikan pisau plastik pemotong kue ke tangan Nefa dan Celena.
Para orang dewasa yang berkumpul di sana mengulum senyum melihat ide Ghani. Dua gadis kecil itu serentak menolak pisau dari Ghani. Nefa beringsut turun dari gendongan Arraz dengan mata berkaca-kaca.
“Abang Airil yang temani ganti bajunya Sayang,” Airil menuntun tangan Nefa. Membawanya ke kamar tamu, dia selalu tanggap dalam membujuk Nefa.
Sementara Arraz menggendong adik bungsunya, “Lili mau Abang gendong juga, hm.” Goda Arraz pada Celin.
“Lili sudah besar Abang, sudah bisa lari sendiri.” Jawab gadis itu bijak, kakak beradik kembar itu jarang bertengkar karena Celin yang lebih suka mengalah. Celena sering bertengkarnya dengan Nefa.
“Pintarnya adik Abang ini,” Arraz menepuk-nepuk kepala Celin pelan.
“Jadi Cece gak pintar?” Decak Celena yang berada dalam gendongan Arraz merengut.
“Kalau sudah ada yang jagain adek gini Ayah boleh dong honeymoon lagi sama Bunda.” Ujar Ghani yang langsung mendapat pelototan dari sang istri.
“Pacaran teroooss, sampai ubanan!!” Seru Guntur yang baru datang, acara ulang tahun itu hanya diadakan internal keluarga dekat saja.
“Kita bikin dua lagi ya Sayang,” Ghani mencuri satu kecupan di pipi sang istri.
“Abaaang, gak tau malu banget ih. Banyak orang!!” decak Khalisa. Ghani mengedikkan bahu tak acuh, malah memeluk sang istri semakin mesra.
“Ayah, Arraz capek. Pegel gendong adek dari tadi,” sulung Ghani itu memberikan Celena pada sang ayah sambil tersenyum tipis.
Ghani menyambutnya tanpa rasa curiga apapun, setelahnya Arraz menarik sang bunda menjauh dari ayahnya.
__ADS_1
“Arraz kamu ngerjain Ayah ya!!” Ghani baru sadar setelah ibu dan anak itu cekikikan menjaga jarak darinya.
“Uang jajan dipotong!!” Ancam Ghani tidak main-main.
“Ayah, Arraz gak ngerjain kok, beneran. Kan bukan ayah yang ulang tahun hari ini.” Ucap Arraz lugu agar sang ayah tidak jadi merealisasikan ancamannya.
“Potong tujuh puluh persen!” Kekeuh Ghani dengan senyuman miring. Putranya mana berani kalau sudah diancam potong uang jajan.
“Gapapa nanti Om yang nambahin uang jajannya," ujar Guntur mengajak Arraz bertos ria.
"Ya sudah gapapa uang jajannya dipotong Yah. Kan masih ada Om Guntur, Om Zaky dan paman yang ngasih uang jajan." Ujar Arraz sombong, "terus Opa juga ngasih jatah warisan." Sebutnya yang mengundang tawa.
Ghani mendelik, putranya ternyata sudah lebih pintar dari sebelumnya. Tapi pintar membantah.
“Dasar, gara-gara biang rusuh nih!!” decak Ghani kesal karena merasa kalah. Semua gara-gara Guntur yang membackup putranya itu.
...🐾🐾🐾...
Mampir juga di Story Guntur ya Bestie 😘
Cinta hadir tanpa disadari, itulah yang Guntur rasakan. Ia menganggap kaum perempuan hobby-nya hanya menyusahkan kaum lelaki.
Ketika hatinya sudah tak mampu berdesir untuk perempuan manapun. Seorang gadis hadir dengan segala kerumitan hidup yang tidak bisa ia hindari.
__ADS_1