Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
76


__ADS_3

Hari-hari Ghani lalui dengan menyibukkan diri mengumpulkan bukti-bukti. Seminggu sudah dia ikut ke kantor kembali. Layar monitornya terhubung ke cctv ruangan Khalisa di rawat.


Ghani mengusap layar, tubuh mungil yang tak berdaya itu sangat dirindukannya. Dua minggu berlalu tanpa Khalisa di sisinya, sangat menyakitkan.


"Kapan kamu bangun Sayang, Abang kangen." Air matanya menetes, Ghani begitu rapuh saat dihadapkan dengan kenyataan pahit seperti ini. "Bangun Sayang, jangan nakal seperti ini terus. Aku kesepian." Ghani menyeka air matanya ketika pintu ruangan dibuka. Tomi muncul dibalik pintu, siapa lagi yang suka mengganggunya kalau bukan Tomi dan Guntur.


"Semua sudah siap siang ini akan dilakukan penyergapan, Papa sendiri yang memimpinnya. Sniper juga sudah ditemukan. Semua Papa yang urus."


Ghani mengangguk, "Azhar dan Clara diapakan, hm?"


"Itu bagian Ayah Haris."


"Oke, sekarang tugasku di sini sudah selesai. Masalah perusahaan juga sudah beres."


"Yeah, tak ada hak aku menahanmu untuk tetap di sinikan." Tomi tersenyum, "mau bertemu Om Ardi dan Om Mahesa?"


"Untuk apa? Tanganku gatal mau membunuh mereka kalau ketemu langsung." Ghani memutus akses cctv di monitornya, lalu bersiap ke rumah sakit.


Lebih baik menghindar dari pada tidak bisa mengendalikan diri dan jadi pembunuh. Khalisa pasti tidak suka kalau dia membunuh. Allah juga pasti akan marah, dan bisa mengambil istrinya kapanpun. Ghani tidak mau usahanya merayu Allah sia-sia.


"Siapa tau mau salam perpisahan," goda Tomi.


"Salam perpisahan sebelum mereka dikirim ke neraka. Biarlah, aku sudah malas berurusan dengan mereka kalau bukan karena Kha." Ghani meninggalkan Tomi, seminggu terakhir waktunya berkurang menemani Khalisa. Mulai hari ini dia akan selalu menemani wanitanya itu.

__ADS_1


Tubuh mungil itu sekarang lebih kurus, pipinya semakin tirus. Tidak ada lagi pipi chubby yang menggemaskan. Ghani menggenggam erat tangan mungil nan rapuh.


"Assalamualaikum istriku yang cantik, masih betah bobo hari ini." Bisik Ghani, lalu mengecup kening Khalisa lama. "Kamu sudah terlalu lama tidurnya Sayang. Ayo bangun, biar bisa jalan-jalan lagi."


Hanya deru suara dari monitor yang membalas sapaan Ghani, aroma khas obat menemani hari-hari Khalisa dalam diam.


Waktu berganti begitu lambat menunggu sang pemilik nama membuka mata. Khalisa Rihana, wanita cantik yang sekarang tak berdaya. Membuka matanya sendiripun tak bisa. Harinya dihabiskan bersama jarum suntik dan peralatan yang membantu agar jantungnya tak berhenti berdetak.


Berjuang melawan detak jantung yang ingin berhenti itu sangat sulit bagai melawan takdir yang sudah dipenghujung jalan, tapi dia malah memilih berbalik arah untuk menjemput takdir yang lain. Takdir yang bahagia bersama kekasihnya.


Ghani sudah terbiasa dengan suara bising monitor yang setiap malam menjadi musik pengantar tidurnya bersama sang istri. Bulan pertama dilewatinya begitu berat, sekarang Ghani belajar menerima takdirnya yang lain. Selalu berada di sisi wanitanya, dua bulan berlalu begitu lama.


Menyaksikan tubuh istrinya hanya tinggal tulang yang ditempeli kulit. Dia tak pernah berhenti berharap agar Allah mengijinkan Khalisa kembali membuka matanya. Istrinya itu terlalu betah tidur dalam kamar bising dan bau obat yang sangat tidak enak.


"Assalamualaikum Sayang, apakabar hari ini?" Sama seperti hari-hari yang sudah berlalu, Ghani selalu menyapa dan mengajak bicara istrinya. Setelah selesai sholat subuh dan maghrib, Ghani membaca ayat suci Al-Qur'an. Disela-sela waktunya Ghani bercerita berbagai hal.


"Airil sudah nungguin lho Sayang, dia kangen Mama Kha yang comel. Kamu kapan bangun menemuinya?"


Tak ada jawaban, tentu saja. Ghani tak pernah bosan mengajak istrinya bicara. Walau mulut Khalisa terus membisu tanpa kata.


