
"Ada apa?" Tomi terpaksa bangun dari kasur saat Ghani memanggilnya ke kamar. Matanya menatap lekat Khalisa yang sedang tertidur. "Mereka sangat mirip," lirihnya.
Ghani memberikan gawainya pada Tomi, "laporan dari pengawal yang gue kirim buat jaga Nindi." Ucapnya pelan agar, sambil melirik sang istri. Khawatir istrinya itu tiba-tiba bangun.
"Darimana dia tau alamat Nindi?" Tomi mengernyit bingung.
"Lo siapa? Orang-orang disekitar lo siapa? Kalo lo aja suka menyelidiki orang, jangan salahkan orang yang berada disekitar lo juga melakukannya." Ghani berdecak pelan.
"Dia gak ngapa-ngapain Nindikan?"
"Lo kenapa jadi kayak orang bego sih Tom, cek kamera tersembunyi dan penyadap suara yang lo pasang di ruang kerja dan kamarnya." Ghani tersenyum miring menyindir sepupunya itu.
Tomi mendelik, "lo tau?"
"Gue juga tau, kapan lo datang ke sana dan menerobos masuk ke kamarnya."
Tomi tersenyum kikuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Dah sana lo beresin, ini masalah lo sama Dev, jangan bawa-bawa Nindi yang gak tau apa-apa." Ghani mengambil kembali ponselnya dari tangan Tomi.
"Dev juga mengirim dvd yang berisi adegan lo sama dia," lanjutnya.
"Segitunya lo mengawasi Nindi."
Ghani tersenyum miring, "bukan buat Nindi, ini buat kesayangan gue yang selalu mengkhawatirkan sepupunya itu."
"Ya, gue ngerti. Gue akan selesaikan ini sebelum Kha dengar berita yang aneh-aneh." Tomi meninggalkan kamar Ghani setelah mengucapkan itu.
Huuh, bisa-bisanya dia kena jebak. Apa maunya perempuan itu, Tomi sudah tidak sabar untuk menyidangnya.
"Siapa Dev? Apa yang Abang bicarakan sama Tomi? Apa maksudnya berita aneh-aneh?" Khalisa memberondongi Ghani dengan berbagai pertanyaan.
Ghani meneguk ludah kasar, menoleh pada Khalisa yang sudah membuka mata. Apa tadi istrinya hanya pura-pura tidur.
"Kha gak tidur?" Tanya Ghani pelan sambil mengelus pipi Khalisa. Berharap dengan begini tidak ditagih jawabannya.
"Apa yang Abang sembunyiin dari aku?" Tanya Khalisa dengan kilat marah di matanya.
"Abang cuma gak mau kamu sedih, Sayang?" Lirih Ghani sendu, Khalisa menahan tangan yang masih mengelus pipinya itu.
"Aku lebih sedih kalau Abang menyembunyikan dariku begini."
Ghani memiringkan tubuhnya pelan, melingkarkan tangan di pinggang Khalisa. "Abang gak bisa cerita Sayang, maaf."
__ADS_1
Khalisa menghela napas panjang, "apa Tomi punya perempuan lain, Abang?"
Ghani mengangguk, Khalisa mendesah kecewa dengan raut sedih. "Aku gak tau Nindi masih bisa maafin Tomi atau gak, kalau sampai tau."
Suami Khalisa itu hanya diam sambil menciumi puncak kepala istrinya. "Maafin Abang, gagal mencegah Tomi Kha."
"Bukan salah Abang," Khalisa menelusupkan tangan kanannya di bawah leher Ghani agar tidak menyenggol luka suaminya itu. "Kalau miring gitu perut Abang sakit gak?"
"Enggak Sayang, akhirnya bisa peluk juga." Ghani tersenyum senang menempelkan pipinya di pipi Khalisa, "rasanya lama banget gak pelukan gini."
"Jangan lama-lama, nanti perut Abang sakit."
"Abang kuat, asal jangan Kha tendang aja perutnya." Ujar Ghani terkekeh.
***
Di sebuah kamar hotel Tomi menatap tajam seorang perempuan yang tak berani menangkat kepala menatapnya.
"Kenapa?" Satu kata yang terucap dingin dari mulut Tomi.
"Aku mau lihat dia cemburu?" Cicit Devina takut.
"Apa untungnya kalau dia cemburu Dev, kalaupun aku menikahimu. Apa harus kamu mendatanginya seperti itu?" Geram Tomi, dia tidak suka ada yang mengganggu orang tersayangnya.
