
Ghani meyakinkan hatinya untuk menghubungi Khalisa. Berulang kali dia mengetik pesan lalu menghapusnya. Untuk merangkai satu kalimat pembuka saja sungguh sangat susah.
Gha : Kha, bagaimana kabarmu, sehat?
Semoga dibalas, sudah lama mereka tidak bertukar kabar. Siapa tau Kha sudah lebih tenang sekarang, pikirnya.
Istriku : Lagi kurang sehat kak.
Apakah Khalisa juga merindukannya, secepat itu gadisnya membalas pesan.
Gha : Minta ayah antar ke dokter ya Kha.
Istriku : Iya nanti, sekarang lagi males mandi.
Gha : Kok males, nanti bau asem.
Istriku : Kakak masih mau peluk akukan kalau bau asem.
Gha : Pasti mau Sayang, asal jangan bau terasi 😀
Istriku : Kakak mau makan disuapin kamu.
Deg!
Kenapa Kha aneh, jadi sangat manja dengannya.
Gha : Kamu mual-mual Sayang?
Entah apa yang ada dipikirannya, pertanyaan itu begitu saja terlintas.
Istriku : Iya, sudah seminggu ini gak nafsu makan.
Gha : Coba ke dokter sekarang Kha!
Istriku : Iya kakak bawel, jaga diri di sana. Aku kangen dipeluk.
Gha : Kakak peluk jauh ya Sayang.
Istriku : Kakak jemput aku.
Gha : Kha, jangan nakal Sayang.
Istriku : Aku sukanya nakal sama kakak.
Ya Allah jangan uji dia seperti ini. Hatinya sekarang dipenuhi oleh Khalisa Rihanna bukan Clara lagi. Apa istrinya sedang hamil jadi ingin terus didekatnya.
Ghani tidak membalas pesan itu lagi, tidak sanggup kalau Kha terus merengek rindu. Dia menyibukkan diri dengan pekerjaannya, setiap hari itu yang dilakukan Ghani. Bahkan sampai larut malam, Ghani enggan melepas pekerjaannya. Hidupnya sekarang tak sekaya dulu jadi harus usaha sendiri. Membesarkan outlet-outlet miliknya.
Beberapa jam kemudian.
Istriku : Kakak, aku hamil anakmu.
Ghani gagu membaca pesan itu, andai dekat ingin rasanya dia gendong perempuan itu ke sekeliling komplek.
__ADS_1
Gha : Kamu senang atau sedih?
Istriku : Aku bahagia kakak, aku sangat ingin bertemu ayah anak ini.
Panggilan video call dari Khalisa, Ghani langsung menjawabnya dengan senyuman termanis untuk ibu dari anaknya.
"Kakak...!" pekik Khalisa dengan gembira.
"Iya Sayang. Selamat ya jaga anak kita baik-baik."
"Kamu tidak ingin bertemu denganku?"
"Sangat ingin Kha, tapi kakak jauh Sayang." Khalisa terdiam dengan wajah cemberut, kenapa kalau jauh rasa itu semendebarkan ini.
"Kha...!" Tidak ada jawaban, haruskan dia mengikuti keinginan bumil yang manja ini.
"Sayang, jangan cemberut. Kakak besok akan pulang menemuimu."
"Benarkah?"" Sahut Khalisa girang bukan main. Dia melompat-lompat karena kegirangan.
"Iya Sayang, kamu masih mau bersama kalau kakak tidak kaya lagi."
"Mau, aku perlu kamu bukan hartamu kak." Senyuman manja muncul dari wajah istrinya yang manis.
"Nanti kakak jemput ya?" sebuah anggukan terbit dengan senyuman yang sangat Ghani rindukan.
***
Ghani terbang ke Indonesia untuk menemui Khalisa yang dua bulan terakhir tidak mau bertemu dengannya. Dia langsung menuju rumah ayah, setelah memilih pergi Ghani tidak memiliki apa-apa lagi. Tidak seperti dulu, segala kemewahan dimilikinya. Ayah dan ibu mertua menyambutnya dengan penuh cinta.
"Ghani ngomong apaan sih, ibu senang kamu tidak menceraikan Kha waktu itu, kamu sabar menjauh saat dia emosi. Maafkan anak ibu yang masih labil ya." Ujar ibu mertuanya, ada debaran kebahagiaan dalam hati. Mereka masih menghargainya sebagai menantu.
