
"Abang, bangun." Khalisa menghambur ke pelukan Ghani. Tidak peduli suaminya sedang kesakitan.
"Abang gak papa, Sayang." Ucap Ghani pelan, memberikan senyuman manisnya untuk sang istri. "Kha, jangan takut ya."
Ghani mengecup pipi Khalisa singkat, setelahnya lelaki itu pingsan. Karena rasa sakit yang menyerang perutnya tak tertahankan.
"Abaaang!" Teriak Khalisa nyaring, menggema di seluruh ruangan.
Khalisa bangkit mendekati Tomi, menatap tajam lelaki itu dengan kilat marah, dia melihat sendiri bagaimana Tomi menghajar suaminya.
"Sekarang sudah puas, bikin Abang kesakitan!" Teriaknya dengan mata berkaca-kaca. Tomi menyaksikan butiran bening itu berjatuhan di pipi Khalisa. Apa yang sudah dilakukannya.
"Aku benci kamu, pergi dari sini!" Pekiknya marah. "Aku benci lihat muka kamu!" Ulang Khalisa sekali lagi sebelum mendekati suaminya kembali.
"Abang!" Khalisa menjatuhkan kepalanya di atas dada Ghani.
"Kha, kita bawa Abang ke sofa dulu ya." Bujuk Guntur lembut, Khalisa bangun dan menyadari darah yang keluar dari luka perut Ghani.
"Abaaang!" Pekiknya ketakutan.
Tomi mendekat, ingin membantu Guntur membawa Ghani ke sofa. Tapi tertahan karena Khalisa yang menghadangnya.
"Kenapa masih di sini!" Teriak Khalisa pada Tomi, "kamu puas, hah. Sekarang Abang gak bisa gendong Kha lagi." Katanya dengan suara yang lebih pelan.
Tomi memundurkan langkah kembali, Khalisa tidak mau dia mendekati Ghani.
"Maaf," lirih Tomi.
"Apa maafmu berguna sekarang, pergiiii!" Teriaknya nyaring.
Guntur membawa Ghani ke sofa bed dengan susah payah, tubuhnya juga serasa remuk. Setelahnya dia menelpon Zaky untuk datang.
Khalisa membersihkan luka Ghani dengan tissue sambil terus menangis. "Abang gak boleh sakit." Lirihnya pelan, "siapa yang gendong Kha nanti, siapa yang nyuapin Kha. Abang gak bisa tidur sambil meluk Kha lagi."
Tomi mendengar suara pilu itu sangat menyayat hatinya. Siapa yang mengurus kemanjaan Khalisa kalau Ghani sakit.
Khalisa meletakkan kepalanya di samping Ghani dengan tangan yang melingkar di perut sang suami. Tidak peduli dengan darah yang terus mengalir di sana.
__ADS_1
"Kita bawa Abang ke rumah sakit ya Kha?"
Khalisa menggeleng pada Guntur, "jangan bawa Abang." Lirihnya takut.
"Kasihan Abang sakit, darahnya terus keluar harus segera di tolong." Bujuk Guntur pelan, "Kha mau Abang sembuhkan."
Khalisa mengangguk, "ayo kita bawa Abang ke rumah sakit." Ucapnya pelan, dia sudah berhenti menangis.
Guntur mengangguk bertepatan Zaky yang masuk ke ruangan, lalu mereka membopong tubuh Ghani ke mobil. Emran menuntun Khalisa yang lemas. Dia tidak mau pisah dari Ghani.
"Papa gendong ya Sayang, biar cepat. Abang harus segera dirawat."
Khalisa menganggukkan kepala, Emran menggendong menantunya yang penuh dengan darah Ghani.
Tomi menyusul setelah mobil Guntur pergi. Rasa bersalah pun tidak ada gunanya sekarang. Rasa marah tadi berubah menjadi benci pada dirinya sendiri. Selama ini dia yang paling bisa menahan emosi.
Sampai rumah sakit Ghani langsung mendapatkan perawatan. Lelaki itu kehilangan banyak darah.
Khalisa sudah tidak menangis lagi, tapi dia juga tidak mau bicara. Bersandar di bahu Guntur sambil menunggu Ghani dipindahkan ke ruang rawat.
"Kha mandi dulu ya, aku antar." Guntur menatap wajah Khalisa yang penuh darah. Istri Ghani itu menggeleng.
Tomi mengamati Khalisa dari jauh, hatinya miris. Kalau dia bisa mengendalikan emosi semua tidak akan kejadian seperti ini. Argh, Tomi menarik-narik rambutnya frustasi.
