
"Eh, pengantin baru sendirian. Istrinya mana?" Goda Ghina saat sarapan pagi. Tomi tak menanggapi keusilan adiknya itu, fokus pada sarapan. Selesai makan dia langsung beranjak membawakan sarapan untuk Anindi.
"Buru-buru amat," tegur Guntur.
"Sibuk aja ngurusin hidup orang," Mira memberikan tatapan elang pada Ghina dan Guntur.
"Akukan cuma nanya Mah," Ghina membela diri.
"Makan Ghin, mau Mama suapin cabe sekilo."
Ghina langsung kicep, tidak ada yang berani bersuara lagi di meja makan. Semua makan dengan tenang sampai sarapan berakhir. Ghani mengulum senyum melihat wajah kecut adiknya.
Usai sarapan Khalisa langsung ke ruang kerja diikuti Ghani. Ide di kepalanya sedang bermunculan. Ibu hamil itu langsung menyalakan laptop.
"Pagi-pagi udah sibuk aja," Ghani mengambil tempat duduk di samping sang istri. "Kha, Abang kurang asupan nih," katanya manja.
"Abang baru selesai sarapan kan?" Tanya Khalisa, dia heran baru selesai makan masa kurang asupan.
"Bukan asupan yang itu, Sayang." Ghani menunjuk bibir dengan wajah memelas.
"Kha baru dapat inspirasi, Abang sudah gangguin aja," Khalisa berdecak kesal.
"Setelah ngasih Abang obat nanti idenya tambah banyak, Kha." Rayu Ghani yang sudah mengendus-endus leher Khalisa. Dengan berat hati ibu hamil itu memindahkan laptop ke sampingnya.
"Kalau nurut ginikan manis," puji Ghani menyingkap jilbab kaos Khalisa lalu memberikan tanda di sana sebelum beralih pada bibir yang selalu membuatnya candu.
__ADS_1
Ghani menyesap dan menggigit pelan bibir Khalisa, membawa lidahnya menerobos masuk saat mulut Khalisa terbuka. Bukan hanya sekedar minta obat, tangan Ghani sudah ikut menjelajah.
Sulit untuk Ghani bisa menegendalikan diri saat seperti ini. Peraduan napas itu semakin panas membuat Khalisa terengah-engah. Desiran panas mengirim sinyal ke otak mereka berdua, untuk tidak menghentikan aktivitasnya.
"Boleh, Sayang?" Izin Ghani saat tak bisa menahan diri lagi.
"Pelan-pelan, nanti dedek sakit." Jawab Khalisa yang juga sudah dipenuhi gairah.
Ghani mengangguk membawa Khalisa dalam pergulatan panas di sofa dengan pakaian yang masih lengkap. Setelah selesai Ghani membawa Khalisa duduk di pangkuannya sambil menghapus butir keringat yang mengalir di kening sang istri.
"Makasih Sayang," ucap Ghani memeluk Khalisa. Beberapa hari puasa membuatnya kelaparan. Jadi harus dapat jatah sarapan.
"Habis gulat?" Tanya Tomi frontal, saat membuka pintu ruang kerja Ghani, kondisi dua orang itu sangat berantakan. Ghani masih mengusap punggung Khalisa dengan nyaman. Dia hanya mengangguk.
"Ada apa?"
"Mau minta kantong yang buat muntah Kha itu, Nindi masuk angin muntah terus dari semalam. Kasihan kalau bolak-balik ke kamar mandi."
Khalisa menegakkan tubuh, lalu menatap Ghani penuh arti. Suaminya itu menggeleng pelan. Perempuan itu kembali membenamkan kepala dalam pelukan sang suami.
"Kalau mau banyak ada di kamar dalam laci. Di sini cuma ada tiga tuh." Ghani menunjuk ke arah meja.
"Gue ambil ini dulu aja," ujar Tomi, lalu pergi setelah mengambil dan mengucapkan terimakasih.
"Abang, Nindi gak hamilkan?" Tanya Khalisa saat Tomi sudah pergi.
__ADS_1
"Enggak Sayang, dia kurang tidur makanya muntah-muntah. Baru beberapa hari emang bisa langsung muncul gejala hamil?"
Khalisa mengendikkan bahu tanda tidak tau.
"Ayo kita mandi dulu baru lihat Nindi." Ajak Ghani, Khalisa mengangguk setuju dengan usul suaminya itu.
"Sudah panggil dokter, Tom?" Tanya Khalisa, mereka sedang berada di kamar pengantin baru. Sepupunya itu terbaring lemah dengan wajah pucat.
Tomi mengangguk sambil mengganti kompres Anindi. Dia merawat istrinya itu dengan telaten. Sepagi ini Anindi sudah berkali-kali muntah, tidak ada makanan yang bisa masuk ke perutnya.
Tidak lama dokter datang bersama perawat langsung memeriksa Anindi dan memasang infus. Dokter menjelaskan kalau tekanan darahnya tinggi, juga maag. Setelah memberikan resep, dokter itu pamit pulang.
"Sudah lama Nindi tidur?" Tanya Ghani saat dokter sudah pulang.
"Baru aja sebelum kalian masuk," Tomi mengelus-elus pipi Anindi yang sama sekali tidak terusik karena sentuhannya.
"Dia tadi malam gak bisa tidur lagi?" Ghani bertanya lagi, Tomi menjawab dengan anggukan.
"Sebaiknya bawa konsultasi ke dokter. Mungkin itu efek obat tidur yang dia minum berkepanjangan," saran Ghani.
"Iya, nanti gue bawa periksa." Ujar Tomi sambil menatap wajah pucat Anindi. Dia menyesal menyetujui perpisahan kalau akhirnya menyiksa perempuannya seperti ini.
Ghani dan Khalisa meninggalkan kamar penganten baru itu. Tidak ingin mengganggu waktu tidur Anindi. Mereka kembali ke ruang kerja.
Ibu hamil itu duduk santai di sofa menunggu suaminya yang sedang meeting. Dia istirahat sebentar dari berimajinasi. Jemarinya sudah hampir keriting karena terlalu lama menari di atas keyboard.
__ADS_1