
Sepulang dari depot Ghani mengajak mampir ke klinik langganan Khalisa dan Anindi sebentar, beralasan untuk imunisasi Arraz.
“Abang, imunisasi Arraz masih lama lagi,” ujar Khalisa yang tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan sang suami.
Mereka menunggu di mobil, Tomi sedang menemani Anindi yang minta dibelikan roti boy. Padahal perempuan itu bisa membuat sendiri di tokonya. Ghani jadi semakin yakin kalau istri sepupunya itu sedang mengandung. Apa hanya dia yang peka.
“Kita cek Nindi Sayang. Kamu taukan Tomi melarang Nindi menggunakan testpack," jelas Ghani.
“Emang Nindi hamil Bang,” Khalisa menoleh ke arah luar. Tiga orang itu sedang berjalan menuju mobil.
“Berdoa aja Sayang, gak ada salahnya kita periksa. Sudah lama Tomi tidak membawa Nindi periksa ke dokter. Aneh, sedang program hamil tapi takut membawa istri berperiksa.” Ucap Ghani yang heran dengan isi kepala sang sepupu.
“Tomi itu gak mau lihat Nindi sedih berlarut-larut Bang. Jadi wajar dia seperti itu menghindari apa yang berpeluang membuat Nindi sedih.”
“Bunda, Arraz beli roti banyak.” Tunjuk bocah kecil itu pada plastik yang ditentengnya saat sudah berada di mobil.
“Emang Arraz bisa ngabisin roti sebanyak itu?” tanya Khalisa sambil tersenyum.
“Kan ada Om Guntur Bun, pasti Oom mau bantu Arraz habisin ini.” Serunya dengan wajah ceria, Anindi ikut tersenyum. Dia senang melihat keponakannya itu makan dengan lahap.
“Ayah, beliin Arraz cokelat koin.”
Ghani menoleh sebentar ke belakang sebelum menjalankan mobil, “cokelat Arraz masih banyak kan Sayang di tempat bunda.”
“Banyak, tapi bunda gak mau ngasih Arraz.” Jawabnya dengan wajah memelas, Ghani terkekeh geli melirik istrinya yang sudah melotot.
“Bunda gak akan kasih kalau Arraz satu hari minta lebih dari tiga, jatah Arraz makan cokelat kan cuma tiga Sayang.” Beritahu Khalisa dengan lemah lembut, bocah laki-laki itu menoleh pada sang paman minta dikasihani.
“Jangan minta sama paman dan bibi,” ucap Tomi sebelum anak itu mengungkapkan keinginannya.
__ADS_1
“Cokelat koin gak mahal kok, gak akan bikin ayah langsung miskin walau beliin Arraz satu kontainer.” Katanya dengan wajah cemberut, Khalisa membulatkan mata darimana putranya dapat kata-kata seperti itu.
“Siapa yang ngajarin Arraz bicara seperti itu?” tanya Anindi lebih dulu sebelum Khalisa yang menceramahi putranya yang masih kecil ini.
“Om Guntur,” jawab Arraz tenang. Ghani dan Tomi tertawa gelak, apalagi saat melihat Khalisa yang mulai mengeluarkan tanduk.
“Itu anak ya, suka ngajarin yang gak bener. Abang gak pernah bilangin ya?” Khalisa meluapkan kekesalannya pada sang suami.
“Kok Abang yang disalahin Sayang. Kan bukan Abang yang ngajarin,” Ghani membela diri.
“Tapi Abang yang suka nitipin Arraz sama Guntur kan,” ujar Khalisa penuh penekanan.
“Iya, Abang yang salah,” pasrah Ghani yang tidak ingin berdebat, apalagi ada Arraz di mobil.
Tomi geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangan itu, sebentar bertengkar, sebentar sayang-sayangan. Dari dulu selalu terlihat mesra, keduanya sama-sama manja.