"Kalau mau marah, marah aja. Jangan main pukul sembarangan. Kalau Guntur yang sehat kamu pukul masih mending. Sekarang lihat akibatnya." Ucap Emran dingin, Tomi tak bisa berkutik. Semua memang salahnya. Mira bahkan tidak mau menatapnya. Hati Tomi mencelos.
Ghani sudah dipindahkan ke ruang rawat. Khalisa menidurkan kepalanya di samping sang suami.
"Abang bangun." Lirih Khalisa, dia sudah lelah menangisi Ghani.
Haris dan Nina segera datang, saat mendengar menantunya masuk rumah sakit. Hanya Haris yang bisa menenangkan putrinya yang manja ini.
Haris mendekati Khalisa yang masih penuh noda darah. Membangunkannya dan membawa dalam pelukan.
"Kha mandi dulu ya, Sayang. Abang nanti gak mau bangun kalau kamu bau gini." Goda Haris, Khalisa memanyunkan bibir. Kalau biasanya wajah itu dihiasi binar cerah, sekarang hanya ada tatapan penuh luka di sana.
"Ayah, Abang berdarah." Khalisa menunjukkan tangannya yang masih menempel bekas darah Ghani.
__ADS_1
"Suami Kha kuat, Sayang. Sebentar lagi Abang pasti bangun."
"Kha gak mau tinggal di sini. Kha mau pergi aja sama Abang."
Haris menjawab dengan anggukan. "Sekarang Kha mandi dulu ya, biar Abang senang lihat kamu nanti." Bujuk Haris, Khalisa menurut.
Nina membawa putrinya ke kamar mandi. Ruang rawat itu hening. Tomi hanya mengintip dari balik pintu, tidak berani mendekat. Dia beranjak pergi, tidak kuat mendengar suara rintihan Khalisa.
Kenapa semuanya hancur berantakan seperti ini. Anindi, Khalisa. Tomi pergi ke taman, mengamati toko Anindi yang tutup hari ini. Semua orang pasti marah padanya.
Hujan membasahi bumi, seperti ikut merasakan kehancuran hati Tomi. Dia bisa saja pergi. Tapi keluarga itu yang selama ini memberikan cinta dan kasih sayang yang utuh untuknya.
Tomi membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan, senja sudah berubah jadi malam. Kali ini dia menangis di bawah tetesan air hujan. Kesalahan demi kesalahan dilakukannya hanya gara-gara kehilangan satu orang yang membuat akal sehatnya menjadi lumpuh.
"Kalau kamu pikir dengan sakit, aku bakal peduli sama kamu. Kamu salah." Anindi memayungi Tomi dari derasnya guyuran hujan.
"Nindi," lirih Tomi. Anindi bisa melihat mata lelaki itu memerah.
"Ayo ikut aku," ajaknya karena kasihan melihat Tomi kedinginan. Anindi membawa Tomi menyebrangi jalan. Tadi Mita melaporkan padanya kalau mantan suaminya itu sedang main hujan-hujanan di taman.
"Mandi dulu, nanti sakit." Anindi memberikan handuk pada Tomi. "Aku gak ada pakaian cowok, kamu pake kimono dulu ya. Nanti hujan reda aku belikan baju ganti." Ujarnya, Tomi mengangguk masuk ke kamar mandi.
Anindi membuatkan teh hangat dan nasi goreng. Dia tidak tau apa yang menyebabkan Tomi jadi seperti ini.
Anindi kembali ke kamar, Tomi sudah selesai mandi. Lelaki itu duduk di sofa masih melamun.
"Minum dulu biar hangat." Tomi menyambut teh dan meminumnya sedikit. "Mau makan?" Tawar Anindi, Tomi menggeleng. Ada apa dengan lelaki ini, Anindi memeriksa suhu tubuh Tomi. Tidak demam, gumamnya.
"Ada apa?" Tanya Anindi lembut.
"Mau peluk," gumam Tomi tidak nyambung.
Bahaya, Anindi takut mereka melakukan hal yang dilarang agama lagi. Anindi menggeleng, "gak boleh."
"Mau nikah sama kamu."
Anindi menghela napas berat, baru siang tadi mereka membahas ini.
__ADS_1
"Mas istirahat di kamar ya, aku belikan baju ganti dulu. Baru nanti pulang." Tegas Anindi, lalu beranjak dari kamar. Dia takut berduaan dengan Tomi di kamar. Imannya masih lemah, bisa kalah sama godaan setan.
Seperginya Anindi, Tomi membaringkan tubuh di kasur. Dia lelah dengan masalah hidupnya ini. Lelaki itu terlelap di kamar Anindi.