"Kalau dia sudah tau, apa kamu pikir dia bakalan maafin aku Dev. Walaupun dia cinta mati, tetap gak akan menerima dengan semua yang sudah kulakukan. Kenapa kamu ikut campur masalah hidupku." Walaupun marah, Tomi tetap berusaha menekan emosinya di depan Devina.
"Aku mau kamu bahagia, cuma itu. Apa selama ini aku ganggu hidup kamu? Enggak kan Tom. Aku sayang sama kamu."
Tomi mengusap wajahnya gusar, "tapi cara kamu salah Dev." Ucapnya pelan, percuma bicara dengan perempuan yang membawa perasaan.
"Cara aku memang salah, tapi dengan begitu dia bisa menyadari perasaanya sama kamu Tom."
"Aku sudah tidak ingin memaksanya untuk menerimaku lagi Dev. Tolong kamu jangan ganggu dia lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri, terimakasih atas kepedulianmu padaku."
Tomi mengusap kepala Devina dengan lembut, "jaga bayimu dengan baik, jangan tidur dengan lelaki manapun lagi selain ayahnya."
"Aku gak pernah tidur dengan lelaki lain selain ayahnya." Lirih Devina menatap mata teduh lelaki yang sedang duduk di hadapannya.
"Lalu kenapa ingin tidur denganku?"
"Karena aku tau kamu tidak akan melakukannya."
Argh, Tomi seperti dihujami ribuan belati. Berapa banyak dosa yang sudah dia perbuat karena mengajak istri orang bercinta.
__ADS_1
"Maafkan aku Dev," Tomi berlutut di lantai dengan menggenggam kedua tangan Devina. "Aku harus ketemu suami kamu dan minta maaf."
"Kamu mau dibunuhnya?" Devina tersenyum geli, "jangan cari mati."
"Aku lebih baik mati daripada dihantui rasa bersalah ini."
Devina membantu Tomi untuk duduk di ranjang, "jangan merasa bersalah, semua tidak terjadi kalau aku menolak dari awal. Aku juga salah."
"Kamu jangan gini, jangan buat aku makin berdosa Dev. Kenapa gak bilang kalau udah nikah, hm."
Devina hanya menanggapi dengan senyuman, "kamu tidak perlu mencari tau apapun tentangku," tangannya menepuk pipi Tomi dengan lembut.
"Sekarang kamu perjuangkan Nindi, aku gak suka kamu lemah begini," lanjutnya.
"Aku gak mau dia menderita sama aku, dia lebih bahagia jauh dariku."
Devina menggeleng, "kamu tau darimana dia bahagia jauh dari kamu Tom, jangan sok tau. Sana temui dia dan minta maaf."
"Kamu yang bikin masalah, aku yang minta maaf. Ogah!"
"Ya sudah nanti aku yang temui dia lagi buat minta maaf, sana pulang. Aku mau istirahat dulu bentar."
"Siapa suami kamu?" Tomi masih tak berpaling dari Devina yang terus menghindarinya saat ditanya begitu.
"Jangan cari tau tentang aku," Devina memukul pelan pipi Tomi karena gemas.
"Gak mau pulang kalau gak dikasih tau," ancam Tomi.
"Aku kasih tau kalau kamu sudah nikah lagi sama Nindi."
Menyerah sajalah Tomi kalau syaratnya itu, "aku pulang, kalau suamimu marah gara-gara aku. Kabari, biar aku jelaskan."
Devina mengangguk dan tersenyum dengan sejuta arti.
Tomi meninggalkan kamar hotel dengan lemas. Bingung mau minta maaf dengan Anindi tapi perempuan itu bukan siapa-siapanya lagi. Wajah perempuan itu juga sangat santai ketika berhadapan dengan Devina.
Sudahlah, lebih baik pulang. Memikirkan Anindi tidak akan ada habisnya. Marah dengan Devina juga percuma, semua sudah terjadi.
Sesampainya di kamar, Tomi langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Pikirannya melayang jauh, berharap Anindi memaafkan dan membuka hari untuknya.
Uh, memalukan sekali. Dia sudah tidak punya muka di depan mantan istrinya itu. Apalagi Anindi sudah mengetahui perbuatannya.
Satu kesalahan memperumit semuanya. Berandai-andai tidak akan ada habisnya karena semua sudah terjadi. Tomi memaksa matanya untuk terpejam. Malam sudah semakin larut.
__ADS_1