Ghani memarkirkan mobil di depan klinik, dia juga mengajak Tomi dan Anindi masuk dengan alasan mereka akan lama di dalam. Tomi ikut saja, tidak curiga apapun pada sepupunya itu.
Ghani membawa Arraz menjauh dari sana seolah sedang keruangan yang khusus untuk imunisasi, diikuti oleh Khalisa.
“Lama gak datang kemari Bu, mau periksa dulu?” tanya sang dokter ramah.
“Bukan istri saya yang mau periksa Dok,” sela Tomi lebih dulu. Dia tidak ingin melihat Anindi menangis lagi karena tidak berhasil hamil.
“Tidak ada salahnya kita periksa dulu Pak Tomi, jadi kita bisa tau apa penyebab gagalnya program hamil.” Ujar dokter yang memang sudah diberi perintah oleh Ghani agar bisa membujuk Tomi untuk memeriksa Anindi.
“Periksa ya Mas,” mohon Anindi dengan memelas. Sejak Tomi melarangnya menggunakan testpack dia tidak pernah menggunakan benda itu lagi sampai sekarang.
“Nin,” Tomi menggeleng pelan pada istrinya.
__ADS_1
“Aku janji gak akan sedih kalau masih belum berhasil,” Anindi berusaha meyakinkan suaminya.
Lelaki itu terpaksa mengangguk, walaupun tidak menangis dia tetap tidak bisa melihat istrinya itu bersedih karena masalah yang sama. Ia memang tidak mengajak Anindi periksa lagi. Tapi Tomi selalu berkonsultasi pada dokter kandungan lain.
Perempuan itu tersenyum cerah karena sudah dapat ijin dari sang suami.
Ghani yang mengamati dari jauh menghela napas lega. Akhirnya Tomi mau mengijinkan Anindi diperiksa. Mereka menunggu di depan ruang pemeriksaan.
Sementara di dalam ruangan Tomi harap-harap cemas. Dia memegang erat tangan sang istri agar tidak kecewa berlebihan kalau apa yang diinginkan tidak sesuai harapan.
Dokter wanita itu tersenyum melihat kerisauan Tomi sedang istrinya terlihat lebih santai dari biasanya. Mungkin karena ikatan batin seorang ibu.
“Alhamdulillah, Allah menjawab doa kalian. Ibu Nindi tengah mengandung delapan minggu,” ucap sang dokter itu yang membuat Tomi langsung melakukan sujud syukur dan Anindi menangis bahagia.
“Sayang kamu hamil,” Tomi memeluk istrinya sebentar. Ia tidak terbiasa mengumbar kemesraan di depan orang lain.
Tomi masih belum bisa percaya dengan keajaiban ini. Sang dokter ikut terharu, ikhtiar pasangan yang hampir empat tahun itu akhirnya dijawab Allah dengan berita bahagia.
Selesai berkonsultasi Tomi menuntun istrinya menghampiri Ghani dan Khalisa yang ada di ruang tunggu.
Khalisa langsung memeluk Anindi, dia pikir mata sembab sepupunya itu karena masih belum berhasil hamil.
"Gak papa, mungkin Allah sedang ingin mengasih kalian waktu untuk berdua." Ucap Khalisa sendu, Tomi hanya tersenyum kecil melihat dua perempuan itu.
"Nindi hamil dua bulan," beritahu Tomi. Khalisa langsung melepas pelukannya.
"Kamu beneran hamil Nin?" Istri Ghani itu memastikan kembali. Anindi mengangguk mengeluarkan foto hasil USG.
"Alhamdulillah Ya Allah," Khalisa memeluk sepupunya kembali karena saking girangnya. Ghani tersenyum melihat tingkah istrinya itu sambil memangku Arraz yang tertidur.
__ADS_1
"Ayo kita pulang, mama papa pasti bahagia banget mendengar berita ini." Ajak Khalisa tidak sabaran, ia juga harus memberitahu ayah dan ibunya.