"Dia masih istri sahmu Ghani, setiap malam dia hanya menangisimu." Tambah Ayah dengan tersenyum smirk.
"Bagaimana dengan Guntur Yah?" Ghani ingin memastikan dia tidak menyakiti sepupunya, yang akan membuat Emran tambah marah.
"Ayah tidak memberikan jawaban, tidak ingin putri Ayah tambah tertekan."
Hatinya tambah berbunga-bunga mendengar penuturan dari Ayah mertuanya. "Makasih Yah, aku boleh menemuinya."
"Iya, temuilah istrimu."
Ghani berlari menaiki tangga, ingin segera bertemu istrinya. Tanpa mengetuk pintu dia langsung menghambur kepelukan Khalisa yang sedang berdiri di depan cermin dengan mengusap perut.
"Sayang, kangen, lama tidak memelukmu." Ghani menopangkan dagunya pada bahu Khalisa. Khalisa membalikkan badan, mengusap lembut wajah Ghani.
"Kakak, aku juga kangen. Jangan pergi lagi, janji tidak minta pisah lagi." Kata Khalisa sambil menyeringai. Memeluk Ghani dengan sangat erat, dia tidak ingin terpisah lagi dari sang suami.
"Sekarang ngerasain sendirikan kesepian, maafin kakak ya Sayang. Ikut kakak ke Singapura mau?" Ghani merenggangkan perlukannya, menatap lekat wajah berbinar yang tidak berhenti tersenyum.
"Kemanapun aku mau ikut." Ucap Khalisa dengan mantap.
"Makasih Sayang, sudah jagain bunda yaa." Ghani berbisik dan menciumi perut Khalisa.
__ADS_1
"Kakak istirahat, pasti capekkan."
"Temenin." Ujar Ghani membawa istrinya duduk di pangkuan.
"Pasti."
"Kakak?" Panggil Khalisa sendu.
"Iya Sayang, kenapa?" Ghani menyadari perubahan raut wajah sang istri.
"Apa kamu mencintaiku?"
"Aku sangat mencintaimu Sayang, hidupku sepi tanpamu. Tapi kakak tidak bisa memberikan harta yang berlimpah untukmu lagi." Jawab Ghani seraya mengecup seluruh sisi wajah Khalisa.
"Tidak apa, yang penting bersamamu. Papa masih marah sama Kakak?"
"Iya Sayang, papa sangat marah." Sahut Ghani dengan tersenyum menyembunyikan luka di hatinya.
"Maaf ya, gara-gara aku Kakak diusir. Kalau aku gak pergi waktu itu gak mungkin papa semarah ini." Sesal Khalisa, dialah penyebab retaknya hubungan ayah dan anak itu.
"Marah kenapa, apa karena aku diamkan?" Ghani mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin merusak mood bahagianya dengan menjadikan sang syah sebagai topik pembicaraan.
"Karena kakak ketemuan sama Clara." Ujar Khalisa dengan wajah masam.
"Oh jadi cemburu." Ghani terkekeh geli melihat ekspresi sang istri.
"Hmmm."
"Masih boleh minta gak sih." Goda Ghani setengah tertawa.
"Iiih mesum." Khalisa mencubit manja hidung Ghani.
"Gak dikasih juga gak papa, yang penting bisa meluk lagi. Kangen guling yang nakal, yang bisa nyubit, yang bisa nyium."
"Apaan sih." Cup. Khalisa mencium pipi Ghani.
"Gak berasa."
"Tambah cabe yang banyak biar berasa pedas." Khalisa terkekeh.
"Tambahin cintanya dong."
"Kak, sebelum ke Singapura kita ketemu mama Papa ya."
"Sayang." Dia sudah tidak ingin berurusan dengan Papa lagi, karena itu akan sangat menyakitkan.
"Bentar aja, mereka gak akan marah kalau tau aku hamil anakmu."
"Iya deh." Sahut Ghani dengan tampang masam.
"Jangan cemberut, aku sakit mau minta obat." Rengek Khalisa manja.
"Dengan senang hati." Ghani menangkup bibir istrinya, sudah lama tidak merasakan sensasi mendebarkan ini. Dia membuat Khalisa tidak hanya menyerahkan bibir. Perempuan itu terlalu terbuai akan cintanya. Cinta yang baru Ghani sadari setelah pergi.
__ADS_1
"Makasih kak, kamu tidak menceraikanku saat aku marah." Khalisa mengeratkan pelukannya, menjadikan dada bidang Ghani sebagai bantal.