Lelah seharian mengajak Khalisa berbicara namun tak ada jawaban akhirnya Ghani tertidur dengan menggenggam jemari istrinya.


Hanya Ghani yang diperbolehkan menemui pasien, untuk melatih responnya. Kabar baik, Khalisa sudah memberikan responnya walau tidak terlihat. Detak jantungnya sekarang sudah stabil.

__ADS_1


Khalisa mengalami mimpi panjang, ingin mengakhiri mimpinya namun tidak bisa. Suara sama yang sering memintanya untuk bangun kini semakin jelas terdengar. Lagi-lagi matanya tak bisa terbuka begitu juga mulutnya. Dia ingin menjawab salam yang selalu terucap untuknya, tapi mulutnya tercekat tak mampu bicara.


Lantunan ayat Al-Qur'an yang begitu merdu membuatnya ingin sekali mengetahui siapa pemilik suara itu. Dia lupa siapa orang yang selalu menyapanya tanpa pernah bosan, walau dia tak pernah menjawab.


Hatinya terasa hangat setiap kali ada tangan yang membelai tangannya, tangan yang selalu mengusap lembut pipinya. Tangan yang selalu menggenggamnya erat seperti sekarang.


Siapa orang yang selalu setia bersamanya saat ini? Apa itu Ayah, tapi suara itu bukan suara Ayah apalagi Ibu, dia bahkan lupa bagaimana wajah orang tuanya. Rasanya Khalisa sudah lama tidak mendengar suara Ayah dan Ibu.


Khalisa menggerakkan jari-jarinya yang sedang digenggam seseorang yang tidak dikenalnya. Ingin bersuara tapi tak bisa, ingin membuka mata juga tak bisa. Hanya jari yang bisa bergerak, mengangkat tangannya pun tidak bisa.


"Sayang, kamu sudah bangun." Ghani merasakan jari-jemari Khalisa bergerak dalam genggamannya. Saat membuka mata dengan sempurna, jari itu memang bergerak. Tapi mata Khalisa masih tertutup. Ghani menekan tombol emergency, sekarang sudah pukul dua dini hari. Kantuknya sudah hilang, istrinya sudah memberikan respon positif.


Suara itu terdengar lagi, orang itu memanggilnya dengan sebutan sayang. Tapi Khalisa tidak tau siapa orang itu. Setelahnya dia merasakan orang-orang berdatangan. Apa sebenarnya yang terjadi. Apa sekarang dia sudah tidak berada di alam dunia lagi.


"Sayang, apa sekarang yang sakit?" Khalisa merasakan tangan yang membelai lembut kepalanya. Suaranya juga begitu lembut memperlakukannya dengan sayang. Khalisa sangat ingin tau siapa orang itu. Sayangnya matanya masih enggan terbuka.


Ghani merebahkan kepalanya kembali di sisi brankar, tangannya masih menggenggam tangan Khalisa, jempolnya mengelus lembut punggung tangan gadisnya. Setiap detik dia ingin Khalisa merasakan sentuhannya. Ghani terbangun saat azan subuh berkumandang setelah membersihkan diri dia sholat lalu tilawah Al-Qur'an di samping Khalisa seperti biasanya.


Aktivitas rutinnya Ghani menciumi setiap inci wajah Khalisa sebelum mengajaknya bicara. Bibirnya mengecup lama kening, kedua mata, pipi, dagu terakhir bibir ramun Khalisa. Ghani enggan beranjak dari bibir kekasihnya, dikecupnya lama.


"Emmb." Ghani mendengar suara mengerang dari bibir manis itu, seperti menolak disentuh.


"Sayang kenapa? Buka matanya Sayang, bicara apa yang sakit." Ghani mengusap pipi itu dengan lembut, sekian lama menunggu mata itu tak juga membuka. Diliriknya jemari Khalisa masih bergerak. Kembali Ghani mengecup lama bibir kekasihnya, ingin membuktikan kalau istrinya sudah bisa merespon. Kembali terdengar suara mengerang sangat lemah. Istrinya menolak dicium, tapi kenapa?

__ADS_1


Ghani tidak akan memaksanya sekarang, dia akan menunggu istrinya membuka mata. Setidaknya Khalisa sudah bisa memberikan respon dengan baik.


"Assalamualaikum Sayang, masih betah tidurnya. Abang kangen, ayo buka matanya. Bismillah Sayang pasti bisa." Bisik Ghani lembut, Khalisa mendengar suara itu sekarang sudah jelas. Juga saat orang itu terus menciumi bibirnya. Dia ingin marah dan menolak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Khalisa memaksa matanya agar terbuka, berkali-kali tapi gagal.


__ADS_2